
Tap Tap Tap
Suara sepatu dari seorang pria yang baru saja mendarat di Bandara Soetta 30 menit yang lalu. Pria itu berjalan tegap sambil menyeret koper hitamnya itu. Pria itu mengenakan kaos santai berwarna hitam, tak lupa celana jeans pedek dengan warna senada, lalu ada kacamata dengan harga fantastis yang bertengger menambah kesan karismatik bari yang melihat. Pria ini sedari tadi melirik kanan kiri seperti menunggu seseorang.
"Mama bilang bakal ada yang jemput, hufftt mana ?" Batinnya.
Tak lama seorang gadis berlari dengan terburu-buru untuk mencari seseorang di pintu keluar khusus domestik. Kepalanya kesana kemari mencari orang yang akan dia jemput.
"Kamu cari siapa ?"tanya seorang pria di belakangnya
"Aku cari...." Gadis itu menoleh dan sekejap "Kak Arkannnnn"teriaknya antusias seraya memeluk pria itu.
Ya pria tampan itu adalah Arkan Rizaldi Gunawan, anak sulung dari keluarga Gunawan, dan yang jelas dia adalah Kakak laki-laki Asyila. Arkan memang sudah lama meninggalkan Indonesi, ia memilih Belanda sebagai tempatnya untuk bekerja dan menjalani hidupnya selama kurang lebih 10 tahun.
"Ih kebiasaan kamu ga ilang ya dek, RUSUH"canda Arkan.
"Ih Kakak ko pulangnya ga bilang-bilang ? Tiba-tiba udah ada di Bandara aja."gerutu Asyila
"Kalo aku bilang kalian dulu bukan kejutan dong dek"ucap Arkan tertawa
"Ya seengganya kabari kami dulu kan bisa, lagian tumbenan nih tiba-tiba pulang, ada apaan ?" ucapnya seraya berjalan menuju mobil mereka.
"Kangen usilin kamu dek, hahahah"candanya
"Kakak ih " Asyila cemberut
"Masih sama aja ternyata RUSUH terus gampang marah, hahaha"tawa Arkan
"Udah deh ah Kakak, Yuk cepetan ke mobil Mama sama Papa tunggu di rumah "ajak Asyila
"Iya iya adekku yang bawel"candanya sambil berjalan.
30 menit kemudian mereka sampai di Kediaman Gunawan. Arkan keluar dari mobil dan sedikit menarik ujung bibirnya, rasanya ia sudah lama tak menapaki kakinya di rumah Klasik berlantai 2 ini. Pikirannya menerawang, ingatannya saat memutuskan berkuliah di luar negeri lalu melanjutkan karirnya di negeri Paman Sam itu sedikit mengusik hati kecilnya.
"Kak ayo masuk malah bengong, ntar kesambet loh"canda Asyila
"Lah bisa becanda juga ni adek gue ?"tawa Arkan
"Ishh Kakak"kesal Asyila
Mereka disambut hangat oleh sepasang paruh baya yang sudah menunggunya sejak tadi. Membuka lebar tangannya seraya menyambut anak sulungnya untuk masuk ke pelukan mereka.
"Ma...Pa... Arkan kangen banget sama kalian" ucap Arkan sambil memeluk mereka bergantian
"Papa pun sangat merindukan anak laki-laki Papa ini."ucap papa Andhika
"Anak mama rupanya sudah menjadi laki-laki tampan, mama sangat rindu padamu Arkan."ucapnya tetap memeluk Arkan erat.
"Kak Arkan aja nih yang dipeluk-peluk ? Syila engga gitu ?" ucap Asyila pura-pura merajuk
__ADS_1
"Bosen"ucap ketiganya bersamaan
Asyila hanya mendengus kesal atas candaan Arkan dan orang tuanya.
🌷🌷
Sementara di Rumah Sakit, Vino sedari tadi terus merengek karena Asyila tak ada di ruangannya. Ia menangis bahkan menolak untuk makan atau minum.
"Sayang, cucu oma makan dulu ya biar Vino cepet sembuh. Buka mulutnya nak, Aaa..."bujuk mama Shindy
"Vino gamau makan Oma, maunya Bunda hiks..hikss.."Vino tiba-tiba menangis dan semakin membuat Oma dan Opanya kebingungan.
"Vino, kenapa sayang ? Tante yang suapi mau ?"ucap Melanie pura-pura perhatian
"Gamau pokonya Vino maunya bunda, maunya sama Bunda."teriak Vino
Ishh nyebelin juga ni anak, kalo bukan gara-gara ada om dan tante, ogah gue jagain dia.Batin Melanie
Erlan baru saja kembali dari Kantor, ya tadi Aldo mengabari bahwa Erlan harus menghadiri meeting penting dengan Kliennya. Erlan yang baru sampai ke rumah sakit tak sengaja mendengar keributan di ruangan Vino, dengan terburu-buru Erlan menghampiri dan terkejut karena melihat Vino yang sedang menangis.
"Ma.... Pa... ini ada apa ? Vino kenapa nangis sayang ?"Erlan menghampiri Vino dan duduk disampingnya.
"Vino mau bunda Papa, bunda kemana ? kenapa tinggalin Vino ?"ucapnya masih menangis
"Bunda bukan ninggalin kamu sayang, kebetulan bunda ada urusan mendadak tadi makanya bunda pergi dulu. Setelah urusannnya selesai Bunda pasti kembali."jelas Erlan
"Tapi nak.."
"Erlan sebaiknya kamu jemput Asyila di rumahnya, jelaskan pada Asyila soal keadaan Vino ini."saran papa Herman
"Loh ko gitu om ?"tanya Melanie sedikit kesal
"Bagaimana lagi Mel, Vino tak akan berhenti merengek jika Asyila tidak bersamanya. Erlan,saran papa ada baiknya, kamu segera jemput Asyila. Mama yakin Asyila tidak keberatan apalagi jika ini menyangkut Vino."ucap mama Shindy
"Atau begini aja mas, kita tunggu dulu sampai nanti malam,jika Asyila tidak datang maka besok pagi kamu jemput dia mas, gimana ?"saran Melanie, yang sebenarnya tidak suka jika Asyila terus dekat dengan Erlan
"Saranmu ada benarnya juga Mel, lagipula Asyila pasti masih mengurusi urusannya. Dan lagi aku gamau juga Ma, Pa selalu melibatkan Asyila ke dalam masalahku atau ke hidup Vino."ucap Erlan
"Terserah padamu saja nak, mama dan papa sudah menyarankan demikian tapi itu kembali lagi padamu." ucap papa Herman
Yes, gue ga bakal biarin tu cewe deket-deket sama mas Erlan, bisa-bisa ilang nih kesempatan nikah sama duda kaya.Batin Melanie
"Vino sekarang makan, jangan rewel lagi. Setelah makan minum obat lalu istirahat."ucap tegas Erlan
"Vino ingin bunda Pa.."ucapnya merengek
"VINO SUDAH PAPA KATAKAN JANGAN TERUS MENERUS MENANYAKAN SOAL BUNDA, SEKARANG KAMU MAKAN LALU ISTIRAHAT, JANGAN JADI ANAK YANG NAKAL DAN MANJA. PAPA TIDAK SUKA."bentak Erlan pada Vino
Vino ketakutan, untuk pertama kalinya Erlan membentaknya. Vino menangis bahkan hingga tubuhnya bergetar
__ADS_1
"ERLAN"ucap Papa Herman sedikit emosi
"Erlan kamu ini apa-apaan membentak anakmu seperti itu, lihatlah dia sampai menangis dan ketakutan seperti ini."ucap mama Shindy sambil memeluk Vino
"Ma.. maaf Erlan tadi terlalu emosi"ucap Erlan, lalu beralih mendekati Vino."Sayang maafin Papa ya, Papa ga sengaja tadi marahin Vino, Maafkan Papa nak."lirih Erlan
"Vino takut sama Papa, Vino benci Papa, Vino gamau liat Papa."ucapnya dengan nada bergetar
"Nak maafkan Papa tolong"lirih Erlan
"Sebaiknya kamu keluar dulu, biar Mama yang menenangkan Vino."ucap mama Shindy
Erlan berlalu dari ruangan Vino lalu duduk di kursi koridor rumah sakit, menutup seluruh wajahnya dan menyesali sikapnya tadi saat membentak Vino.
🌷🌷
Di rumah Asyila, kini mereka tengah menyantap makan malam bersama, berbincang ringan dan tak sedikit gurauan dan candaan.
"Hmm aku kangen masakan mama tau, selama si Belanda aku cuma masak mie instan doang kalo ngga sup ayam udah deh."ucap Arkan
"Makanya jangan kelamaan ninggalin rumah, repot sendiri kan ??"timpal Asyila
"Huh bilang aja kamu iri sama kakak dek, kamu kan ga diizinin buat ke luar negeri sama mama dan papa."ejek Arkan
"Ma..Pa.. lihat deh Kakak terus aja godain aku"ucapnya cemberut
"Kalian nih ga pernah berubah deh berantem mulu"ucap papa Andhika sambil menggelengkan kepalanya.
"Syil, soal anak yang kamu jagain di rumah sakit kemarin keadaannya sekarang gimana nak ?"tanya mama Shindy
"Ya Allah ma.. aku lupa nanyain keadaan Vino ma, saking senengnya karena kakak pulang,sampe lupa sama Vino."ucap Asyila
"Bentar deh Ma.. ini Vino siapa ? Arkan ga paham."tanya Arkan sedikit bingung
"Dia anakku Kak, lebih tepatnya anak temanku, kebetulan anak itu selalu menarik perhatian aku makanya aku bisa deket sama dia."ucap Asyila
"Kalo gitu sebaiknya kamu kembali ke rumah sakit nak, kasian dia takutnya malah cariin kamu sayang."saran mama Vera
"Emang boleh Ma Pa ?" tanya Asyila
"Ya boleh dong, niat kamu baik nak mau membantu orang yang kesulitan. Segera bersiap kalo gitu, biar kakakmu yang anterin."ucap papa Andhika
"Oke Pa..kamu cepetan siap-siapnya dek, ga pake lama."ucap Arkan
"Iya iya kakak bawel"ucap Syila sambil menjulurkan lidahnya.
Asyila berlalu pergi ke kamarnya dan bergegas untuk bersial ke rumah sakit.
Maafin bunda nak seharian ini melupakan kamu, bunda datang nak.Batin Asyila sambil menatap foto Vini yang dia ambil saat di taman saat itu.
__ADS_1