
Sheila baru saja sampai di salah satu Lembaga Permasyarakatan di Jakarta. Ia sudah membulatkan tekad untuk mengunjungi sepupunya Ajeng yang saat ini tengah menjalani masa hukuman terkait kasus percobaan penculikan beberapa waktu lalu.
Sheila saat ini tampak ragu untuk keluar dari mobil. Sedari tadi ia hanya meremas kedua tangannya ke ujung blouse yang ia kenakan. Pasalnya 2 hari lalu saat ia mengunjungi Ajeng, sikap yang ditunjukkan sepupunya itu begitu membuatnya bersedih. Ajeng marah dan kecewa karena Sheila dianggap sudah mengkhianatinya.
Sudah beberapa kali Sheila menarik nafasnya dengan dalam. Bahkan pria yang berada di sebelahnya saat ini pun selalu memperhatikan itu. Siapa lagi kalo bukan Aldo si asisten Erlan. Aldo memang beberapa waktu ini sering menemani Sheila untuk pergi kemanapun. Aldo yang memang sudah izin terlebih dulu pada bosnya sebelum pergi menemui Ajeng. Dan ya Erlan yang memang tahu jika saat ini mereka tengah menjalin kedekatan pun tak melarang, yang terpenting Aldo masih ingat akan tanggung jawabnya pada pekerjaan.
Aldo kembali memperhatikan Sheila. Ia kemudian memberanikan diri untuk menggenggam sebelah tangan Sheila. Tangan yang begitu dingin menandakan antara Sheila yang takut dan cemas.
“Gak apa-apa ?”Tanya Aldo yang masih menggenggam tangan Sheila.
Sheila mendongakkan kepalanya.”Aku takut kalo sikap kak Ajeng kaya sebelumnya.”ujar Sheila sendu.
“Yaudah kita pulang aja kalo gitu, lain kali jenguk Ajengnya kalo kamu udah siap.”saran Aldo sambil mengelus puncak kepala Sheila.
“Maaf karena selalu merepotkan dan mengganggu kerjaan kamu beberapa hari ini.”ujar Sheila sambil menoleh dengan mata berkaca-kaca.
Aldo yang melihat itu langsung menangkup kedua pipi Sheila.”Hei ko ngomong gitu, aku gak sama sekali direpotkan kok. Dan lagi semua pekerjaan masih bisa aku handle
Kamu jangan memikirkan soal aku, aku baik-baik aja. Sekarang pikirkan soal diri kamu sendiri ya.”saran Aldo dengan nada lembut.
Sheila tersenyum.”Allah begitu baik sama aku ya. Aku di kelilingi sama orang-orang yang begitu tulus sayang dan cinta sama aku.”ujar Sheila.
“Bersyukurlah pada-Nya karena kamu masih diberi kesempatan untuk bisa menjadi pribadi yang baik.”ujar Aldo.
“Perubahan sikap aku juga semua berawal dari kamu, kamu yang bikin aku sadar akan kesalahan aku. Makasih ya..”ujar Sheila sambil mengeluarkan air mata.
Aldo menghapus air mata itu dan menatap begitu lembut wanita di hadapannya.”Jangan nangis please. Air mata kamu itu berharga. Jangan kamu keluarkan untuk hal yang tidak terlalu penting.”pinta Aldo.”Jadi mau masuk atau kita kembali ?”Tanya Aldo lagi.
__ADS_1
Sheila menghela nafasnya.”Bismillah masuk aja deh.”tekad Sheila.
“Aku temani ya Sheila.”tawar Aldo.
Sheila mengangguk.”Baiklah”ujar Sheila.
Keduanya kini berjalan menuju ke dalam tempat itu. 2 orang petugas disana seperti biasa akan melakukan beberapa protokol yang sesuai dengan peraturan di tempat Lembaga Permasyarakatan itu.
Sheila dan Aldo sudah duduk tenang di kursi tunggu. Tak lama Ajeng keluar dengan penampilan begitu berantakan. Ia terlihat begitu marah saat melihat siapa yang menjenguknya. Ia bahkan membuang pandangannya pada Sheila.
“Lo mau ngapain lagi kesini hah ?”Tanya Ajeng dengan ketus.
Sheila menatap Ajeng dengan dalam.”Sheila mau jenguk kakak, kangen juga sama kakak.”ujar Sheila.
“Heh kangen ? Yakin lo ? atau lo Cuma mau lihat menderitanya gue disini ? Lo puas liat keadaan gue kaya gini Sheila ?”Tanya Ajeng sambil tersenyum sini.
Sheila menggeleng lemah.”Sheila tidak senang melihat kakak seperti ini. Sheila justru sayang sama kakak makanya Sheila datang untuk jenguk kakak.”ujar Sheila sedikit terisak.
Aldo bangkit dari duduknya.”Lo harusnya bersyukur karena dia masih peduli sama lo. Sadar ga lo ini bentuk teguran dari apa yang udah lo lakuin. Lo kehilangan anak bukan karena Sheila, tapi karena tingkah lo sendiri. Keserakahan lo yang bikin semua kebahagiaan lo Allah ambil seketika Ajeng. Sadarlah sebelum lo makin nyesel sama perbuatan lo sendiri.”sentak Aldo sambil menunjuk ke arah wajah Ajeng.
Sheila memegang lengan Aldo lalu menggelengkan kepalanya. Sebagai isyarat untuk menenangkan Aldo."Al jangan terbawa emosi, saat ini kamu tau sendiri kan psikis kak Ajeng sedang terguncang. Aku mohon Al.."ujar Ajeng dengan lirih.
"Tapi Sheila, lihat tadi dia...."ujar Aldo tertahan saat Sheila menghentikan ucapan Aldo dengan menggenggam tangan Aldo begitu erat.
"Aku mohon Al, disini kamu cuma menemaniku kan ? Aku gak mau kalo kamu sampe terbawa ke dalam masalahku dan kak Ajeng." ujar Sheila dan Aldo hanya menatapnya dengan nanar.
Sheila lalu menatap kembali sepupunya.”Aku bawakan kakak ini, bertobatlah kak. Perbaiki semua, aku yakin dengan kakak memperbaiki diri kakak maka kebahagiaanpun akan selalu bersama kakak.”ujar Sheila sambil memberikan bingkisan yang memang ia bawa saat tadi.
__ADS_1
”Sheila permisi ya kak, maaf jika kedatangan Sheila justru membuat kakak tidak nyaman. Assalamu’alaikum.”pamit Sheila sambil tangannya menarik pelan lengan Aldo.
Ajeng hanya menatap nanar kepergian keduanya.
Aku memang pendosa, tapi apa aku pantas untuk mendapatkan maaf-Mu Ya Allah. Lirih Ajeng dalam hati.
Dengan tangan bergetar ia ambil bingkisan itu dan dapat ia lihat satu set mukena dan Al-Qur’an di dalamnya. Ia tersenyum dan bertekad saat itu untuk memperbaiki dirinya. Ajeng ingin berubah saat ini.
..........
Saat masuk ke dalam mobil, Sheila menumpahkan air matanya yang sedari tadi ia tahan saat bertemu dengan Ajeng. Perkataan Ajeng yang seolah menyudutkannya sebagai penyebab kehancuran hidup Ajeng begitu membuat dadanya begitu sesak.
"Aku memang bersalah Al, aku orang yang selalu menghancurkan kebahagiaan orang lain.. Aku.."ujar Ajeng terus memaki dirinya sendiri.
Seketika Aldo membawanya ke dalam dekapan hangat Aldo. Sesekali bahkan ia melabuhkan kecupan di puncak kepala Sheila.
"Jangan memaki diri kamu sendiri, semua bukan kesalahan kamu kok."ujar Aldo sambil mengelus punggung Sheila.
"Tapi itulah kenyataannya Al, dengar kan tadi kak Ajeng bilang aku ini udah menghancurkan kebahagiaan dia ?"ujar Ajeng masih menangis.
Aldo melepaskan dekapannya,lalu menangkup pipi Sheila dan menatap mata coklat itu begitu dalam."Udah aku bilang, semua yang terjadi sama Ajeng itu bukan salah kamu. Ini buah dari perilaku dia yang selalu jahat pada orang. Kamu udah mencoba menariknya untuk berhenti kan ? tapi dia masih terus bertekad untuk selalu berbuat jahat. Jadi ini semua bukan salah kamu, Allah sudah menegurnya saat ini."ujar Aldo meyakinkan Sheila.
"Kamu ga berpikiran sama kan kaya kak Ajeng, Al ?"tanya Sheila lirih.
Aldo menggeleng."Aku bukan orang bodoh yang mudah termakan omongan orang lain."ujar Aldo sambil menatap Ajeng begitu lembut.
"Terimakasih Al, terimakasih."ujar Ajeng sambil memeluk Aldo.
__ADS_1
Aldo merasakan ada hal aneh dalam dirinya. Hatinya begitu tenang saat Ajeng memeluknya. Jantungnya pun berdetak tak beraturan. Untung saja ia bisa menormalkan kondisinya saat ini.
Ingat dengan janjimu Al, kamu sedang menunggunya. Kamu ga boleh menaruh perasaan apapun pada orang lain. Ada seseorang yang kamu tunggu sejak lama. Jangan jatuh cinta pada Sheila, Al. ujar Aldo dalam hati.