
Siang ini sangat cerah untuk hari di awal musim penghujan. Genangan air sisa hujan semalam, beberapa masih terlihat jelas di hitam pekatnya jalan beraspal. Teriknya sinar mentari pun tak mampu mengikis lembabnya udara akibat hujan. Namun semua itu tak menyurutkan langkah kaki seorang gadis bernama Feylin Prasetya, untuk menikmati cerahnya hari ini.
Fey memiliki mata bulat, hidung mancung, bibir tipis, rambut panjang dan berkulit putih bersih.
Fey menjalin persahabatan dengan seorang gadis bernama Tara Wijaya dari kampus yang sama namun berbeda jurusan.
Tara memiliki tatapan mata tajam, hidung mancung, bibir tipis, berkulit putih bersih dan rambut pendek.
Usia keduanya baru 18 tahun. Fey memiliki sifat kalem dan bersahaja. Berbanding terbalik dengan sifat Tara yang supel dan suka ceplas-ceplos. Walau persahabatan baru seumur jagung tapi berasa sudah bertahun-tahun. Bagi mereka perbedaan tak menghalangi persahabatan ini.
Fey baru turun di pelataran kampus setelah jam kuliah terakhir di hari ini.
“Fey!” Tara melambaikan tangan di kejauhan.
“Hai, Ra!”–Fey tersenyum sambil menghampiri Tara–“kau, sudah pulang?”
Tara mengangguk, lalu ia berkata, “Fey, kita makan sushi, yuk!”
“Ok!” kata Fey.
“Yuk, jalan!” sahut Tara.
Halte kampus yang mereka tuju tampak lenggang, hanya beberapa gelintir orang menanti di sana, termasuk mereka. Tampak di kejauhan si merah, demikian mahasiswa di sini menyebut bus kampus mereka. Bus yang memang berwarna merah telah tiba dan siap mengantar sesuai rute tujuan.
Mereka tiba di sebuah resto Japanese food terkenal yummy di kawasan pusat perbelanjaan terbesar. Saat di pintu masuk resto, Tara menahan tangan Fey. Hingga Fey menghentikan langkah kakinya.
“Ada apa, Ra? Kok, berhenti!” Fey terkejut.
“Fey ... kita makan di tempat lain saja! Kita makan di sini lain kali,” sahut Tara segera menggenggam dan menarik tangan Fey, pergi sejauh mungkin dari tempat itu.
Walau tak tahu alasan pasti, Tara berubah pikiran. Fey tetap mengikuti langkah Tara keluar dari resto, seperti anak ayam mengekor sang induk. Mereka beralih resto lain walau masih di kawasan yang sama. Setelah mereka selesai menikmati menu makan siang yang meleset dari rencana, perut Tara mulai berulah.
“Fey! Tunggu sebentar, ya!”–Tara memegang perutnya–“aku mau ke toilet.”
__ADS_1
Tara tanpa menunggu jawaban Fey, ia langsung lari terbirit-birit menuju toilet umum di pusat perbelanjaan itu. Fey hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah Tara.
Habis ... kalau makan enggak kira-kira tapi takut gemuk.
Di saat menunggu Tara, Fey bersandar pada tepi balkon pusat perbelanjaan yang terdiri 8 lantai sambil menikmati view yang ada di sana.
Eits! ... Apa yang baru saja, kulihat? Sungguh tampan, apa ia seorang model? batin Fey.
Tiba-tiba mata Fey terhenti pada sosok pemuda tampan, tampak mencolok di antara semua yang lalu lalang di bawah sana. Tatapan matanya tajam. memiliki alis tebal, hidung mancung, memiliki bibir tipis, postur tubuh proposional dengan potongan rambut pendek dan berkulit putih, Fey terpana dibuatnya.
Fey meraba dada.
O ... jantungku! Mengapa berdegup kencang! batin Fey.
Ekor mata Fey tak berhenti mengikuti ke mana sosok tampan itu bergerak.
“Hai! Apa yang kau lihat?” teriak Tara.
Seketika kekaguman Fey akan makhluk ciptaan Tuhan tadi, menguap! Tara mengikuti arah, ke mana Fey memandang.
“Kok! Raut wajahmu memerah ... kaya udang rebus begitu?” kata Tara kian memperhatikan wajah Fey.
“Apa!” Fey terbengong-bengong asal jawab seperti kehilangan fokus sambil mengibaskan tangannya untuk menghalau mata Tara yang terus menatap wajahnya.
“Hayo! Apa yang menarik perhatianmu? Jangan-jangan ada cowok tampan. Mana-mana aku mau lihat juga!” sahut Tara
Kepala Tara tak berhenti di satu arah, ia celingukan kesana kemari ikut mencari tapi ia ngga tahu apa yang di cari. Fey panik melihat kegigihan Tara yang ikut mencari apa yang baru saja Fey lihat. Namun seketika rasa panik itu berganti rasa lega, Fey pun menghela nafas panjang.
Syukurlah, dia telah menghilang.
“Sudah-sudah. Pulang, yuk!” ajak Fey.
Fey segera menarik tangan Tara berlalu dari tempat itu.
__ADS_1
Kalau tidak disudahi, urusannya akan panjang. Bisa-bisa ... aku habis-habisan di interogasi sama ini, bocah! batin Fey.
---
Fey putri tunggal, buah cinta Sony Prasetya dengan Amanda Priska. Sony Prasetya seorang wirausaha yang bergerak di bidang kuliner. Ia memiliki resto warisan dari turun temurun dan memiliki banyak pelanggan dari dulu. Sedangkan Amanda Priska hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Fey tumbuh dalam keluarga yang sederhana.
“Sore, Ma!” Fey mencium kedua pipi Amanda.
Wanita paruh baya yang masih menyisakan guratan-guratan kecantikan yang tak pudar di makan usia.
Fey mendaratkan pantatnya di kursi teras rumah, ia memperhatikan Amanda merawat kebun di halaman rumah miliknya. Amanda yang hobi berkebun, menyulap halaman menjadi hamparan karpet bunga. Ada kalanya aroma bunga dapat tercium hingga dalam rumah bagai pengharum ruangan alami.
“Hm ... habis makan, yah!” sahut Amanda.
“Kok, Mama tahu?” tanya Fey.
Fey langsung mengelap mulutnya, barangkali ada makanan yang nempel di wajahnya.
“Bau mulutmu itu, lho!” ledek Amanda.
“Hm ... Mama! Bikin kaget Fey saja. Tadi Fey di ajak jalan Tara,” jawab Fey.
“Oya! Tara sekarang jarang kemari, ya?” tanya Amanda.
Tara memang cepat akrab dengan siapa saja, termasuk dengan Amanda yang memiliki perbedaan umur yang jauh.
“Mungkin Tara sibuk,”–Fey berdiri–“Ma! Fey mandi dulu.”
"Ya, Sayang!" Amanda melanjutkan kembali kegiatan berkebun.
Setelah membersihkan diri, Fey masih mengenakan kimono duduk termenung di depan meja riasnya. Fey menatap cermin di hadapannya, pikiran Fey melalang buana saat membayangkan cowok tampan itu dan mulai berandai-andai. Tiba-tiba Fey menepuk jidatnya hingga apa yang terbayang di benaknya buyar.
Jangan berharap terlalu tinggi Fey! Di lihat dari penampilannya, dia pasti dari keluarga kaya. Jangan pernah mimpi meraih bintang bersinar di atas sana.
__ADS_1
Tapi apa ini! Kenapa jantungku berdebar kencang. Ya, Tuhan! Ada apa dengan jantungku! Apa karena aku memikirkan cowok itu. Aduh! Apa aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Ahh tidak-tidak ... tidak seperti itu.
Fey berusaha menyangkal diri, pikirannya terus bergejolak hingga menjelang malam. Fey terus membolak-balikkan tubuh di atas ranjang miliknya, ia berusaha keras memejamkan matanya. Namun wajah rupawan itu terus terbayang di pelupuk matanya. Fey tak bisa tidur dibuatnya gara-gara memikirkan cowok yang ia tidak tahu dari mana asalnya dan siapa namanya, tetapi melintas dalam pikirannya terus menerus. Hingga pagi menjelang, Fey baru bisa memejamkan matanya.