Cinta Fey

Cinta Fey
Hasrat


__ADS_3

“Lex... makasih! Kau mau membalas cintaku.”


Alex menggeleng.


“Aku yang beruntung, bisa menikahimu walau saat awal aku antusias menikahimu. Setelah menikah aku menjalani malam-malam yang sulit. Kau sangat mengodaku ... aku stress. Aku punya istri, kita tidur di kamar yang sama tapi enggak bisa melampiaskan.” Alex mengacak rambutnya.


Fey tersenyum malu tak mengira Alex sama tersiksanya dengan dirinya.


“Mengapa kau tersenyum?”


“Enggak, aku pun merasakan hal yang sama. Terutama saat di Korea, honeymoon? Tapi apa yang kita lakukan di sana.” Fey cemberut.


“Apa karena itu, kau menangis di kamar mandi?” tanya Alex.


Fey mengangguk.


“Fey, kita pergi bulan madu lagi saja.” Alex merasa bersalah.


“Hah!” Fey terkejut.


“Kok, hah!” sahut Alex.


“Malu, kita honeymoon lagi dengan alasan apa? Masa kita bilang, baru kemarin making love, enggak lucu! Kalau weekend saja, kita pergi ke puncak.” Fey malu-malu.


Alex hanya bisa mengaruk kepalanya.


“Bukankah semalam, kau bilang cinta aku karena pandangan pertama. Bukankan kita bertemu pertama kali saat kita ribut di depan kamar kita, kan?” tanya Alex.


Fey menggeleng.


“Aku melihatmu di pusat perbelanjaan, aku dan Tara akan makan siang di sana. Di situ aku melihatmu, tapi aku tak tahu, kau kakak Tara.”


“Aku pacar pertamamu?” tanya Alex.


Fey mengangguk.


“Masa, sih! Enggak ada yang naksir gadis secantik ini.”


Fey mengangkat bahunya.


“Jangan-jangan kau menguna-guna aku, hingga aku terpikat padamu.”


Fey membulatkan matanya.


“Ha ... ha ... ha ..., aku takkan menolak jika di guna-guna sekalipun.” Alex memeluk Fey.


“Kapan kau menyukaiku?” tanya Fey.


“Aku tak tahu pasti, ini berawal dari rasa penasaran. Mengapa Tara sangat membelamu, saat Tara memaksaku minta maaf melalui telepon. Di situ aku berpikir, apa istimewanya kau. Saat di puncak, aku mulai tertarik denganmu, senang melihatmu dan ada rasa penasaran, ingin tahu lebih tentangmu.” Alex membelai rambut Fey yang bersandar di dadanya.


“Hm ... jadi minta maaf karena di suruh!” Fey membelalakkan matanya.


“Hm ... iya!” Alex malu-malu.


“Kau tahu, saat kau marahi aku di depan pintu ini. Rasa cinta berubah sangat benci padamu!”


Alex hanya nyengir.


“Maaf ... Fey. Karena aku, kau di labrak Sandra. Aku dalam hati menduakan kalian. Hatiku ada getaran aneh, yang tak kurasakan dengan Sandra. Aku merasa aku menemukan jodohku yang sesungguhnya.”

__ADS_1


“Tidak Lex, jika aku tak mendekatimu. Hatimu tak akan tergetar.”


“Semua bukan salahmu, aku yang mencari tahu tentang kau dari Toni. Toni pernah menyatakan cinta namun kau tolak. Entah mengapa, hatiku senang mendengarnya. Aku cemburu kau dekat dengan Toni. Saat kau di gendong Toni di tepi kolam renang, aku sangat tak suka melihatnya. Aku cemburu pada seseorang yang bukan milikku.” Alex mengenggam tangan Fey.


Fey merangsek dalam pelukan hangat Alex.


“Aku akan menyesal seumur hidup jika tak menikahimu. Saat aku di hajar Toni, baru aku sadari. Aku takut kehilanganmu, kau segalanya buatku” ucap Alex.


Saat menjelang siang mereka baru keluar kamar.


“Ce ... ileh! Kaya pengantin baru aja, kalian gandengan mulu,” ledek Tara.


Wajah Fey merah merona, Fey berusaha melepas genggaman tangan Alex namun Alex sengaja mengenggam kian kencang.


“Hus! Sana cari pacar, biar enggak rese” usir Alex.


---


Hari weekend membuat pasangan yang baru menikmati malam pertama setelah sepuluh bulan menikah, betah di kamar.


Entah sudah berapa kali mereka memadu kasih, hingga Fey kelelahan.


“Alex! Sudah, aku capai!”


“Aku belum capai, ayolah ... Fey!”


Alex seperti mendapat mainan baru, tak henti-hentinya ia mengoda Fey. Seperti ingin menumpahkan semua hasrat yang tertunda.


Setelah mereka making love yang ke sekian kali, hingga Fey tertidur tak sempat mengenakan pakaiannya. Saat Fey tertidur pun tangan Alex tak bisa diam. Ia mengerayangi tubuh Fey, Alex tersenyum senang saat Fey dalam tidurnya mengeluarkan suara desahan dan lenguhan. Akhirnya Alex tertidur juga setelah puas.


---


Saat akan membersihkan diri.


“Aaaaaaaah ....” Fey teriak.


Alex terbangun karena mendengar teriakan Fey. Ia segera bergegas mencari sumber suara.


“Fey, ada apa?” Alex memanggil Fey dari balik pintu.


“Enggak ada apa-apa,” jawab Fey.


“Ayolah ... Fey!” pinta Alex.


Akhirnya Fey membuka pintu kamar mandi. Wajah Fey merah merona.


“Ada apa?” tanya Alex.


Fey membuka kimono-nya, ia memperlihatkan tubuhnya yang penuh kissmark akibat perbuatan Alex.


“Ha ... ha ... ha ..., sorry Fey. Tubuhmu seperti candu buatku.”


Fey memukul Alex karena menertawakannya.


“Kalau begini aku tak bisa keluar kamar!” Fey cemberut.


Alex kian tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya.


“Tak itu saja, aku sulit berjalan karena kau! Berapa banyak kau kerja'in aku.” Mata Fey membulat.

__ADS_1


Alex hanya bisa nyengir.


“Sini aku bantu! Kau mau apa?” tanya Alex.


“Enggak usah.” Wajah Fey merah merona.


“Ayo, kau ingin mandi, kan?”


Tanpa menunggu jawaban Fey, Alex memandikan Fey di bath tub. Fey kian malu saat Alex menggosok dan menyabuni tubuhnya serta mengeringkan dengan handuk.


Alex mengangkat tubuh Fey ke atas ranjang kembali. Lalu Alex mengambilkan sarapan untuk Fey.


“Bi, ambilkan beberapa menu buat sarapan kami berdua,” kata Alex.


“Tumben kalian tak sarapan bersama kami?” tanya Tara.


“Fey tak enak badan,” jawab Alex.


“Sakit! Fey sakit. Nanti aku mau tengok Fey!” kata Tara.


“Eh ... enggak usah. Fey sedang tidur enggak bisa di ganggu.”


“Aneh! Lagi tidur tapi kau minta makanan untuk sarapan terlihat untuk porsi dua orang,” kata Tara.


“Cepat, Bi!” Alex tak ingin berlama-lama di dekat Tara.


Alex membawa sendiri baki makanannya ke kamar, ia segera mengunci pintu untuk jaga-jaga Tara masuk.


“Makan, Fey!”


Fey segera duduk di bantu Alex, ia melayani Fey makan.


“Lex, aku malu masa kau yang melayaniku. Nanti apa kata mama, papa dan Tara.”


Alex tersenyum.


“Sudah, tak usah ambil pusing dengan perkataan mereka. Kau menikah denganku jadi kau harus mendengar apa kataku!” Alex menyuapi kembali ke mulut Fey.


“Kau mau tambah lagi?” tanya Alex.


“Tidak. Makasih ... Lex!” jawab Fey.


“Tak usah sungkan. Fey ... maaf membuatmu menderita karena ulahku!”


“Kau gila, ya! Enggak ada capainya.” Fey mengomel.


Alex hanya senyum-senyum.


“Fey!”


“Apa!” Fey ketus.


Alex kembali memeluk Fey.


“Iih ... ini anak!”


Alex tak perduli ocehan Fey yang kini berganti lenguhan merasa nikmati. Alex membenamkan wajahnya di dada Fey. Ia mencium dan menyesap di sana. Namun kini ia bermain dengan sangat lembut.


“Fey ... kalau kau ingin aku berhenti. Aku akan berhenti!” kata Alex.

__ADS_1


Namun otak Fey telah terkena racun asmara yang Alex tebar dari semalam. Membuat Fey lupa diri kembali karena sentuh tangan Alex yang memabukkan.


__ADS_2