Cinta Fey

Cinta Fey
Perawan


__ADS_3

Fey mengeliatkan tubuhnya, wajah Alex berubah merah merona.


Glek.


Alex menelan salivanya, melihat Fey menggenakan t-shirt potongan dada rendah terlentang di hadapan Alex. Yang membuat wajah Alex merah padam. Gundukan terbelah di dada Fey menyembul di depan matanya.


Ahh putih benar! batin Alex.


Gairahnya terpancing, namun sekuat tenaga Alex berusaha menahan diri. Walau sesuatu telah mengeras di bawah sana.


Aduh Fey! mengapa kau harus tidur dengan posisi seperti ini. Kau ... kau sangat menyiksaku! batin Alex.


Fey membuka mata berlahan-lahan ada pedih di mata, yang Fey rasakan akibat terlalu lama menangis semalam. Fey memiringkan tubuh dan mengeliat seperti biasa membuat wajah Fey tepat di depan wajah Alex dan dada Fey mendesak dada Alex.


Fey terkejut! Fey reflex mendorong tubuh Alex hingga terjatuh dari ranjang.


“Aduh ...!” teriak Alex mengerang.


“Modus lama! Mau kerja'in aku lagi!” ucap Fey.


“Enggak! Ini beneran sakit. Semalaman kau menindih separuh tubuhku. Aku jadi kram, aduh!” kata Alex


Kali ini Alex bersungguh-sungguh.


“Maaf! Aku tak tahu,”–sahut Fey.–“sini! aku pijat.”


Fey menawarkan diri memijat tubuh bagian atas Alex. Baru saja tangan halus Fey menyentuh tubuh Alex, raut wajah Alex kian menegang. Alex tak tahan lagi, ia meninggalkan Fey di atas ranjang menuju shower. Fey hanya bengong tak tahu apa yang salah.


Napasnya tersengal-sengal, ia membuka kran shower, berharap tetesan air shower melunturkan hasratnya.


Ya ... Tuhan! Mengapa kau sangat mengodaku! batin Alex.


---


Saat menjelang malam.


“Fey, besok kita pulang! Agar rindumu terobati,” ucap Alex.


Ini bukan masalah rindu mama, tapi masalah yang lain.


Hari ini mereka berkemas, untuk kembali terbang ke tanah air.


---


Tak terasa perkawinan Fey sudah memasuki bulan ke sepuluh.


Huak.


Suara Fey dari kamar mandi, ia menepuk-nepuk dadanya saat keluar dari sana.


“Kenapa Fey?” tanya Alex.


“Entahlah, mungkin masuk angin. Tadi sudah minum obat tapi masih mual,”


“Sebaiknya ke dokter kalau belum membaik!,” kata Alex.


Fey mengangguk.


Seperti biasa, Fey menyiapkan keperluan Alex sebelum pergi ke kantor termasuk menggenakan dasi.


“Sebaiknya kau istirahat,” kata Alex.


“Ya,” balas Fey.


“Aku pergi!” Alex mengecup kening Fey.


Suasana rumah pagi itu sepi, Anna pergi dengan teman-teman sosialitanya. Tara kuliah pagi, Candra dan Alex ke kantor. Fey kembali ke kamar untuk beristirahat sebentar.

__ADS_1


---


“Pa, mama mau pulang!” ucap Amanda.


“Ma, pulangnya di antar Toni, sekalian mampir bawa tongseng kesukaan Fey,” ucap Sony.


“Ya,” sahut Amanda.


---


Nah mengetuk pelan pintu kamar Fey.


“Non, ada mama Non di depan.” Suara Nah di depan kamar.


“Ya, Bi!” sahut Fey.


Tak lama Fey keluar kamar.


“Mama!” sapa Fey.


Fey memeluk dan mencium pipi Amanda.


“Hai, Sayang!” sapa balik Amanda.


“Dari mana, Ma?” tanya Fey.


“Dari resto. Bawa ini, nih!” ucap Amanda.


Amanda menunjuk tentengan berisi box makanan .


“Hm ... tongseng ya, Ma!” Tebak Fey girang.


“Tajam bener, hidungmu!” sindir Amanda.


Huak.


“Lega ...,” guman Fey.


“Kenapa Fey?” tanya Amanda.


“Tak tahu, Ma! Dari semalam Fey mual-mual,” sahut Fey.


Fey menepuk-nepuk dada, ada rasa sedikit mengganjal di sana.


“Jangan-jangan!” pekik Amanda.


Amanda menutup mulutnya dengan tangan, mata Manda berbinar.


“Jangan-jangan! Apa Ma!” tanya Fey.


Tanpa menjawab, Amanda langsung menarik tangan Fey keluar dari kamar mandi hingga masuk ke mobil. Toni pun kebingungan dengan ulah Amanda.


“Ton, kita pergi ke dokter kandungan!” ucap Amanda gugup.


“Ya ... ya ...!” Toni pun ikut gugup.


“Hah! Apa ke–ke–ke dokter kandungan?” Fey gugup.


“Iya, ke dokter kandungan. Kau mual-mual dari semalam, seharusnya periksa ke dokter barangkali kau hamil!” ucap Amanda.


“Ha–ha–hamil!” sahut Fey kian gugup.


Wajah Fey seketika pucat pasi. Jantungnya berdegup kencang, kecemasan melingkupi hati Fey.


“Kalian masih muda, jadi kalian mungkin tidak tahu tanda-tanda hamil. Ya, salah satunya mual-mual. Apalagi kalian menikah sudah lama,” ucap Amanda semangat.


Kepala Fey mendadak pusing, ia merogoh saku celana.

__ADS_1


O ... ponselku tertinggal! Aku butuh kau, Lex! Ya, Tuhan! Bagaimana ini! Mati ... aku! Bagaimana aku bisa hamil kalau Alex tak pernah menyentuhku.


Mereka pun tiba di sebuah rumah sakit bersalin, raut wajah Fey kian pucat. Tubuhnya seketika gemetar.


“Ayo turun, Sayang! Ton, kau tunggu sini!” kata Amanda.


“Ya ... Tante!”


Walau takut, Fey tetap mengikuti Amanda. jantung Fey kian berdegup kencang.


Mungkin ini saatnya ...


Di dalam ruang periksa. Amanda sangat antusias mengemukakan tanda-tanda kehamilan yang Fey alami. Untuk lebih memastikan Fey di USG.


“Bagaimana, Dok?” tanya Amanda tak sabar.


“Hanya gangguan pencernaan,” jawab dokter.


“Gangguan pencernaan? Bukan hamil?” Amanda kecewa.


“Bukan hamil! Karena tidak saya temukan janin di rahimnya. Kalau melalui pemeriksaan menggunakan USG abdominal kondisi semua normal. Tapi untuk lebih detail bisa menggunakan USG transvaginal,” ucap dokter.


“Tolong Dok, periksa lebih detail lagi?” pinta Amanda.


“Baik, tunggu sebentar!” jawab dokter.


Perawat menutup tirai karena dokter akan memeriksa Fey melalui organ dalam. Tak lama tirai di buka kembali.


“Bagaimana, Dok?" tanya Amanda.


“Seperti tadi sudah saya sampaikan, untuk pemeriksaan USG abdominal baik hanya ada gangguan pencernaan. Saya tak bisa melakukan USG transvaginal karena hymen atau yang biasa kita sebut selaput dara milik putri Ibu masih utuh” dokter menjelaskan.


Fey menunduk.


“Apa! Masih utuh!” pekik Amanda.


“Ya! Masih utuh. Putri Ibu tak pernah melakukan persetubuhan karena selaput dara masih utuh tak ada robekan sama sekali.” Dokter menyakinkan kembali.


Fey hanya menunduk terdiam, ia tak bisa bicara. Tenggorokannya tercekik tak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan. Amanda hanya terpaku. Mereka keluar dari ruang praktek dengan langkah gontai terutama Amanda yang tak bisa menerima kenyataan. Fey menikah tapi masih perawan.


Di dalam mobil, Amanda menangis.


“Kita ke rumah,” ucap Amanda.


Toni tak banyak tanya, ia bisa membaca situasi yang sangat buruk terlihat jelas dari wajah keduanya.


Sesampainya di rumah.


“Ton, kau telepon om! Suruh om, pulang segera!” ucap Amanda.


“Apa yang terjadi, Fey?” tanya Amanda.


Fey terdiam tak tahu, harus mulai dari mana. Ia meremas tangannya sendiri.


“Fey, mama tanya!” teriak Amanda sangat keras.


“Jawab mama, Fey!” Amanda kian histeris.


Baru kali ini Amanda membentak Fey, selama hidupnya. Tubuh Fey bergetar, wajahnya pucat pasi.


Lex ... tolong aku! batin Fey menjerit.


“Maafkan ... Fey, Ma.”


Hanya itu yang bisa Fey katakan, menunduk dan meneteskan air matanya.


“Fey! Kau dengar! Apa yang mama tanya? Itu bukan jawaban!” teriak Amanda kian kalap.

__ADS_1


“Tenang, Tante! Jangan begini, nanti Tante yang sakit.” Toni menengahi.


__ADS_2