
Sheila segera membelakangi Aldo dan berjalan dengan air mata yang terus mengalir tanpa permisi. Entahlah ia harus bahagia atau sedih setelah mengatakan kebenaran itu. Ia bahagia karena bisa mengungkapkan kebenaran bahwa ialah gadis kecil yang selalu dinanti oleh Aldo selama ini, namun di sisi lain saat ini juga ia harus mengikhlaskan perasaannya untuk Aldo. Aldo sudah mencintai wanita lain saat ini, perasaannya pada Sheila sudah teralihkan. Namun Sheila sadar ia pun harus mengerti bahwa perasaan bisa berubah seiiring berjalannya waktu.
Sheila terus berjalan dan mengabaikan Aldo yang terus memanggilnya. Ia sudah bertekad untuk lambat laun melupakan Aldo dalam hatinya.
"Sheila... berhenti atau aku akan loncat ke danau ini sekarang."teriak Aldo.
Jangan terpancing dengan ancamannya Sheila. Aldo hanya mau menggretak kamu aja.Batin Sheila.
"Sheila jika dalam hitungan 10 kamu gak menghentikan langkahmu untuk pergi dariku, maka aku akan benar-benar loncat ke danau itu."ancam Aldo.
Sheila tetap tak menggubris segala ancaman Aldo. Ia terus melangkah dan menulikan telingannya.
"Sepuluh..."teriak Aldo sambil melangkah maju menuju bibir danau.
Sheila masih terus melangkah tanpa mempedulikan suara Aldo.
"Sembilan.."ujar Aldo melangkahkan kembali kakinya menuju bibir danau.
"Delapan..."ujar Aldo kembali
Sheila aku mohon berbaliklah. Jangan buat hati ini kembali harus menunggumu setelah sekian lama. Aku sangat mencintaimu Sheila.lirih Aldo dalam hati.
"Tujuh..."ujar Aldo kembali.
Aldo terus menghitung mundur hingga tersisa 3 hitungan namun sepertinya Sheila tetap pada pendiriannya. Ia bahkan semakin melangkahkan kakinya menjauhi Aldo.
"Tiga...dua...satu...Sepertinya kamu memang ingin aku pergi Sheila. Baiklah jika itu mau kamu.."ujar Aldo yang sudah bersiap meloncat dari bibir danau.
Sheila segera menoleh."Aldo berhenti..."teriak Sheila.
__ADS_1
Sheila segera berlari menghampiri Aldo lalu menarik tangan pria itu untuk menjauh dari bibir danau.
"Kamu gila ya Al, kalo kamu meninggal gimana ? kamu jangan jadi pria bodoh hanya karena cinta."ujar Sheila memarahi Aldo dengan memukul-mukul dada Aldo.
Aldo tersenyum lalu ia tangkup pipi wanita di hadapannya yang sudah berurai air mata."Kamu nangis ? Cengeng banget" canda Aldo.
"Iya aku emang cengeng."ujar Sheila merajuk.
Aldo mengangkat dagu Sheila dan menatap mata indah itu begitu dalam."Aku mencintaimu Sheila..."ungkap Aldo dengan pelan.
Sheila menggeleng."Jangan memaksakan hati kamu untuk mencintai orang dengan terpaksa Al. Kamu berhak untuk mencintai orang lain, Al."ujar Sheila dengan memutuskan tatapannya dengan Aldo.
"Apa maksud kamu ? aku mencintai kamu itu tulus Sheila."ujar Aldo sedikit kesal."Disini hanya ada namamu. Jantungku bahkan berdetak tak normal hanya jika berdekatan dengan kamu Sheila."tambah Aldo.
"Jangan memaksakan perasaanmu, Al. Jika hatimu sudah teralihkan dari perasaanmu sama aku, maka ikutilah hatimu."ujar Sheila sambil meneteskan air mata.
"Perasaan dan hatiku masih menautkan dirimu Sheila. Tidak ada perasaan yang teralihkan. Aku hanya mencintai kamu seorang. Apa perlu aku membuktikan rasa cintaku yang begitu besar untukmu Sheila ? "ujar Aldo dengan lirih sambil menghapus air mata Sheila.
" Ya memang aku sudah tidak mencintai gadis kecil itu lagi. Karena saat ini aku hanya mencintai gadis yang sedang berdiri di hadapanku. Saat ini tak mungkin kan aku menunggu gadis kecil itu, sementara dia sudah berubah menjadi wanita cantik yang saat ini tengah berada di depanku. Aku bukan lelaki pedofil yang mencintai wanita yang usianya terpaut jauh di bawahku, apalagi mencintai gadis kecil. Tidak mungkin Sheila."ujar Aldo sambil menahan tawanya.
"Maksud kamu Al ?"tanya Sheila tak mengerti.
Aldo tersenyum."Sepertinya kosa kata yang aku pilih tadi tak bisa kau pahami ya Sheila."ujar Aldo lalu menangkup pipi Sheila."Aku mencintaimu Sheila, gadis kecil yang sudah berubah menjadi wanita cantik saat ini. Bahkan jika kamu bukan gadis kecil yang selalu aku tunggu aku akan tetap mencintaimu, Sheila. Hanya kamu.."ungkap Aldo lagi.
"Akupun mencintaimu,Al. Bahkan sebelum aku tau jika kamu anak lelaki yang ku tolong dulu. Kebersamaan kita selama ini membuat aku sadar jika hati ini sudah menautkan nama Aldo di dalamnya."ungkap Sheila sambil menitihkan air mata.
Aldo memeluk erat Sheila dengan segera." Artinya hati masing-masing dari kita sebeneranya sudah tau jika mereka tertaut satu sama lain, namun kita yang tak menyadari itu selama ini. Aku begitu mencintaimu Sheila."ujar Aldo sambil sesekali mengecup puncak kepala Sheila.
Sheila tersenyum lalu melepaskan dekapan itu."Allah memang baik, menyatukan kita dengan cara yang istimewa. Allah perlahan menuntun hati kita menuju ke pemilik yang sebenarnya."ujar Sheila sambil menatap Aldo.
__ADS_1
Aldo mengangguk mantap."Karena Allah sudah menyatukan kita hari ini, maka akupun tak akan melewatkan niat baik ini. Sesegera mungkin aku akan meminta izin pada orang tuamu untuk melamar anaknya menjadi istriku."ujar Aldo.
"Sekarang kamu lagi ngelamar aku ceritanya ?"canda Sheila.
"Iya ngelamar ga resmi dulu, nanti resmimya kalo ada 2 pihak keluarga aku dan kamu."ujar Aldo sambil memeluk Sheila.
"Ck ga romantis banget ya Asistennya bang Erlan."ujar Sheila berdecak kesal.
"Oh mau lamaran romantis gitu ?"tanya Aldo sambil menaikkan satu alisnya.
"Udah ga mood deh. Mau pulang aja."ujar Sheila sambil menggembungkan pipinya.
"Lucu banget sih Sheila kalo lagi kesel."canda Aldo sambil mencubit pipi Sheila.
"Mas sakit..."keluh Sheila yang bahkan tak sengaja memanggil Aldo dengan sebutan Mas.
Aldo menangkup pipi Sheila."Tadi panggil aku apa ? hmm ? coba ulang lagi."pinta Aldo.
Sheila menunduk malu."Emang panggil apa ? Kamu salah denger kali."ujarnya tergagap karena gugup.
Aldo mengangkat dagu Sheila lalu ditatapnya begitu dalam."Mas mencintai kamu Sheila, hari ini, esok dan selamanya."ungkap Aldo sambil mengecup dahi Sheila.
Sheila masuk ke dada Aldo yang hangat."Aku juga mencintai kamu mas Al."balas Sheila.
Aldo lepaskan dekapan itu, lalu ia angkat dagu Sheila. Ia dekatkan wajahnya ke arah wajah Sheila. Sheila sudah memejamkan matanya saat ini.
"Aku tidak akan melakukan hal di luar batas sebelum kita halal menjadi sepasang suami istri. Aku akan melamarmu segera. Dan bisa aku pastikan jika kita sudah halal nanti, kamu tidak boleh menolak apapun keinginanku. Bahkan untuk satu kewajiban yang sangat aku nantikan sejak lama."ujar Aldo berbisik di telinga Sheila.
Sheila membuka matanya. Ia menunduk malu, karena berpikir Aldo akan menciumnya saat ini. Namun selain itu, ia juga tampak berpikir soal perkataan Aldo mengenai kewajiban istri. Seketika ia bergidik ngeri dengan ucapan ambigu Aldo.
__ADS_1
"Mau ngelamun sampe kapan sih,hmm ? yuk pulang langit udah mulai gelap tuh."ajak Aldo sambil mengulurkan tangannya.
Sheila menerima uluran itu."Iya Mas, ayo kita pulang."ujarnya dengan menunduk malu.