
“Begini, Ma! Tian akan pulang dari rumah sakit,” kata Alex.
“Terus?” tanya Anna.
“Hm ... Alex bilang Tara untuk memberikan kamarnya untuk Tian,” kata Alex.
“Karena kamar Alex dan Tara bersebelahan, maksud Alex kedua kamar itu mau Alex beri akses untuk kedua kamar saling berhubungan,” kata Alex lagi.
“Betul, Ra!” sahut Anna.
“Ahh, Mama! Selalu deh, bela Alex! Nanti kalau Tara menikah, Tara mau tinggal di rumah Tio saja!” ucap Tara.
“Eh ... jangan! Nanti mama sama siapa?” teriak Anna.
“Ya! Sama papa, lah!” sahut Alex dan Tara bersamaan.
“Waduh, Papa!” teriak Anna kewalahan menghadapi kedua anaknya.
“Ada apa, ini!” kata Candra.
“Ini kau urus anakmu!” sahut Anna sambil berlalu.
“Lho, kok!” Candra hanya bisa garuk-garuk kepalanya.
“Gini, Pa!” kata Alex.
“Tidak, Pa! Gini!” ucap Tara potong kalimat Alex.
Keduanya tak mau mengalah, menceritakan masalahnya dengan versi masing-masing. Candra di bikin pusing oleh kedua anaknya yang sudah bukan anak-anak lagi.
“Tunggu-tunggu, stop! Papa tahu, apa mau kalian. Ra! Betul kata Alex, kalau Tian di kamar tamu terlalu jauh dari kamar mereka,” ucap Candra.
“Papa!” sahut Tara.
“Sebentar, papa belum selesai bicara,” kata Candra.
“Memang Tio mau tinggal di sini?” tanya Candra.
“Pasti mau, Pa! Nanti Ara yang bicara dengan Tio,” jawab Tara.
“Ok! Papa akan buat kamar baru untuk kalian saat menikah nanti! Bagaimana?” ucap Candra.
“Ok, Tara setuju!” jawab Tara.
“Thanks, Ra!” kata Alex.
“Aku mau pindah, karena Fey dan Tian. Wee ...!” sahut Tara sambil menjulurkan lidahnya.
Alex hanya bisa menggaruk kepalanya. Setelah Tara pindah kamar, Alex langsung mendesign interior ulang kamar Tara untuk Tian.
Tio di buat kesal oleh Alex yang sangat antusias. Alex telepon Tio bolak balik, hanya untuk menanyakan kesukaan anak semata wayangnya. Rasa kesal telah mencapai ubun-ubun, Tio pun mendatangi Alex di rumahnya.
”Yuk ... mau tanya apa? Mumpung aku ada di sini!” tantang Tio.
“Kebetulan kau di sini, ikut aku!” ajak Alex.
“Wei ... kemana?” tanya Tio.
“Ikut aja, enggak usah banyak tanya! Kita ajak Tara sekalian!” jawab Alex.
Mereka bertiga menuju di sebuah toko aneka pernak pernik untuk interior.
“Iyo, kasih referensi dong! Untuk decor kamar Tian!” kata Alex.
__ADS_1
“Aku sudah bilang, dia suka semua yang berbau otomotif!” sahut Tio.
“Kau enggak sekalian pilih untuk kamar kalian nanti?” tanya Alex.
“Melamar aja, belum! Kapan kau akan datang secara resmi pada orang tuaku!” tembak Tara kepada Tio.
“Dasar kau, Lex! Suka provokator orang!” sahut Alex.
”Ha ... ha ...!” Alex hanya tertawa.
“Seneng, ya!” ucap Tio.
“Sudahlah, Adik Ipar! Yuk, kita makan!” ajak Alex.
---
Saat menuju sebuah resto.
Sialan, ternyata dokter itu baik-baik saja! batin Sandra.
“Pa, Sandra ingin ke resto Jepang saja!” kata Sandra.
“Lho, tadi minta makan ke sini! Ya, sudahlah kita ke resto Jepang!” sahut Danu mengalah.
Setelah santap malam bersama Danu, Sandra memilih pulang dan langsung menuju kamarnya. Sandra langsung membanting tas dan melempar sepatunya.
“Apa yang baru aku lihat! Mengapa mereka ada di sana?” kata Sandra pada diri sendiri.
FLASHBACK
Setelah melakukan percobaan pembunuhan dengan kendaraannya. Sandra segera memacu mobilnya, sejauh mungkin dari lokasi tersebut. Di suatu tempat jauh dari keramaian, Sandra mulai menepi. Ia melihat situasi sekitar.
Aman! batin Sandra
“Syukurlah, tak ada kerusakan berarti,” guman Sandra.
Sandra terdiam sejenak, lalu ia tersenyum penuh arti.
Keesokan harinya, Sandra muncul di rumah sakit di mana Tio biasa bertugas. Mata Sandra tak berhenti, mencari sosok Tio. Seorang dokter menghampiri stateroom emergency.
“Dokter Tio, ada?” tanya dokter tersebut.
“Maaf, Dok! Dokter Tio hari ini absen!” jawab perawat.
“Absen, kemana?” tanya dokter itu lagi.
“Tidak jelas, hanya bilang izin tidak masuk,” jawab perawat.
“Ya, sudah!” Dokter itupun berlalu.
Sandra tersenyum penuh kemenangan mendengar percakapan tadi.
Akhirnya Tuhan berpihak padaku, Ra! Kini kau rasakan apa yang pernah kurasakan! batin Sandra.
---
Pagi ini Danu mengantar Sandra ke bandara. Sandra akan melanjutkan terapinya di luar negeri sesuai janjinya dengan Danu.
“Pa, Sandra berangkat!” kata Sandra sambil memeluk dan mencium pipi Danu.
“Ya, hati-hati Sayang!” sahut Danu sambil melambaikan tangan.
Sandra melenggang pergi sambil melambaikan tangan, ia mendorong koper miliknya. Setelah Sandra melewati pintu boarding pass bandara, Danu pun segera menuju area parkir dan bergegas menuju ke kantor.
__ADS_1
---
Hari ini Tian di perbolehkan pulang, ia sangat antusias setelah mendengarnya.
“Tian senang hari ini bisa pulang!” kata Tian.
“Oya?” sahut Fey sambil berkemas di bantu Mul, supir pribadi Candra.
Alex pun telah kembali setelah menyelesaikan administrasi Tian.
“Tian, sudah siap pulang?” tanya Alex begitu masuk kamar Tian.
“Siap, Pa!” sahut Tian gembira.
“Ayo kita pulang, Sayang!” ucap Alex sambil menggandeng tangan Fey.
Sepanjang perjalanan tiada henti Tian berceloteh sesekali ia memperhatikan jalan yang ia lalui.
“Ma, kita mau kemana?” tanya Tian sambil celingak-celinguk melihat sekitarnya.
“Ke rumah kita!” jawab Fey.
Tian telihat bingung sambil menggaruk kepalanya. Fey hanya tersenyum melihat tingkah Tian. Tak terasa mobil Alex telah berhenti tepat di depan teras rumah. Ketiganya turun dari mobil, di sambut seluruh keluarga besar.
“Selamat datang, Tian ... Fey!” ucap Anna.
Mereka mencium dan mengendong Tian serta memeluk Fey bergantian.
“Waduh, kalian bisa bikin Tian pusing!” teriak Alex saat melihat tingkah kedua pasang opa oma menyambut cucu mereka.
“Ma, ini rumah siapa?” tanya Tian terkagum-kagum melihat isi rumah Candra.
“Ini rumah kita! Ayo, Tian masuk!” jawab Candra sambil merentangkan tangannya.
Namun Tian berlari bersembunyi di balik gaun Fey dan mengintip kembali.
“Bapak siapa?” tanya Tian.
“Tian, ini opa Candra,” jawab Fey sambil berlutut di hadapan Tian.
“O ... opa? Siapa opa?” tanya Tian.
“Opa itu kakek dan kalau nenek, Tian panggil oma,” Fey menjelaskan.
“Ini opa Candra dan oma Anna, mereka orang tua papa Tian. Kalau ini orang tua mama, namanya opa Sony dan oma Amanda. Kalau ini ....” kata Fey.
“Panggil aku, auntie Ara!” Tara potong perkataan Fey.
“Apa itu auntie?” tanya Tian.
“Auntie itu, bibi anak manis,” jawab Tara sambil mencolek hidung Tian yang mancung.
“Aku bukan anak manis!” kata Tian.
“Terus, anak apa?” tanya Tara.
“Anak ganteng! Tian ganteng seperti papa Alex!” jawab Tian sambil berkacak pinggang.
“Oya! Tian sama papa Alex ganteng mana?” tanya Tara sambil berkacak pinggang juga.
“Ya ganteng Tian, lah!” jawab Tian yang di sambut tawa seluruh orang yang berada di situ.
“Nah, lho!” kata Alex tak berkutik sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
“Kali ini, kau bertemu lawan sepadan!” sahut Tara.