
Tampak di ruang baca Alex dan Candra terlibat pembicaraan serius.
“Pa ... Alex ingin resign dari perusahaan,” ucap Alex.
“Apa maksudmu!” sahut Candra.
“Alex ingin resign, saat ini Alex temui titik jenuh, Pa!” kata Alex.
“Apa karena Fey?” tanya Candra.
“Itu salah satu alasan, Pa!” jawab Alex.
“Lex ... kau tidak usah resign. Kau ambil cuti saja, untuk merefresh pikiranmu. Setelah kau siap kembali ke perusahaan, kembalilah!” ucap Candra.
Alex mau tak mau menuruti perkataan Candra.
“Papa minta maaf, Lex! Karena papa, kau berpisah dengan anak dan istrimu,” ucap Candra.
“Sudahlah, Pa! Tak usah di sesali. Ini semua sudah terjadi, Alex banyak belajar dari Fey. Alex masih ingat kata-kata Fey saat terakhir akan pergi. Kata itu sangat membekas di hati Alex!” sahut Alex.
“Kalau papa boleh tahu, apa yang dikatakan Fey?” tanya Candra.
“Fey tak ingin apa-apa selain melihat orang-orang yang Fey cintai, hidup bahagia tiada yang lain. Jadi bahagia menurut Fey, bukan harta tapi melihat orang lain apalagi orang yang di cintai hidup bahagia!” jawab Alex.
“Benar! Kita bisa bangkit kembali, tak kekurangan harta namun kita tak bahagia. Fey masih berada di luar sana,” ucap Candra.
“Bukan itu saja, Pa! Anak Alex juga!” sahut Alex.
“Ya ... pasti anakmu sudah besar, Lex! Kalau di hitung-hitung, Fey pergi sudah tujuh tahun. Mungkin kini sudah sekolah, Lex!” kata Candra.
“Sedih mengingat cucu papa, entah di mana,” kata Candra lagi sambil menghapus air mata.
“Jangan bersedih, Pa! Kalau saatnya tiba, pasti kita semua bertemu lagi,” ucap Alex sambil berlalu.
Malam itu, Alex berkemas di dalam kamar.
“Beres sudah packingnya,” kata Alex pada diri sendiri.
Tara mengetuk pintu kamar Alex.
“Jadi kau pergi?” tanya Tara di ambang pintu kamar Alex terbuka.
“Jadi!” jawab Alex singkat.
Tara menghempaskan pantatnya di sofa kamar Alex.
“Kau akan pergi kemana?” tanya Tara.
__ADS_1
“Belum tahu, Ra!” jawab Alex.
“Mungkin aku akan tapak tilas saat bersama Fey,” kata Alex lagi.
“Apa maksudmu?” tanya Tara.
“Aku ingin mengulang perjalananku saat bersama Fey dari awal, mungkin bisa mengobati kerinduan hati ini,” jawab Alex sambil menghela nafas.
“Aku sangat merindukan Fey, Ra! Kalaupun umurku hingga hari esok saja dan Tuhan izinkan kami bertemu. Aku sudah sangat puas, Ra!” kata Alex lagi sambil menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
“Jangan berpikir begitu, Lex, kalau kau merasa puas saat ajal menjemput karena sudah bertemu Fey. Lalu bagaimana Fey akan menjalani hidup tanpamu di dunia ini. Bagaimana anakmu?” tanya Tara.
Perkataan Tara bagai tamparan keras di wajah Alex.
“Ya Tuhan! Maafkan aku. Mengapa aku egois begini. Maafkan aku, Fey!” ucap Alex meralat apa yang tadi baru ia katakan.
“Makasih, Ra! Kau telah mengingatkanku!” kata Alex lagi.
“Ya ... yang penting jangan bicara ngaco lagi!” sahut Tara sambil meninggalkan kamar Alex.
Alex mengangguk sambil bersiap tidur.
“Fey ... datanglah dalam mimpiku bersama anak kita,” ucap Alex sambil menutup matanya.
Pagi pun menjelang, Alex telah bersiap memulai perjalanannya.
“Ya, Ma! Alex pergi takkan lama,” sahut Alex.
“Pa ... Ra, aku pergi!” kata Alex.
Keduanya pun melambaikan tangan untuk Alex.
Alex meluncur dengan mobil sportnya menyusuri jalanan. Jalan yang pernah ia dan Fey lewati. Alex menuju puncak, ia ingin mengulang kembali masa-masa di mana ia masih bersama Fey. Hari menjelang siang, saat Alex tiba di puncak.
Mobil Alex masuki garasi villa Candra, tampak di kejauhan Diding menghampiri Alex dengan tergopoh-gopoh.
“Aduh, Den! Kenapa datang, tidak bilang-bilang. Jadi mamang bisa siapkan semuanya sebelum Aden datang,” kata Diding.
“Tidak apa-apa, Mang! Aku bisa menunggu, kok! Aku kebun Mamang, dulu ya!” kata Alex sambil berlalu.
“Silakan! Atuh Den,” sahut Diding.
Alex menuju halaman di belakang villa. Saat Alex menatap kebun itu, masih tergambar jelas di mata Alex. Sosok seorang gadis berlari kesana kemari di antara tanaman sayur. Senyum yang selalu mengembang di wajah bulatnya.
“Fey, aku ada di sini. Di kebun di mana kau pernah di sini bersamaku,” guman Alex.
Semua itu terlihat seperti baru kemarin terjadi, bukan tujuh tahun yang lalu.
__ADS_1
“Sudah, Den!” kata Diding membuyarkan lamunan Alex.
“Ya, mari Mang, aku masuk dulu,” kata Alex.
“Ya ... Den! Silakan istirahat, kalau butuh apa-apa panggil mamang saja,” balas Diding.
Alex mengangguk.
Saat Alex tiba villa, tampak seorang anak laki-laki sedang bermain di teras villa Candra.
“Hai!” sapa Alex.
Anak itu tiba-tiba terdiam, ia mundur menjauhi Alex.
“Hai, sini! Om bukan orang jahat, ayo duduk sini!” kata Alex.
Namun anak itu lari menjauh, menuju belakang villa.
“Anak yang ganteng! Apa ia salah satu pengunjung di salah satu villa di sini, tapi sekitar sini tak ada villa lagi selain villa papa,” gumam Alex pada diri sendiri.
Alex pun masuk dalam villa itu, ia memperhatikan tiap sudut villa itu. Tak ada yang berubah, tetap seperti dulu saat ia datang bersama Fey.
Alex pun menyambangi kolam renang, di mana ia mulai penasaran dengan sosok Fey. Ada rasa cemburu saat Toni membopong tubuh Fey, wanita yang ia nikahi tujuh tahun lalu.
Kemudian Alex masuk ke kamarnya, ia membongkar isi kopernya yang tak terlalu besar. Alex lalu membersihkan diri setelah itu beristirahat sebentar untuk menghilangkan rasa penat sehabis berkendara.
Alex merebahkan diri di ranjang yang cukup besar untuk ukuran seorang diri. Alex pun memejamkan matanya tak lama ia pun sudah tertidur pulas.
Saat senja, Alex terbangun dari tidurnya. Perut Alex telah menagih pada tuannya, minta di isi, ia pun keluar untuk makan malam.
Alex bergegas pergi menuju sebuah resto. Ia memasuki resto yang dulu ia kunjungi bersama waktu itu.
Alex tersenyum kecil, saat ia mengingat kembali kejadian di resto itu timbul rasa cemburunya pada Toni yang memotong-motong steak untuk Fey.
Setelah selesai menikmati makan malamnya, Alex kembali ke villa namun sebelumnya ia mampir ke supermarket untuk membeli beberapa makanan dan minuman untuk kebutuhan Alex selama di villa.
Tak lama Alex sudah kembali ke villa. Di kamar yang sunyi, rasa sepi mulai menyergap Alex di kamar itu. Alex berusaha mengusir sepi dengan memejamkan matanya. Dalam keadaan sangat sunyi, Alex manfaatkan untuk menenangkan pikirannya.
Malam pun berganti pagi yang cerah.
Pagi itu Alex sudah bangun, ia melakukan olahraga joging di area sekitar villa. Tampak di kejauhan Diding sudah sibuk di kebun. Kemudian Alex menghampiri Diding.
“Pagi, Mang!” sapa Alex.
“Eh ... pagi, Den! Gimana, nyenyak tidurnya?” tanya Diding.
“Ya, Mang,” jawab Alex.
__ADS_1