
Sandra segera turun dari ranjang namun kali ini kalah cepat dengan Andy yang sudah menindih tubuh Sandra dan tangan Sandra di tahan Andy di atas kepala Sandra. Bibir Andy mengecup bibir Sandra kemudian mencium lebih dalam bibir Sandra dengan lembut.
Setelah Sandra tak berontak lagi, Andy melepas tangan Sandra. Tangan Sandra meremas rambut Andy dan Andy mengulum bibir Sandra hingga lidah Andy menyusup dan melilit lidah Sandra dan sesekali Andy mengulum lidah Sandra.
Andy melepas ciumannya untuk ambil napas begitu pula dengan Sandra, napas keduanya terdengar terengah-engah.
Tangan Andy turun ke dada Sandra dan bermain di sana. Andy meremas dengan lembut hingga membuat Sandra mengelijang merasakan nikmat yang Andy berikan.
Andy melepas rompi dan blouse Sandra, Andy melepas pengait bra Sandra hingga terpampang jelas apa yang sangat Andy suka. Ia mencium, mengulum, puncak yang mengeras dengan lembut, Sandra pun melepas kemeja Andy, ia meraba dada bidang Andy.
“O ... Dy ....” desah Sandra.
Andy bermain di dada Sandra dan mereka pun melakukan penyatuan untuk sekian kalinya.
“Ahh Dy ... ooh,” rintih Sandra kian keras.
“Kenapa Sayang ...?” tanya Andy.
Sandra hanya membalas dengan mencakar punggung Andy dan Sandra mengigit bibirnya untuk menahan rasa nikmatnya.
“Ahh ... Dy ... aku enggak kuat lagi ... Dy ... ooo,” kata Sandra.
“Sabar, Sayang kita keluar bersama ....” sahut Andy
Andy mempercepat gerakannya.
“Aaah ... Dy ....” teriak Sandra.
Tiba-tiba.
Klik. Klik. Klik. Klik.
Terdengar suara jepretan kamera, kilatan lampu blitz yang menyala bergantian tak kalah dengan pesta kembang api. Seketika ruangan terang benderang.
Andy dan Sandra terkejut, mereka menghentikan aktivitasnya.
“Ya, silakan kalian ambil gambar mereka sebanyak yang kalian mau!” kata Tara.
“Apa yang sudah kalian lakukan!” teriak Sandra sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Dan Andy menarik bantal untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
“Hentikan ... hentikan!” teriak Andy dengan sangat keras.
Tak lama kemudian.
__ADS_1
“Jika kalian sudah selesai ambil gambar mereka, silakan keluar!” ucap Tara.
Merekapun satu per satu meninggalkan ruangan itu. Sepeninggal mereka, Tara menghampiri Sandra.
“Maaf, sudah mengganggu kesenangan kalian. Silakan lanjutkan kembali, sebanyak yang kalian mau!” ucap Tara mengambil sebuah kamera yang letaknya tersembunyi sambil meninggalkan keduanya.
“Aaaaaaa ... kubunuh kau, Ra!” teriak Sandra setelah melihat perbuatan Tara.
Andy dan Sandra terduduk lemas, mereka tak menyangka. Apa yang mereka takutkan terjadi sekarang.
Sandra menangis, Andy hanya bisa memeluk Sandra. Namun Sandra membalas pelukan Andy dengan pukulan. Andy hanya bisa diam menjadi samsak hidup bagi Sandra. Setelah lelah, Sandra berhenti memukul Andy dan Sandra menangis di pelukan Andy dengan sesekali memukul dada Andy dengan sisa tenaga yang ada.
“Maafkan aku, San,” ucap Andy sambil memeluk Sandra dengan erat.
FLASHBACK.
Sandra berangkat kantor agak siangan. Tak lama dua orang wanita mendatangi kantor Sandra. Salah satu dari wanita tersebut, memberi sekat tipis pada pintu sehingga pintu tidak tertutup sempurna tanpa sepengetahuan Sandra.
Saat di tengah perbincangan, salah satu wanita numpang ke toilet. Ia tidak ke toilet tapi ia meletakkan kamera ke arah ranjang di ruangan tersebut. Saat menuju toilet, pasti melewati pintu kamar Sandra di sana.
Kurang lebih satu jam mereka di dalam sana, kedua wanita yang berlagak sebagai customer tersebut keluar meninggalkan kantor sandra. Kedua wanita tersebut termasuk dalam bagian rencana Tara dan Alex.
---
Setelah Sandra tenang, keduanya mengenakan kembali pakaiannya. Sandra bangkit, ia berjalan dengan sempoyongan, untung Andy dengan sigap menangkap tubuh Sandra.
“Kepalaku pusing, Dy,” kata Sandra.
“Tunggu di sini, aku punya obat untuk sakit kepalamu,” sahut Andy akan beranjak.
“Aku ada, tolong ambilkan saja tasku!” pinta Sandra.
Andy berjalan menuju meja Sandra untuk mengambil tas. Andy memberikan tas itu pada Sandra, dengan segera Sandra menumpahkan isi tasnya ke lantai untuk mencari obat sakit kepala. Kemudian Andy mengambil air minum untuk Sandra. Setelah menemukan obat yang ia cari, ia segera menelan pil sakit kepalanya.
“Minum, San!” kata Andy sambil menyerahkan gelas berisi air kepada Sandra.
Andy memungut barang-barang Sandra yang berserakan ke dalam tas. Pandangan mata Andy tertuju pada salah satu benda yang berserakan di lantai, lalu Andy memungut benda itu.
“Ini apa, San? Apa maksudnya ini!” tanya Andy.
Wajah Sandra langsung pucat pasi melihat kemasan pil KB di tangan Andy.
“Sia-sia aku berbaik hati padamu!” ucap Andy sambil bangkit.
“Dy, biar aku jelaskan!” kata Sandra sambil memegang lengan Andy.
__ADS_1
“Tak perlu, tak ada yang perlu kau jelaskan. Sebaiknya hubungan ini, kita akhiri cukup sampai di sini!” sahut Andy sambil menghentakkan tangan Sandra.
“Dy ... Dy ...! Dengarkan penjelasanku, tolong jangan tinggalkan aku, Dy! Please!” teriak Sandra.
Andy beranjak pergi, Sandra mengejar Andy dan memeluknya dari belakang.
“Jangan tinggalkan aku, Dy!” pinta Sandra.
Andy melepaskan pelukan tangan Sandra.
“Begini balasanmu padaku, San! Jujur aku melakukan ini, aku berharap bisa menghamilimu. Hingga kau akan hentikan penantian palsumu pada Alex dan mau membina rumah tangga denganku bersama anak kita, tapi ... tapi apa yang sudah kau lakukan di belakangku!” teriak Andy.
Sandra menangis terisak, ia tak tahu harus berkata apa.
“Jawab, San!” teriak Andy.
“Ak ... hiks ... aku salah, Dy!” jawab Sandra terisak makin keras.
“Hah! Hanya itu yang kudengar dari bibirmu!” Andy lemas.
“Kau sungguh sangat menghinaku, kau anggap aku budak nafsumu, kan!” teriak Andy.
Sandra menggeleng.
“Aku sungguh mencintaimu, aku ingin menikahimu, aku ingin memiliki anak darimu. Tapi apa ini, kau anggap aku tak berarti. Sejak SMA, di matamu hanya Alex ... Alex ... dan Alex, kau tak pernah memandangku!” teriak Andy.
“Jangan pernah mencariku lagi, kini cintaku sudah benar-benar kau hancurkan!” suara Andy bergetar.
“Dy ... Andy!” teriak Sandra.
Andy tak memperdulikan teriakan Sandra, ia tetap meninggalkan Sandra menangis seorang diri di sana. Andy meninggalkan Sandra luka untuk yang kedua kali di hari ini. Andy pun pergi membawa luka hatinya sendiri.
---
Andy kembali ke apartemennya, ia meneguk segelas minuman di sana.
Aku telah membangun bisnis di luar negeri, itu semua untukmu, San! Untuk hidup kita di sana! Tapi apa yang sudah kau lakukan padaku, batin Andy.
Tangannya menggenggam erat gelas di tangannya hingga.
Prak.
Gelas itu hancur di tangannya. Darah menetes dari sela jari jemarinya. Luka terkena serpihan gelas dengan sisa minuman keras terasa pedih tapi tak sepedih di hianati orang yang sangat ia cintai. Andy mengikat luka di tangannya dengan sapu tangan, ia bangkit.
Andy mengirim chat pada Dodi.
__ADS_1
Andy : ”Pa, malam ini Andy terbang!”
Setelah mengirim chat, ia pun berkemas untuk pergi meninggalkan negeri ini dengan membawa luka yang Sandra torehkan untuk kesekian kalinya di hati Andy.