Cinta Fey

Cinta Fey
Tubuhku Mengalir Darahmu


__ADS_3

Alex mengingat kembali kata-kata mereka, saat ia belum menikahi Fey.


Setelah Alex berhasil menguasai diri, Alex segera memacu mobil sport-nya menuju rumah.


Aku harus secepatnya bertemu dengan Fey! batin Alex.


Hari telah gelap saat Alex tiba di rumah, ia langsung mencari Fey.


“Fey ... Fey ...!” teriak Alex.


“Non belum kembali, Den. Sejak pergi dengan mama non,” kata Nah.


“Fey pergi dengan mama?” tanya Alex.


“Iya, tadi siang mama non kemari. Bawa non pergi setelah non muntah-muntah,” jawab Nah.


Alex menghubungi ponsel Fey, terdengar dering ponsel Fey di meja rias.


Ponsel Fey tertinggal! Apa Toni tahu Fey masih perawan karena ...


Alex tak mampu melanjutkan apa yang ada di benaknya, membayangkan saja ia tak berani. Tubuh Alex terkulai lemas bagai tubuh tak bertulang.


Pasti mama Manda dan Toni yang membawa Fey ke dokter kandungan. Apa mama memaksa Fey pulang? Apa yang harus kulakukan? Apa ini akhir dari segalanya? Tidak ... aku tak bisa kehilangan Fey, Aku tak bisa hidup tanpa Fey, batin Alex.


Alex tak berdaya, ia terpuruk di lantai kamar mereka. Kamar yang menjadi saksi bisu perjalanan rumah tangga mereka selama ini.


Mata Alex berkaca-kaca tanpa ia sadari air matanya mengalir. Alex merasakan pedih di sudut bibirnya. Tapi tak sepedih hatinya yang telah menyakiti hati orang tercintanya.


---


“Fey, papa minta kau kembali ke rumah ini!” kata Sony.


“Pa!” Fey menggeleng.


“Fey, papa mohon!” pinta Sony.


Amanda masih menangis pilu merasakan sakit hati melihat buah hatinya di perlakukan demikian oleh Alex.


“Ma ... Pa! Beri Fey waktu, Fey akan bicara dengan Alex.” pinta Fey.


Sony diam terpaku.


“Baik!” kata Sony.


“Pa!” teriak Amanda.


“Papa tahu, Mama tak setuju jika Fey kembali ke rumah Candra. Tapi Fey, papa tak ingin kau bohongi kami lagi. Kau pernah kecewakan kami sekali. Papahm kasih waktu dua hari, kalau tak ada penyelesaian. Papa sendiri yang akan menyeretmu dari rumah itu!” Ancam Sony.

__ADS_1


Fey tertunduk mendengar batas waktu dan peringatan keras dari Sony.


---


Menjelang malam Fey kembali ke rumah Candra. Fey menatap rumah yang sudah sepuluh bulan ia tempati sejak menikah dengan Alex. Suasana rumah itu yang tenang namun tidak dengan hati Fey.


Apa yang harus aku katakan pada Alex. Aku tak mau berpisah dengan Alex! Aku terlalu mencintaimu! batin Fey.


Fey masuk kamarnya.


“Gelap, rupanya Alex belum pulang,” guman Fey.


Fey menuju saklar untuk menyalakan lampu.


“Jangan nyalakan, Fey!” Suara Alex bergetar.


“Alex!” Fey terkejut.


Fey menghentikan langkah kakinya, ia menghampiri Alex yang terduduk di ranjang.


“Maaf, Lex! Aku baru pulang karena ....” Fey tak menyelesaikan kalimatnya.


Alex telah menarik tubuh Fey hingga tersungkur di pelukan, Alex memeluk erat tubuh Fey.


“Lex! A–aku tak bisa napas.” Fey meronta.


“Maaf!” Alex mengendurkan pelukannya.


“Lex! Kau menangis? Kau sakit?” tanya Fey.


Fey menghapus air mata di pipi Alex dengan kedua tangannya. Alex menangkap tangan Fey dan menatap wajah Fey lekat-lekat.


“Hatiku yang sakit, Fey!” Suara Alex kian bergetar.


“Maaf, kalau aku menyakitimu!”


“Tidak Fey, aku yang seharusnya minta maaf! Aku yang menyakitimu. Aku sudah tahu semuanya. Apa yang kau lakukan di depanku maupun di belakangku. Aku tahu, dalam tubuhku mengalir darahmu!” kata Alex.


“Kau ... kau tahu dari mana?” Fey terkejut.


“Tak penting, aku tahu dari mana. Mengapa kau lakukan, aku ... aku tak pantas menerima kebaikanmu apalagi darahmu!” Alex menunduk.


“Aku melakukan karena aku mencintaimu!” ucap Fey.


“Apa!” Alex terkejut.


“Aku sudah jatuh cinta padamu saat pandangan pertama.” kata Fey.

__ADS_1


Alex lemas mendengarnya, ia hanya terdiam.


“Mengapa tak kau katakan dari dulu, kau mencintaiku?” tanya Alex.


“Bukankah kau menikahiku untuk menyiksaku hingga kau mendesak ingin segera menikahiku. Seakan-akan ingin segera melampiaskan amarahmu padaku,” kata Fey terisak.


“Tidak Fey! Itu tidak benar! Aku mempercepat perkawinan karena aku tak mau kehilangan dirimu. Aku cemburu pada Toni, walau aku tahu Toni menaruh hati tapi hatimu tak tergerak. Tapi tetap saja rasa itu menghantuiku. Aku ingin segera menikahimu karena Toni. Aku tak mau, kau jadi milik orang lain. Aku mencintai ... tidak! Aku sangat mencintaimu.” Ralat Alex.


Kini Fey yang lemas.


“Tapi untuk apa kau mencintaiku, jika kau tak ... tak pernah menyentuhku. Lebih baik kau maki aku seperti yang kau lakukan di rumah sakit atau kau tampar aku sekalian. Daripada kau menyiksaku begini,” kata Fey lirih.


“Bukan maksudku menyiksamu. Bukankah kau takut aku sentuh bahkan saat kita sudah menikahpun kau melarang aku melihat punggungmu. Bagaimana aku berani menyentuhmu.” Alex berargumen.


“Itu karena awal kau memintaku untuk menikah. Kau sangat menakutkan hingga membuatku sangat takut bila di dekatmu. Saat kau membawaku ke hotel, aku takut kau akan menodaiku di sana dan ... dan kau akan mencampakkanku.” Fey menunduk.


Air mata Fey mengalir deras. Alex memegang wajah Fey, di hapus air mata di pipi Fey.


“Karena itulah aku tak pernah menyentuhmu. Aku masih memiliki harapan jika mempertahankan kau di sisiku. Suatu saat nanti, kau akan datang dengan rela tanpa aku paksa,“–kata Alex.–”seandainya perkawinan ini berakhir dengan perceraian, setidaknya kau masih suci.”


Fey makin terdiam, ia tak tahu harus berkata apa.


“Awal aku menikahimu memang ingin membalas dendam pada Sandra dengan memanfaatkan kau. Tapi hatiku berkata lain, aku mencintaimu, Fey!” kata Alex.


Fey memeluk dan menangis di dada bidang Alex.


“Maafkan aku, Fey!” Alex membelai rambut Fey.


“Aku tak tahu harus bagaimana saat mama menyeretku ke atas ranjang dokter kandungan. Perasaan ku takut, Lex!” kata Fey lirih.


“O ... Fey! Tak kubayangkan rasa takut yang kau hadapi karena perbuatanku! Kini kau bisa memukul, menampar atau membunuhku sekalipun aku rela, Fey.” Alex merasa bersalah.


Fey menggeleng.


“Selama ini kita menyia-nyiakan waktu, saling menyiksa diri, Fey! Tapi aku bersyukur, kita cepat menyadarinya,” ucap Alex.


“Aku bahagia, Lex! Kau membalas cintaku. Namun kini terlambat sudah ... Lex! Papa ... mama ingin kita bercer ....”


Muuah.


Alex mendaratkan ciuman di bibir Fey.


“Aku tak akan pernah menceraikanmu. Biarkan aku menebus kesalahanku dengan menyayangimu seumur hidupku. Aku akan bicara dan bertanggung jawab dengan papa sony dan mama Manda. Apapun keputusan papa ... mama, aku tak akan pernah melepasmu,” kata Alex.


Fey menggeleng.


“Kita hadapi mereka bersama. Kau berbuat begitu juga karena aku yang menutup diri hingga membuatmu salah paham,” sahut Fey.

__ADS_1


“Maafkan kebodohan suamimu ini, Fey. Aku tak becus menjagamu. Tapi kini aku akan selalu mengenggam tanganmu ini.”


Alex mengenggam dan mencium tangan Fey.


__ADS_2