Cinta Fey

Cinta Fey
Pengorbanan


__ADS_3

Alex menerobos masuk rumah Danu dan mencari Danu di sana.


“Di mana, kau!” teriak Alex.


“O ... kau, Lex! Apa kabar? Sudah lama kita tak bertemu!” sapa Danu.


“Aku datang bukan untuk basa basi, Aku kemari untuk tanya apa yang terjadi?” desak Alex.


“Lex, sopanlah dengan calon mertuamu!” kata Danu.


“Hah! Calon mertua! Ha ... ha ... aku tak ingin punya mertua berhati licik sepertimu.”


“Mau tak mau aku akan jadi mertuamu. Bukankah ini bagian dari syarat yang aku ajukan.”


“Apa yang sudah kau lakukan pada Fey?” tanya Alex.


“O ... gadis itu namanya Fey. Gadis yang baik, beruntung kau pernah menikahinya,” sahut Danu.


“Apa yang sudah kau lakukan pada Fey!” teriak Alex.


“Candra tidak cerita? Apa yang terjadi!” sahut Danu.


“Kami tak merasa suruh Fey pergi,” ucap Alex.


“Aku tak melakukan apa-apa. Dia datang sendiri padaku. Langsung menyatakan kesediaannya, tanpa aku paksa. Ia mengiyakan penawaranku,” ucap Danu tanpa rasa bersalah.


“Kau ...!”


Alex mencengkeram kemeja Danu, ia mengepalkan tangan. Alex akan melayangkan pukulan pada Danu. Namun Alex meurungkan niatnya.


“Aku tak mau mengotori tanganku dengan memukul orang hina sepertimu,” ucap Alex.


Alex melepas cengkramannya.


“Aku pastikan kau akan menyesal pernah melakukan ini padaku!” ancam Alex.


Alex meninggalkan rumah Danu dengan rasa marah, ia memacu mobilnya menuju sebuah diskotik.


“Malam Tuan, sudah lama Anda tidak kemari,” sapa pramusaji.


“Ambilkan! Seperti biasa!” kata Alex.


Pramusaji tersebut segera berlalu dan tak lama kembali membawa pesanan Alex. Alex langsung meneguk, lagi, lagi dan lagi. Tak lama Alex ambruk.


Tak lama Mul supir pribadi keluarga Candra menjemput Alex yang tak sadarkan diri. Dengan di bantu salah seorang pramusaji memapah Alex menuju mobil.


---


Mul dan Candra memapah Alex ke kamar. Tara melepas jaket dan sepatu Alex.


“Fey ... Fey ....” Alex meracau.


“Tidurlah Lex! Setelah kau sadar baru kita bicara,” sahut Tara.


Tara menyelimuti tubuh Alex dengan selimut. Ia iba dengan Alex setelah melewati badai kini badai besar menghadang kembali.


“Kasihan kau, Lex!” guman Tara.


Tara tak beranjak dari kamar Alex, ia khawatir Alex akan berbuat bodoh.


---

__ADS_1


Saat Alex bangun, ia memegang kepala.


Kepalaku sangat sakit ...


Anna masuk kamar dengan membawa sebuah mangkok.


“Kau sudah bangun, Lex! Kau makan sup ini agar mabukmu hilang!” ucap Anna.


Anna memberi Alex sebuah mangkuk berisi sup.


“Alex tak mau, Ma! Biar Alex merasakan mabuk agar Alex tidak mengingat Fey,” sahut Alex.


Alex menunduk menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Namun Anna merasakan kesedihan yang melanda anak lelaki satu-satunya. Anna menghampiri Alex, ia memeluk anak lelakinya dengan tangis tertahan.


“Menangislah, Sayang! Agar kau merasa lega,” kata Anna.


Anna menepuk-nepuk punggung Alex.


“Apa salah Alex! Hingga Alex harus mengalami ini!” sahut Alex.


Anna hanya bisa memeluk Alex.


“Ma! Kita tak bisa berbuat apa-apa. Ini kemauan Fey sendiri meninggalkan kita” ucap Alex lirih.


“Apa maksudmu?” tanya Anna.


“Fey menemui om Danu, ia menyetujui syarat itu. Kalau kalian tidak bicara dengan Fey, entah Fey tahu syarat gila itu dari mana, tidak ada yang tahu,” ucap Alex.


“Fey tahu sendiri!” ujar Tara.


Tara tiba-tiba masuk kamar Alex dengan membawa sesuatu di tangan.


“Tak sengaja, aku cek cctv untuk melihat Fey pergi pagi itu dengan siapa. Selanjutnya, kau bisa lihat sendiri,” jawab Tara.


Tara menyerahkan ponsel miliknya pada Alex. Anna dan Alex menonton video cctv di ponsel Tara.


Fey terlihat berdiri di depan pintu kamar baca dan tak lama meninggalkan pintu dengan langkah terhuyung-huyung.


Hati Alex sakit saat melihat Fey menanggung penderitaan seorang diri.


“Mengapa ia begitu bodoh menanggung beban yang bukan tanggung jawabnya!” Tara memeluk Alex.


“Begitulah Fey yang kukenal. Ia akan memberi semua yang ia punya, apapun akan dia korbankan untuk orang yang ia cintai,” balas Tara.


“Aku harus bagaimana, Ra? Aku tak bisa hidup tanpa Fey.” Mata Alex berkaca-kaca.


“Kita ikuti apa mau Fey, kau nikahi Sandra!” ucap Tara.


“Ra! Apa kau sudah gila! Fey sahabatmu, istri kakakmu. Kau suruh aku menghianati Fey!” teriak Alex.


“Bukan itu, maksudku! Aku kenal baik Fey. Ini pasti maksud Fey menolong perusahaan sama saja menolong orang yang ia cintai. Kau mau pengorbanan Fey menjadi sia-sia?”–tanya Tara.–“nanti aku yang beritahu om Sony dan tante Manda.”


Ketiganya hanya bisa terdiam.


“Kalian keluarlah! Biarkan aku sendiri,” pinta Alex.


“Lex ...!” Anna mendekati Alex.


“Please!” Suara Alex meninggi.


Tara mengajak Anna untuk meninggalkan Alex sendiri.

__ADS_1


“Beri waktu Alex berpikir, Ma!” kata Tara.


Alex mengingat kembali saat melewati malam terakhir bersama Fey.


Sikap dan bicaramu aneh, kau sungguh tega meninggalkanku, Fey! batin Alex.


Alex memeluk dan mencium bantal.


Fey, aroma tubuhmu masih tercium olehku. Aku berharap ini semua hanya mimpi buruk. Kau di mana? Aku rindu ...


Malam itu Alex tak bisa memicingkan matanya. Saat menjelang pagi Alex baru tertidur.


---


Siang itu Alex terlibat pembicaraan serius dengan Tara.


“Ra, berat hatiku bicara ini,” kata Alex.


“Aku tahu,” sahut Tara.


“Kini aku benar-benar menyesali diri. Kenapa dulu ia, aku sia-siakan. Kini hidupku tak punya arti, Ra!” kata Alex.


“Kau punya arti! Kalau tidak, Fey sudah pergi dari dulu,” sahut Tara.


“Ra, masalah Sandra!” ucap Alex.


“Serahkan padaku, Lex! Semua pasti beres,” sahut Tara.


Alex hanya terdiam, kini ia hanya bisa mengandalkan Tara. Ia mengurus semua termasuk menemui Danu.


---


“Tara datang kemari, mewakili keluarga Candra. Aku akan bicara langsung pada intinya. Alex setuju menikahi Sandra dan mereka tinggal di rumah kami,” ucap Tara.


“O ... no problem!” jawab Sandra.


Sandra tiba-tiba muncul di hadapan Tara.


“Tara permisi.” Tara beranjak pergi.


Sandra menghadang jalan Tara.


“Hai! Kita belum bicara soal lamaran, cincin , gaun, acara resepsi, belum lagi bulan madu,” Sandra nyerocos.


“Oya! Untung kau mengingat, karena Alex sudah pernah menikah jadi akan melewati itu semua,” jawab Tara.


“Apa maksudmu?” Sandra tanya balik.


“Intinya kalian hanya menikah disaksikan keluarga saja, jangan pernah berharap pernikahan dengan pesta meriah dan megah. Kau terima syarat kami? Kalau tak setuju, aku anggap tak akan pernah terlaksana pernikahan ini. Aku tunggu jawaban darimu, secepatnya!” ucap Tara.


Tara meninggalkan Sandra.


“Apa!”


Sandra melempar asbak ke arah di mana Tara tadi berdiri.


“Pa! Bagaimana ini? Masa Sandra menikah tak ada pesta?” Sandra merajuk.


“Kali ini papa tak bisa membantumu, San! Terserah kau, papa hanya buka jalan. Semua kembali padamu!”


Sandra hanya bisa menghentakkan kaki saat mendengar penjelasan Danu.

__ADS_1


__ADS_2