
Sheila tengah termenung di dalam kamarnya. 2 jam lalu Aldo sudah mengantarkannya pulang ke rumahnya. Hari ini adalah hari yang buruk bagi Sheila. Ia harus ikhlas berpisah dengan Aldo demi kedua orang tua Aldo dan tentunya demi perjodohan Aldo dengan wanita pilihan Ayahnya.
Sheila tengah berbaring di dalam kamar saat ini. Langit langit kamar berwarna putih gading itu ia tatap dan sesekali pikirannya terusik. Nama Aldo selalu terngiang di dalam pikirannya.
Lupakan dan ikhlaskan mas Al, Sheila. Ayolah...gerutunya dalam hati.
CEKLEK
Seketika pintu itu terbuka, terlihat wanita paruh baya mendekati Sheila yang dilihatnya sedang asik melamun.
"Sayang... ayo turun ke bawah kita makan sama-sama."ajak Dian mama Sheila.
Sheila terkesiap."Loh mama kapan masuk ?"tanya Sheila sambil bangkit dari tidurnya.
"Baru aja kok, kamu asik melamun sih jadi ga sadar ada mama disini. Melamunkan apa sih ?"tanya mama Dian sambil mengelus kepala Sheila dengan sayang.
Sheila tersenyum."Enggak ada kok Ma, aku cuma sedikit lelah aja seharian ini kan ada pesta pertunangan Nayla dan kak Bagas."ujar Sheila berbohong.
"Yaudah kamu bersih-bersih, ganti baju terus turun ke bawah ya. Kita makan malam bersama."pinta mama Dian
Sheila mengganggukan kepalanya.
..........
Sheila sudah bergabung dengan kedua orang tuanya di meja makan. Sedari tadi ia hanya mengaduk makanannya, tanpa ada satu sendok pun masuk ke dalam mulutnya.
Kegiatannya itu sedari tadi diperhatikan oleh 2 orang paruh baya di hadapannya. Mereka tahu jika saat ini putri tunggalnya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu makan dong makanannya, jangan hanya mengaduknya sedari tadi."ujar Tio papa Sheila.
Sheila tersadar dari lamunannya."Maaf ya Pa, aku lagi ga selera buat makan."ujar Sheila sambil menunduk.
Mama Dian menghampiri anaknya itu. Ia duduk di kursi sebelah Sheila. "Kamu kenapa hmm ? Lagi ada masalah kah ?"tanya mama Dian.
Sheila menggelengkan kepalanya."Enggak ada masalah apapun kok Ma, Sheila hanya lelah."ujar Sheila berbohong.
"Kamu sakit ? Apa perlu papa panggil dokter kesini ?"tanya papa Tio.
"Sheila mau istirahat aja di kamar ya Ma, Pa."pinta Sheila sambil beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Sebentar nak, ada yang ingin Papa bicarakan."ujar papa Tio menghentikan Sheila.
Sheila kembali duduk."Ada apa Pa ?"tanya Sheila sambil menumpukkan tangannya di meja.
"Bagaimana pendapatmu dengan sebuah perjodohan,nak ?"tanya papa Tio.
Sheila melirik mama Dian yang ada di sebelahnya."Ko papa membahas perjodohan sih Ma ?"tanyanya pada mama Dian.
"Papa dan Mama sudah menemukan lelaki yang tepat untuk menjadi suamimu, nak."ujar mama Dian dengan halus seraya membelai surai Sheila.
Sheila menatap keduanya bergantian."Kalian berniat menjodohkan Sheila, begitukah ?"tanya Sheila.
Keduanya mengangguk."Kamu gak perlu khawatir sayang, mama yakin dia pria yang tepat untuk kamu. Lagipula kami mengenal keluarganya, mereka orang baik."tutur mama Dian.
"Siapa lelaki itu Pa ? apa anak teman bisnis Papa ?"tanya Sheila pada papa Tio.
Papa Tio tersenyum."Mereka bukan dari kalangan pebisnis sayang, tapi Papa yakin mereka keluarga yang cukup baik. Minggu depan kami berniat untuk mempertemukan anak-anak kami."ujar papa Tio.
"Bagaimana sayang ? Kamu setuju dengan rencana kami ?"tanya mama Dian.
Sheila membuang nafasnya dalam."Baiklah terserah pada kalian saja, Sheila selalu yakin jika apa yang kalian putuskan untuk aku itu hal yang tepat dan terbaik untukku."ujar Sheila sambil beranjak dari sana dan meninggalkan meja makan.
"Sayang... hei makan dulu makanan kamu, Sheila."teriak mama Dian, namun tak mengurungkan niat Sheila untuk terus meninggalkan meja makan.
Amanda saat ini tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk Arkan, suaminya. Nasi goreng dengan telur mata sapi yang spesial ia suguhkan untuk sang suami. Meskipun kerap merasakan mual saat mencium bumbu dapur, tapi ia berusaha menahannya demi bisa melayani suaminya dengan baik.
Saat sedang mengaduk semua bahan itu, ia dikejutkan dengan sepasang tangan kekar yang melingkar sempurna di perutnya.
"Selamat Pagi, sayang.."ujar Arkan dengan kepala yang ia labuhkan di ceruk leher istrinya.
"Selamat pagi, Abang."balasnya dengan mesra.
"Abang udah bilang kan gausah masak kaya gini, nanti kamu kecapean sayang."tegur Arkan dengan halus.
Amanda mematikan kompor itu sejenak. Ia balikkan tubuhnya, lalu merangkul leher suaminya dengan mesra."Manda justru seneng ko masak gini, kemauan baby nya juga nih."ujar Amanda dengan sebelah tangan mengelus perutnya yang sudah terlihat sedikit menonjol.
"Tapi kalo mual atau merasa kelelahan, jangan dipaksakan ya sayang. Ingat kesehatan kamu dan dia bagi Abang jauh lebih penting."ujar Arkan mengingatkan.
"Siap pak Bos."ujar Amanda dengan memberi hormat pada Arkan. "Yaudah abang tunggu di meja makan ya, ini udah tinggal disiapkan aja nasi gorengnya."titah Amanda dengan lembut.
__ADS_1
"Abang cinta kamu sayang."ungkap Arkan seraya mengecup sekilas dahi.
Amanda hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Arkan yang semakin hari memang semakin manja pada dirinya.
Kehamilan Amanda memang disambut antusias oleh orang-orang terdekatnya, bahkan Arkan begitu sangat memanjakannya. Tak jarang jika Amanda akan meminta sesuatu saat malam hari, dan Arkan selalu berusaha memenuhi keinginannya.
Aku juga mencintai kamu bang Arkan. Gak disangka suamiku adalah kakak dari sahabatku sendiri.ujar Amanda dalam hati .
"Sayang.. mas mau mandi dulu aja ya, gerah banget ini. Setelah itu mas akan sarapan."teriak Arkan dari meja makan yang seketika membuat Amanda terkesiap dari lamunannya.
"Iya Bang... bajunya sudah Manda siapkan."balas Amanda dengan berteriak.
Namun bukan langsung beranjak ke kamar, Arkan malah kembali menghampiri Amanda ke dapur. Ia lantas menggendong Amanda tanpa aba-aba dan membuat Amanda sedikit terlonjak kaget.
"Abang......"teriak Manda.
"Suttt jangan teriak gitu, ntar disangka aku siksa kamu lagi sama tetangga."ujar Arkan sambil mengecup bibir istrinya.
"Abang apa-apaan sih turunin, Amanda bisa jalan sendiri."ujarnya sedikit memberontak.
"Jangan berontak gitu sayang, nanti kamu jatuh loh."ujarnya sambil berbisik.
"Abang ko bawa aku ke kamar sih ?"tanya Manda saat menyadari jika Arkan berjalan menuju ke kamar mereka.
"Mau cari keringet dulu bareng istri."ujar Arkan asal sambil membuka pintu kamar dengan susah payah.
Arkan merebahkan tubuh istrinya dengan pelan ke ranjang. Tak lupa ia tindih istrinya itu dan di tatapnya begitu dalam.
"Sebelum mandi dan berangkat kantor, perlu olahraga dan asupan vitamin dulu "ujar Arkan sambil membuka satu persatu kancing piyama Amanda.
Amanda membelalakkan matanya."Abang jangan sekarang ya, ini masih pagi. Kalo mama dan papa denger kita.."ujar Amanda terpotong karena Arkan tiba-tiba mel*mat bibirnya.
"Mama dan Papa pagi tadi sudah pergi mengunjungi Asyila, katanya mereka kangen sama anaknya."ujar Arkan semakin gencar menjelajahi apapun di tubuh Amanda.
"Mas tapi pelan-pelan ya, inget ada dedek disini."ujar Amanda sambil mengelus perutnya.
"Sesuai permintaanmu sayang.."ujar Arkan sambil terus meraba dan membelai tubuh Amanda dengan penuh kelembutan..
Hingga saat itu, di kamar keduanya hanya terdengar suara lenguhan dan ******* dari kedua insan muda itu. Olahraga dan vitamin yang dimaksudkan ternyata adalah kegiatan panasnya dengan sang istri.
__ADS_1
GUYS AKU SEDIKIT MEMASUKKAN CERITA AMANDA DAN ARKAN JUGA YA BIAR GA DIANGGAP MENGHILANG DARI CERITANYA...😁😁
LIKE,COMMENT, GIFT HADIAH UNTUK AUTHOR JANGAN LUPA YA GUYS...🥰🥰