Cinta Fey

Cinta Fey
Malaikat Kecil


__ADS_3

Fey sudah berada di kamar rawat inap, tak lama bayi Fey di antar ke kamar di mana Fey berada.


“Ibu belajar menyusui, ya! Karena ASI baik untuk adik bayi,” ujar perawat.


Sang perawat memberi tahu langkah tiap langkah. Fey mengendong anaknya, untuk pertama kalinya. Rasanya tak terlukiskan, mata-mata Fey mulai berkaca-kaca.


“Terimakasih Tuhan! Kau telah mengirim malaikat kecil untukku,” ucap Fey.


Fey menangis haru melihat buah hatinya mengisap dadanya untuk pertama kali. Tak henti-hentinya Fey meneteskan air matanya.


“Selamat datang ke dunia, Sayang. Kau sangat mirip Alex,” guman Fey


---


Sejak semalam Alex tak dapat memicingkan matanya, perasaannya gelisah.


“Ada apa, ya! Apa jangan-jangan!” ucap Alex pada diri sendiri.


Alex segera membuka ponselnya.


“Apa Fey melahirkan?” tanya Alex pada diri sendiri.


“Ya, Tuhan! Jika benar Fey melahirkan. Tolong lindungi dia dan anak kami, agar keduanya selamat,” ucap Alex.


Alex memohon melalui doa hingga pagi menjelang tak putus-putusnya.


---


“O ... cakap sekali anakmu. Seorang putra namun parasnya rupawan,” puji Heni.


“Oya, Nak! Kau tak mencoba menghubungi suamimu atau keluarga suamimu?” tanya Heni.


“Saya tak tahu suami dan keluarganya berada. Kami sudah lama tak berhubungan lagi,” jawab Fey.


Heni hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Maafkan Fey, bu! Suatu saat nanti Fey pasti akan menjelaskan kepada ibu, batin Fey.


Fey merasa bersalah karena telah berbohong pada orang yang sudah menolongnya.


Hari ini Fey diperboleh pulang setelah persalinan normal kemarin.


“Sebaiknya kau istirahat, biar ibu yang urus di pondok,” kata Heni.


Fey mengangguk.


Fey memandang malaikat kecilnya.


“Kau imut sekali, Sayang!” kata Fey.


Fey mendekap anaknya dalam pelukan. Fey menyentuh lembut mata, hidung, bibir. Sang baby menggeliat menerima sentuhan Fey.


“Kau sangat mirip Alex!” ucap Fey dengan mata berkaca-kaca.


“Terimakasih Sayang, sudah hadir di dunia untuk mama dan mengobati rindu mama kepada papa. Rupamu sangat mirip papa Alex,” ucap Fey.


Fey mengecup tangan mungil yang menggenggam jari Fey, ia memeluk malaikat kecilnya. Si mungil mengedipkan mata seolah menjawab perkataan Fey.


“O ... my little angel,” ucap Fey.


---


Di kamar Alex.


“Ra, kemarin malam perasaanku enggak enak. Feelingku mengatakan terjadi sesuatu pada Fey,” ucap Alex.


“Kalau memang, iya! Pasti menyangkut kelahiran anakmu. Apa sudah bulannya?” sahut Tara.


“Perkiraan sih, iya!” kata Alex.


“Tapi aku rasa, semuanya baik-baik saja. Tak ada kabar dari om Sony, kan?” tanya Tara.


Alex menggeleng.


“Enggak ada, Ra!” jawab Alex.


“Berarti mereka baik-baik saja,” sahut Tara.


“Ya, semoga, Ra!” ucap Alex.

__ADS_1


“Pasti!” balas Tara.


Tara menepuk-nepuk punggung Alex.


“Aku kuliah dulu, ya!” kata Tara lagi.


“Ya hati-hati, Ra!” ucap Alex.


Alex pun bersiap menuju kantor.


---


Siang itu rumah Heni kedatangan seorang pemuda.


“Maaf, Anda siapa?” tanya pemuda itu.


“O ... Anda putra bu Heni, ya?” Fey tanya balik.


“Iya!” jawab pemuda itu.


“O ... aku, Fey. Aku numpang di sini. Silakan masuk!” Fey mempersilakan.


“Dari mana Anda tahu, aku anak bu Heni?” tanya pemuda.


“Aku lihat foto Anda di kamar ibu.” Fey menjelaskan.


Tak lama terdengar suara tangis bayi dari dalam kamar.


“Maaf, aku tinggal dulu!” kata Fey.


Fey meninggalkan pemuda itu sendiri di ruang tengah, si pemuda masuk ke kamar yang bersebelahan dengan kamar Heni dan membongkar isi tasnya.


“Kok, mama enggak cerita. Ada yang numpang tinggal di sini,” ucap si pemuda pada dirinya sendiri.


Hm ... aku sebaiknya mandi dulu.


Setelah mandi pemuda itu keluar.


“Aaaaaa ...!” teriak Fey.


Fey membalikkan badan dan kedua tangan menutupi wajahnya. Si pemuda keluar kamar mandi hanya melilitkan handuk di pinggang.


“Aaaaaa ...!” teriak si pemuda.


Fey segera masuk kamar Heni demikian pula dengan si pemuda pun masuk ke kamarnya.


Kamar mandi di rumah mereka terletak tersendiri di sisi belakang.


Setelah suasana tenang, si pemuda mengetuk pintu kamar Heni.


Fey membukakan pintu.


“Maaf, aku lupa kalau ada orang lain yang tinggal di sini. Sudah kebiasaan.” Si pemuda mengaruk kepalanya.


“Enggak apa-apa! Maaf, sudah membuatmu terkejut,” sahut Fey.


Wajah Fey masih merah merona.


“Dia, anakmu?” Si pemuda melirik boks bayi.


“Ya, dia malaikat kecilku,” jawab Fey.


“Hm ... kenalkan namaku Tio Saputra. Panggil aku Iyo,” kata Tio.


Tio mengulurkan tangannya, Fey menyambut uluran tangan Tio.


“Fey ... Feylin Prasetya,” sahut Fey.


“Kita kayanya seumuran, aku panggil kau Fey saja, ya!” ucap Tio.


Fey mengangguk.


“Sudah berapa lama, kau tinggal di sini?” tanya Tio.


“Belum terlalu lama, baru kira-kira sembilan bulanan” jawab Fey.


“Kau lari dari rumah?” tanya Tio.


Fey terkejut dengan pertanyaan yang menohok hatinya.

__ADS_1


Mengapa kau tahu aku lari dari rumah? batin Fey.


“Suamimu kemana?” tanya Tio lagi.


Fey menggelengkan kepalanya.


“Maaf, bukan maksudku untuk menyinggung suamimu yang ....”


Tio tak meneruskan kalimatnya karena Fey segera menggoyangkan tangannya.


“Bukan ... bukan ... begitu maksudku! Tidak seperti yang kau pikirkan,” ucap Fey cepat seperti membaca pikiran Tio.


”Bukan meninggal?” tanya Tio.


“Bukan, kami hanya putus kontak lama,” jawab Fey.


“O ... gitu,” sahut Tio.


Tio yang supel membuat Fey merasa seperti bertemu kawan lama saja, keduanya cepat akrab.


“Iyo ... kau sudah sampai!” ucap Heni.


Heni tiba-tiba muncul di ambang pintu rumah.


“Iya, Ma!” sambut Tio.


Tio memeluk dan mencium pipi Heni.


“Kalian sepertinya sudah akrab,” kata Heni.


“Fey, orangnya enak di ajak ngomong,” sahut Tio.


Fey hanya tersenyum.


“Kalian belum makan, kan?” tanya Heni.


“Belum, kami nunggu Ibu,” jawab Fey.


Mereka pun menuju meja makan untuk makan bersama.


“Semoga kau suka!” ucap Fey.


Fey mengisi piring Heni dan Tio dengan nasi.


“Ini, kau yang masak?” tanya Tio.


Fey mengangguk.


“Serius!” tanya Tio lagi.


“Pokoknya masakan dia, nih!” Heni acungkan jempol.


“Aah ... Ibu!” balas Fey malu-malu.


Mereka pun tertawa bersama.


Wanita sempurna! batin Tio


Tio diam-diam mencuri pandang pada Fey. Selesai makan, Fey mencuci piring di dapur.


Sementara itu di ruang tengah, Heni dan Tio tampak terlibat pembicaraan.


“Ma, dia siapa?” tanya Tio.


“Mama tak tahu latar belakangnya. Cuma mama lihat, dia orangnya baik,” jawab Heni.


Tio mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Kenapa, kau tanya-tanya,” kata Heni.


“Hm ... Iyo tertarik. Ingin mengenal lebih lagi,” sahut Tio.


“Iyo!” hardik Heni.


“Kenapa, Ma? tak boleh?” tanya Tio.


“Kau ini! Tak pernah serius!” jawab Heni.


“Kalau kali ini Iyo serius, gimana?” Tio tanya balik.

__ADS_1


“Sudahlah! Jangan permainkan anak orang. Mama mau tidur!” balas Heni.


Heni meninggalkan Tio di ruang tengah. Tak lama Tio pun masuk ke kamarnya untuk istirahat.


__ADS_2