Cinta Fey

Cinta Fey
Mati ... Aku!


__ADS_3

“Hubungan mereka memang semakin baik. Tapi kalau mereka akan menikah, seharusnya Sandra mendekatkan diri pada kita.”–Anna menghela nafas panjang–“ini justru makin menjauh, membawa serta Alex. Lama-lama kita kehilangan Alex, Pa!”


“Mama jangan berpikir yang tidak-tidak!” kata Candra.


“Bukan begitu, Pa! Tapi feeling mama berkata begitu. Coba Papa lihat kalau Sandra ke rumah, apa pernah berbincang dengan kita. Bagaimana kita mengenal bakal calon mantu kita ... kalau begini,” gerutu Anna.


“Ya, nanti papa bicara dengan Alex,” ujar Candra.


“Iya lho, Pa!” sahut Anna.


Candra mengangguk.


---


“Ma ... Mama ....!” pekik Fey.


“Ini anak pulang-pulang teriak-teriak, ada apa?” tanya Amanda.


“Enggak ada apa-apa! Cuma mau goda Mama,” jawab Fey asal.


“Fey ... ini mangga untuk Tara. Dia, kan suka mangga ini. Dulu sampai bela-bela'in naik pohon metik sendiri,” ujar Amanda.


“Mati ... aku!” guman Fey.


“Apa, Sayang! Kau bilang apa?” tanya Amanda.


“Fey enggak bilang apa-apa,” kata Fey berbohong.


“Jangan lupa, Sayang! Mama mau mandi,” sahut Amanda.


Aku tak ingin kembali ke rumah itu. Aku takut ...


Fey hanya bisa bengong, tak tahu harus berbuat apa.


Kalau pakai ojol, nanti bawel akan makin ribet dan mama akan tanya macam-macam. Hm ... coba tanya kak Toni.


“Halo, Kak Toni”


“Ya ... Fey. Ada apa?”


“Fey minta tolong, bisa?”


“Waduh, sorry Fey. Sekarang aku lagi sibuk, bagaimana kalau nanti malam?”


“Ya ... enggak usah Kak, maaf sudah ganggu. Makasih Kak. Bye.”


“Ya .... Bye.”


Terpaksa, dah! Antar sendiri.


---


Di depan rumah Tara, Fey minta tolong Udin panggilkan Nah. Ada rasa cemas terlihat jelas di wajah Fey saat menanti Nah keluar rumah.


Jangan lama-lama, Bi! Aku takut bertemu si galak.


“O ... Non! Masuk, Non! Itu non Tara ada di rumah,” kata Nah.


“Enggak usah, Bi! Saya buru-buru. Cuma mau antar ini buat Tara. Sudah ya, Bi! Saya pamit,” jawab Fey.


Tanpa basa-basi lagi, Fey segera menyerahkan tas berisi mangga ke tangan Nah.


“Makasih, Non!” kata Nah.


Fey mengangguk.


Aku tak ingin bertemu dengannya, melihat wajahnya pun aku tak ingin lagi.


Fey segera ambil langkah seribu dari rumah yang membuat ia shock.


---


Saat Nah nenteng tas berisi mangga ke dapur, Tara keluar dari kamar.


“Apa itu, Bi?” tanya Tara.


“Ini Non, mangga buat Non. Dari temannya Non,” kata Nah.

__ADS_1


“Teman yang mana?” tanya Tara.


“Teman Non yang kemarin nginap,” jawab Nah.


“Sekarang, Fey di mana?” Tara celingukan mencari sosok Fey


“Sudah pulang, Non! Katanya buru-buru,” jawab Nah.


“Ya udah, Bibi boleh pergi!” kata Tara.


“Mau bibi kupas'in mangganya, Non?” tanya Nah.


“Nanti saja, Bi” jawab Tara.


Tara mengambil ponselnya, ia menghubungi Fey.


Kok enggak di angkat.


Kembali Tara menghubungi, kali ini telepon rumah Fey.


“Halo ... Tante Manda! Makasih sudah di kirim mangganya”


“Oya ... sama-sama Tara!”


“Tadi Tara enggak bertemu Fey. Fey bilang, ‘buru-buru.’”


“Enggak kok, sekarang malah lagi rebahan di kamar. Tara mau bicara?”


“Hm ... enggak usah Tante. Makasih! Sudah dulu, Tante!”


“Ya ....”


Tara menutup ponselnya.


Kok Fey bohong, ya! Katanya buru-buru ternyata lagi santai di rumah.


---


“Sayang, tadi Tara telepon,” ujar Amanda.


“Oya ...!” kata Fey singkat.


“Enggak, Ma! Cuma tadi Fey sakit perut ... jadi Fey enggak mau berlama-lama di sana.” Fey memberi alasan.


“Ya, lain kali bilang yang jelas, supaya Tara enggak tersinggung,” kata Amanda.


Fey mengangguk.


---


“Fey ... Fey!” teriak Tara.


Aduh! ... akhirnya! batin Fey.


Selama di kampus, Fey berusaha menghindari Tara.


“Hai! Kenapa, sih! Kau dari kemarin bertingkah aneh, aku merasa kau menghindariku,” kata Tara.


“Ahh, hanya perasaanmu saja!” sahut Fey.


“Bohong ... kau bohong! Aku merasakan ada sesuatu,” ucap Tara meninggi.


“Ra ... sorry. Tapi sungguh, enggak ada apa-apa, swear!” Fey tersenyum.


Fey mengenggam dan menepuk-nepuk punggung tangan Tara.


“Sungguh!” ujar Tara.


Fey mengangguk sambil tersenyum.


Fey tahu sifat Tara yang dapat diibaratkan casingnya doang cewek tapi sepak terjangnya cowok banget.


Aku baik-baik saja, Ra! Tak akan kubiarkan kalian bertengkar karena aku.


---


Tara masih memikirkan tingkah Fey akhir-akhir ini yang berbeda.

__ADS_1


“Maaf Non, bibi perhatikan sepertinya Non sedang kepikiran. Kalau boleh tahu sedang mikir apa, Non?" tanya Nah.


“Iya ... Bi. Fey bohongi Ara,” kata Tara.


“Ya, ampun! Kelihatannya orangnya baik.” Nah tak percaya.


“Bukan bohong, nipu Bi!” Tara seperti bisa membaca pikiran Nah.


“O ... kira'in. Memang bohong, gimana Non?” tanya Nah.


“Setelah nginap di sini, jadi beda. Waktu kirim mangga enggak mau masuk, alasannya buru-buru ternyata bohong dan di kampus seharian ini menghindari Tara,” kata Tara.


“O ... pantas,” guman Nah tanpa sadar.


“Apa ... Bi! Pantas! Pantas apa?” ujar Tara.


“Eh!” Nah membekap mulutnya.


Nah menyadari, ia keceplosan bicara.


“Enggak ada apa-apa, Non. Bibi permisi!” kata Nah.


“Eh ... Bi! Ada apa? Kok Bibi seperti menyembunyikan sesuatu!” Tara menahan Nah pergi.


”Anu Non! Anu ....” Nah tergagap-gagap.


“Anu ... ,anu apa!” desak Tara.


“Anu, Non! Tapi Non janji! Jangan bilang den Alex, kalau Non tahu dari bibi,” kata Nah.


Nah celingukan ke sana kemari takut kalau ada Alex.


“Iya ... iya, aku janji! Cepat!” Tara tak sabar.


Kemudian Nah cerita semua kejadian kemarin dari awal hingga akhir.


“Ingat, lho Non. Jangan bilang tahu dari bibi.” Nah mengingatkan kembali.


Tara mengangguk.


Kurang ajar ... Alex berani ganggu Fey! batin Tara.


Tara bangkit dari sofa, menuju ke kamar Alex. Nah pun segera menghilang dari medan pertempuran. Tara menerobos pintu kamar Alex.


Terkunci.


Tara ngedor pintu kamar Alex berkali-kali hingga pintu kamar terbuka.


“Apa sih, ngedor–.”


“Hai, Kau! Kau apakan temanku!” teriak Tara mengelegar penuh amarah.


“Temanmu sudah ngadu rupanya! Aku enggak ngapa-ngapain dia. Dia aja yang sensi,” ucap Alex.


“Hai! Temanku itu bukan tipe pengadu, tadi aku baru tahu ceritanya,” jelas Tara.


“Dari siapa?” tanya Alex.


“Pokoknya tahu! Seharusnya kau tanya baik-baik, bukan bentak-bentak. Pasti kemarin, dia sangat ketakutan sampai-sampai enggak mau kemari lagi. Puas kau!” teriak Tara kian jadi.


“Ok ... ok ...! Aku minta maaf, itu spontan, aku juga terkejut!” Alex beralasan.


“Minta maaf pada dia, jangan padaku!” Tara makin ketus.


“Iya ... iya, besok!” kata Alex.


Tara tak mau pergi dari kamar Alex.


“Apalagi?” tanya Alex.


Tara sodorkan ponsel miliknya.


“Telepon dia, sekarang juga!” perintah Tara.


Alex takut kalau Tara sudah marah begini. Seperti kerbau di cocok hidungnya, dengan segera Alex mengambil ponsel dari tangan Tara.


“Namanya Fey!” ucap Tara.

__ADS_1


Alex menuruti perintah Tara, ia mencari no kontak Fey. Alex call no kontak Fey.


__ADS_2