Cinta Fey

Cinta Fey
Refresh


__ADS_3

“Semoga senyum mereka tak pernah pudar!” kata Alex.


Fey mengangguk.


“Fey, kita harus merefresh cinta kita setiap hari, agar cinta kita tak padam hingga hari tua!” Alex menatap penuh cinta pada Fey.


“Terimakasih, Lex! Sudah mencintaiku!” balas Fey.


“Tian juga cinta kalian!” Tian memeluk kedua orang tuanya.


“Tentu, Sayang! Kau buah cinta kami.” Alex mengendong Tian.


Fey memeluk kedua pria yang paling ia cintai di dunia ini.


“Hm ... yang punya gawe kalah romantis, nih!” Tio pasang muka cemberut.


“Ha ... ha ... !” Alex tertawa terbahak-bahak.


“Kalian ini! Suka banget pamer kemesraan di depan umum!” kata Tara.


“Kita juga jangan mau ketinggalan, Sayang! Kau harus lebih mesra dari Alex, ya!” kata Tara lagi sambil berlalu.


“Apa, Ra! Aku bukan orang yang romantis seperti Alex!” sahut Tio mengejar Tara.


“Ha ... ha ...!” tawa Alex kian jadi.


“Awas kau, Lex!” Tio kesal.


“Hai, baru lamaran jangan bertengkar!” teriak Alex.


Fey tersenyum melihat tingkah mereka.


“Tenang, Pa! Tian akan mendamaikan auntie dan uncle!”


Tian merosot dari gendongan Alex, ia berlari menuju Tara dan Tio berada.


---


Keluarga Candra mengawali hari baru di bulan yang baru dengan kesibukan baru. Fey kini lebih sibuk, Alex sudah mulai aktivitas di kantor dan Tian mulai masuk di sekolah yang baru.


Alex berangkat lebih pagi karena harus mengantar Tian ke sekolah. Mereka mengantar Tian di hari pertama sekolahnya. Setelah Tian masuk, Alex mengantar Fey kembali pulang.


“Fey, aku akan belikan mobil baru untukmu!” kata Alex.


“Untuk apa? Di rumah mobil mama juga nganggur” tanya Fey.


“Untuk mobilisasi kau seperti antar jemput Tian atau kau ingin pergi kemana,” jawab Alex.


“Ahh, aku bukan tipe orang yang suka jalan. Sayang kalau beli mobil tapi jarang di pakai,” kata Fey.


“Kau memang beda!” kata Alex.


“Beda? Beda gimana?” tanya Fey.

__ADS_1


“Istri-istri di luar sana, suka di belikan barang-barang mewah! Yang satu ini malah menolak!” jawab Alex.


“Kamu suka tipe istri habiskan uang suami!” kata Fey.


“Ya, enggak! Cuma ada baiknya kau bisa bawa mobil!” sahut Alex.


“Enggak usah, Lex! Buang-buang uang saja, Sayang!” kata Fey.


“Ya, tapi kalau kau berubah pikiran. Penawaranku masih terbuka!” balas Alex.


Fey mengangguk.


“Aku turun depan gerbang saja, Lex!” ucap Fey.


Alex menepikan kendaraannya di depan gerbang. Alex turun lebih dulu, ia membuka pintu untuk Fey.


“Bye, Lex! Hati-hati di jalan!” Fey mengecup bibir Alex.


“Bye, Fey! Masuklah!” balas Alex.


Fey mengangguk, ia melambaikan tangan pada Alex. Alex baru memacu kendaraannya saat Fey telah masuk gerbang.


---


“Sialan! Wanita murahan itu telah kembali ke sisi Alex,” guman Sandra.


Sandra geram saat mendapat laporan dari pengintai bayaran tentang Fey.


“Siapa anak ini?” tanya Sandra.


“Apa? Anak!” pekik Sandra.


“Anak! Sudah sebesar itu?” Sandra terkulai lemas. “jadi wanita itu saat pergi, telah hamil!”


“Sebaiknya kau pergi! Aku ingin sendiri!” kata Sandra.


Pria tersebut bergegas pergi.


“Kau tetap intai mereka, termasuk anak itu!” kata Sandra.


Pria itu mengangguk kemudian berlalu dari hadapan Sandra.


Air matanya mengalir deras membasahi pipi.


“Kau telah memiliki anak dari wanita murahan itu! Aaaaaaa ...!” Sandra teriak sekeras-kerasnya.


Sandra merasakan hatinya pedih, ia merasakan kesedihan paling dalam.


“Ha ... ha ... kau telah merebut segalanya dariku, Fey!” Sandra tertawa di sela-sela rasa geramnya.


Mata Sandra nanar, saat melihat wajah Tian. Tangan Sandra menyentuh foto wajah Tian.


“Anakmu sungguh tampan, Lex! Seharusnya aku yang jadi mama dari anakmu, bukan wanita murahan itu!”

__ADS_1


Sandra mulai melampiaskan kemarahannya pada barang-barang di kamar hotel itu. Sandra berhenti setelah merasa puas. Dengan napas terengah-engah, ia bergegas pergi. Sandra cek out, serta membayar kerugian hotel atas barang-barang yang telah Sandra rusak.


Sandra kembali ke apartemennya, ia menghempaskan diri di atas ranjang. Air mata Sandra masih mengalir di kedua pipinya. Sandra ingin berhenti menangis namun ia tak mampu menghentikan derai air matanya. Hingga ia tertidur pun masih terlihat air mata yang mengalir dari sudut matanya, menandakan hatinya sangat hancur.


Malam pun berganti pagi. Sandra masih merasakan sakit di kelopak matanya. Ia mengambil kompres untuk matanya yang bengkak.


Saat mata mulai membaik, Sandra segera beranjak dari sofa. Ia membersihkan diri untuk bersiap memulai hari. Sandra memacu kendaraannya menuju sebuah sekolah. Sandra masuk ke sebuah cafe 24 jam di seberang sekolah untuk sarapan sambil mengamati situasi di sana.


Sandra memperhatikan setiap kendaraan yang datang dan pergi di depan sekolah itu. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya ia melihat mobil Alex tiba di depan sekolah itu.


“Hm ... kau memang Alex junior, kau tampan seperti Alex,” guman Sandra.


Mata Sandra tak pernah lepas menatap keduanya.


---


Alex turun dari mobil sportnya, ia membuka pintu untuk Fey dan Tian. Keduanya turun dari sana, Alex dan Fey mengantar Tian hingga gerbang sekolah.


“Belajar yang rajin, Sayang!” Fey mengecup bibir Tian.


“Bye Tian!” Alex memeluk dan mencium kening Tian.


Mereka bertiga berpisah dengan saling melambaikan tangan. Setelah Tian masuk, Alex memeluk pinggang Fey menuju mobil. Seperti biasa, Alex selalu membuka pintu mobil untuk Fey. Setelah Alex masuk mobil, melajulah kendaraan sport Alex membelah keramaian jalan di pagi itu.


---


Sandra menunjukkan pandangan mata tidak suka saat melihat momen tadi. Ia merasa makin sakit hati tak kepalang. Kebenciannya kian membuncah di dada Sandra.


Tara ... Fey! Rasa benciku pada kalian takkan hilang hingga aku mati! batin Sandra.


Gemeretak gigi Sandra terdengar, bibir pun bergetar tak mampu berkata-kata. Dengan mengepalkan tangan kuat-kuat hingga telapak tangan Sandra memutih tanpa aliran darah. Sandra bangkit dari sudut yang membuat ia sakit melihat pemandangan itu. Sandra meninggalkan tempat itu dengan rasa kian pedih.


Sandra kembali ke apartemennya, ia terlihat termenung memikirkan sesuatu. Sandra menghela napas seakan ingin mengeluarkan sesak di hatinya yang membuat otaknya bebal untuk berpikir pun tak bisa. Sandra hanya bisa meratapi nasibnya.


---


“Ma, Tian sangat suka sekolah di tempat baru,” kata Tian.


“Oya, apa yang Tian suka?” tanya Fey.


“Ya, semuanya. Tapi Tian masih rindu teman Tian di sekolah yang lama,” kata Tian.


“Nanti kalau Tian libur sekolah, kita tinggal di sana. Kita bisa tinggal di rumah uncle atau di villa,” sahut Fey.


“Villa yang papa tinggal di sana?” tanya Tian.


“Ya, Tian mau tinggal di mana terserah Tian,” jawab Fey.


“Asyik!” Tian berlari dengan riang.


Fey hanya geleng-geleng kepala melihat tiankah Tian.


“Awas, Tian! Jangan lari-lari, nanti kau jatuh!” teriak Fey.

__ADS_1


Dasar Tian! batin Fey.


__ADS_2