
Besok masa cuti Tio akan berakhir, ia harus kembali. Tak seperti biasanya, kali ini Tio merasa berat meninggalkan kampung halamannya. Itu semua karena kehadiran Fey, hatinya telah terjerat oleh Fey.
Pagi itu Tio berkemas di kamarnya.
“Iyo, kapan kau akan pergi?” tanya Heni yang telah kembali dari Medan.
“Mungkin besok sore, Ma!” jawab Tio.
“Iyo ... mama sudah tua, kau anak mama satu-satunya. Mama ingin kau pulang nanti bawa seorang wanita yang kau cintai dan menikahlah, agar mama bisa menimang cucu darimu,” ucap Heni.
“Ma ... Iyo sudah menemukan dia!” balas Tio.
“Fey, maksudmu?” Heni tanya balik.
Tio mengangguk.
Heni memegang tangan putra satu-satunya itu.
“Iyo ... bukan mama tak setuju. Mama suka dengan Fey, ia gadis yang baik. Tapi ....” Heni tak melanjutkan kalimatnya.
“Tapi apa, Ma?” tanya Tio.
Heni beranjak dari sofa, ia menutup pintu kamar Tio.
“Iyo, kau mencintai Fey. Tapi apa ia mencintaimu?” tanya Henny.
“Ia tak mengiyakan saat Iyo mengungkapkan perasaan,” jawab Tio.
“Nah ... itu maksud mama. Seandainya Fey mengiyakan lalu di kemudian hari muncul suaminya, kau bagaimana?” tanya Heni lirih.
Tio hanya terdiam, ia mencoba mencerna kata-kata Heni yang masuk akal.
“Wanita tak hanya Fey, masih banyak wanita di dunia ini. Carilah wanita lain, Iyo. Mama pergi ke pondok dulu,” kata Heni menepuk-nepuk punggung putranya sambil berlalu.
Tio tak bisa berkata-kata lagi.
Tio tipe orang tak mudah jatuh cinta dengan seseorang tetapi sekali cinta, ia sulit melupakan.
FLASHBACK.
Empat tahun yang lalu, Iyo pernah menjalin kasih dengan seorang gadis. Namun gadis tersebut menderita sakit hingga maut merenggut nyawanya.
Sejak saat itu, Tio tak menjalin hubungan dengan gadis manapun. Walau Tio memiliki kepribadian yang humble, membuat ia banyak di sukai tidak hanya oleh kaum pria saja juga oleh kaum wanita. Namun tak mudah menemukan tambatan hati. Baru dengan Fey hatinya kembali bergetar.
---
Siang itu, Fey sedang membersihkan lemari di ruang tengah. Tio mendekati Fey.
“Fey, besok aku akan pergi,” kata Tio.
__ADS_1
Ada rasa tak rela di hati Fey namun ia berusaha bersikap wajar.
“Ya, apa kau sudah berkemas?” tanya Fey.
“Sudah!” Tio melirik Fey.
Tio melihat raut wajah Fey yang datar tanpa ekspresi.
“Kapan kau berangkat?” tanya Fey lagi.
“Besok sore,” jawab Tio.
Untuk menghindari tatapan mata dengan Tio, Fey sengaja pura-pura sibuk. Tapi mata Fey mulai berkaca-kaca. Tio tahu Fey pura-pura sibuk karena Fey menyeka lemari di tempat yang sama sampai berkali-kali.
“Hentikan, Fey!” ucap Tio sambil memegang tangan Fey.
Tio membalikkan tubuh Fey, sekarang mereka saling berhadapan air mata Fey tiba-tiba menetes. Tio mengusap air matanya yang meluncur bebas di kedua pipi Fey.
“O ... Iyo!” Fey memeluk Tio.
Tio membelai rambut Fey. Aroma rambut Fey yang semerbak tercium oleh Tio. Aroma rambut Fey yang nanti akan ia rindukan.
“Jangan kau menangis, Fey! Nanti charger ini bisa korslet,” canda Tio.
Fey tersenyum.
“Nah ... Itu lebih baik, kan!” Tio melonggarkan pelukannya dan menundukkan wajahnya untuk menatap wajah Fey.
Brug.
Keduanya terjatuh di sofa ruang tengah, Fey menindih tubuh Tio. Wajah Fey merah merona, ia segera beranjak dari atas tubuh Tio namun Tio menarik tangan Fey hingga Fey ambruk kembali di atas tubuh Tio. Kini jarak antara wajah mereka hanya 5cm saja.
Tio mengecup bibir Fey, Fey hanya bengong. Hal ini membuat Tio makin berani mencium bibir Fey lebih lagi. Tio mengulum bibir Fey dengan lembut. Tio menghentikan ciumannya setelah merasakan air yang menetes di wajahnya. Ternyata air itu air mata Fey yang berada di atas tubuhnya, sehingga air mata Fey menetes ke wajahnya.
“Maaf, Fey! Bukan maksudku melecehkanmu. A–aku, tak bisa menahan hasratku padamu,” ucap Tio merasa serba salah untuk pertama kalinya.
Fey menggelengkan kepalanya.
Fey merebahkan kepala di atas dada Tio yang berbaring di bawahnya. Keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Salahkan aku saja, Iyo! Aku yang bimbang, batin Fey.
Tio membelai rambut Fey yang panjang.
Fey ... kau berhasil menghancurleburkan hatiku! batin Tio.
Fey beranjak dari atas tubuh Tio, ia duduk di susul Tio duduk di samping Fey.
Tio menyentuh tangan Fey.
__ADS_1
“Fey ... aku tak bermaksud kurang ajar padamu,” ucap Tio sambil menatap Fey yang menunduk.
“Aku ... aku ... !” sahut Fey tak bisa berkata-kata.
“Fey buka hatimu untukku. Aku akan menerimamu dengan Tian apa adanya. Aku tak melihat masa lalumu. Aku mencintaimu, aku juga mencintai Tian. Biar aku menjadi suami untukmu dan menjadi papa untuk Tian,” kata Tio.
Fey menitikan air mata.
“Jangan menangis, Fey! Aku tak akan memaksamu untuk menerimaku. Seandainya kau menolakku, aku akan menerima dengan lapang dada,” ucap Tio sambil mengusap berkali-kali air mata Fey.
“Entah mengapa air mata aku tak bisa berhenti mengalir, Iyo!” balas Fey.
Tio memeluk Fey yang masih terisak-isak.
“Tenang Fey, kau rileks, kau bisa sakit kalau kau begini,” ucap Tio yang masih mendekap Fey.
Fey merasa hatinya sakit untuk kedua kalinya setelah Alex kini Tio. Fey tak dapat memungkiri diri sendiri. Tio memiliki ruang sendiri di hati Fey namun ia ngga tahu harus berbuat apa.
Tio melepaskan pelukannya dan di tatapnya wajah Fey.
“Aku akan menunggu, sampai kau siap menerimaku!” kata Tio.
Fey menggelengkan kepala.
“Aku tak layak untuk kau tung ....” sahut Fey.
Tio menutup bibir Fey dengan tangannya, kini Tio yang menggeleng.
“Aku yang mau, aku mau menunggumu!” kata Tio.
“Aku tak mau jadi penghalang untukmu!” ucap Fey.
“Penghalang? Apa maksudmu!” tanya Tio.
“Aku dengar pembicaraan kalian tadi pagi,” jawab Fey.
“Itu tak akan mengubah apapun Fey. Kau ... hanya kau yang mampu menggetarkan hatiku,” kata Tio.
“Seharusnya aku tak berada di sini, di rumah ini,” balas Fey.
“Kau tak berhak melarang aku atau siapapun untuk tidak jatuh cinta padamu. Karena kau layak di cintai, Fey. Kau wanita yang baik,” ucap Tio.
“Maafkan aku, Iyo!” kata Fey sambil meninggalkan Tio.
Sepeninggal Fey, Tio seperti orang frustasi. Tio mengacak-acak rambutnya.
Selama seharian rasa canggung timbul di antara keduanya. Hingga menjelang Tio pergi pun Fey sama sekali tak keluar dari kamarnya. Tio mengetuk pintu kamar Heni namun Fey tak membuka pintunya.
“Fey, aku tahu kau ada di balik pintu ini. Aku akan pergi! Apa yang aku katakan kemarin, kau harus percaya. Jaga diri baik-baik. Fey, aku titip mama,” pesan Tio.
__ADS_1
Fey mengigit bibirnya untuk menahan tangisnya. Setelah pintu depan rumah terdengar tertutup barulah, tangis Fey pecah.