Cinta Dalam Penantian

Cinta Dalam Penantian
KEBENARANNYA


__ADS_3

Aldo berniat untu meninggalkan tempat itu, namun saat ia hendak bangkit dilihatnya sebuah gelang mutiara yang begitu indah tergeletak di atas jalan aspal.


“Wah gelang ini cantik sekali, pasti ini milik gadis kecil tadi yang menyelamatkanku tadi.”gumamn Aldo.


“Suatu hari aku pasti bisa bertemu dengannya. Aku mau jadikan dia pengantin wanitaku ketika kami sudah dewasa.”gumamnya lagi sambil tersenyum.


Sementara dalam mobil, Sheila merajuk karena ia kehilangan gelang kesayangannya.


“Mama gelang punya Sheila hilang hiks.hiks.hiks.”ujar Sheila sambil terisak.


Papa Sheila tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.”Papa nanti belikan lagi nak, gelang apapun yang Sheila suka akan papa belikan.”ujar papa Sheila.


“Tapi gelang itu hadiah dari Oma waktu Sheila ulang tahun kemarin. Sheila ingin gelang Sheila Pa..”rajuk Sheila.


Mama Sheila mengelus kepala anaknya.”Nak, mungkin gelangnya terjatuh tadi saat di Taman. Nanti akan Mama dan Papa belikan lagi ya, nanti kami tanyakan pada Oma dimana membelinya.”bujuk mama Sheila.


Mata Sheila berbinar.”Tidak mau Sheila inginnya gelang yang itu.”ujar Sheila terkekeh.


"Sayang, mungkin saja gelangnya sudah diambil oleh orang yang tak sengaja menemukannya. Sudahlah lagipula pasti Oma akan membelikan lagi banyak gelang yang kamu mau."ujar Mama memberi pengertian.


Sheila membuang nafasnya dengan kasar."Huft sudahlah Sheila tidak ingin memikirkan gelang itu lagi."ujarnya sambil bersidakep dada.


Papa Sheila tersenyum."Sebagai gantinya setelah dari rumah sakit, Papa akan ajak kamu dan Mama membeli ice cream di tempat favorit kita biasa. Bagaimana nak ?"ujar papa Sheila sambil mengelus kepala Sheila.


"Ayo Papa...."ujar Sheila dan Mamanya berbarengan.


Keduanya mengangguk. Dan segera Sheila mendekap erat mama nya saat itu.


Flashback Off

__ADS_1


“Sheila… Sheila.. Hei…”ujarnya memanggil Sheila yang tengah melamun.


Sheila terkesiap.”Hah ? Kenapa ?”Tanya Sheila.


"Kok jadi melamun ? Hayo kamu lamunin apa ?"tanya Aldo.


"Engga kok, ga melamunkan apapun."ujar Sheila sambil menggelengkan kepalanya.


Aldo kembali menggenggam tangan Sheila."Oh iya tadi kamu bilang kan kalo kamu mengenal gadis itu, ayo beritahu aku Sheila siapa gadis itu."pinta Aldo.


"Ini hampir malam Al, aku ingin segera sampai rumah."ujar Sheila mengalihkan pembicaraan.


"Beritahu dulu, baru kita pulang."cegah Aldo.


Sheila menarik nafas begitu dalam."Aku kan hanya mengatakan seandainya tadi. Lagipula aku yakin Al, gadis yang kamu cari itu pasti sekarang sudah banyak berubah."ujar Sheila sambil bangkit dari duduknya.


"Kamu bener juga. Mungkin saja dia sudah lupa padaku."ujar Aldo sambil berjalan menyamakan langkahnya dengan Sheila.


Aldo berdiri di hadapan Sheila. Ia menangkup pipi Sheila dan menatapnya begitu dalam."Kamu beneran baik-baik aja ?"tanya Aldo.


Sheila mengangguk lemah."Sudahlah Al, aku hanya ingin segera sampai di rumah."ujar Sheila sambil memutus kedua pandangannya dari Aldo.


"Maaf karena cerita masa laluku kamu jadinya harus pulang selarut ini Sheila."ujar Aldo sambil berjalan di samping Sheila.


"Tak masalah Al, kita ini kan berteman. Kau boleh dengan senang hati membagi segala keluh kesahmu padaku."ujar Sheila sambil tersenyum.


"Apa kebersamaan kita selama beberapa waktu ini hanya kau anggap sebagai bagian dari ikatan pertemanan ?"tanya Aldo yang membuat langkah Sheila terhenti.


Sheila menoleh."Maksudmu Al ?"tanya Sheila memastikan.

__ADS_1


"Selama beberapa waktu kita selalu bersama Sheila, dan jujur ada perasaan lain yang kurasakan saat berdua denganmu. Apa kau juga merasakan hal itu ?"tanya Aldo sambil menangkup wajah Sheila.


Satu tetes air mata begitu saja lolos dari mata indah Sheila."Aku mohon jangan seperti ini,Al."mohon Sheila begitu lirih sambil menunduk.


"Kenapa ?"tanya Aldo.


"Aku tak ingin kau terlalu berharap terlalu dalam padaku,Al. Jika sampai ini terjadi lagi artinya sudah 2 kali aku membuatmu menunggu dan berharap begitu besar terhadapku."ujar Sheila sambil menangis.


" 2 kali menunggu ? Maksudmu ? Kau tidak pernah membuatku menunggu atau berharap begitu besar padamu. Aku bahkan baru mengutarakan hal ini pertama kali pada seorang wanita."jelas Aldo.


"Dan wanita di hadapanmu ini adalah gadis kecil yang begitu kau impikan untuk datang ke hadapanmu."ujar Sheila membuka semua kebenaran itu pada akhirnya.


Aldo terkesiap dan mematung seketika. Seketika ia menangkup pipi Sheila dan menatapnya penuh harap."Katakan jika kau adalah dia. Gadis kecil penyelamatku."ujar Aldo penuh harap.


Sheila mengangguk lemah."I-I-Iya gadis itu aku, Al. Maafkan aku."ujar Sheila seketika menangis.


Aldo rengkuh tubuh mungik Sheila ke dadanya."Hei jangan menangis ku mohon."pinta Aldo.


"Kau boleh membenciku, kau juga boleh memaki atau meluapkan segala kekesalanmu selama ini padaku. Silahkan,Al."ujar Sheila yang masih menangis dalam pelukan Aldo.


Aldo menggeleng dan sesekali ia labukan kecupan di kepala Sheila."Tidak.. aku tidak pernah membencimu. Justru saat tau ini, aku begitu sangat bahagia. Aku sudah menemukanmu pada akhirnya. Semua ini benar kan ??"ujar Aldo yang masih betah mengelus lembut punggung Sheila.


Sheila mengangguk."Maafkan aku, Al. Karena kau harus menungguku selama ini, kau berharap begitu dalam padaku. Maaf, selama ini kau harus mengesampingkan segala perasaanmu. Kau hanya fokus untuk menungguku."ujar Sheila masih betah dalam dekapan Aldo.


" Jangan korbankan semua perasaanmu ini padaku lagi,Al. Aku tau perasaanmu sudah teralihkan sekarang. Jangan memaksa hatimu jika kau saat ini sudah menemukan tempat ternyaman yang baru. Aku akan belajar melepaskan, walaupun sakit aku akan terbiasa,Al."ujar Sheila.


"Maafkan aku Sheila, kau benar perasaanku saat ini sudah teralihkan. Bukan gadis kecil itu lagi yang saat ini menguasai seluruh perasaan dan hatiku. Maafkan aku Sheila."ujar Aldo semakin mengeratkan pelukannya pada Sheila.


Ya Allah sakit sekali. Ini kenyataannya Sheila, kau harus bisa menerima ini. Aldo sudah menemukan tempat ternyaman untuk hatinya saat ini. Kau harus bisa ikhlas dan melepaskannya. Bersyukurlah karena semua kebenarannya sudah kau katakan. Aldo tidak akan menunggu lagi untuk waktu yang lama, dan tentunya tidak akan ia berharap terlalu besar akan perasaan itu. Terimakasih ya Allah karena sudah memberiku keberanian untuk mengatakan kebenaran ini pada Aldo. Walau hatiku sakit dan sesak saat ini, tapi aku yakin jika Kau akan memberikanku kebahagiaan di depan sana. gumam Sheila dalam hati sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Sheila melonggarkan dekapannya. Ia usap kasar air mata yang masih tersisa. Ia tersenyum seraya menguatkan diri dan hatinya untuk bisa melepaskan dengan ikhlas perasaan yang baru saja tumbuh di hatinya pada Aldo.


Kamu bisa Sheila, Ayo semangat...ujar Sheila bergumam menyemangati dirinya sendiri


__ADS_2