
“BRENGSEK…”umpatnya saat melihat Rian yang akan memperkosa Ajeng.
Lelaki itu segera menghampiri Rian yang belum sadar jika saat ini orang lain telah masuk ke ruangan itu. Ia masih dipenuhi oleh kabut hasrat saat melihat Nayla. Lelaki itu menarik Rian hingga bangkit dari atas tubuh Nayla. Satu pukulan berhasil mendarat di pipi Rian. Rian yang terkejut seketika menormalkan pandangannya saat rasa ngilu menjalar di sekitar pipinya.
“Bangsat…. Apa-apaan lo ?”umpat Rian dengan emosi dan siap menyerang lelaki tadi.
Ia berhasil mengelak dari Rian.Ia memegangi tangan Rian yang tadi hampir saja mengenai pipinya.”Lo emang pria bajingan yang pantas untuk diberi hukuman penjara. Setelah ini gue pastikan lo dan istri licik lo itu bakal mendekam selamanya di balik jeruji besi.”ancam lelaki itu.
Seketika mata Rian terbuka lebar ketika mendengar nama istrinya disebut. “Ajeng ? dimana istri gue hah ?”teriak Rian.
“Gue udah jeblosin dia ke penjara.”ujar lelaki itu.
Falshback On..
Bagas tengah dalam perjalanan untuk menyelamatkan Nayla. Ajeng yang berada di sampingnya terus saja mengultimatum dan mengancam akan melukai Nayla jika sampai Bagas tak menuruti keinginannya. Bagas resah, pikiran buruk mengenai apa yang terjadi pada Nayla menyelimutinya selama membawa mobil itu.
Ajeng tersenyum menang. Saat ini ia berada di atas angin, karena merasa semua rencananya telah sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Di tengah perjalanan, Bagas merasakan getaran di gawainya yang berada di balik saku jasnya. Bagas melirik ke arah samping, terlihat Ajeng yang masih asik menatap gawainya sendiri. Ajeng tampaknya sedang fokus dengan gawai itu. Bagas bernafas lega. Lalu dengan hati-hati ia buka gawainya dengan sembunyi-sembunyi. Satu pesan masuk ia dapatkan di gawainya. Segera ia buka pesan itu dengan sesekali matanya memeriksa Ajeng yang berada di sampingnya.
Anak buah gue udah tau lokasi Nayla ada dimana. Lo sekarang bawa Ajeng ke Kantor polisi dulu, setelah itu selamatkan Nayla. Lo jangan khawatir, anak buah gue tetep awasi tempat itu. Segera lo bawa Ajeng kesini. Gue udah serahin semua bukti kejahatan dia sama pihak kepolisian. Isi pesan yang Erlan tulis beberapa menit lalu.
Bagas membuang nafas dengan lega. Setidaknya sudah ada titik terang tentang keberadaan Nayla.
Bagas dengan segera mengemudikan mobil dengan cepat untuk menuju ke kantor Polisi. Selama itu Ajeng tak menyadari sedikitpun jika ia akan dibawa ke tempat yang bukan seharusnya ia tuju.
Mobil Bagas kini sudah berhenti di depan kantor Polisi yang tadi Erlan sebutkan. Ajeng seketika menegang saat tau tempatnya berada kali ini. Ajeng melirik tajam pada pria yang ada di sebelahnya.
"Lo jangan coba macem-macem Bagas. Keselamatan Nayla ada di tangan gue."ancam Ajeng.
Bagas tak menghiraukan ancaman Ajeng. Ia keluar dari mobil, lalu menarik paksa Ajeng agar ikut keluar bersamanya.
"Keluar Lo.." teriak Bagas.
__ADS_1
Ajeng mencoba melepaskan tangan Bagas yang sedang mencengkramnya dengan erat."Lepasin gue, lo mau kalo Nayla ga selamet hah ? Gue bisa dengan gampang suruh suami gue dan anak buahnya buat bunuh dia sekarang."ancam Ajeng lagi.
"Sebelum mereka menyentuh adik saya, anak buah kamu lah yang terlebih dulu dilumpuhkam oleh anak buah saya, Ajeng."serga Erlan yang ternyata sudah menunggu kedatangan mereka.
"Bangsat.. lo mau nipu gue ??"teriak Ajeng emosi.
Erlan tersenyum sinis."Saya hanya mengikuti permainanmu Ajeng. Dan disini kamu lah yang kalah. Kamu terjebak sendiri dengan rencanamu. Kamu pikir saya orang bodoh yang bisa kamu manfaatkan."ujar Erlan dengan tegas.
Erlan lalu menoleh saat Polisi menghampirinya."Ini lah tersangka kejahatan yang saya maksud Pak. Semua bukti sudah saya serahkan. Dan saya mohon beri hukuman yang setimpal atas perbuatannya."pinta Erlan.
"Baik Pak. Kami akan tindak lanjuti dengan segera."ujar Polisi itu lalu dengan sigap menangkap Ajeng.
"Lepasin gue.. Bangsat lo semua.. gue ga terima... Lepasin gue...."teriak Ajeng.
Erlan menoleh pada Bagas."Sekarang lo duluan ke tempat yang tadi gue chat ke lo. Selametin Nayla, anak buah gue udah berjaga disana."pinta Erlan
Bagas mengangguk."Thanks ya Bang, lo udah bantu gue."ujar Bagas.
"Lo orang yang adek gue cintai, Gas. Gue pasti akan bantu lo, demi Nayla."ujar Erlan sambil menepuk bahu Bagas.
"Yaudah Bang gue pergi dulu kalo gitu. "ujar Bagas yang segera berlalu darisana.
Flashback Off.
Rian berniat untuk kembali menyerang. Namun sayang, Bagas dengan sigap mengelak dan justru menyerang Rian dengan pukulan bertubi-tubi. Keduanya terlibat perkelahian, pukul memukul bahkan saling menendang. Namun Bagas tadi bisa berhasil melumpuhkan Rian yang saat ini sudah dalam keadaan babak belur. Darah dan lebam memenuhi wajahnya.
Lalu dimanakah Nayla ?
Saat ini ia tengah bersembunyi di balik sofa. Ia sedang membenahi dan merapikan kembali penampilannya. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri saat melihat ada bekas tanda merah di sekitar dadanya. Nayla hanya bisa menangis. Saat ini ia sudah ternoda pikirnya.
Ya Allah Nay sudah ternodai… Nay melakukan dosa besar ya Allah… Ampuni Nayla. Lirihnya sambil menangis.
Jajaran polisi sudah sampai di tempat kejadian. Rian dan 2 anak buahnya pun sudah diringkus oleh polisi. Para penjahat itu kini sudah mendapat ganjaran dari perbuatan mereka.
__ADS_1
Setelah urusan mengenai penangkapan Rian dan 2 anak buahnya selesai, lelaki tadi kembali ke ruangan itu untuk menyelamatkan gadis yang tadi hampir mengalami pelecehan. Suara isakan tangis dari gadis itu terdengar, membuat lelaki ini mendekat dan menghampiri Nayla.
“Nayla….”panggilnya.
Nayla ketakutan. Ia menundukkan kepala dan tak lupa menutup tubuh bagian atasnya dengan tangan.”Tolong jangan sakiti aku.. lepaskan aku tolong…”lirihnya sambil menangis.
Bagas menatap nanar wanita yang ada di hadapannya. Dadanya sesak melihat begitu menyedihkannya keadaan Nayla saat ini. Bagaimana tidak pakaian Nayla sudah tak sempurna karena terdapat robekan di bagian dadanya, rambut Nayla begitu berantakan. Dan yang lebih menyakitkan ketakutan dan isakan tangis Nayla yang pilu menjadi bukti bahwa saat ini Nayla dalam kondisi tidak baik-baik saja. Lelaki itu berjongkok dan mencoba untuk menyentuh Nayla.”Nayla.. hei aku…”ujarnya tertahan saat Nayla semakin memundurkan badannya dan menepis tangan lelaki itu.
“Tolong menjauhlah… jangan lakukan itu… tolong lepaskan aku…jangan menyentuhku…”lirihnya dengan nada ketakutan.
Bagas seketika beringsut membawa Nayla ke dekapannya.”Nayla hei ini aku… jangan takut hmm…”ujar Bagas.
Nayla masih saja berontak, ia mencoba mendorong dada lelaki yang mendekapnya saat ini. Ia pikir jika lelaki itu adalah Rian pria brengsek yang tadi hampir melecehkannya.”Aku mohon lepaskan aku… jangan menyentuhku..”teriak Nayla begitu pilu.
Lelaki itu menangkup pipi Nayla. Sementara Nayla hanya bisa memejamkan mata sambil diiringi dengan tangisan yang semakin pilu.”Lihat aku… aku bukan orang jahat.. buka mata kamu Nay..”pinta Bagas.
Nayla perlahan membuka kelopak matanya. Ia seketika merasa bahagia saat melihat lelaki yang ada di hadapannya.”K-K-Kak Bagas…”panggil Nayla lirih.
Bagas tersenyum.”Iya ini aku Nay… Bagas…”ujar Bagas.
Nayla seketika memeluk Bagas begitu erat. Ketakutannya sedikit berkurang melihat lelaki yang saat ini berada di hadapannya ternyata bukanlah pria jahat.”Nay… Nay… Nayla takut kak.. hiks..hikss…”ujar Nayla yang masih membenamkan wajahnya di dada Bagas.
“Sutttttt… udah kamu aman sekarang.. kakak udah disini.. kakak janji mulai sekarang akan selalu menjaga kamu Nay..”ucap Bagas sambil menangkup wajah Nayla.
Nayla hanya tersenyum. Sakit di kepalanya semakin terasa. Nayla sesekali meringis merasakan denyutan di kepalanya itu.”Maafkan Nayla jika sudah merepotkan kakak, maaf karena selalu mengganggu hidup kakak, maaf karena selalu mengacaukan hari kakak. Mungkin kejadian ini adalah hukuman untuk Nayla karena sudah menjadi pengganggu untuk kakak.”ujar Nayla begitu lirih.
Bagas menggelengkan kepalanya.”Engga Nay.. kamu bukan pengganggu.. maafkan kakak Nay… Kakak baru sadar jika…”ucap Bagas tertahan karena mendadak Nayla tak sadarkan diri.
Bagas terlihat panic.”Nay.. bangun buka mata kamu..”pinta Bagas namun Nay tak bergeming.”Nayla… buka mata kamu Nay… kakak mencintai kamu… Ayo sayang bangun…”ujar Bagas sambil menepuk pelan pipi Nayla.
Nayla masih tak bergeming. Bagas dengan segera menggendong Nayla. Namun sebelumnya ia pakaikan jas miliknya ke tubuh Nayla untuk menutupi bagian tubuh Nayla yang sedikit terbuka. Ia segera membawa Nayla ke mobil untuk ia bawa ke rumah sakit terdekat.
Sepanjang jalan ia sesekali melirik Nayla yang masih tak sadarkan diri. Bagas merasakan sesak di dadanya melihat penampilan Nayla saat ini. Untung tadi Bagas tidak terlambat sampai disana, jika saja sedikit terlambat mungkin saja Nayla akan jauh menyedihkan daripada ini. Dan itu akan membuat Bagas lebih menyesal.
__ADS_1
Ya Allah selamatkan Nayla… jangan ambil dia dariku sebelum aku bisa memberi kebahagiaan untuknya. Lirih Bagas sambil mengelus puncak kepala Nayla.