Cinta Fey

Cinta Fey
Kepergok


__ADS_3

Tak lama Tara kembali ke ruang di mana Sandra dan Nia berada.


“San ... numpang ke toilet. Di mana toiletnya?” tanya Tara.


“Itu di pintu samping lemari, kau jalan lurus saja,” jawab Sandra.


“O ... ok!” sahut Tara segera menuju ke kamar kecil.


Di toilet Tara hanya membuka-buka laci di sana.


Tak ada yang mencurigakan di dalam sini, batin Tara.


Setelah selesai memeriksa tiap sudut di kantor Sandra, Tara duduk di sofa menunggu Nia.


“Nanti aku kabari kalau sudah jadi, agar kau bisa fitting,” kata Sandra.


“Ok!” sahut Nia.


“Yuk ... Ra!” ajak Nia.


“O ... sudah selesai?” tanya Tara.


Nia mengangguk.


“Thanks ... San! Do it the best.


Jangan buat kecewa temanku,” ucap Tara.


“Ok!” balas Sandra.


Begitu mereka pergi, Sandra terkulai lemas di balik pintu karena hampir saja kepergok.


Andy muncul dari dalam kamar.


“Kau enggak apa-apa, San?” tanya Andy sambil memapah Sandra ke sofa.


Sandra hanya terdiam, ia gemetar. Andy memberi minum Sandra.


“Minum, San!” Andy membantu Sandra minum karena tangan Sandra masih gemetar.


Selesai Sandra minum, Andy memeluk Sandra.


“It's ok, San!” kata Andy sambil menepuk-nepuk punggung Sandra.


Setelah Sandra tenang, Andy melepaskan pelukannya.


“Are you okay?” tanya Andy.


Sandra menggeleng.


“Tolong jangan tinggalkan aku sendiri, Dy!” pinta Sandra.


“Ya!” jawab Andy.


Andy memeluk Sandra kembali, ia merangsek dalam pelukan Andy.


---


“Gila kau, Ra! Punya pacar aja belum, kau ajak aku pesan gaun tunangan!” teriak Nia.


“Sorry Nia, aku prank kau!” ucap Tara sambil tertawa melihat raut wajah Nia.


“Nge'prank ... boleh nge'prank! Kalau aku jauh jodoh kau tanggung jawab, ya!” sahut Nia.


“Anggap saja itu kado tunangan yang aku bayar di muka!” kata Tara.


“Huh! Enggak ada menangnya bicara denganmu!” balas Nia.


Sorry Nia! Aku enggak mungkin bilang, mau tangkap basah iparku! batin Tara.


---

__ADS_1


Andy masih memeluk Sandra, ia tampak shock. Tak sedikitpun Andy meninggalkan Sandra hingga tertidur dalam pelukannya. Andy membopong Sandra ke atas ranjang. Baru menjelang malam Sandra bangun.


“San ....” sapa Andy lembut.


“Aku sudah lebih baik, Dy!” ucap Sandra.


“Syukurlah,” balas Andy.


Andy merasa lega, Sandra sudah bisa menguasai dirinya.


“Dy ... sebaiknya kita jangan sering bertemu dulu,” ucap Sandra.


“Kenapa, San! Bukankah kita baik-baik saja!” sahut Andy.


“Ya ... hari ini! Besok? Lusa? Aku takut membayangkannya, Dy!” kata Sandra.


“Aku di sini, San! Kita hadapi bersama!” ujar Andy.


Sandra menggelengkan kepalanya.


“Kau tahu aku tak bisa meninggalkan Alex,” ucap Sandra.


“San, aku tahu kau cinta mati dengan Alex tapi apa kau akan menjalani perkawinanmu seperti itu!” balas Andy.


“Apa maksudmu?” tanya Sandra.


Andy memegang tangan Sandra.


“San! Tanpa kau cerita, aku tahu apa yang sudah kau jalani bersama Alex,” ucap Andy.


“Kapan kau tahu?” tanya Sandra.


“Sejak pertama kali, kita melakukan di apartemenku. Saat itu kau masih virgin, padahal kau menikah dengan Alex sudah terhitung bulan!” jawab Andy.


Sandra terdiam.


“Mengapa kau masih mau menjalani kehidupan melelahkan seperti itu?” tanya Andy.


“Karena Alex ....” jawab Sandra.


Ini sudah bukan soal hati, tapi aku tak rela melepas Alex untuk wanita murahan itu, batin Sandra.


“Maaf, Dy!” jawab Sandra lirih.


Sandra tak berani menatap laki-laki yang mencintai. Andy menggenggam tangan Sandra.


“Sebaiknya kau pulang! Agar mereka tak curiga,” kata Andy.


Andy mengalah melihat Sandra tetap bertekad mempertahankan Alex


Sandra mengangguk.


---


Di dalam kamarnya, Tara memeriksa kiriman foto-foto Sandra dari Udin. Dengan seksama Tara melihat foto itu, ia tak menemukan keanehan di foto-foto tersebut.


“Aneh!” ucap Tara pada diri sendiri.


“Padahal hari ini jelas-jelas aku melihat sesuatu yang janggal di kantor Sandra. Jelas-jelas TKP di kamar kantor Sandra. Kok bisa, semua ini terlihat wajar?” tanya Tara pada diri sendiri.


“Apa jangan-jangan mereka memiliki ruang rahasia. Tapi di mana? Aku sudah jelajahi tiap sudut kantor Sandra,” guman Tara sambil menggaruk kepalanya.


Pintu kamar Tara di ketuk seseorang.


“Ra ... ini aku!” Suara Alex terdengar dari luar kamar.


Tara membuka pintu kamarnya.


“Kebetulan kau kemari!” kata Tara.


“Ada info apa?” tanya Alex.

__ADS_1


“Menurutku Sandra selingkuh di kantornya,” kata Tara.


“Kau tahu dari mana?” tanya Alex.


Tara menceritakan sidak ke kantor Sandra dari awal hingga akhir.


“Ha ... ha ... gila kau, Ra! Orang lagi asyik kau buat mereka kocar kacir. Sadis kau, Ra!” sahut Alex.


“Bodo ... amat! Mungkin sudah di ubun-ubun langsung ambyar! Lama juga, sih! Sandra buka pintunya,” kata Tara


“Hati-hati, Ra!” sahut Alex.


“Ya ... Lex! Cuma aku belum menemukan, cara mereka bertemu. Padahal aku ketat mengawasi, aku jadi pusing dibuatnya,” ucap Tara.


“Tak usah memaksakan diri, pada saatnya pastikan tiba,” balas Alex.


---


Malam pun berganti pagi. Pagi ini Sandra sudah berada di kantor. Sesampainya di kantor, Andy tak menampakkan batang hidungnya.


Tumben, biasanya Andy selalu standby, batin Sandra.


Sandra melanjutkan pekerjaannya kembali.


---


Sementara itu Tara janji jalan-jalan dengan Nia.


Saat menuju tempat janji, tampak di kejauhan Tara melihat seseorang yang sangat familiar berada di sebuah food court di sebuah pusat perbelanjaan.


“Hm ... seperti kenal!” ucap Tara sambil menggaruk kepalanya.


“Oya! Aku ingat!” kata Tara lagi.


Tara menghampiri orang tersebut.


“Hai! Kak Andy, ya!” sapa Tara.


“O ... hai!” balas Andy asal.


“Ingat aku enggak, Kak?” tanya Tara.


Andy melihat Tara lekat-lekat dengan ekspresi bingung.


“Tara! Aku Tara adiknya Alex!” kata Tara.


“Si–siapa?” Andy tanya balik.


Andy terkejut dan gugup.


“Tara adiknya Alex. Dulu Kakak, kan rival Alex waktu merebut hati Sandra!” jawab Tara.


Mati aku! Mengapa aku bertemu dia! batin Andy.


“O ... ya ... ya ... aku ingat. Kau sudah besar, ya!” ucap Andy sempat salah tingkah.


Tara hanya tersenyum.


Keduanya terlibat perbincangan basa basi. Tiba-tiba dari sisi Tara, meluncur kencang seorang anak dengan scooter elektrik. Secara refleks Andy menarik Tara ke arahnya, hingga Tara mendarat dalam pelukan Andy. Tara menghirup aroma tubuh Andy.


Hm ... seperti tak asing aroma ini, batin Tara.


Tak lama seorang pramusaji memberi pesanan Andy.


“Maaf, aku duluan. Sudah di tunggu!” kata Andy sambil menunjukkan tentengan makanan.


Andy hanya melambaikan tangannya, ia ingin segera menghilang dari hadapan Tara secepat mungkin.


“Ya, silakan Kak! Hati-hati!” balas Tara.


Setelah jauh dari Tara, Andy bersandar pada sebidang tembok.

__ADS_1


“Waduh! Hampir copot jantungku. Kenapa aku harus ketemu Tara,” ucap Andy sambil mengelus dadanya.


Setelah agak tenang, Andy segera meninggalkan tempat itu secepat-cepatnya.


__ADS_2