
“Hai, Ra! Aku rindu!” sapa Fey sambil memeluk sahabat sekaligus adik iparnya.
Tangis haru melingkupi pelukan erat keduanya yang telah bertahun-tahun tak bersua.
“Kau sungguh terlalu, Fey! Alex hampir gila kehilangan kau. Apapun itu, kau sudah kembali ke rumah ini. Selamat datang Fey, jangan pernah pergi lagi!” sahut Tara sambil melepas pelukannya dan menatap wajah Fey.
Fey mengangguk.
“Masuk, Fey! Selamat datang kembali!” ajak Tara.
“Ya ...!” sahut Fey mengekor Tara.
Namun Alex menarik Fey hingga mendarat tepat di dada Alex. Tangan Alex melingkar di pinggang Fey sambil mengayun Fey dalam pelukan hangatnya, ia membelai rambut panjang Fey.
“Terimakasih! Kau telah kembali ke rumah ini, Fey!” kata Alex sambil mendekatkan wajahnya pada Fey.
“Hm ... bikin orang iri saja, pagi-pagi sudah mesra-mesraan di depan rumah!” kata Tio sambil jalan melewati mereka berdua.
“Sialan kau, Iyo!” kata Alex sambil mengejar dan menjepit leher Tio menggunakan lengannya.
Dan merekapun masuk bersama di ikuti Fey, mereka bercengkrama di ruang tengah. Fey langsung menuju kamar, banyak pekerjaan menanti di sana. Fey membongkar isi koper pakaian saat ia di rumah sakit. Alex masuk kamar dengan mengendap-endap di belakang Fey.
“Eh ... Lex!” Fey terkejut di sergap Alex dari belakang.
“Kau terkejut, Sayang?” tanya Alex sambil memeluk Fey dari belakang.
“Hm ....” jawab Fey tanpa mengalihkan perhatiannya dari lemari.
“Fey ... Fey ...! Jangan cuek'in aku, dong!” ucap Alex merajuk.
“Sebentar, aku selesaikan ini dulu!” sahut Fey yang tetap meneruskan pekerjaannya.
“Sudah beres, belum?” kata Alex dengan tidak sabar.
“Sudah!” sahut Fey sambil membalikkan tubuhnya.
“Muaah!” Alex mendaratkan bibirnya ke bibir Fey.
Wajah Fey seketika merona merah.
“Kau masih suka tersipu-sipu, aku jadi gemes!” kata-kata Alex membuat Fey menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Saat Alex akan usil kembali, tiba-tiba Tian masuk ke kamar.
“Tian akan tinggal di sini, Ma?” tanya Tian.
“Iya, kita akan tinggal bersama,” jawab Fey sambil melepaskan pelukan Alex dan Fey berlutut di depan Tian.
“Asyik! Tian suka rumah ini, ramai!” teriak Tian sambil keluar kamar.
Tian seperti tak percaya dan henti-hentinya mata dan mulut yang berdecak kagum serta berceloteh khas anak-anak. Fey tersenyum, melihat tingkah Tian. Ia teringat dengan tingkah dirinya saat pertama kali datang ke rumah ini saat bersama Tara.
__ADS_1
“Mengapa kau tersenyum?” tanya Alex sambil menarik pinggang Fey mendekat pada dirinya.
“Ahh, aku ingat pertama kali aku ke sini. Seperti Tian, gitu! Celingak-celinguk!” jawab Fey.
“Tian, sini sebentar! Papa tunjukkan sesuatu!” panggil Alex sambil merentangkan tangannya
“Ya, Pa!” sahut Tian menyambut tangan Alex.
Mereka berjalan menuju salah satu sudut di kamar mereka dan membuka pintu. Fey mengekor di belakang mereka.
“Ini kamar Tian! Semoga Tian suka!” kata Alex.
“Hah! Tian suka sekali, Pa!” balas Tian sambil merentangkan kedua tangannya.
Alex menyambut pelukan Tian dan merengkuh tubuh mungil Tian.
”Makasih, Pa!” kata Tian sambil mencium pipi Alex kemudian menjelajah seluruh ruangan kamarnya.
Fey terkejut saat memasuki kamar Tian.
“Bukankah ini kamar Tara!” kata Fey saat di samping Alex.
“Iya!” sahut Alex singkat sambil memandang Tian yang sangat attracted mengeksplor kamarnya.
“Lalu kamar Tara di mana?” tanya Fey.
“Pindah ke kamar tamu,” jawab Alex sambil menghampiri Tian.
“Ra, sorry!” kata Fey.
“Sorry? Untuk apa?” tanya Tara.
“Itu kamar Tian ....” kata Fey merasa tidak enak hati.
“Sudah enggak usah dipermasalahkan. Itu mau aku, kok! sahut Tara.
“Sini Fey, duduk!” ajak Tio.
Mereka bertiga bercerita di selingi canda tawa.
“Tersenyumlah Fey, aku senang melihatnya. Aku juga berterima kasih padamu, Iyo! Kau sudah menjaga Fey dan Tian!” kata Tara.
“Aku tak sepenuhnya menjaga Fey dan Tian, itu semua karena Fey bisa survive dan berani mengambil keputusan walau keputusan itu konyol,” kata Tio.
“Apa! Kau bilang, aku konyol!” pekik Fey.
“Bagaimana tidak konyol, kau bisa-bisanya menyerahkan suami yang sangat mencintai dirimu, pada wanita lain. Itu membuatku tak habis pikir!” jawab Tio dengan menggerutu.
“Ya, dia memang stupid girl!” kata Tara.
__ADS_1
“Benar ... benar!” sahut Tio.
“Dasar kau ...!” balas Fey.
“Apa kau butuh bantuanku!” kata Alex sambil mendaratkan pantat di samping Fey dan merangkul pundak Fey.
“Hm ... mulai deh! Pamer kemesraan!” sahut Tara merasa iri.
“Makanya kalian cepatlah menikah, jangan sia-siakan waktu kalian!” ucap Alex.
Tio cuma geleng-geleng kepalanya.
“Sudah jangan goda Iyo terus!” kata Fey sambil beranjak dari sofa.
“Kau mau kemana?” tanya Alex.
“Tian harus mandi, ini waktunya tidur siang!” jawab Fey sambil meninggalkan mereka bertiga.
Setelah Fey berlalu.
“Lex, selamat ya! Kau sudah bertemu dengan belahan jiwamu!” ucap Tara.
“Terimakasih untuk kalian, tanpa kalian sadari. Fey hadir dalam hidupku karena ada andil kalian!” sahut Alex.
“Ahh, kau ada-ada saja!” balas Tio.
“Aku tinggal, ya! Silakan kalian lanjutkan merancang masa depan!” Alex berseloroh.
“Alasan! Bilang saja, mau menyusul Fey!” ucap Tio.
“Nah! Kau tahu!” sahut Alex sambil beranjak meninggalkan mereka di ruang tengah.
Fey menyiapkan pakaian yang akan di kenakan Tian, tak lama kemudian Tian keluar dari kamar mandi dengan hanya melilit handuk di pinggangnya. Tian mandiri, ia bisa mengenakan pakaiannya sendiri.
“Nah! sekarang Tian sudah segar, sekarang Tian tidur siang, ya!” ucap Fey sambil menggandeng Tian menuju ranjang tidurnya.
Setelah Tian berbaring, Fey menyelimuti tubuh mungil Tian dengan selimut. Fey mencium kening Tian, kemudian beranjak meninggalkan Tian. Fey menutup pintu kamar Tian dengan berlahan-lahan. Kemudian Fey menghempaskan tubuhnya di atas sofa tak sampai satu menit, Fey pun tertidur.
“Fey ...!” panggil Alex sambil membuka pintu kamarnya.
“O ... kau tertidur,” gumam Alex lirih.
Alex melihat Fey tertidur di atas sofa kamar, ia menutup pintu kamar dengan berlahan. Alex mengangkat tubuh Fey dari sofa ke atas ranjang. Alex merebahkan tubuh Fey di sana, ia menyelimutinya. Fey mengeliat untuk mendapat posisi nyaman, ia pun meringkuk kembali.
Alex memandang wajah kekasih hatinya, yang telah delapan tahun ia nikahi dan memberinya seorang anak.
Alex tersenyum, seperti biasa Alex mengambil beberapa foto Fey yang tertidur pulas. Seperti tiada bosan-bosannya Alex mengabadikan wajah isterinya.
“Kau tak berubah, masih cantik seperti dulu!” guman Alex lirih sambil sesekali mengelus wajah Fey dari helai rambut yang terurai di wajah.
__ADS_1
Alex menyentuh tangan Fey dan menciumi tangan Fey. Tiba-tiba mata Alex berkaca-kaca dan air matanya tak terbendung lagi. Alex meletakkan tangan Fey kembali dengan hati-hati. Alex bergegas keluar kamar, ia pergi dengan mengendarai mobilnya.