
Tak lama kemudian telepon rumah Candra berdering, Anna mengangkat gagang telepon.
“Halo!”
“Tante, ini Nia.”
“Oya, kenapa Nia?”
“Anu, Tante. Tara kecelakaan.”
“A–apa! Ke–kecelakaan! Bagaimana Tara?”
“Sudah ada di rumah sakit dekat kampus, Tante! Tapi Tante tak usah khawatir, Tara sudah di tangani.”
“Makasih, Nia! Biar nanti Alex ke rumah sakit!”
“Baik Tante, Nia tunggu. Bye Tante!”
“Bye, Nia!”
Anna terkulai lemas, ia meraih telepon untuk menghubungi Alex.
“Halo ... Lex! Kau segera ke rumah sakit dekat kampus. Tara kecelakaan!”
“Baik, Ma! Alex segera ke sana!”
Tara sedang menjalani perawatan di ruang IGD.
“Dok, bed 4 ada pasien mengalami trauma pada lengan kanannya karena jatuh!” kata seorang perawat.
“Ok!” jawab sang dokter.
Sementara itu di bed 4.
“Nia, mengapa kau bawa aku kemari, sih!” tanya Tara.
“Ya–ya karena lenganmu lebam, Ra! Setidaknya kau di periksa dulu, Barangkali cedera serius!” jawab Nia.
Tak lama kemudian tirai sekat ruangan terbuka lalu masuklah seorang dokter muda dan tampan bersama seorang perawat masuk.
“Aku periksa dulu, ya! Kenapa lenganmu lebam?” tanya dokter sambil mengamati lebam di lengan Tara.
“Jatuh, Dok!” jawab Nia.
“Posisi jatuhnya, bagaimana?” tanya dokter itu lagi.
“Posisi tangan nekuk menahan tubuh, Dok!” jawab Nia lagi.
“Kau wali pasien?” tanya dokter kepada Nia.
“Bukan, walinya sedang menuju kemari,” jawab Nia.
“Tolong, Sus! Begitu walinya datang. Beritahu akan ada tindakan X-ray!” kata dokter pada perawat.
“Baik, Dok!” sahut perawat.
“Maaf! Apa ini bukan memar biasa?” tanya Tara.
“O ... Nona bisa bicara?” jawab dokter.
“Hah!” Hanya itu yang keluar dari mulut Tara seperti kebingungan.
“Iya ... aku kira Nona tak bisa bicara, karena dari tadi nona ini terus yang menjawab pertanyaanku,” kata dokter dengan santai sambil menunjuk Nia.
Nia dan perawat itu hanya senyum-senyum.
__ADS_1
“Maaf, ya! Siapa nama Dokter?” ucap Tara sambil membaca name tag di jas dokter tersebut.
“Tio Saputra. Maaf Dokter Tio, orang tak menjawab bukan berarti ia tak bisa bicara!” sahut Tara kesal.
“Maaf, Dokter Tio belum menjawab pertanyaanku!” kata Tara lagi.
“O ... itu! Lengan Nona yang lebam dan bengkak karena ada trauma akibat benturan yang menyebabkan terjadi pendarahan internal,” Tio menjelaskan.
“Lalu!” kata Tara.
“Kalau Nona bertanya ini memar biasa atau bukan, begini caranya!” ucap Tio sambil menyentuh lembut di bagian yang lebam.
“Aaaduuuh ....” teriak Tara keras.
“Nah! Teriakan Nona menjelaskan kalau ini bukan memar biasa! Tolong jangan banyak bergerak dulu!” ujar Tio dengan tersenyum.
Sekali lagi Nia dan perawat itu kembali tersenyum.
Dasar ini dokter, lama-lama kerja'in aku! batin Tara.
“Sebaiknya aku rawat jalan saja ...!” pinta Tara
Namun Tio mengabaikan ucapan Tara, hingga Tara kian jengkel dengan ulah dokter yang ada dihadapannya.
“Sus, nanti kalau sudah ada hasil X-ray. Tolong beritahu aku!” ucap Tio sambil berlalu.
“Baik, Dok!” balas perawat itu.
“Ra ... aku tunggu keluargamu didepan, ya!” kata Nia
Tara belum menjawab, Nia berlalu meninggalkan Tara.
“Dasar ... di bilang enggak usah ngomong sama orang rumah!” Tara menggerutu.
---
Tampak dari kejauhan, Nia ada di depan ruang IGD.
“Nia! Bagaimana dengan Tara?” tanya Alex.
Lalu Nia menceritakan semuanya.
“Sebaiknya kau pulang Nia, Makasih Nia, sudah antar Tara kemari!” ujar Alex.
“Tak usah sungkan, Kak! Nia pulang!” sahut Nia.
Alex mengangguk.
Alex bergegas masuk ke ruang IGD bangsal 4, di mana Tara berada.
“Ra ...!” panggil Alex.
“Alex! Kenapa kau kemari, sih!” teriak Tara.
“Ada yang kasih kabar ke rumah kalau kau kecelakaan!” kata Alex.
“Aku hanya lecet, nih!” sahut Tara berusaha mengerjakan tangannya.
“Aduuuh ...!” teriak Tara lagi.
“Kan, sudah di beritahu untuk tidak banyak bergerak!” kata Tio yang tiba-tiba sudah berada di ruangan itu.
Mata Tara melotot ke arah Tio namun Tio pura-pura tidak melihat.
“Bagaimana, Dok?” tanya Alex.
__ADS_1
“Aku menduga ada fraktur atau yang bahasa awamnya patah tulang atau retak!” kata Tio.
“Seberapa parah, Dok?” tanya Alex lagi.
“Hm ... seberapa parah fraktur nona ini, kita hanya bisa tahu melalui pemeriksaan rontgen!” jelas Tio.
“Silakan lakukan, Dok!” kata Alex.
“Sebenarnya tadi sudah saya sarankan, ketika pemeriksaan awal terlihat ada pendarahan internal hingga timbul lebam dan bengkak di lengan, tapi nona ini bersikeras tak mau melakukan pemeriksaan lebih lanjut" ucap Tio.
Perkataan Tio membuat mata Tara kembali membulatkan, lagi-lagi Tio mengabaikan.
“Lakukan saja, Dok! Aku kakaknya yang akan menjadi walinya!” kata Alex.
“Lex! Aku enggak mau nginap di rumah sakit. Aku enggak betah,” Tara beralasan.
“Waktu aku di rawat di rumah sakit kau mau tidur di sini,” ucap Alex.
“Itu ... itu karena bukan aku pasiennya,” ucap Tara karena merasa jengkel dengan dokter tengil itu.
“Tak sampai berhari-hari, kalau lewat X-ray tak terdapat fraktur parah, Nona bisa langsung pulang. Berbeda jika fraktur parah bisa di operasi untuk pasang pen,” kata Tio.
Tara hanya terdiam.
Berhubung Alex sudah tanda tangan prosedur tindakan medis. Mau tak mau Tara menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Alex segera menelepon Anna agar tak mengkhawatiran Tara.
Setelah menunggu kurang dari satu jam, hasil X-ray sudah keluar.
“Bagaimana, Dok?” tanya Alex.
“Dari hasil X-ray, hanya fraktur stres. Ada retakan tapi kecil, hanya selebar batang rambut saja,” jelas Tio.
”Syukurlah!” kata Alex.
“Cukup di gips saja untuk imobilsasi,” kata Tio.
“Baik, Dok! Terimakasih!” ucap Alex.
“Sus, ambil tindakan reduksi tertutup!” kata Tio kepada perawat.
Sore itu Tara sudah boleh pulang dengan kondisi tangan di gips. Tara merasa tak enak mengenakannya. Namun sebelum pulang Tio berpesan banyak sekali. Untuk tidak ini, tidak itu, sampai pusing Tara mengingatnya.
“Cukup, Dok! Aku pusing mengingatnya!” kata Tara.
“Apa perlu aku catat di gips Nona, agar Nona mengingatnya?” tanya Tio.
“Hm ....” Tara hanya tersenyum kecut.
Tio melihat pasiennya tersenyum kecut, lalu ia mengambil spidol lalu menggoresnya di gips Tara.
“Nih, biar Nona tersenyum manis!" kata Tio.
Tio menggambar emoji smile. Bukannya senang, Tara malah membelalakkan matanya. Lagi-lagi Tio pura-pura tak memperhatikan sehingga membuat Tara jadi gondok sendiri. Ia seperti kena batunya tak bisa berbuat apa-apa pada dokter tengil.
“Yuk, Ra! Kita pulang!” ajak Alex setelah selesai mengurus administrasi.
“Terimakasih ... Dok!” ucap Alex sambil menjabat tangan Tio.
“Ya ... semoga cepat sembuh!” balas Tio.
Namun Tara membalas dengan melebarkan mata bulatnya. Seperti tak mau kalah Tio mengayunkan tangan yang mengepal sambil berkata.
“Fighting!” ucap Tio sangat lirih hingga Alex yang di samping Tara tak mendengarnya.
__ADS_1
Tara hanya bisa memonyongkan bibirnya.
Tio tersenyum.