Cinta Fey

Cinta Fey
Gaun


__ADS_3

Bak seorang model Fey mencoba satu demi satu pakaian yang disediakan. Fey harus memperlihatkan dan meminta persetujuan pada Alex hanya dengan membuka tirai.


Alex tak banyak bicara, ia hanya mengangguk dan menggeleng saja.


Saat memilih gaun untuk pesta, Fey kebingungan.


Hm ... semua gaun-gaun ini kok, seperti kekurangan bahan.


Setiap gaun yang Fey ambil, ia hanya geleng-geleng kepala.


“Kak ... tak ada yang lebih tertutup lagi?” tanya Fey.


Karyawati yang ada di sana, saling pandang dan menggeleng.


Akhirnya Fey memilih mengenakan gaun Maxi dress warna merah marun. Fey merasa gaun itu yang paling ‘tertutup’ di banding yang lain. Namun setelah gaun itu melekat pada tubuhnya. Fey merasa risih karena gaun itu terbuka pada bagian pundak dengan belahan dada rendah dan push-up bra membuat dada Fey membulat dan terangkat hingga dada Fey kian menonjol, dan akhirnya.


Sreeet.


Tirai di buka, Alex tertegun melihat Fey mengenakan gaun tersebut.


Cantik.


“Tuan suka dengan gaun ini?”


Glek.


Alex menelan salivanya. Alex melihat Fey menggeleng untuk menunjukkan ketidaksukaannya pada gaun yang ia kenakan, justru membuat Alex memberi jawaban.


“Oya ... ya bagus! Apa ini limited edition,” tanya Alex untuk menutup rasa gugup.


Fey membelalakkan mata saat Alex mengiyakan.


“Semua yang nona coba adalah limited edition karena Tuan pelanggan VIP kami.”


“Aku ambil semua yang sebelah kanan termasuk gaun itu.”–Alex menunjuk Fey.–“Ini card-nya.”


Wajah Fey memerah tertunduk malu. Fey menurunkan pundak agar menyamarkan dadanya yang terangkat namun gaun ini tak mau kompromi.


“Oya! Semua di kirim ke alamat ini.” Alex memberi secarik memo.


“Baik Tuan, terimakasih telah jadi pelanggan setia kami.”


Alex kembali mengenggam tangan Fey dan meninggalkan butik dengan di iringi beberapa pasang mata menatap saat menuju mobil.


Para karyawati butik yang melihat, langsung komentar.


“Hai! Kalian sedang apa?” tegur manager.


“Itu Bu, pacar tuan Alex yang baru cantik, kalem dan lucu bikin gemas. Tutur katanya juga lembut tak seperti nona Sandra yang judes dan egois.”


“Sudah jangan bergosip tentang pelanggan nanti ada yang dengar. Ingat nona Sandra juga termasuk pelanggan VIP kita.”


“Ya ... Bu.”


---


“Sebelum pulang kita makan malam!”


Fey mengangguk.


Alex menggenggam tangan Fey menuju resto Japanese food.


Lex, aku melihatmu gara-gara batal makan di resto ini. Rupanya kalian bersaudara memiliki selera yang sama.


“Private room, please!” pinta Alex.


Mereka menuju ke area private.


“Kau ingin makan apa?”

__ADS_1


“Terserah kau!”


Alex memesan beberapa hidangan, tak lama menu yang mereka pesan telah di sajikan.


“Sabtu ini temani aku ke pesta. Kenakan gaun merah marun itu”


“Pesta apa?”


“Nanti juga kau tahu,” Alex menjawab cuek.


Setelah selesai bersantap Alex mengantar Fey pulang.


“Sepi?” tanya Alex.


“Ya.”


Fey selalu membawa kunci rumahnya sendiri jadi tak masalah jika tak ada orang di rumah, Fey tetap bisa masuk rumah.


Melihat situasi ini, keluarlah kejahilan Alex. Ia mendekati Fey.


“Apa mau aku temani,” bisik Alex di telinga Fey.


Fey terkejut, ia refleks mendorong tubuh Alex menjauh darinya. Fey segera masuk dan menutup pintu rapat-rapat.


”Bukankah nanti, kau akan jadi milikku juga!” teriak Alex di luar sana.


“Sudah! Sana kau pergi!” usir Fey.


Fey membersihkan diri setelah hampir seharian ia pergi dengan Alex. Fey menatap diri dalam cermin, hatinya bimbang.


Kau begitu sempurna, apa aku pantas untukmu ...


---


“Apa! Enggak bisa! Aku bayar 2x lipat,” teriak Sandra.


“Maaf Nona, Ini sudah ada pemiliknya.” karyawati itu ketakutan.


Manager yang sudah tahu duduk perkaranya dari laporan anak buah, datang untuk memberi penjelasan.


“Sekali lagi maaf, Nona. Kami tak bisa memenuhi keinginan Nona,” ucap sang manager.


“Dasar kurang ajar kalian semua! Ingat! Aku tak akan belanja di sini lagi!” teriak Sandra.


Setelah Sandra pergi.


“Lain kali barang yang sudah di pesan apalagi sudah di bayar sebaiknya segera di kemas,” tegur sang manager.


Mereka pun mengangguk.


---


Pagi ini darah Alex mendidih gara-gara membaca isi chat dari Fey.


Fey : “Maaf Lex! Sebaiknya hubungan ini cukup sampai di sini. Kita akhiri saja.”


Setelah membaca chat dari Fey, Alex menghubungi Fey.


Tidak aktif


Alex keluar kamar, ia berpapasan dengan Tara.


“Ra, hari ini Fey pulang kuliah jam berapa?” tanya Alex.


“Ini hari apa?”


“Rabu!”


“Ia pulang pukul 2 siang. Ada apa, Lex?”

__ADS_1


Alex tak menjawab, ia langsung meluncur dengan mobil sport barunya.


---


Fey baru saja turun di halaman kampus. ia menuju halte untuk menuju bus yang akan mengantarnya pulang ke rumah.


Fey tak menyadari ada sepasang mata tajam mengawasi dirinya.


Tiba-tiba, lengan Fey di tangkap oleh seseorang.


“Alex!” pekik Fey.


Alex tak pedulikan pekikan Fey, ia menyeret Fey ke dalam mobil dan memacu di jalanan dengan kecepatan tinggi.


Fey ketakutan, ia berpegang erat pada jok mobil. Ia meremas dengan kencang.


“Lex, aku takut.” Fey terisak.


Mendengar isak tangis Fey, Alex menurunkan kecepatan laju mobilnya dan menepi di tepi jalan. Tangan Alex masih menggenggam erat kemudi.


“Apa maksud chat yang kau kirim?" tanya Alex.


“Ma–maksudku ... kita putus.”


Alex mencengkram keras lengan Fey hingga Fey merintih menahan sakit.


“Jangan pernah katakan putus padaku. Aku benci kata itu!” bentak Alex.


Mata menakutkan itu, kulihat lagi.


Fey memejamkan mata, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar. Alex luluh melihatnya, ia mengendurkan dan melepaskan cengkramannya. Isak tangis Fey kian mereda.


“Mengapa kau lakukan?” tanya Alex.


Alex menatap tajam ke dalam mata Fey.


“Ka–karena kita berbeda. Kau terlalu sempurna untukku.”


“Itu bukan alasan!” teriak Alex menggelegar.


“Bukankah kau setuju menikah denganku. Dulu kita juga berbeda ... kau bisa berjalan, aku tidak! Atau kau mau, karena rasa kasihan padaku!” ucap Alex tajam.


“Bukan itu maksudku,” Mata Fey berkaca-kaca.


Untuk apa kau menikahiku kalau kau ngga mencintaiku. Kau telah normal, kau bisa kembali pada Sandra! batin Fey.


“Tak ada yang berubah, dulu aku duduk di kursi roda, sekarang aku berdiri di atas kakiku sendiri. Aku hanya akan menikah denganmu! Kau mengerti!” ucap Alex tegas.


Fey mengangguk.


“Ada yang ingin kau katakan?”


Fey menggeleng.


Fey masih gemetar. Alex mendekap kepala Fey, di ciumnya rambut Fey.


Maafkan aku ... Fey.


Fey merasa sudah tak bisa mundur.


“Bisa kita pulang?” pinta Fey.


“Aku akan antar kau pulang.”


Alex lalu memacu mobilnya ke rumah Fey.


“Kau istirahatlah! Sampai besok, Fey.”


Fey mengangguk.

__ADS_1


Di kamar mandi Fey melepas t-shirt-nya. Masih tercetak jelas di kedua lengan Fey cengkraman Alex yang melingkar merah.


Aku tak tahu harus bagaimana? Mengadu pada mama pun sudah terlambat.


__ADS_2