Cinta Fey

Cinta Fey
Weekend


__ADS_3

Detik demi detik hingga menit demi menit Alex menunggu.


“Enggak di angkat!” Alex menyerahkan kembali ponsel Tara.


Bukannya menerima ponsel miliknya, justru Tara merangsek masuk kamar Alex mencari sesuatu di atas meja lalu mengobrak-abrik ranjang. Ternyata Tara mencari ponsel Alex dan mengetik no hp Fey di ponsel Alex tekan call. Kemudian Tara menyerahkan ponsel itu pada Alex dengan mode speaker on.


“Halo ...!”


Suara Fey sudah terdengar di ponsel Alex. Tara dengan mata melotot mengacungkan ponsel di tangannya untuk segera di terima. Mau ngga mau Alex terima ponsel miliknya yang telah tersambung dengan Fey.


“Halo ....”


“Halo ....”


“Halo, kalau tak mau bicara. Maaf aku tutup teleponnya.” Fey menjauhkan ponsel dari telinganya.


“Ha-ha-haloo ....” Alex tergagap


Fey mendengar suara dari ponselnya, ia mendekatkan kembali ponsel ke telinganya.


“Haloo ... ini dengan ....” Alex mengangkat alis matanya.


Tara seperti bisa membaca pikiran Alex, ia membisikkan nama Fey di telinga Alex.


“Halo ... ini dengan Fey?” Alex lebih tenang.


“Ya ... ini siapa?”


“Ini Alex.”


“Alex ... Alex siapa?”


“Kakaknya Tara.”


“Siapa? Alex ... Alex kakak Tara!” Tangan Fey lemas hingga HP-nya terlepas meluncur ke lantai.


“Halo ... halo ...!” Suara Alex masih terdengar dari HP yang tergeletak di lantai.


Fey memunggut ponselnya.


“I-Iya Kak, ada apa?” Fey gugup.


“Maaf soal kemarin karena telah membuatmu takut.”


“O ... enggak apa-apa! Aku sudah lupakan, Kak!” Suara Fey kini lebih tenang.


“Ok ... benar, ya! Kau sudah tak mempermasalahkan lagi.”


“Iya, Kak! Sungguh!”


“Ok ... ! Thank you ... Fey! Bye.”


“Bye”


“Sudah puas!” kata Alex.


“Lain kali hargai orang lain, orang lain juga punya perasaan, tahu! You see! Sampai-sampai dia enggak mau terima telepon dari no HP-ku. Dia lebih memilih menghindariku daripada mengadu.” Tara beranjak pergi dari kamar Alex.


“Sial!” umpat Alex.


Siapa tadi namanya, Fey ... iya Fey.


Alex mengingat-ingat nama yang membuat ia banting harga di depan Tara.


---


Fey masih mematung di atas ranjang. Ia tak percaya apa yang sudah terjadi.


Apa ini mimpi? batin Fey.


Di cubit tangannya sendiri.


“Aah...sakit!” teriak Fey.


Ini bukan mimpi, Siapa namanya tadi? A–A–Alex telepon aku? Dia meneleponku.

__ADS_1


Fey berjingkrak di atas ranjang, dilihatnya kembali riwayat panggil di ponselnya.


Jadi ini no hp Alex.


Lalu di save no hp Alex dengan rasa bercampur aduk, entah nama apa yang Fey tulis di kontak.


Fey merasa terbang ke langit ke tujuh, senang tak terkira. Sampai-sampai tertidurpun Fey masih tersenyum. Seperti berharap bertemu lewat mimpi dengan Alex.


---


Tara sudah datang di kampus lebih awal. Matanya tertuju ke arah gerbang kampus, tak lama Tara tersenyum melihat sosok yang di nanti.


“Hai ... Neng! Kau jahat, yah! Kenapa enggak cerita,” kata Tara.


“Ra ... aku enggak bisa ngadu. Aku tahu kau itu kaya apa....” Fey lari menjauh.


“Eh ... kaya apa, maksudmu?” Tara ikut berlari.


“Kaya preman!” teriak Fey.


“Huh! Dasar!” balas Tara.


Keduanya sudah ceria seperti semula.


“Fey ... besok weekend ke puncak, yuk!” ajak Tara.


“Hah! Berdua doang?” tanya Fey.


“Kau mau ajak siapa?” Tara balik tanya.


“Enggak ada ide!” jawab Fey cepat.


“Aku mau ajak Aldo,” ujar Tara.


Tara lagi pdkt dengan Aldo, teman kampus satu jurusan dengan Tara.


“Hm ... aku jadi obat nyamuk, dong.” Fey cemberut.


“Makanya cepat cari pasangan, Neng,” kata Tara.


“Apanya yang lihat nanti?” tanya Tara.


“Ya, ke puncaknya,” jawab Fey.


“Kukira pasangannya, lihat nanti!” kata Tara.


“Kau kira, cari pasangan kaya beli barang di toko!” sahut Fey.


“Ha ... ha ... ok! Call, ya!” kata Tara sambil masuk kelas.


“Ok,” balas Fey.


Kau tak tahu ... Ra! Alex telah menjerat hatiku.


---


Pulang kuliah Fey pulang ke resto, ternyata hari ini tutup lebih awal ada yang borong. Kebetulan besok resto tutup, Sony dan Amanda rencana pergi keluar kota untuk hadiri resepsi pernikahan anak teman Sony.


Hm ... kebetulan ajak kak Toni aja. Buat temani aku daripada aku jadi obat nyamuk.


“Kak Toni, besok ada acara enggak?” tanya Fey.


“Enggak ada. Memang kenapa, Fey?” tanya Toni.


“Mau ajak Kakak liburan ke puncak sama Tara,” balas Fey.


“O ... boleh, deh! Kebetulan aku senggang, pergi jam berapa?” tanya Toni.


“Standby saja Kak, nanti Fey chat!” jawab Fey.


“Ok!” sahut Toni.


---


Malam itu Tara sibuk berkemas.

__ADS_1


“Mau kemana kau?” tanya Alex.


“Ke puncak,” jawab Tara singkat.


“Ngapa'in?” selidik Alex.


“Ya ... refreshinglah! Tanya-tanya mau ikut? Aku perhatikan akhir-akhir ini kau jarang keluar malam?” tanya Tara sedikit jengkel.


“Hm ... Sandra lagi pergi ke luar negeri!” jawab Alex.


“Pantas betah di rumah, kira'in sudah sadar, ternyata lagi nge'jomblo!” ledek Tara.


Mending ikut, timbang bengong di rumah sendirian.


“Ok ... Ra! Besok aku ikut!” kata Alex.


“Ok!” jawab Tara pendek.


Alex menuju kamar untuk berkemas juga.


“Hi ... hi ... biar rame!” kata Tara cekikikan sambil membayangkan apa yang akan terjadi besok.


---


Pagi-pagi Tara sudah nge'dor-nge'dor pintu kamar Alex.


“Woi! Jadi ikut, enggak?” teriak Tara dari luar kamar Alex.


“Jadi! tunggu bentar!” jawab Alex dari dalam kamar.


“Ada apa, sih! Pagi-pagi sudah teriak-teriak!” Anna sudah berdiri di samping Tara.


“Maaf, Ma! Kami mau pergi ke puncak,” ujar Tara.


“Hah! Kalian berdua?” kata Anna terkejut.


Semenjak Alex menjalin hubungan dengan Sandra, waktu Alex tersita habis untuk Sandra seorang.


“Lagi jomblo,” bisik Tara.


Anna sedikit-sedikit tahu istilah anak zaman sekarang.


“Mereka putus?” tanya Anna ikutan berbisik.


“Enggak! Tapi lagi di tinggal pergi ke luar negeri,” bisik Tara lagi.


“O ....” ujar Anna.


Anna sempat merasa senang namun seketika kecewa, di kira jomblo beneran. Tak lama kemudian Alex keluar dari kamar.


“Ma! Alex pergi, ya!” Alex mencium pipi Anna.


“Tara ... juga, Ma!” Tara mencium pipi Anna.


“Hati-hati di jalan, Sayang,” ucap Anna.


Anna memandang punggung keduanya yang kian menjauh. Sudah jarang Anna melihat momen seperti ini.


“Pakai mobilku saja, Lex! Biar aku yang nyetir,” kata Tara.


“Up to you!” Alex masuk mobil Tara.


Mobil Tara segera meluncur membelah jalanan, Alex pun menikmati perjalanan ini, ia merasakan keanehan.


“Ra! Kayanya salah jalan, deh! Ini bukan jalan ke puncak!” kata Alex.


“Memang iya, Aku mau jemput teman,” sahut Tara.


“Kira'in, cuma berdua,” sahut Alex.


“Enak, aja! Entar kita di kira sepasang kekasih,” kata Tara.


“Betul juga!” Alex mengacak rambutnya.


Jalan yang mereka lalui, hanya jalan kecil selebar dua jalur mobil dan tepi jalan yang teduh karena rindangnya pepohonan. Tara berhenti di sebuah rumah mungil di pinggir jalan .

__ADS_1


__ADS_2