
“Cukup Mang. Uih! ... senang lihatnya, semuanya segar-segar. Mamang pintar merawatnya. Makasih, Mang!” jawab Fey dengan senyum lebar.
Pagi ini senyummu sangat manis, ini senyum termanis yang pernah aku lihat.
Setelah kembali ke villa, Fey langsung memasak di dapur. Alex memperhatikan dengan mata hampir tidak berkedip.
Tanganmu sangat cekatan memasak, kau pasti biasa masak.
“Sudah ... Kak! Silakan di makan, ini enak di makan saat masih hangat,” ujar Fey.
“Masaknya secepat itu,” sahut Alex.
Fey mengangguk.
Fey memberi semangkok hasil masakannya lengkap dengan sendok, tak lupa ia menuang air minum untuk Alex.
“Kalau enggak enak, bilang Kak!” kata Fey sambil tersenyum malu.
Alex langsung menyambar sendok dan meniup makanan berkuah hangat dengan uap panas yang masih menari di atas mangkok sangat menggugah selera karena aromanya bikin ingin menyantapnya.
“Sruuuup! Ya ... ampun! Ini enak sekali Fey. Makasih!” ucap Alex.
Fey tersenyum melihat tingkah Alex yang kali ini seperti anak kecil.
Ternyata kau orangnya bisa menyenangkan.
Fey pun menikmati makanan tersebut bersama-sama di satu meja. Alex dengan lahap dan tanpa malu-malu lagi ia memindahkan isi mangkok ke dalam perut tanpa sisa sedikitpun.
“Sini ... Kak! Biar Fey yang cuci,” kata Fey.
Fey membereskan perangkat makan Alex, Fey segera mencuci perangkat masak dan peralatan makan termasuk membersihkan kompor dari noda.
“Kakak mau minum kopi?” tawar Fey.
“Boleh .... asal jangan ....”
“Kopi hitam,” potong Fey.
Mereka tertawa bersama, hilang semua rasa canggung bagai tertelan bumi.
Alex menuju teras dan duduk di sana sambil menikmati kabut yang menyelimuti bukit seperti hamparan awan.
“Kak ... ini kopinya!” Fey membawa secangkir kopi ke teras.
Alex menerima kopi dari tangan Fey. Fey berdiri menghadap perbukitan yang masih berkabut sambil bersandar di pagar kayu. Alex memandang lekuk tubuh Fey yang tertimpa sinar mentari dengan malu-malu mulai keluar dari peraduannya, tampak dari belakang seperti siluet indah.
Fey memang istimewa, benar kata Toni, ‘Siapa yang memilikimu, sangat beruntung.’ Siapa orang beruntung itu! batin Alex.
__ADS_1
“Fey, aku minta maaf!” ujar Alex tiba-tiba berdiri di samping Fey.
“Maaf ... untuk apa?” tanya Fey memandang Alex.
“Untuk semuanya,” jawab Alex menatap Fey tanpa berkedip.
Saat Alex menatap dengan mata tajamnya, Fey tak kuasa. Ia menundukkan wajahnya.
Alex terbawa suasana saat melihat Fey menunduk, tangannya bergerak. Ia mengangkat dagu Fey, wajah Alex mendekati wajah Fey untuk yang ketiga kalinya. Bibir Alex mendekati bibir tipis Fey dan.
“Huuaaa! Hmm ... bau apa ini enak sekali!” Tiba-tiba Tara keluar dari kamar sambil menguap.
Alex dan Fey terkejut dan saling menjauh.
“Hei! Kalian berdua pagi-pagi sudah bangun?” tanya Tara.
“Sudah biasa ... Ra!” jawab Fey dengan wajah memerah.
“Kalau kau sih, iya! Tapi dia?” Tara menunjuk Alex.
“Aku mau mandi dulu.” Fey segera menyelamatkan diri.
Di dalam kamar mandi, Fey menatap diri melalui cermin. Fey menyentuh bibirnya.
Alex ingin menciumku.
---
Apa yang terjadi padaku, hampir saja aku mencium bibir Fey. Kau seperti ...
Alex mengacak rambutnya, seolah menghapus bayangan Fey dari otak Alex.
Tak berapa lama mereka bersiap kembali pulang dengan membawa sejuta cerita dan kenangan tak terlupakan.
---
Suasana rumah Fey masih terlihat sepi. Sony dan Amanda belum kembali dari luar kota.
Sore itu Fey kedatangan seorang wanita dengan penampilan elegan. Semua yang melekat pada tubuh wanita itu barang-barang branded.
“Silakan duduk, Kak!” kata Fey sopan.
Wanita itu tak menghiraukan perkataan Fey. Mata wanita itu menyapu seluruh ruangan itu, setelah puas kini tatapan matanya tertuju pada Fey dan ia berdiri sejajar dengan Fey, ia melepas kacamatanya dan mengigit gagang kacamata. Ia berjalan mengitari tubuh Fey melihat dari atas ke bawah, dari depan ke belakang dengan tatapan tajam membuat Fey risih.
“Kau yang bernama Fey.” Suara wanita itu dingin tanpa ekspresi.
Fey mengangguk.
__ADS_1
Wanita itu mendekati Fey dan.
Plak.
Pipi kiri Fey terasa panas, tamparan keras wanita itu meninggalkan tapak tangan warna merah tercetak di pipi Fey.
“Apa salahku hingga kau menamparku!” kata Fey.
Fey memegang pipinya yang terasa sakit dan panas. Baru kali ini, ia di tampar orang.
“Dengar, baik-baik! Jangan kau gunakan wajahmu untuk merayu pria kaya!” Suara wanita itu meninggi.
“Apa maksudmu?” tanya Fey.
“Kau memiliki wajah dan bentuk tubuh yang lumayan, kau bisa jual dirimu untuk mendapatkan uang. Jangan minta instan langsung main gaet pria kaya.”–Wanita itu menatap sengit pada Fey.–“Simpan saja wajah polosmu itu. Aku tak akan tertipu. Bagiku, kau tak ubahnya seperti ******* jalanan yang menjajakan diri pada laki-laki hidung belang.”
“Apa!” kata Fey.
Hati Fey hancur, harga dirinya terinjak-injak oleh wanita asing ini. Mimpi apa ia semalam setelah kemarin pelangi menghiasi hari Fey kini hujan badai petir di hari ini. Bukankan pelangi akan muncul setelah hujan. Tapi apa ini, mata Fey mulai berkaca-kaca.
“Tak usah capai-capai kau keluarkan air mata palsumu!” kata wanita itu dingin.
“Keluar! Pergi dari sini!” teriak Fey menggelegar.
Fey sudah tak tahan lagi, ia telah mencapai batasnya dan ia tak mampu lagi mendengar hinaan wanita di hadapannya ini.
“Jangan sok suci! Ini buktinya!” teriak wanita ini tak kalah keras.
Wanita itu melempar sejumlah foto ke wajah Fey. Beberapa lembar foto tersebut menampar wajah Fey. Foto-foto itu bertebaran di udara depan mata Fey dan melayang-layang jatuh berserakan di atas lantai. Mata Fey melebar, ia bersimpuh. Dengan tangan gemetar ia mengambil foto di sana.
Apa ini! Foto diriku bersama A–A–Alex ... di puncak. Jadi dia kekasih Alex, Alex punya kekasih! batin Fey
Fey membekap mulutnya sendiri, Ia tak bisa berkata-kata. Hatinya hancur berkeping-keping, ia sangat shock dan air matanya mengalir.
“Jangan pura-pura! Pakai air mata segala ... basi! Jijik aku melihatnya!” Wanita itu tidak lain adalah Sandra kekasih Alex.
Kata-kata Sandra kian menusuk hati membuat pedih bagai di iris sembilu.
“Hentikan! Apa yang kau lakukan di sini!” teriak Tara.
Tara tiba-tiba berdiri di ambang pintu.
“O ... cepat sekali backing kau datang! Pantas perempuan murahan ini berani merebut Alex dariku!” kata Sandra.
“Cukup! Tutup mulutmu.” teriak Fey. ”Keluar dari sini, keluar!”
Teriak Fey kian melengking. Tara mendekap tubuh Fey yang bergetar hebat. Baru kali ini Tara melihat emosi Fey yang biasa lemah lembut.
__ADS_1
“Hei! Kau dengar! Pergi kau dari sini!” usir Tara menegaskan ucapan Fey.