Cinta Fey

Cinta Fey
Pria Lain


__ADS_3

Setelah bersitegang dengan Sandra, Alex kembali ke kamarnya. Alex menghempaskan diri di sofa sambil melonggarkan dasi yang melilit di lehernya.


Tak lama kemudian pintu kamarnya di ketuk seseorang.


“Lex ... ini mama?” panggil Anna dari luar kamar.


“Ya, Ma!” sahut Alex dari balik pintu.


Alex membuka pintu kamarnya, Anna langsung menerobos masuk kamar Alex.


“Kalian bertengkar?” tanya Anna setelah berada di dalam kamar Alex.


Alex mengangguk.


“Biasalah, Ma! Hanya masalah sepele, kok!” jawab Alex berbohong agar Anna tak khawatir.


“O ... tapi sesengit apapun kalian bertengkar. Mama pesan, kau jangan pernah main tangan, Sayang! Mama tak mau, punya anak suka mukul apalagi yang di pukul perempuan,” ucap Anna menepuk punggung Alex sambil berlalu


“Ya ... Ma!” sahut Alex sambil mengangguk.


Setelah Anna keluar dari kamar.


“Sebaiknya aku mandi agar tubuhku rileks,” ucap Alex.


Setelah mandi, Alex berdiri termangu di depan cermin.


“Fey ... jaga hatimu untukku dan tunggulah aku,” ucap Alex seolah-olah berpesan pada Fey yang jauh di sana.


---


Keesokan harinya, di kantor Sandra. Andy menunggu Sandra di kantornya, namun yang di tunggu tak kunjung tiba.


Andy mengeluarkan ponsel dari sakunya, ia mengetik chat di sana.


Andy menunggu.


1 menit.


5 menit.


Masih dua centang abu-abu, batin Andy.


Andy terlihat gelisah, sebentar-sebentar melihat ponselnya.


---


Di saat hampir bersamaan Sandra masih berada di kamarnya. Semalaman Sandra tak tidur, ia terduduk di ranjang dengan wajah tertelungkup di atas lututnya.


Tak lama.


Ting.


Ada notifikasi chat di ponsel Sandra, ia melihat layar ponselnya.


Andy! batin Sandra.


Andy : ”Aku ada di kantormu, I miss you!”


Membaca chat dari Andy membuat kemarahan Sandra kembali memuncak. Sandra membanting Hp-nya ke lantai hingga hancur berantakan, ia kembali menangis menyesali nasibnya.

__ADS_1


“Kau yang bicara sendiri. Dengar, aku tak akan melakukannya denganmu! Tak akan pernah! Camkan itu!”


Kata-kata Alex itu tergiang-giang terus di telinga Sandra.


“Aaaaaa ...!” teriak Sandra sambil menutup telinganya hingga suara itu menghilang.


Hari itu Sandra hanya mengurung diri di kamar. Ia tak tahu harus berbuat apa.


---


Baru keesokan harinya, Sandra merasa lebih tenang. Ia memiliki semangat hidup kembali setelah kemarin sempat meredup. Wajah Sandra pun sudah lebih segar di banding kemarin.


“Ok ... kita adu kuat. Aku tak akan melepaskanmu sampai kapanpun!” kata Sandra seperti memberi semangat pada diri sendiri.


Sandra masuk kantor dan melihat Andy sudah ada di dalam kantornya.


“Kau!” Sandra terkejut.


“Kau kemana, Beb? Tak kasih kabar. Chat dari aku juga tak kau balas!” Andy langsung nyerocos sambil memeluk Sandra.


Sandra hanya diam.


Tak kau rasakan, aku mengalami bad day akhir-akhir ini, batin Sandra.


“Kenapa, San? Masih bete!” Andy membelai rambut Sandra.


Sandra mengangguk.


“Jalan-jalan, yuk! Kita cari suasana baru!” ajak Andy.


“Kemana?” tanya Sandra.


“Kemana saja, ke Eropa bila perlu! Asal kau senang!” jawab Andy.


“Gitu dong, muka dari tadi di tekuk melulu!” sahut Andy.


“San ... aku rindu,” ucap Andy sambil membenamkan wajahnya ke leher Sandra dan mulai menciumi leher Sandra.


“Dy ...!” teriak Sandra.


“Iya ... iya ... aku ingat. Aku tak akan meninggalkan kissmark di lehermu!” ucap Andy tetap melanjutkan aktivitasnya mencumbu leher Sandra.


Sandra mulai merasa rileks dengan perlakuan Andy hingga ia membiarkan Andy menyentuh tubuhnya. Sandra tak menolak saat Andy membopongnya ke ranjang. Sandra mengalungkan kedua tangannya di leher Andy sambil beradu bibir. Andy mendaratkan tubuh Sandra di ranjang dengan lembut.


Andy menatap wajah Sandra lekat-lekat, Sandra tersenyum pada Andy.


Lex ... kau tak memberi nafkah batin padaku, jangan salahkan aku mencari pria lain yang mau memuaskan aku! batin Sandra.


Sandra lebih agresif menyerang bibir Sandra, membuat Andy senang. Andy melepas blouse Sandra, andy menyentuh dada Sandra yang masih terbungkus bra. Sentuhan Andy membuat Sandra mengeliat menikmati permainan Andy. Andy melepas pengait bra hingga dada Sandra yang bulat dengan puncak mengeras. Mengoda Andy untuk menyentuhnya, mencium dan mengulumnya. Sandra kian mengelinjang, meremas rambut Andy.


“Ahh ... Dy! O ... ahh ... uhh ...,” desahan Sandra menikmati sentuhan Andy.


“Ya, Sayang,” Andy senang bibir Sandra memanggil namanya saat ia mencumbunya.


Andy melepas Palazzo Sandra dan melemparnya ke lantai. Andy segera memuaskan Sandra di bawah sana. Tubuh Sandra mengejang, saat Andy memainkan titik sensitif Sandra di sana.


“Kau basah, Sayang,” kata Andy.


Andy pun akan melakukan penyatuan dengan Sandra.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu kantor Sandra di ketuk seseorang.


“San ... ada seseorang di luar!” ucap Andy yang tiba-tiba berhenti mencumbu Sandra.


Sandra segera menarik selimut,ia turun dari ranjang menuju monitor cctv depan kantor.


“Ce ... celaka ... i–i–itu ... itu Tara?” kata Sandra gugup.


Sandra segera memungut pakaiannya yang telah Andy tanggalkan dari tubuhnya.


“Tara ... Tara siapa?” sahut Andy blank.


“Sudah jangan banyak tanya!” kata Sandra


“Hah! Tara!” ucap Andy teringat siapa itu Tara.


Sandra segera bergegas mengenakan pakaiannya. Andy pun turut belingsatan, seperti adu cepat memunguti pakaiannya dengan Sandra dan ia bergegas masuk ke dalam lemari di kamar itu.


Tara kembali mengetuk pintu kantor Sandra, kini lebih keras lagi.


“San ... San ...!” Tara berteriak memanggil Sandra.


Sementara itu.


Di kamar mandi Sandra merapikan rambut dan riasannya yang di acak-acak oleh Andy.


“Sialan kau, Dy!” Sandra memaki Andy.


”Ya ... sebentar!” sahut Sandra dari kamar mandi.


Setelah di rasa cukup rapi, Sandra mengatur napas, ia mengambil napas dalam-dalam dan dihembuskan perlahan.


“Hai ... Ra!” sapa Sandra sambil membuka pintu.


Sandra berusaha santai.


“Lama amat ... !” balas Tara.


“Sorry, Ra! Aku lelah hingga ketiduran. Ada perlu apa kau kemari?” ucap Sandra berusaha mengalihkan pembicaraan agar tak berlanjut tanya macam-macam.


“Aku antar temanku, Nia namanya! Ia mau bikin gaun untuk tunangan. Dia bingung mau bikin di mana. Aku tawari bikin di sini aja,” ucap Tara sambil melihat sekeliling kantor Sandra.


“O ... bisa! Mau konsep apa?” tanya Sandra.


“Kalian diskusi aja. San ... aku masuk, ya! Mau lihat-lihat kantormu. Mumpung aku ke sini!” kata Tara.


“Silakan ... Ra!” sahut Sandra.


Kalau aku larang nanti malah curiga, batin Sandra.


Walau mengizinkan, raut wajah Sandra tampak cemas dan menegang. Namun Sandra berusaha bersikap wajar.


Sementara Sandra dan Nia berbincang di kantor, Tara masuk hingga ke kamar istirahat Sandra.


“Wow ... berantakan amat, terlihat telah terjadi pertempuran. Rupanya kau habis bercinta di ranjang ini,” ucap Tara lirih melihat ranjang yang berantakan seperti kapal pecah di hantam badai.


Tara mengendus aroma di ranjang itu, bak seekor ****** pelacak.


Ada aroma maskulin yang kencang di ranjang ini, batin Tara.

__ADS_1


Tara melongok kolong ranjang dan membuka-buka semua pintu lemari yang ada di ruangan itu bagai seorang penyidik saja.


Aneh! Lemari segini besar di biarkan kosong! batin Tara.


__ADS_2