Cinta Dalam Penantian

Cinta Dalam Penantian
PINGSAN


__ADS_3

Erlan sudah sampai di depan rumahnya. Setelah kejadian di Restoran tadi, ia bergegas pulang untuk menjelaskan semuanya pada Asyila. Pekerjaan di Kantor tentu ia serahkan pada Aldo asistennya.


Ceklek…


Suara pintu terbuka, Erlan sedikit terheran karena rumahnya dalam kondisi yang sepi. Hanya terlihat bi Lisda yang sedang merapikan barang-barang di dapur.


“Assalamu’alaikum bi..” ucap salam Erlan pada bi Lisda.


“Walaikumsalam Den…. Sudah pulang ?” jawab bi Lisda.


“ Iya saya baru sampai bi.. rumah ko sepi ya ? Asyila dan Vino kemana bi ?” Tanya Erlan.


“ Den Vino selepas pulang dari sekolahnya diajak sama mamanya Aden, katanya non Nayla pengen Vino menginap disana. Neng Asyila ada di kamarnya den, selepas mengantar Vino bersama mama Aden pergi neng Asyila langsung masuk kamar lagi. Ini aja susu dan buahnya belum disentuh sama sekali.” Jelas  bi Lisda


Erlan mengambil nampan berisikan buah dan susu hamil untuk Asyila.” Biar Erlan yang bawa ini untuk Asyila ya bi, bibi lanjutkan saja pekerjaan bibi.” Ucap Erlan.


Bi Lisda mengangguk.” Iya den..” sahut bi Lisda.


Erlan bergegas menuju ke kamarnya sambil membawa nampan tadi, Ia buka pintu yang tertutup itu.

__ADS_1


Ceklek…


Pintu terbuka dan pemandangan pertama yang Erlan lihat adalah istrinya yang sedang berdiri menghadap ke arah balkon kamarnya. Erlan segera menyimpan nampan itu di meja nakas, lalu ia menghampiri istrinya.


“Assalamu’alaikum istriku, lagi apa hmm? “ ucap Erlan  sambil memeluk istrinya dari belakang.


Asyila lepaskan dekapan itu.”Walaikumsalam mas.”ucapnya dengan nada datar.


Erlan tahu jika Asyila masih marah dan tentu salah paham padanya. Ia juga bisa merasakan jika istrinya itu sedang menahan air matanya agar tidak keluar.” Kita perlu bicara Sayang” pinta Erlan seraya memegang tangan Asyila.


Asyila menepis tangan suaminya.” Ga perlu ada yang dibicarakan lagi mas. Sudahlah lebih baik mas kembali saja berduaan dengan Sheila. “ucap Asyila ketus.


Asyila berusaha melepaskan pelukannya dari Erlan, namun suaminya itu memeluknya dengan erat. Hati dan badannya seolah bertolak belakang. Hingga akhirnya hanya suara isakan yang terdengar oleh Erlan.


“ Loh sayang.. ko nangis ?” Tanya Erlan.


Asyila tak menjawab, ia sedang merasakan kram di perutnya dan pusing yang menyerang kepalanya secara tiba-tiba. Asyila tak ammpu lagi menahan sakit di kepalanya dan akhirnya ia ambruk di pelukan suaminya. “ Sayang.. hei sayang buka matanya.. kamu kenapa ?” ujar Erlan panik.


“Syila buka matanya sayang,, mas mohon” ujar Erlan sambil menepuk pelan pipi istrinya namun Asyila tak nbergeming. Erlan dengan sigap menggendong istrinya menuju ranjang. “ Mas mohon bertahan sayang..”  pinta Erlan bergegas menelfon seseorang.

__ADS_1


...…....


Dokter Eva telah selesai memeriksa kondisi Asyila.” Pak Erlan saya harap kejadian ini yang terakhir ya Pak, dilihat dari penyebabnya ibu Asyila sepertinya mengalami stress ringan da nada sesuatu yang menganggu pikirannya. Itu tidak baik untuk ibu hamil muda seperti ibu Asyila. Tolong buat istri bapak selalu relax dan pikirannya selalu tenang ya.”jelas dokter Eva.


“ Baik Dok saya akan lebih menjaga istri saya.” Ujar Erlan.


“Tidak perlu ada yang dikhawatirkan Pak, istri anda sebentar lagi juga akan siuman. Kalau begitu saya permisi.”ujar dokter Eva sambil tersenyum


“ Terimakasih dokter..”ujar Erlan.


Setelah dokter Eva pergi, Erlan kembali menuju ranjang tempat Asyila berbaring. Ia genggam tangan istrinya itu dengan erat, bahkan sesekali ia menciumnya. “Ini semua gara2 mas, mas minta maaf sayang.”Lirih Erlan.


Asyila membuka matanya saat merasakan tangannya digenggam dan dicium oleh seseorang. “ Awhhh…”desis Asyila.


“ Kamu udah sadar sayang ? Apa yang sakit hmm ? sebelah mana yang sakit ? Perutnya masih kram ngga ?”Tanya Erlan bertubi-tubi pada Asyila.


Asyila menatap dalam suaminya itu. Ia dapat melihat kekhawatiran Erlan padanya. Ia yakin jika suaminya tidak mungkin melakukan hal seperti yang ia lihat di restoran tadi siang. Asyila tiba-tiba memeluk Erlan dengan erat dan sedetik kemudian ia menangis.


“ Maaf mas….”lirih Asyila

__ADS_1


__ADS_2