Cinta Dalam Penantian

Cinta Dalam Penantian
Perkataan yang Menyakitkan


__ADS_3

Asyila telah sampai di tempat Martabak yang ia inginkan. Tempatnya begitu ramai hingga semua pengunjung diharuskan antri. Erlan sedang mengantri di seberang sana, sementara Asyila tengah duduk manis di bagasi mobil. Entahlah ia juga bingung dengan keanehan sikapnya beberapa hari ini.


Aku ini kenapa ya akhir-akhir ini moodnya berubah-ubah. Kadang seneng kadang juga pengen nangis. Heran deh. gumamnya dalam hati .


Erlan yang kini tengah menunggu pesanannya, tiba-tiba dikejutkan dengan seseorang yang memeluknya dari belakang tanpa rasa malu.


"Hai mas Erlan.. Sheila kangen"ucap Sheila tanpa rasa malu


Erlan menghempaskan tangan Sheila dengan kasar dari pinggangnya."Dasar wanita mur**an, tidak tahu malu."umpat Erlan kesal


"Mas ini kenapa sih ? Dulu aja kamu seneng aku peluk kaya gini, sekarang malah nolak-nolak."ucap Sheila sedikit berteriak


"Sadar kamu Sheila dengan posisi kamu, saya ini sudah menikah dan bahagia bersama istri saya. Saya harap kamu tidak menganggu kehidupan rumah tangga saya dengan Asyila."ucap Erlan mengingatkan.


"Apa yang mas harapkan dari wanita bernama Asyila itu hah ? Cantik ? Aku juga gak kalah cantik mas dari dia."ujarnya tak tahu malu.


"Bukan itu yang aku lihat dari istriku, tapi kesetiaan dia menungguku selama 8 tahun lamanya. Lagipula aku memang mencintai istriku sejak dulu dan rasa itu sudah tertaut begitu dalam dan tak ada yang bisa mengubahnya."ujar Erlan percaya diri.


"Sheila yakin gak akan lama mas Erlan akan meninggalkan dia dan datang padaku, apalagi sampai saat ini istrimu itu masih belum hamil juga. Hahaha aku yakin kalo dia itu mandul."ujarnya sambil mengejek Erlan


"Dasar perempuan sialan, jaga ucapanmu itu Sheila."teriak Erlan sambil menunjuk wajah Sheila.


"Tapi itu kebenarannya kan ? Ayolah mas aku bahkan rela jika saat ini kamu mengingikanku menyerahkan diriku sepenuhnya untukmu."ujar Sheila tanpa malu.

__ADS_1


Plak..


Satu tamparan mendarat di pipi Sheila. Erlan bahkan sempat melongo dengan apa yang dilihatnya barusan. Ya Asyila lah yang menampar pipi wanita tak tahu malu itu.


"Perempuan tidak tahu malu, bahkan kamu menawarkan dirimu kepada laki-laki yang sudah beristri."ujar Asyila sambil tersenyum sinis namun dengan wajah yang berurai air mata.


"Loe kurang ajar ya Asyila, berani loe sama gue."teriak Sheila yang menghampiri Asyila dan siap membalas tamparan Asyila.


"Jangan pernah berani menyentuh satu inci tubuh istriku Sheila, jika berani aku tak segan memanggil polisi untuk menangkapmu."ancam Erlan sambil memegang tangan Sheila


"Dasar perempuan gatau malu, sadar mbak.. situ cantik tapi kelakuan udah kaya wanita murahan aja."ejek seorang pembeli disana.


"Maaf mbak sebaiknya anda pergi dari warung saya, anda sudah buat keributan disini. Pembeli yang lain tidak nyaman."ujar penjual martabak itu seraya membawa Sheila menjauh dari sana.


Sementara itu Asyila hanya menangis saat mendengar kata-kata yang menyakitkan hatinya yang tadi Sheila lontarkan pada Erlan. Asyila berlari dari sana dan masuk menuju mobil. Erlan segera menerima pesanan martabaknya, tak lupa ia membayar dan mengucapkan terimakasih. Setelah itu ia segera menyusul istrinya ke dalam mobil.


"Sayang... nih martabak coklat keju pesenan kamu. Yuk makan"ajak Erlan pada istrinya.


Asyila tak bergeming, ia masih bergelut dengan pikirannya. Keinginannya soal martabak itu bahkan sudah hilang, meluap bersama dengan kekesalannya. Asyila masih terdiam bahkan enggan menatap suaminya saat ini.


"Aku mau pulang."ujarnya dengan mata yang masih membuang pandangannya dari Erlan.


"Kita makan dulu martabaknya ya sayang, kamu kan tadi pengen martabak katanya. Kalo udah dingin ntar gaenak loh."bujuk Erlan sambil berniat mengelus pipi istrinya, namun justru Asyila semakin membuang pandangannya saat ini, ia memilih melihat ke arah luar jendela.

__ADS_1


"Pulang.."ujar Asyila sedikit berteriak.


"Yaudah kita pulang sekarang."ujar Erlan pasrah.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, tak ada sedikitpun perbincangan di dalam mobil itu. Asyila terdiam bahkan sama sekali tak berniat membuka perbincangan. Ia sesekali menyeka air mata yang jatuh tanpa seizinnya membasahi wajah cantiknya. Ia begitu sensitif saat ini, bahkan mendengar perkataan Sheila tadi yang mengatakan bahwa mungkin saja dia mandul dan tidak bisa memberikan keturunan untuk Erlan.


Ya Allah apa benar aku ini memiliki kekurangan ?batin Asyila.


Erlan sedari tadi sesekali memperhatikan istrinya itu. Hatinya ikut merasakan sakit melihat Asyila yang sedari tadi menangis dalam diamnya. Erlan tak berniat berbicara atau membujuk, ia ingin Asyila sedikit tenang.


Ya Allah sakit sekali melihat istriku menangis seperti itu. Awas kau Sheila aku tak akan melepaskanmu. Berani sekali dia mengatakan jika istriku memiliki kekurangan.batin Erlan.


20 menit berlalu, akhirnya pasangan itu sampai di rumah. Asyila langsung keluar dari mobil, ia masih terdiam dan tak berniat berbicara dengan suaminya. Erlan mendesah berat, sepertinya Asyila sangat terluka dengan kejadian tadi.


Erlan menyusul istrinya ke kamarnya. Suara gemercik air di kamar mandi menandakan bahwa Asyila tengah melakukan ritual mandinya. Erlan menunggu istrinya untuk bergantian membersihkan diri.


Tak berselang lama, Asyila sudah siap dengan piyama tidurnya. Ia hanya menatap Erlan sekilas, lalu beranjak ke arah tempat tidur.


"Mas mandi dulu ya sayang."ujar Erlan namun tak direspon sedikitpun oleh Asyila.


15 menit berlalu, Erlan sudah rapi dengan setelah tidurnya. Pandangannya lalu beralih pada istrinya yang sedang berbaring membelakanginya. Perlahan ia menaiki tempat tidur, lalu mengelus kepala Asyila dan tak lupa ia hadiahi satu kecupan di dahi Asyila.


"Selamat malam istriku, Aku mencintaimu.."ucap Erlan lirih

__ADS_1


__ADS_2