Cinta Fey

Cinta Fey
Cinta Pertama


__ADS_3

Pagi itu Alex akan memulai perjalanan bisnis bersama Indra. Dengan di antar Fey dan Mul, mereka menuju bandara. Saat akan masuk pintu boarding pass bandara, Alex memeluk Fey.


“Aku pergi, Fey! I love you!” Alex mencium bibir Fey.


“I love you to! Hati-hati, Lex! Dra, titip Alex!” balas Fey sambil tersenyum.


Indra mengangguk.


Setelah pesawat mereka tinggal landas, Fey kembali ke area parkir bandara di mana Mul menunggu. Keduanya bergegas pergi meninggalkan bandara.


“Pak Mul, nanti siang saya ikut jemput Tian tapi kita mampir supermarket jadi kita berangkat lebih awal satu jam.” Pesan Fey saat tiba di rumah.


“Baik, Non!” sahut Mul.


---


Setelah pertemuan kedua dengan Tian membuat Sandra ingin melihat bertemu lagi. Wajah keduanya yang sangat mirip membuat Sandra memiliki obsesi pada Tian. Sehari tak melihat Tian membuat Sandra merasa melewatkan sesuatu di hari itu. Walau hanya melihat di kejauhan membuat Sandra cukup puas. Namun tidak dengan suasana hati Sandra hari ini. Tampak di kejauhan Sandra melihat Fey keluar dari mobil Anna.


“Pak Mul tunggu sebentar!” kata Fey saat turun dari kendaraan.


“Ya, Non!” sahut Mul.


Fey melenggang masuk gerbang sekolah Tian. Tak lama Fey keluar gerbang sambil menggandeng tangan Tian.


Di sisi jalan yang lain, tampak Sandra mengamati kejadian itu dengan geram. Mata Sandra seakan memancarkan api saat melihat Tian bersama Fey. Rasa benci tersulut kembali di hati Sandra.


“Lagi-lagi wanita itu!” umpat Sandra sambil memukul kemudi kendaraannya.


---


Selesai pertemuan Alex segera keluar dari sana, ia mencari space nyaman untuk menghubungi Fey. Alex segera melakukan sambungan langsung internasional pada Fey.


Ayo, Fey! Angkat! batin Alex.


---


Saat tengah malam tiba, ponsel Fey berdering. Dengan mata setengah terbuka, Fey melihat layar ponselnya.


“Alex! Video call,” guman Fey.


“Hai ... halo!” Fey melambaikan tangan.


Mata Alex membelalakkan melihat Fey mengenakan gaun tidur. Terdengar suara gaduh di seberang sana. Alex menuju pintu darurat sebuah gedung dengan napas terengah-engah, Alex melanjutkan kembali panggilan video call-nya.


“Halo! Mengapa kau mengenakan gaun tidur!”


“Bukankah di sini sudah malam, Lex!” Fey duduk setengah bersandar di kepala ranjang.


Alex tersadar situasi sekarang, ia dan Fey berada di belahan dunia yang lain dengan selisih waktu 12 jam.


“Maaf, Fey! Aku salah lihat jam!” Alex mengacak rambutnya.


Kau bikin aku tak ingin jauh darimu! batin Alex.


Keduanya berbincang sebentar melepas rindu.


“Bye Fey, love you! Muuaah!” Alex mengecup layar ponsel miliknya.

__ADS_1


“Bye Lex, love you to! Muuaah!” Fey membalas ciuman jauh Alex.


Fey menarik selimut di tubuhnya untuk melanjutkan tidurnya kembali.


---


Alex segera menyusul Indra yang masih dalam gedung.


“Alex!” Seseorang memanggil Alex.


Alex menoleh ke arah suara, tampak seorang gadis berjalan mendekat.


“Ya!” sahut Alex.


“Lupa, ya!” kata gadis itu.


Alex hanya bisa tersenyum saat raut wajahnya tertebak sang gadis.


”Aku, Rena!” ucap gadis itu lagi sambil meloncat di samping Alex.


Tanpa rasa canggung ia melingkarkan lengan di tangan Alex. Alex merasa jengah dengan tingkah Rena yang agresif. Alex menarik tangannya dari Rena.


“Oya, aku ingat! Apa kabar?” tanya Alex.


“Baik! Kau makin tampan, Lex!” jawab Rena.


Wajah Alex memerah, saat di sanjung wanita lain.


“Maaf, Ren! Aku harus pergi, masih ada urusan,” Alex bergegas menghindari Rena.


“Ya, kapan-kapan kita lunch dinner bersama!” kata Rena.


Dengan langkah cepat Alex masuk untuk menemui Indra. Setelah menghilang dari balik pintu, Alex menghela napas panjang.


“Dra, sudah kau rapikan berkas-berkasnya?” tanya Alex.


“Sudah!” jawab Indra.


“Sekarang kita pergi makan, baru balik hotel,” kata Alex.


Indra mengangguk.


---


“Alex makin tampan saja! Bikin aku makin suka!” guman Rena.


FLASHBACK


Lima belas tahun yang lalu, Alex pernah menjalin kasih dengan Rena. Rena adalah cinta pertama Alex, jalinan kasih mereka di mulai bangku sekolah menengah pertama. Setelah lulus SMP, keduanya berpisah tanpa kata putus karena Rena mendadak harus kembali keluar negeri di mana orang tua Rena berada.


Keduanya pun melanjutkan perjalanan hidup masing-masing tanpa beban karena mereka hanya menganggap itu cinta anak ingusan.


Kini, lima belas tahun telah berlalu usia keduanya pun telah matang. Di mata Rena, sosok Alex masih menggetarkan hati dan jiwanya.


Hingga malam menjelang, Rena tak bisa memicingkan matanya. Hatinya gelisah karena Alex.


---

__ADS_1


Saat malam menjelang mereka berdua kembali ke hotel untuk beristirahat.


“Dra! Jika besok selesai, mungkin kita kembali ke tanah air besok lusa!” kata Alex.


“Ya, Lex! Mudah-mudahan semuanya selesai sesuai rencana! Sudah rindu istri, ya!” Indra berseloroh.


Alex mengaruk kepalanya. “Terlihat jelas, Dra?”


“Banget!” sahut Indra.


Alex hanya bisa mengacak rambutnya sambil tersenyum.


“Malam, Lex!” kata Indra.


“Malam, Dra!” balas Alex.


Keduanya berpisah menuju kamar hotel masing-masing untuk menjaga privasi. Malam itu, Alex kembali menggunakan fasilitas video call untuk melepas rindu pada Fey dan Tian hingga tengah malam waktu di mana Alex berada. Setelah selesai video call, Alex bersiap pergi tidur.


Malampun berganti pagi. Pukul 10 siang waktu setempat, Alex dan Indra bersiap menuju tempat janji temu seorang kolega. Namun yang di nanti tak kunjung tiba. Indra berusaha menghubungi, namun jawaban yang di dapat sangat mengecewakan.


“Lex, kita terpaksa menunda kepulangan kita. Pimpinan Star comporation berhalangan hadir.” Indra mengemukakan alasan pada Alex.


“Ya, sudah mau bagaimana lagi! Sebaiknya kita kembali ke hotel!” kata Alex menelan kecewa harus menunda kepulangannya.


Indra mengangguk.


Keduanya segera bergegas menuju hotel kembali. Baru saja mereka keluar dari gedung.


Teeett.


Suara klakson di samping mereka, membuat keduanya menghentikan melangkah. Tak lama pintu mobil terbuka, tampak dua kaki jenjang keluar dari sana.


“Rena!” pekik Alex.


“Surprise!” kata Rena.


Alex hanya tersenyum tipis.


“Mumpung kau di sini, ayo kita makan siang bersama!” ajak Rena.


Alex ragu untuk mengiyakan ajakan Rena,


“Ayolah!” ajak Rena yang kedua kali.


Tanpa rasa malu, Rena mengelayut di lengan Alex. Dengan halus Alex menepis tangan Rena.


“Lex!” pinta Rena.


Akhirnya Alex mengikuti langkah Rena menuju mobil sambil menarik serta Indra.


Ketiganya meluncur ke sebuah resto tak jauh dari tempat mereka berada. Mereka pun menikmati hidangan sambil berbincang ringan, tak lama Alex dan Indra berpisah dengan Rena.


“Kau kini telah berubah,” guman Rena.


---


“Rena!” Mata Alex membelalakkan mata kala membuka pintu kamar hotel tempat Alex menginap di ketuk seseorang.

__ADS_1


Rena hanya tersenyum sambil menerobos kamar Alex.


“Tak seharusnya kau ada di sini, sebaiknya kau pergi sekarang, Ren!” hardik Alex.


__ADS_2