Cinta Fey

Cinta Fey
Istri Seseorang


__ADS_3

“Fey, kau minumlah!” kata Tio sambil menyerahkan segelas air.


Dengan tangan gemetar Fey meneguk air dalam gelas. Tio melihat tubuh Fey yang masih gemetar, ia menggenggam tangan Fey.


“Fey, kau tarik napas dalam dan hembuskan berlahan!” kata Tio.


Fey mengikuti apa yang Tio katakan, napas Fey pun mulai teratur menemukan iramanya.


“Fey!” panggil Tio.


Fey menatap wajah Tio, satu-satunya orang yang peduli pada dirinya dan Tian di saat ia jauh dari keluarga


“Iyo, kita harus bicara!” kata Fey dengan mimik wajah serius.


“Sebaiknya kau istirahat sekarang, kita bisa bicara besok,” Tio beranjak dari duduknya.


“Tidak, Iyo! Aku harus bicara sekarang!” kata Fey


“Harus sekarang?” tanya Tio.


Fey mengangguk.


“Ya, semakin cepat aku bicara semakin baik!” jawab Fey.


Mau tak mau Tio duduk di hadapan Fey untuk mendengarkan apa yang akan Fey sampaikan.


“Maaf, Tio! Sebaiknya aku pergi dari sini!” kata Fey.


“Mengapa kau ingin pergi? Aku janji tak akan melakukannya lagi!” Tio menatap wajah Fey.


“Bukan itu maksudku!” sahut Fey.


“Lalu apa?” tanya Tio.


“Iyo, biarkan aku pergi! Agar kau tak terluka!” kata Fey.


“Aku tak mengerti, apa maksudmu?” tanya Tio.


“Semakin lama aku di sini semakin aku bergantung padamu. Itu membuatku takut kehilanganmu!” kata Fey.


“Apa itu yang membuatmu menangis histeris?” tanya Tio.


Fey mengangguk.


“Lalu apa masalahnya jika kau bergantung padaku. Bukankah aku tak keberatan sama sekali,” sahut Tio.


“Karena a–aku masih istri seseorang!” akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Fey.


Bagai petir di siang bolong, ini mengejutkan Tio. Apa yang dikhawatiran Heni semasa hidupnya kini terjadi sekarang.


“Ini hanya karanganmu saja, kan! Agar aku melepas kau pergi!” kata Tio.


“Sungguh Iyo ... aku bicara jujur. Aku tahu saat kau memberi harapan untukku dan aku mulai tergoda. Aku mulai takut ....” Fey tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


“Takut apa?” tanya Tio.

__ADS_1


“Takut jatuh cinta padamu sedang aku masih terikat perkawinan. Di hatiku mulai timbul rasa ingin memilikimu, ada rasa takut kehilangan, aku takut di tinggal. Aku jadi serakah, Iyo!” jawab Fey.


Fey terdiam, ia mengumpulkan segala keberaniannya. Lalu Fey menceritakan dari awal, mengapa ia harus pergi dari rumah hingga berakhir di rumah Heni yang tak lain ibu dari Tio.


“Aku ... aku tak mau jadi wanita murahan yang masih memiliki suami tapi masih menginginkan pria lain!” ucap Fey lirih.


“Jadi semalam ... kau menitikkan air mata karena kau teringat suamimu?” tanya Tio.


Fey mengangguk.


“Maaf, Iyo! Sungguh bukan maksudku untuk mempermainkan dirimu?” jawab Fey.


Tio terdiam.


“Aku salah karena semalam aku sudah lancang hingga ....” kalimat Tio terputus saat Fey menyentuh tangannya.


“Tidak, aku yang salah! Kalau saja aku berkata jujur, pasti perasaan yang kau rasakan dan kejadian semalam tak akan pernah terjadi,” ucap Fey.


“Kau wanita bodoh!” kata Tio tiba-tiba.


“Mengapa kau mengorbankan dirimu tanpa berpikir mencari jalan keluar yang lain!” ucap Tio lagi.


Fey terdiam.


Hatimu sangat murni, Fey! Cintamu benar-benar tulus. Sungguh benar-benar beruntung laki-laki yang mendapatkan cintamu! batin Tio.


Dalam hati Tio mengagumi Fey namun Fey benar-benar tulus dengan cintanya, walau terlihat bodoh karena wanita mana yang mau menyerahkan suami yang di cintai kepada wanita lain. Diam-diam Tio merasa cemburu dengan laki-laki yang telah menjadi suami Fey.


“Jangan pernah berpikir meninggalkan rumah ini lagi!” kata Tio.


Tio menutup mulut Fey dengan tangannya, Tio mengenggam tangan Fey.


“Aku akan berlapang dada menerima kenyataan ini. Sudahlah, semuanya telah terjadi. Apa kau pernah mendengar kabar tentang suamimu?” tanya Tio.


Fey menggeleng.


“Bagaimana kau tahu jika suamimu mau menikahi wanita itu, bisa saja dia tak menikahi wanita itu?” tanya Tio dengan emosi.


Fey hanya menggelengkan kepalanya.


“Fey, aku tak tahu! Mengapa kau lakukan ini!” kata Tio.


Fey hanya terdiam.


“Apa kau berniat kembali pada suamimu?” tanya Tio.


“Aku tak tahu. Jika aku muncul, pasti aku akan merusak semuanya!” kata Fey.


“Siapa yang merusak, siapa yang di rusak! Kau ini lugu sekali, dia yang merebut suami orang secara paksa, wanita itu menggunakan trik untuk mendapat suamimu!” sahut Tio kesal.


“Iyo ... kalau jodoh kami, panjang umur dengan seizin Tuhan, kami pasti bertemu lagi,” ucap Fey sambil menitikkan air mata.


Tio mengenggam tangan Fey dengan erat.


“Fey ... aku sungguh cemburu dengan suamimu. Ia laki-laki beruntung yang mendapatkan cintamu. Aku menyesal! Mengapa Tuhan tak pertemuankan aku denganmu lebih dahulu,” kata Tio penuh sesal.

__ADS_1


“Besok pagi, aku akan pergi!” kata Fey sambil beranjak dari duduknya.


“Kau tak usah pergi! Aku minta maaf karena telah mengusik hatimu!” sahut Tio sambil menahan tangan Fey.


“Aku yang salah, Iyo! Kalau saja aku tegas bersikap, kita tak akan terjebak perasaan. Jadi sebelum aku menyakitimu, lebih baik aku pergi!” kata Fey.


“Tidak Fey ... tetaplah kau di sini. Kalau kau pergi, kau akan pergi ke mana?” tanya Tio.


“Belum tahu kemana!” jawab Fey.


“Kalau tak ada tujuan, justru membuat aku khawatir. Jangan pikirkan dirimu seorang, tapi Tian juga,” ucap Tio.


Tio memeluk Fey.


“Aku juga sebatang kara, mari kita saling menjaga. Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi!” bisik Tio.


Lalu Tio berlalu dari hadapan Fey, menuju kamarnya.


Tio menahan tangis karena hancur hatinya, perasaannya campur aduk mendengar kisah hidup Fey.


Malam itupun berganti pagi.


“Halo ... Tian!” sapa Tio tampak ceria.


Tian menyambut dengan goyangan. tangan dan kakinya.


“Iyo!” Fey yang sedang menggendong Tian.


Tio mengerti tatapan Fey yang masih merasa bersalah. Tio mengedipkan matanya, ia menepuk punggung tangan Fey.


“Hari ini aku ingin bermain dengan keponakanku, sebelum aku pergi!” sahut Tio.


“Keponakan?” tanya Fey.


“Ya ... Tian! Tian keponakanku, aku akan belajar menganggap kau, adikku! Jadi anggaplah ini rumah kita!” kata Tio.


“O ... Iyo!” sahut Fey sambil mengusap air matanya.


Aku tak sangka, kau memiliki hati yang demikian baik padaku yang sudah menorehkan luka pada hatimu. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu! batin Fey


“Jangan sering menangis, Fey! Kau mau lomba menangis dengan Tian!” ucap Tio.


Fey yang menangis jadi tersenyum namun air matanya tetap mengalir karena terharu.


“Fey ... sebaiknya kau pikirkan kata-kataku semalam. Tian juga berhak tahu kalau ia masih memiliki ayah!” ucap Tio.


“Akan kupikirkan, Iyo!” sahut Fey.


Seperti biasa, sore itu Tio bersiap-siap kembali ke kota di mana ia berkerja.


“Fey, aku pergi. Ingat pesanku, jangan pernah berpikir untuk pergi dari rumah lagi!” kata Tio.


“Ya ... Iyo! Aku takkan pergi! Hati-hati, Iyo!” sahut Fey.


Tio memeluk Fey dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2