Cinta Fey

Cinta Fey
Benang Merah


__ADS_3

Sepeninggal Andy, Tara seperti memikirkan sesuatu.


“Oya, aku ingat! Itu aroma yang sama di ranjang Sandra kemarin!” ucap Tara.


“Apa mereka CLBK?” guman Tara.


“Hoi! Di panggil dari tadi malah sibuk ngomong sendiri,” kata Nia yang sudah di samping Tara.


Tara hanya tersenyum.


“Yuk ... kita jalan!” ajak Tara.


---


Di kantor Sandra, sore itu Andy baru ke kantor Sandra.


“San, tolong ambilkan aku minum!” pinta Andy.


“Kenapa, sih! Datang-datang seperti orang dari gurun!” Sandra mengambil segelas air untuk Andy.


Andy segera meneguk segelas air yang Sandra berikan. Setelah tenang baru Andy bicara.


“San ... aku tadi bertemu Tara,” kata Andy.


“Kok bisa!” teriak Sandra.


“Aku enggak sengaja, San!” balas Andy.


Andy lalu menceritakan dari awal pertemuannya dengan Tara.


“Tapi dia enggak curiga, kan?” tanya Sandra.


“Tenang, San! Dia tak lihat kita jalan berdua juga. Hanya perasaan kita jadi parno kalau ketemu Tara,” kata Andy.


“Ya, gimana enggak parno. Kemarin kita hampir ketahuan!” Sandra ketus.


“Ini juga karena kau, San!” ucap Andy lagi.


“Kok aku?” sahut Sandra.


“Ya, jika kau tak larang aku kemari. Kan, aku enggak keluyuran di mall!” kata Andy.


“Huh! Modus!” balas Sandra.


“Kok tahu!” ujar Andy.


“Ya tahu, hidungmu belang!” sahut Sandra.


“Tapi kau suka! Ayo ngaku!” kata Andy.


Sandra menggeleng.


“Berani bohong!” ucap Andy sambil siap menggelitik Sandra.


“Jangan-jangan ... ha ... ha ... sudah stop!” Sandra tertawa geli.


“San, aku tak bisa kalau sehari enggak ketemu kamu,” kata Andy sambil memainkan rambut Sandra.


Sandra tak bisa mengelak, Andy memang memberi nafkah batin yang tak Alex berikan. Walau tahu itu salah, tapi nafsu telah mengalahkan segalanya.


“San, aku ingin ....” Andy tak melanjutkan kata-katanya, ia langsung menyergap bibir Sandra.


Mereka pun akhirnya memadu cinta sekali lagi.


---


Malam itu di dalam kamar Tara, tampak Tara termenung tentang pertemuannya dengan Andy tadi siang.


“Aneh ... ya! Dia kan, teman Alex dan Sandra tapi dia tidak menyinggung atau tanya kabar tentang mereka berdua,” guman Tara.


“Ahh ... mudah-mudahan dugaanku salah. Enggak mungkin Andy makan istri teman,” kata Tara lirih.

__ADS_1


“Ahh ... bodo amat!” ucap Tara sambil menarik selimutnya.


Malam itupun berlalu hingga pagi menjelang.


---


Seminggu kemudian.


“Ra ... antar aku tempat ke iparmu itu,” ucap Nia.


“Ada apa, ya! Kau mau bertemu iparku?” sahut Tara.


“Dasar dodol! Ya fitting gaun prank! Aku sudah di telepon iparmu!” teriak Nia.


“Ya, ampun! Kenapa aku lupa, Nia! Sorry-sorry!" sahut Tara sambil menepuk dahinya.


“Ada apa dengan kau! Makin pikun, Neng!” ucap Nia.


Tara hanya tersenyum.


“Yuk ... aku antar!” kata Tara sambil menarik tangan Nia.


Keduanya pun segera meluncur menuju kantor Sandra yang terletak di daerah perkantoran. Saat sedang mencari tempat parkir, Tara melihat Andy di area itu.


“Nia sebaiknya kau turun di sini, aku cari tempat parkir dulu. Kau tunggu aku di kantor iparku,” ucap Tara.


Nia mengangguk.


Setelah Nia turun dari mobil, Tara segera mencari sosok Andy tadi.


“Kemana itu orang, ya?” guman Tara sambil celingukan ke sana ke mari.


“Cepat sekali, tuh orang ngilangnya!” kata Tara.


Tara kehilangan sosok Andy, akhirnya ia


memarkirkan kendaraannya tak jauh dari kantor Sandra. Tara pun segera menyusul Nia.


---


“Nihil!” ucap Tara.


Tara meletakkan semua foto-foto itu di atas meja. Tara keluar dari kamarnya, ia menuju ke kamar Alex. Tara mengetuk pintu kamar Alex.


“Lex ... ini aku!” teriak Tara dari luar kamar Alex.


Alex membuka pintu, begitu pintu terbuka Tara langsung menerobos masuk ke kamar Alex.


“Ada apa, Ra?” tanya Alex.


“Lex ... kau masih menyimpan album masa SMA-mu enggak?” Tara balik tanya.


“Ada, sepertinya masih kusimpan. Kenapa?” tanya Alex.


“Mana?” Tara tak menjawab, ia justru tanya balik.


“Haic... Ra! Aku tanya kenapa?” tanya Alex kesal.


“Sorry, Lex! Itu karena aku sangat bersemangat!” kata Tara.


“Kau dari tadi bicara, seenaknya sendiri!” ucap Alex.


Tara tersenyum.


Alex membuka lacinya, di ambilnya sebuah buku cukup tebal dari dalam sana.


“Nih!” kata Alex sambil menyerahkan album itu pada Tara.


Tara menerima, ia segera membuka-buka lembar demi lembar album itu. Tangannya berhenti saat membuka lembaran pada satu halaman, mata dan jari telunjuknya bergerak diatas sebuah foto dan mencari-cari. Alex yang duduk di samping Tara ikut memperhatikan jari telunjuk Tara bergerak.


“Nah, ini dia!” ucap Tara.

__ADS_1


Jari telunjuk Tara berhenti pada sosok Andy.


“Andy!” kata Alex.


“Ya! Dia!” sahut Tara.


“Kenapa dia?” tanya Alex.


“Aroma yang kucium di ranjang kantor Sandra dengan aroma parfum Andy sama. Dan hari ini aku melihat dia di sekitar perkantoran Sandra, Lex!” kata Tara.


“Itu baru dugaanku, Lex! Seperti ada benang merah dari yang aku amati,” kata Tara.


“Masuk akal sih, Ra!” sahut Alex.


“Pada saat aku dan Fey bertemu Sandra di acara reuni. Yang aku dengar mereka sempat menjalin kasih lagi setelah memutuskan aku,” kata Alex lagi.


“Kau jangan bicara pada mereka, aku sedang mengumpulkan bukti kuat untuk menjatuhkan mereka,” ujar Tara.


Alex mengangguk.


Tara mengeluarkan ponsel dari saku celananya, Tara mengambil ulang foto Andy dari album reuni SMA- milik Alex.


“Nih udah, Lex!” kata Tara sambil menyerahkan album itu pada Alex.


“Makasih, Ra!” ucap Alex.


“Aku melakukan tak hanya untukmu tapi untuk Fey juga!” sahut Tara sambil berlalu


Alex mengangguk.


“Hati-hati, Ra!” kata Alex.


“Ok!” sahut Tara.


Setelah berada dalam kamar, Tara mengirim foto Andy dan chat kepada Udin.


Tara : “Mang, awasi orang dalam foto ini. Foto dia jika terlihat di sekitar kantor Sandra. Hati-hati Mang, jangan sampai ketahuan.”


Demikian pesan Tara saat chat ke Udin.


Malam itupun berlalu.


---


Sandra bekerja di kantor seperti biasa, sekaligus bersenang-senang dengan Andy. Mereka telah melupakan kejadian kemarin, mereka hanya merasakan shock sesaat.


“San, bagaimana? Jadi kita pergi jalan-jalan?” tanya Andy.


“Aku enggak bisa sembarangan pergi, aku harus cari waktu dan alasan yang tepat, Dy! Kenapa?” jawab Sandra.


“Ya, aku bosan kalau harus di sini terus, San!” kata Andy.


“Tapi ini tempat teraman, Dy!" sahut Sandra.


“Iya sih!” ujar Andy.


Seperti biasa Andy memanjakan Sandra dengan belaian-belaian yang memabukkan. Hingga Sandra terbuai dengan perbuatan Andy.


Kau memang pandai membuat aku senang, hingga aku mampu melupakan masalahku dengan Alex, batin Sandra.


Walau terkadang rasa was-was menghantui mereka namun tak menyurutkan intensitas pertemuan di antara keduanya.


“San, aku ingin membawamu pergi,” kata Andy.


“Kemana?” tanya Sandra.


“Kemana kau suka, aku akan mengikutimu!” ucap Andy.


“O ... Dy!” hati Sandra merasa senang.


Sandra merangsek ke dada Andy seperti anak kucing yang minta di belai.

__ADS_1


__ADS_2