Cinta Fey

Cinta Fey
Mendekati


__ADS_3

Sore itu, Mul mengantar Tian ke sebuah gedung olahraga untuk berlatih karate.


“Den Tian, nanti pak Mul jemput di sini, ya!” kata Mul.


“Ya Pak Mul, Tian masuk dulu. Terimakasih sudah antar Tian kemari!” sahut Tian.


Mul mengangguk.


Tian pun segera berlari menuju tempat latihan. Setelah terlihat tuan mudanya masuk gedung, Mul segera meninggalkan tempat itu.


Tampak di kejauhan Sandra memperhatikan itu semua sejak tadi. Gedung olahraga raga itu memang ada fasilitas olahraga yang lain. Namun Sandra tak berniat untuk berolahraga walau ia mengenakan pakaian untuk joging.


Selama satu jam sudah Sandra menanti di dalam mobil sambil mengawasi situasi di sana.


Tak lama anak-anak berseragam putih-putih khas seragam para karateka kecil bertebaran di halaman gedung. Tampak di kejauhan Tian duduk di teras gedung. Sandra dengan mengenakan topi, ia keluar dari mobil dan menghampiri Tian.


“Maaf, anak manis! Tante boleh minta tolong?” tanya Sandra.


Tian yang terbiasa tak bicara dengan orang asing hanya terdiam. Sandra menyadari Tian menatap curiga padanya.


“Tante minta tolong, bacakan pesan di ponsel tante. Tante tak bisa baca tanpa kacamata,” pinta Sandra lagi.


Akhirnya Tian mau mendekati Sandra yang hanya minta pertolongan darinya.


“Terimakasih anak ganteng, siapa namamu?” tanya Sandra.


“Tian, Tante!” jawab Tian.


“Terimakasih Tian! Tante pergi dulu!” kata Sandra.


Sandra bergegas pergi dari hadapan Tian dan segera masuk kendaraannya. Dalam mobil Sandra segera melepas topi dan berlalu dari sana.


“Untuk hari ini, cukup sampai di sini. Asal aku bisa mendekatimu, akan semakin mudah aku melangkah!” guman Sandra sambil tersenyum penuh makna.


---


Setelah Sandra pergi, tak lama Mul datang menjemput Tian. Keduanya pun pulang kembali ke rumah.


“Terimakasih, Pak Mul!” ucap Tian setibanya di rumah.


Mul mengangguk sambil tersenyum melihat Tian yang berlari menjauh dari Mul.


---


Saat malam tiba, Tian pun telah tertidur setelah aktifitas latihan karate dan makan malam bersama keluarga besar. Selesai mengantar Tian tidur, Fey kembali ke kamarnya. Fey menghampiri Alex yang sedang bersantai di sofa, ia menghempaskan diri di samping Alex. Alex membuka lengannya agar Fey bersandar di dadanya. Alex membelai rambut dan sesekali mencium aroma rambut Fey.


“Tian sudah tidur?” tanya Alex.


“Sudah, baru saja! Mungkin Tian lelah, setelah latihan karate sore tadi!” jawab Fey.


“Bilang Tian, jangan terlalu keras berlatihnya,” kata Alex.


Fey mengangguk.


“Tian suka dengan sekolah barunya?” tanya Alex.


“Tian suka. Cuma kemarin ia bilang rindu dengan teman puncaknya, Lex!” kata Fey.

__ADS_1


“Kapan-kapan kita pergi ke sana sekalian nostalgia,” sahut Alex.


“Nostalgia apa, nih?” Fey berseloroh.


“Nostalgia ketemu mantan pacar!” kata Alex cuek.


“Hah! Ketemu mantan! Aku pacarmu yang ke berapa?” tanya Fey.


“Ke berapa, ya? Aku lupa, Fey? jawab Alex dengan tampang bodohnya.


“Play boy, ya!” kata Fey.


“Ya, gimana! Di angurahi wajah tampan membuat aku banyak pengagum,” sahut Alex.


“Wuih! Sombongnya!” timpal Fey.


“Tapi paling aku cinta dengan kau, Fey! Aku tak sekedar menyanjungmu tapi sungguh, aku paling nyaman saat bersamamu!” Alex sambil mencium leher Fey.


Fey mengeliat merasakan geli dengan ulah Alex.


“Saat di sana aku bertemu mantan pacar, ya hanya kamu saja. Kau, kan istriku. Jadi kau adalah mantanku.” ucap Alex


“O kira'in ada yang lain!” balas Fey.


“Aku tak mau menukar kau dengan apapun di dunia ini, Fey!” ucap Alex sambil mengeratkan pelukannya.


“Fey!” panggil Alex.


“Hm ....” Fey hanya berdehem.


“Pindah ke ranjang, yuk!” ajak Alex.


“Fey!” Alex makin gemas.


“Ha ... ha ....” Fey tertawa saat melihat junior Alex berdiri.


“Senang! Lihat suami menderita. Awas kau tak kuberi ampun!” Alex membopong tubuh Fey ke ranjang.


Keduanya bergumul di sana menghabiskan malam hingga tengah malam tiba. Setelah lelah, mereka berdua tertidur dengan saling berpelukan.


---


Satu minggu telah berlalu, hari ini Tian berlatih karate.


“Sebaiknya aku ke sana,” ujar Sandra.


Sandra pun bersiap menemui anak semata wayang Alex. Dengan mengenakan pakaian joging, Sandra sore itu berangkat menuju gedung olahraga di mana Tian berlatih. Setibanya di sana, Sandra segera mencari space yang strategis untuk mengawasi area sekitar gedung. Seperti biasa, Sandra menunggu latihan karate berakhir dalam mobil.


Tampak di kejauhan, anak-anak mulai berhamburan di halaman gedung. Tian pun terlihat menunggu jemputan di tempat biasa. Sandra segera keluar dengan pura-pura berlari kecil mendekati Tian.


“Halo, Tian!” sapa Sandra.


“Halo, Tante!” Tian sapa balik.


“Tunggu jemputan?” tanya Sandra.


Tian mengangguk.

__ADS_1


“Oya, Tian! Tante punya sesuatu.” Sandra membuka tas pinggangnya.


Sandra mengeluarkan sebatang coklat dari sana.


“Ini untuk Tian yang manis,” Sandra mengulurkan tangan berisi coklat.


Tian menggeleng.


“Ini untuk Tian, sebagai ucapan terimakasih sudah bantu tante minggu lalu.” Sandra mengulurkan tangannya kembali.


Sandra menganggukkan kepalanya agar Tian segera menerima coklat dari tangannya.


Tian mengulurkan tangannya untuk menerima coklat dari tangan Sandra.


“Terima kasih, Tante!” ucap Tian sambil membungkukkan badannya.


“Sama-sama, Tian! Tante pergi, ya! Dah, Tian!” kata Sandra.


“Dah, Tante!” sahut Tian sambil melambaikan tangan.


Sandra segera masuk kedalam mobil sebelum penjemput Tian tiba. Tampak di kejauhan Tian pun menikmati coklat pemberian Sandra sambil menunggu Mul. Sandra tampak senang melihat Tian menikmati coklat itu.


“Kau sangat ganteng dan manis!” guman Sandra.


Tampak di kejauhan, mobil yang di kendarai Mul telah tiba. Dengan segera, Tian bergegas masuk ke dalam mobil. Saat Tian pergi, tak lama Sandra pun meninggalkan area gedung olahraga.


---


“Tian, ini apa!” tanya Fey saat melihat sisa coklat dalam tas Tian.


“O ... Tian di beri ucapan terimakasih sama tante. Karena Tian sudah bantu tante itu baca chat karena enggak bawa kacamatanya,” jelas Tian.


“O ... gitu! Tapi Tian tak boleh sembarangan bicara dengan orang asing!” pesan Fey.


“Ya, Ma! Mama jangan khawatir sama Tian!” sahut Tian.


“Ya, Tian harus jaga diri, ya! kata Fey lagi.


“Ya, Ma!” balas Tian sambil menata buku-buku pelajarannya.


“Tian, ayo makan!” ajak Alex dari ambang pintu.


“Ya, Pa!” sahut Tian sambil menghampiri Alex.


Kedua pria beda generasi itu pun berlalu dari balik pintu menuju ruang makan.


“Hm ... kok! Mama enggak di ajak, Ian!” teriak Fey.


Mereka hanya tersenyum kecil, Fey pun segera mengekor di belakang mereka. Mereka menikmati makan malam bersama dengan keluarga besar Candra.


---


Saat di dalam kamar, Alex tampak sedang berbicara melalui ponsel dengan seseorang. Tak lama, Alex menghampiri Fey.


“Fey, besok aku akan terbang bersama Indra.”


Fey bertanya, ”Pergi berapa hari?”

__ADS_1


“Paling lama satu minggu!” jawab Alex.


Fey segera menyiapkan pakaian yang akan Alex bawa pergi dan segala perlengkapan di sana.


__ADS_2