Cinta Fey

Cinta Fey
Flashback


__ADS_3

Saat di bandara, Fey terlihat tak seperti biasanya. Fey merasa resah, pikiran Fey sudah kemana-mana. Terutama ini pengalaman pertama kali naik pesawat bagi Fey.


Hari ini mereka berangkat ke Korea, saat di bandara Fey berpegang erat pada Alex.


“Lex, aku takut!” bisik Fey.


“Kau belum pernah naik pesawat?” tanya Alex.


Fey mengangguk.


Alex menggenggam tangan Fey kemudian Alex tersenyum, ia berusaha menenangkan Fey yang raut wajahnya menegang.


“Fey lihat aku! Saat kugenggam tanganmu. Apa yang kau rasakan?” tanya Alex.


“Nyaman,” jawab Fey.


“Sepanjang perjalanan aku akan menggenggam tanganmu!” ucap Alex.


“Sungguh?” Fey minta kepastian.


“Ya, mulai sekarang hingga ke Korea aku akan menggenggam tanganmu,” jawab Alex.


Fey menghela nafas lega, Alex tertawa geli melihat raut wajah Fey kini telah mengendur.


Di dalam pesawat, genggaman tangan Fey bertambah kuat terutama saat pesawat takeoff. Alex menepati janjinya, ia selalu menggenggam tangan Fey. Saat tertidur pun mereka saling bergandengan tangan.


Setelah kurang lebih 8 jam perjalanan, mereka tiba di bandara Incheon. Begitu tiba di Korea, mereka menuju ENA Suite Hotel Namdaemun untuk beristirahat.


Hari itu mereka habiskan hanya di hotel karena lelah habis menempuh perjalanan jauh.


---


Keesokan harinya


“Fey, kita jalan-jalan,” ajak Alex.


“Kemana?” tanya Fey.


“Ikut aja! Kau pasti suka,” ucap Alex.


Sore itu Alex mengajak Fey minum kopi sambil menikmati taman bunga di Sky Rose Garden yang terletak di lantai 8.


“Apa kau suka?” tanya Alex.


Fey hanya bisa mengangguk seperti kehilangan kata-kata. Tak lupa mereka menikmati view sambil foto-foto. Berapa saat kemudian ponsel Alex berbunyi.


“Fey ... aku terima telepon dulu!” ucap Alex.


Fey mengangguk.

__ADS_1


Alex menjauh saat menerima telepon, tampak dari kejauhan Alex bicara serius. Tak lama Alex menghampiri Fey.


“Maaf, Fey! Aku harus pergi ada urusan mendadak. Aku antar kau ke hotel,” ucap Alex.


”Enggak lama, kan?” tanya Fey.


“Aku usahakan begitu selesai, aku langsung kembali ke hotel,” jawab Alex.


Fey mengangguk.


Alex mengantar Fey sampai di kamar hotel.


“Kau ... masuklah! Tunggu aku, jangan keluar dari kamar, ya!” Pesan Alex.


Alex memeluk dan mencium kening Fey.


“Ya, hati-hati di jalan!” ucap Fey.


Alex pun pergi meninggalkan Fey seorang diri di kamar hotel. Setelah sekian jam berlalu, hari pun telah gelap namun Alex tak kelihatan batang hidungnya. Fey menunggu Alex dengan mengisi waktu nonton acara di televisi hingga Fey akhirnya tertidur di sofa.


Alex kembali menjelang tengah malam. Ia melihat Fey tertidur di sofa dengan televisi masih menyala. Alex mengendong Fey dan meletakkan di atas ranjang dan menyelimuti tubuh Fey.


Fey sama sekali tak terusik saat di gendong Alex. Di tatapnya wajah Fey yang tertidur pulas, bagi Alex sangat mengemaskan. Alex mencium kening Fey dengan lembut. Fey mengeliat lalu meringkuk lagi di dalam selimut.


Alex mengambil ponselnya lalu ia mengambil foto Fey kala itu masih tertidur nyenyak. Alex melihat foto Fey yang baru saja ia ambil.


Cute


---


Saat pagi tiba, Fey membuka mata perlahan.


“Pagi...!” sapa Alex lembut.


Fey terkejut, ia berada di atas ranjang di samping Alex. Kemudian Fey turun dari ranjang sambil ngulet dengan mengangkat kedua tangan ke atas untuk meregangkan tubuh. Membuat dada Fey terlihat makin menonjol. Alex jadi salah fokus, pagi-pagi disuguhi pemandangan yang bikin Alex salah tingkah.


“Kita sarapan, yuk!” ajak Alex untuk mengatasi salah fokusnya.


Saat sarapan bersama


“Fey ... maaf soal semalam. Aku pulang sudah larut malam,” ucap Alex.


“Enggak apa-apa!” sahut Fey.


Alex merasa tak enak hati meninggalkan Fey sendirian di hotel. Alex mengajak Fey makan malam di luar untuk menebus rasa bersalahnya atas kejadian semalam.


Setelah menikmati makan malam mereka jalan-jalan di Cheonggyecheon. Cheonggyecheon sangat indah di nikmati di waktu malam hari.


Alex menggenggam tangan Fey sambil menyusuri jalan di pinggir sungai yang bermandikan lampu berwarna-warni.

__ADS_1


Tak henti-hentinya Fey kagum karena seumur hidupnya baru kali ini ia melihatnya. Mereka berdua duduk di salah satu tempat di sana untuk menikmati view tanpa sadar mereka di sana hampir mendekati tengah malam karena suasana di sana masih ramai dan bikin betah duduk berlama-lama di sana.


Mereka pun kembali ke hotel untuk beristirahat karena besok mereka akan ke pulau Jeju.


Pada siang hari mereka sudah berangkat ke pulau Jeju yang kata orang pulau yang indah.


Di pulau jeju mereka menginap di The Seaes Hotel & Resort.


Selama di pulau Jeju mereka mengunjungi Hamdeok Seoubong,  Udo Maritime Park, Seongsan Ilchulbong Peak, Teddy Bear museum.


Walau di Korea mengunjungi berbagai tempat indah yang belum pernah Fey lihat sebelumnya. Tapi semua itu tak membuat Fey bahagia justru Fey merasa menderita.


“Hei ... sedang melamun apa?” tanya Alex.


“Ahh ... enggak! Enggak lagi melamun apa-apa!” jawab Fey.


“Enggak melamun kok, dari tadi aku panggil, enggak nyaut!” ucap Alex.


“Enggak, kok! Mungkin aku lelah, Lex!” sahut Fey.


“Kalau kau lelah, istirahatlah,” ucap Alex.


“Ya,” balas Fey.


Fey menuju ranjang untuk rebahan.


Aku harus bagaimana! Aku bisa gila menghadapi ini. Aku malu untuk bertanya pada Alex.


Tanpa Fey sadari matanya mulai berkaca-kaca. Ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi lalu mengunci pintu. Fey menyalakan kran, ia mulai menangis di sana.


Setelah merasa lega, Fey keluar dari kamar mandi. Saat Fey keluar kamar mandi, Alex melihat mata Fey yang sembab.


“Fey! Kau menangis?” tanya Alex sambil memegang lengan Fey.


“Enggak apa-apa,” ucap Fey.


“Enggak apa-apa, kok nangis,” desak Alex.


“Aku ... aku rindu mama,” ujar Fey berbohong.


Alex memeluk Fey. Perlakuan Alex membuat tangis Fey pecah kembali. Hingga tubuh Fey menjadi lemah lunglai ke lantai, mau tidak mau Alex mengikuti.


Alex terduduk memeluk Fey yang kian tersedu-sedu. Seakan-akan Fey ingin menumpahkan segalanya di dada bidang Alex. Makin lama tangis Fey kian lemah dan akhirnya Fey tertidur di pelukan Alex.


Alex merasa bersalah karena saat Fey rindu Amanda, seharusnya ia memberi perhatian lebih untuk Fey. Alex mengendong Fey yang tertidur karena kelelahan menangis ke ranjang.


“Maafkan aku, Fey! Kau menahan rindu berat pada mama tapi aku tak berbuat apa-apa. Mungkin karena kepergianmu ini paling jauh dari mama sepanjang hidupmu,” guman Alex.


Alex memeluk Fey dan membelai rambutnya hingga Alex pun tertidur pulas.

__ADS_1


Malam pun berganti pagi.


Alex terbangun saat Fey masih terlelap, Alex membiarkan Fey tidur lebih lama lagi. Alex yang memeluk Fey dari belakang, membuat Alex dapat mencium aroma rambut Fey.


__ADS_2