
Anna mengangguk lemah. Tak lama Fey keluar dengan wajah pucat dan lemah. Tara dan Anna segera menghampiri Fey.
“Ra, aku pulang dulu. Bicaranya nanti saja,” ucap Fey lirih.
“Fey ... makasih! Ra, tolong antarkan Fey,” ujar Anna.
Anna menjabat dan menepuk punggung tangan Fey.
“Enggak usah, Tante! Fey sudah minta tolong di jemput teman,” tolak Fey.
“Siapa?” tanya Tara.
“Kak Toni,” jawab Fey singkat.
Tara mengangguk lega karena yang jemput Toni. Karena Tara mengenal Toni dengan baik, ia pasti akan memperhatikan Fey dengan baik.
Tiga jam sudah Alex berada di meja operasi. Kini Alex telah di pindah ke ruang inap untuk di observasi lebih lanjut. Baru menjelang tengah malam Alex sadar dan segera di periksa dokter jaga.
“San ... Sandra!” panggil Alex lemah.
“Tenang! Anda tidak boleh banyak bergerak,” ucap dokter jaga.
Alex yang berusaha turun dari ranjang, akhirnya dokter jaga memberi suntikan obat penenang.
Candra juga telah tiba di rumah sakit setelah perjalanan bisnisnya.
“Sebaiknya Papa ajak Mama istirahat di rumah, biar Ara yang tunggu Alex. Nanti Ara kasih kabar kalau ada perkembangan lebih lanjut,” ucap Tara.
---
Setelah melewati malam panjang dan beristirahat di bawah pengaruh obat penenang, hari ini Alex lebih tenang.
“Ra, aku di mana?” tanya Alex lemah.
“Kau di rumah sakit,” jawab Tara.
Alex teringat terlibat kecelakaan gara-gara ia mengejar Sandra menggunakan mobil.
“Sandra ... gimana, Ra?” tanya Alex.
“Dia! Masih sehat tidak kurang suatu apa!” jawab Tara kesal.
“Aku ingin bertemu Sandra, tolong panggilkan Sandra ada yang ingin aku sampaikan, Ra!” pinta Alex.
“Tidak Lex, kau hampir kehilangan nyawa karena dia,” tolak Tara.
“Please ... Ra!” pinta Alex.
Alex berusaha turun dari ranjang tapi tak bisa, Ia tak bisa merasakan kakinya.
“Ra ... Ra ...! Kakiku, Ra! Tidaak!” teriak Alex.
Alex teriak histeris, ia menyingkap selimut yang menutupi kakinya. Tara ikut panik.
“Kenapa kakimu?” tanya Tara.
“Aku enggak bisa menggerakkan kakiku!” kata Alex histeris
Alex memukuli kakinya sendiri.
__ADS_1
“Kakiku mati rasa, Ra!” Alex kian histeris.
“Coba kau gerakan pelan-pelan,” Tara berusaha tenang.
“Enggak bisa, Ra! Aku cacat, Ra!” pekik Alex histeris.
Tara segera menghubungi dokter dan Alex yang meronta-ronta di beri obat penenang kembali. Setelah Alex tenang, Tara mencari dr. Roy untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Alex.
Sandra menuju ke kamar di mana Alex di rawat. Tampak di kejauhan Sandra melihat Tara keluar kamar Alex sambil menyeka air matanya.
Ada apa ini! tumben cewek tomboy itu bisa nangis.
Akhirnya Sandra mengikuti kemana Tara pergi. Tara menemui dr. Roy dan menceritakan apa yang terjadi pada Alex.
“Apa Alex tak bisa jalan? Alex cacat!” teriak Sandra.
Tara dan dr. Roy terkejut dibuatnya. Sandra menerobos ruang kerja dr. Roy.
“San! Kau jangan langsung ambil asumsi seperti itu,” ucap Tara.
“Terus aku harus ngomong apa? Kalau enggak bisa jalan, ya cacat!” kata Sandra ketus.
“Maaf nona, silakan keluar! Kami hanya menyampaikan rekam medis pada keluarga pasien. Anda bukan siapa-siapa pasien,” ujar dr. Roy.
Dr. Roy membuka pintu ruangnya, mempersilakan Sandra keluar.
“Dengan senang hati! Lagipula enggak ada harapan walau wajah tampan dan kaya tapi cacat!” ucap Sandra ketus.
“Kau ...!” Tara geram.
Sandra pergi meninggalkan ruangan dr. Roy dengan tertawa.
“Sudahlah ... om juga kesal dengan tingkahnya,” sahut dr Roy sambil menutup pintu kembali.
“Sikapnya dari kemarin bikin kami kesal, katanya kekasih tapi lebih meributkan pakaian yang kotor karena darah daripada keselamatan Alex,” dr. Roy menjelaskan.
“Lalu bagaimana dengan Alex, Om?” tanya Tara.
“Ra ... om harus observasi dulu. Sebab waktu pertama kali Alex datang dan melihat luka di tubuhnya. Om ambil tindakan CT scan dan tidak ditemukan kerusakan berarti. Nanti kita lakukan tes kembali,” kata dr. Roy.
---
Fey masuk ke kamar Alex, Alex tertidur dengan pulas. Fey tak tahu kalau Alex sekarang di bawah pengaruh obat penenang.
Fey duduk di kursi samping ranjang Alex, ia mengamati wajah tampan Alex.
Maafkan aku ... Lex. Karena aku, kau bertengkar dengan kekasihmu. Aku hanya ingin mendengar dan melihatmu yang terakhir kali. Aku tak akan menemuimu lagi.
Tara kembali ke kamar Alex, ada Fey di sana. Fey terlihat lebih segar.
“Hai Ra!” sapa Fey.
“Hai Fey,” balas Tara lesu.
“Bagaimana keadaan Alex?” tanya Fey.
Tara menggelengkan kepalanya. “Tak begitu baik Fey.”
“Dari mana kau tahu Alex kecelakaan?” tanya Tara.
__ADS_1
“Aku telepon rumah lalu bibi bilang Alex kecelakaan, terus aku langsung kemari,” jawab Fey.
Tak lama Alex terbangun setelah pengaruh obat penenang hilang. Alex melihat Fey di dalam kamar.
“Aku suruh kau panggil Sandra bukan wanita ini. Pergi kau! Aku benci kau!” Alex mengusir Fey.
Alex hari ini tak seperti Alex yang Fey kenal. Sorot matanya penuh kebencian pada dirinya.
“Pergi kau dari sini, aku benci kau! Kau penyebab semua ini. Pergi ... pergi!” teriak Alex.
“Lex ... kau, tenanglah. Ini bukan kesalahan Fey,” kata Tara.
Alex kalap, ia melempar Fey dengan benda-benda yang bisa ia raih. Hingga akhirnya Alex melempar botol minum kearah Fey.
“Aduh!” teriak Fey.
Fey merintih memegang pelipisnya, ada darah di sana.
“Hei! Kau gila! Begini balasan pada orang yang sudah memberimu ....” kata Tara.
“Jangan, Ra!” potong Fey menggeleng.
“Pergi! Aku bilang pergiiiii!” teriak Alex kian histeris.
Fey memilih keluar kamar, Fey menangis di balik dinding kamar. Masih terdengar jelas teriakan Alex yang menghujat dirinya. Hatinya sakit, melihat orang yang ia cintai menderita.
“Fey, maaf! Emosinya belum stabil,” kata Tara.
Seorang suster menghampiri mereka.
“Maaf Nona, besok kami akan mengadakan tes pada kaki saudara Alex.”
“Ya ... makasih, Sus,” balas Tara.
“Kenapa kaki Alex?” tanya Fey.
Tara menceritakan apa yang sudah menimpa Alex.
“Ya Tuhan!” pekik Fey lirih.
Mata Fey berkaca-kaca, ia tak menyangka akibatnya seperti ini. Hatinya hancur mendengarnya. Fey jadi mengerti apa yang telah Alex perbuat terhadap dirinya adalah pelampiasan.
Kau benci diriku karena kau begini karena aku. Bencilah aku ... Lex, sepanjang umurmu. Aku rela.
---
Hari sudah sangat terik, namun Fey seperti tak ada gairah menjalani hidup setelah mendengar apa yang menimpa Alex.
“Fey ... Fey ...!” panggil Toni dari luar rumah.
“Ya!” jawab Fey.
Fey bangkit dari ranjang dan mengambil kunci resto karena Sony akan pulang, jadi Toni mau beres-beres resto.
“Masuk, Kak! Hm ... ini kuncinya,” Fey buka pintu untuk Toni.
“Astaga Fey, kau sakit? Kau pucat sekali,” ujar Toni.
Toni mengukur suhu tubuh Fey dengan memegang dahi Fey.
__ADS_1
“Apa ini!” kata Toni saat menyentuh dahi Fey.
Toni menyibak rambut yang menutupi dahi Fey.