
Asyila terbangun pukul 3 dini hari, dilihatnya Vino yang masih setia menutup mata sementara Erlan sedang fokus di dalam mimpinya.
"Masih pukul 3, aku sebaiknya salat tahajud dulu"ucap Asyila
Dia berjalan menuju kamar mandi dan segera mengambil air wudhu. Ia kenakan mukena yang sengaja ia siapkan saat akan ke rumah sakit. Asyila melaksanakan ibadahnya dengan khusyu.
Ya Allah hamba mohon sembuhkan Vino, segera buat dia membuka matanya Ya Allah, hamba sangat menyayanginya Ya Rabb, tolong lindungilah orang-orang yang hamba sayangi. Kabulkanlah doa hamba Ya Allah.Doa Asyila seraya menengadahkan tangannya.
Tanpa Asyila sadari Erlan sudah memperhatikannya saat dia beranjak dari kursi menuju ke kamar mandi. Namun Erlan tak bergeming, ia ingin tahu apa yang akan Asyila lakukan di waktu malam begini.
Ya Allah bisakah aku egois ? bolehkah aku memiliki wanita itu untuk menjadi Bidadari Surgaku dan Ibu untuk Vino. Batin Erlan
Pagi sudah menjelang, bulanpun sudah digantikan oleh Matahari yang siap menemani umat manusia untuk melakukan aktivitasnya. Namun berbeda dengan Asyila yang kini tengah duduk manis di samping ranjang Vino. Ia setia menemani anaknya itu, ia genggam tangan Vino dengan erat tak lupa juga sesekali diciumnya.
"Syil, aku buatkan teh."ucap Erlan sambil menyodorkan secangkir teh pada Asyila.
"Terimakasih mas"ucap Syila sambil tersenyum
"Kalo kamu mau ke Kantor silahkan saja Syil, biar Vino aku yang jaga."ucap Erlan
"Engga mas, aku udah kabari Papa kalo selama Vino belum pulih aku tidak akan berangkat ke Kantor dulu." ucap Syila
"Lalu pekerjaanmu ?"tanya Erlan
"Mas tenang aja ada Pak Tomi yang bisa menghandle."ucap Asyila.
Tiba-tiba Asyila melihat jari Vino bergerak, dia terkejut bahkan sempat mematung saat melihat apa yang dilihatnya barusan. Hingga setelah itu..
"Bun-Bunda..."lirih Vino yang sedikit demi sedikit membuka matanya.
"Sayang ini bunda nak, kamu sudah siuman ?" tanya Asyila
Vino hanya tersenyum, lalu pandangannya beralih ke sisi sebelah kiri, ada Erlan yang juga sedang menunggunya.
"Pa-Papa.."lirihnya lagi
"Ini Papa nak, Papa kangen sama jagoan Papa ini"ucap Erlan menghmapiri Vino lalu mencium pipi anaknya.
"Mas biar aku panggilkan Dokter dulu"ucap Asyila yang dibalas anggukan oleh Erlan.
Tak lama Dokter datang dan langsung memerika Vino.
"Kondisinya sudah stabil Pak, tinggal menunggu pemulihannya saja. Saya permisi"ucap Dokter
"Terimakasih Dok"ucap Erlan dan Asyila bersamaan.
"Bunda..."panggil Vino
"Iya sayang ? Vino butuh sesuatu ?"tanya Asyila seraya menghampiri Vino
"Ha-haus Bunda."ucapnya masih terbata
"Sebentar bunda ambilkan"ucap Asyila sambil mengambilkan segelas air untuk Vino.
"Bunda bantu ya nak."ucapnya lagi seraya membantu Vino untuk minum.
"Bunda..."lirih Vino
__ADS_1
"Kenapa lagi sayang ?"ucap Asyila lembut
"Vino ingin dipeluk Bunda"pintanya.
"Baiklah sesuai keinginanmu sayang."ucap Asyila seraya memeluk Vino
"Bunda bisa berjanji sesuatu pada Vino ?"tanya Vino
"Janji apa sayang?"tanya Asyila sedikit heran
"Bunda tidak akan meninggalkan Vino"ucapnya memeluk pinggang Asyila dengan erat.
"Vino ingin Bunda menjadi mama Vino apa boleh ?" tanyanya begitu polos
Asyila terkejut, lidahnya seakan kelu saat Vino memintanya untuk menjadi Ibu sambungnya.
"Hmm sebenarnya Bunda..."ucapnya tertahan
"Vino kamu tidak bisa memaksa Bunda kaya gitu."ucap Erlan
"Aku akan pikirkan permintaan Vino mas"timpal Asyila
Kini mereka berdua tengah duduk di Taman rumah sakit, keduanya menatap lurus ke depan. Tak ada pembicaraan satu sama lain, keduanya bingung dengan permintaan Vino tadi.
"Syil..."panggil Erlan
"Hmm?"sahut Asyila yang masih menatap ke depan
"Kamu yakin ?"tanyanya ambigu
"Syil aku tau kamu pasti merasa keberatan dengan permintaan itu, aku tau karena.."ucap Erlan
"Sudahlah mas lihat kedepannya akan seperti apa, sekarang yang aku pikirkan hanya kesembuhan Vino."ucapnya seraya berdiri kemudia meninggalkan Erlan.
aku bisa melihat Syil kalo kamu sudah melupakan soal janji kita, bahkan namaku sepertinya sudah digantikan oleh pria yang bersamamu tempo hari. Batin Erlan
Sakit sekali mas saat kamu meragukan keyakinanku, aku bisa melihat tidak ada lagi cinta dan namaku di hatimu mas, kamu pasti sudah menautkan namamu dengan perempuan bernama Melanie itu. Aku semakin yakin jika janji yang kamu berikan hanya janji manis saja. Batin Asyila yang sesekali menyeka air matanya.
Di dalam ruangan Vino sudah ada Papa Herman, mama Shindy, Melanie dan tentunya Vino. Asyila yang saat itu baru saja tiba sehabis kembali dari taman disambut hangat oleh mama Shindy.
"Asyila nak, kamu darimana ?"tanya mama Shindy
"Asyila tadi diam di Taman tante, mencari udara segar sebentar."ucapnya ramah
"Pa.. ini Asyila perempuan yang mama ceritakan semalam, dia yang sudah mengembalikan Vino di tengah2 kita, dengan keyakinan yang kuat dia berbicara seolah Vino harus kuat dan kembali. Bahkan dia juga yang sudah dengan ikhlas mendonorkan darahnya untuk Vino."jelas mama Shindy
"Terimakasih Syil sudah menyelamatkan nyawa cucu Om, kami berhutang budi padamu."ucap Papa Herman
"Tidak Om, Vino sudah seperti anak Asyila ko."ucapnya ramah
"Eh lo bukannya cewe yang ada di Mall kemarin ya ?"ketus Melanie
"Hmm benar mbak, kita bertemu kemarin di City Mall"ucapnya ramah
"Oh iya Syil, ini Melanie. Dia.."ucap mama Shindy tertahan
"Calon istri Erlan dan Calon ibu sambung Vino."ucap sombongnya lalu mengulurkan tangannya pada Asyila
__ADS_1
"Salam kenal ya mbak"balasnya begitu ramah.
Tak lama nada dering hp Asyila berbunyi menandakan ada panggilan masuk
Mama ? Batin Asyila
"Tante, Om, mbak Mel aku terima telepon dulu"ucapnya seraya meninggalkan ruangan Vino
Assalamu'alaikum Mama..
Walaikumsalam sayang, kamu masih di rumah sakit ?
Iya Ma,, ada apa ?
Begini nak, tadi kakakmu menelpon mama, dia sudah sampai di Bandara sekitar 15 menit lalu.
Apa ? Kak Arkan sudah kembali ke Indonesia Ma ?
Iya nak, sepertinya kepulangannya tidak direncanakan. Bisa tidak kamu yang jemput Kakakmu ?
Tapi semalam Syila kan tidak membawa mobil Ma
Begini saja nak, biar Mang Ujang jemput kamu di rumah sakit setelah itu kamu langsung menuju Bandara. Bagaimana ?
Yaudah Ma, kalo gitu Asyila tunggu Mang Ujang dateng ya.
Baiklah nak, mama akan hubungi Mang Ujang ya. Kalo gitu mama tutup dulu ya sayang. Assalamu'alaikum
Iya Ma Walaikumsalam
Tut
Telepon terputus. Asyila kembali ke ruangan Vino berniat untuk berpamitan sebentar.
"Tante,Om begini sepertinya Asyila harus pamit sebentar. Kebetulan tadi mama mengabari ada urusan mendadak dan Syila yang harus tangani. Tidak apa kan ?"tanya Asyila sedikit tak enak.
"Pergilah nak, tak apa kamu tenang aja, Vino kan banyak yang jagain."ucap mama Shindy ramah
"Asyila akan kembali sore atau besok pagi tante. Kalo gitu Asyila pamit ya."seraya menyalami mama dan papa Erlan
"Baiklah nak, apa perlu diantar ? kalo perlu biar Erlan yang antar kamu."tawar papa Erlan
"Tidak perlu Om, kebetulan supir keluarga kami tengah dalam perjalanan untuk menjemput Syila." tolak halus Syila.
"Baiklah kalo begitu, hati-hati ya nak"
Asyila meninggalkan ruangan Vino dengan berat hati, saat berpamitan tadi Vino sedang tertidur sangat pulas jadi dia tidak bisa berpamitan dengan Vino. Saat berada di koridor dia tak sengaja berpapasan dengan Erlan
"Syil, kamu seperti terburu-buru mau kemana"
"Begini mas, aku ada urusan mendadak dan harus bertemu seseorang saat ini, dia sudah menungguku dan aku merasa tak enak jika tidak datang menemuinya."jelas Asyila
"Baiklah kalo begitu aku antar."ajak Erlan
"Hmm tidak perlu mas, aku sudah dijemput supir. sepertinya dia sudah sampai di depan.Aku berangkat ya Assalamu'alaikum"pamit Asyila terburu-buru
Syila mau kemana ? Dia bilang tadi akan bertemu seseorang ? Apa dia ingin menemui pria itu ? Ah sudahlah kenapa aku jadi repot mengurusi urusannya.Batin Erlan.
__ADS_1