Cinta Fey

Cinta Fey
Malam Terakhir


__ADS_3

Alex kian mempererat pelukannya. Alex mencium Fey dengan lembut. Fey membalas ciuman itu dengan segenap hati. Alex meremas dada Fey dengan lembut tanpa melepaskan pagutan di bibir Fey. Alex membalikkan tubuh Fey. Alex merebahkan Fey dan menindih Fey sambil melepaskan ciuman tiada henti.


Saat terasa sesak Alex melepaskan ciumannya untuk mengambil napas demikian pula dengan Fey.


Alex menatap mata Fey yang ada di bawahnya. Alex mengusap lembut wajah Fey.


“Makasih, Fey! Sudah lahir untukku,” ucap Alex.


Alex membenamkan wajahnya ke wajah Fey. Alex mencium bibir leher Fey bertubi-tubi hingga Fey kewalahan mengimbangi Alex.


“O ... Lex...,” desah Fey.


“Ya, Sayang ....”


Alex meremas dada Fey.


“Aah ... Lex ... hmmmm,” desah Fey kian jadi.


Fey menggulingkan tubuh Alex, kini Alex berada di bawah Fey. Fey melepas kaos yang Alex kenakan. Tangan Fey meraba dada Alex, disentuhnya bekas luka Alex. Fey mencium di atas bekas luka Alex. Fey kembali mencium Alex dengan penuh gairah.


Alex kembali menggulingkan Fey ke atas ranjang dan menindihnya lalu menciumnya. Alex pun membenamkan wajahnya ke dada Fey. Alex menghisap meninggalkan banyak tanda kepemilikan di dada Fey hingga Fey mengelinjang.


Alex pun kian jadi karena desahan Fey. Fey membenamkan wajah ke dada Alex. Kini keduanya melakukan penyatuan dan sama-sama mencapai klimaks.


Keduanya terkulai lemas hanya deru napas saling berkejaran di antara keduanya.


Fey bersandar pada dada Alex dan mendengar detak jantung Alex yang seolah-olah mengiringi napas Fey dan Alex yang masih ngos-ngosan. Fey meraba bekas luka di dada Alex.


“Aku tak akan melupakan luka ini,” ucap Fey tanpa sadar.


“Ya ... Sayang! Karena luka ini bagian darahmu mengalir dalam tubuhku,” balas Alex.


Alex mencium Fey.


“Janji kau akan menjaga dirimu demi aku?” tanya Fey.


“Ya ... Sayang, aku janji!” jawab Alex.


Alex memainkan puncak dada Fey dan Alex kembali merebahkan Fey dan mencium kembali wajah bulat Fey. Alex mencium bibir Fey lebih dalam lagi dan tangan Alex kembali meremas dada Fey membuat Fey kembali menggelinjang. Tangan Fey menyentuh dan memainkan sesuatu yang besar dan keras di bawah sana.


“Aahh ... kau sekarang nakal, ya! Kau tanggung akibatnya.”


Alex mencium dan menghisap Fey di bawah sana hingga Fey mengelinjang hebat.


“Aaah ... Lex ... aaaaaahhh,” desah Fey.


Alex kian semangat saat lenguhan Fey makin keras.


Merekapun kembali melakukan lagi, dan lagi, hingga pagi menjelang.


Mereka baru tertidur karena kelelahan melewati malam panjang hari itu.


---


Seperti biasa, saat weekend Alex bangun siang. Seperti hari ini Alex terbangun dari tidur saat wajahnya terasa panas oleh sinar matahari yang menerpa wajahnya melalui jendela kamarnya. Alex meraba ranjang di sisinya.


Kosong.


“Hmm ... Fey sudah bangun rupanya,” ucap Alex menggosok matanya.

__ADS_1


Alex melirik jam di atas nakas, sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


Sebaiknya aku mandi.


Berapa waktu berlalu, Alex keluar dari kamar mandi. Walau Fey tak tampak batang hidungnya namun pakaian yang akan Alex kenakan sudah tersedia di tempat biasa.


Hampir pukul 10 siang, Alex baru keluar dari kamar. Ia ke dapur mencari Nah.


“Bi, lihat Fey?” tanya Alex.


“Tidak Den, tapi kata Udin. Pagi-pagi non sudah keluar rumah. Kan, Udin yang buka tutup pintu gerbang,” jawab Nah.


Alex kembali ke kamarnya, Alex menelepon ponsel Fey.


Tidak aktif, kau kemana, Fey? Jika ia pergi ke suatu tempat pasti ia bilang padaku.


Alex menelepon kembali. Ia menelepon rumah Sony.


“Halo, Ma!”


“Halo, Lex! Ada apa?”


“Alex mau tanya, Fey ada di rumah Mama?”


“Fey, tidak kemari, Lex! Fey tak bilang mau pergi kemana?”


“Alex tak tahu saat Fey pergi. Ya, sudah Ma! Nanti Alex hubungi ponsel Fey lagi. Bye, Ma!”


“Bye, Lex!”


Alex menunggu seorang diri dalam kamar, ia merasa bosan tanpa Fey di sampingnya. Hari semakin siang namun batang hidung Fey tak kunjung terlihat jua. Alex mulai gelisah, ia menghampiri Udin di pos sekuriti.


“O ... iya, Den! Namun mamang lihat, kok non terlihat sedih,” jawab Udin.


“Sedih?” tanya Alex.


“Iya, sedih. Saat pergi, non memandang rumah ini lama,” jawab Udin.


Perasaanku kok enggak enak! batin Alex.


Alex segera meninggalkan Udin, ia menuju kamarnya. Alex membuka lemari pakaian Fey.


Pakaiannya, tas dan perhiasan masih ada di tempatnya. Kemana dia? batin Alex.


Alex mulai gelisah. Tara baru pulang dari hangout pun tak luput dari pertanyaan Alex.


“Hari ini aku tak bertemu Fey. Kenapa Lex? Kalian bertengkar?” Tara mencecar Alex.


“Tidak, Ra! Kami baik-baik saja. Aku sudah telepon mama Manda, Fey tak ada di sana,” ucap Alex.


“Lex, aku jadi ingat. Kemarin kami bertemu di resto Japanese. Hari itu, Fey bertingkah sangat aneh,” ujar Tara.


“Maksudmu?” tanya Alex.


“Bicaranya aneh! Seolah-olah ia akan pergi jauh dan lama,” jawab Tara.


“Apa!” ucap Alex.


“Iya menurutku begitu,” sahut Tara.

__ADS_1


Alex terkulai lemas, ia pun merasakan dua hari terakhir, Fey terlihat aneh.


“Kenapa Lex?”


“Dua hari lalu, ia tiba-tiba menangis tak mau kehilangan diriku. Apa yang terjadi, Ra?” tanya Alex.


“Kemarin hanya itu yang ia sampaikan padaku!” jawab Tara.


Hingga menjelang sore Fey tak kembali jua. Fey bagai di telan bumi, hilangnya Fey telah membuat gempar kedua keluarga.


Tak lama Candra mendapat kabar dari Benny, ia sudah mendapat investor yang dapat menutup kerugiannya.


Candra menjatuhkan ponselnya dan ia terkulai lemas, untung Alex berdiri disamping Candra hingga dengan sigap Alex langsung menangkap tubuh Candra.


“Pa! ada apa?” tanya Alex.


“Kepala papa pusing, tolong antar papa ke kamar.”


Alex memapah Candra ke kamar di ikuti Anna, setelah Alex pergi.


“Ma, Fey!” ucap Candra.


Candra tak sanggup meneruskan kata-katanya.


“Fey! Kenapa, Pa!” sahut Anna.


“Fey berkorban untuk kita, Ma,” kata Candra.


“Apa!” ucap Anna.


Suara Anna tercekat di tenggorokan hingga ia tak bisa berkata-kata lagi. Anna terhuyung-huyung dan ambruk di tepi ranjang.


“Fey berkorban apa, Pa?” ucap Alex.


Alex telah berdiri di ambang pintu dengan tangan menggenggam segelas air minum untuk Candra.


“Lex, maafkan papa.” Candra menitikkan air mata.


“Apa maksud Papa? Tolong jelaskan, agar Alex mengerti!” ucap Alex.


Candra hanya terdiam.


“Pa, Alex tanya!” Alex meninggikan suara.


“Papa minta maaf. Ini berawal dari...,” ucap Candra.


Candra menceritakan apa yang terjadi dari awal hingga dugaan kepergian Fey karena masalah perusahaan. Alex terkulai lemas atas penjelasan Candra.


“Jadi Papa jual Fey untuk menebus perusahaan!” teriak Alex.


“Tidak, Lex! Papa tidak segila itu!” sahut Candra.


“Mengapa setelah Fey pergi, om Danu memberi dana?” tanya Alex.


“Itu yang papa, tak mengerti,” jawab Candra.


“Alex akan tanya om Danu!”


Alex pergi meninggalkan kamar Candra, ia memacu mobilnya menuju rumah Danu.

__ADS_1


__ADS_2