Cinta Fey

Cinta Fey
Lepaskan Dia!


__ADS_3

“Ada apa, Ma! Suara Mama terdengar hingga depan rumah.” Sony telah tiba di rumah.


“Apa salah anak kita? Hingga anak kita di perlakukan dengan kejam oleh mereka. Keluarga kita memang tak selevel keluarga mereka. Tapi mengapa mereka melakukan ini?”


Tangis Amanda kian tak terbendung lagi. Sony kian bingung dengan reaksi yang Amanda perlihatkan.


“Ma! Apa yang terjadi? Beritahu papa, apa masalahnya!”


Amanda cerita dari awal hingga akhir. Toni mendengar itu, tangannya mengepal kencang. Toni meninggalkan rumah Fey dengan rasa marah menggunung di dada.


Sony terdiam, ia mencoba mencerna apa yang baru ia dengar.


“Mengapa Fey lakukan?” tanya Sony.


Fey terisak tak kuasa menahan air matanya.


“Fey mencintai Alex, Pa!” Suara Fey bergetar.


“Tapi dia tidak mencintaimu!” kata Sony.


“Walaupun ia tak mencintai Fey. Fey tidak keberatan,” sahut Fey.


“Gadis bodoh!” Sony menahan marah.


“Kau ceraikan Alex sekarang juga!” kata Amanda.


“Tidak, Ma! Fey tak mau bercerai, biar Fey jalani ini.” Fey menangis kian keras.


“Fey itu sama saja membunuh kami pelan-pelan.” Amanda ikut menangis.


---


“Kau di mana?”


“Aku di kantor.”


Toni segera menutup ponsel dan melesat kencang memacu motor miliknya. Setelah tiba di tempat tujuan, Toni menelepon kembali.


“Kau di mana sekarang?”


“Aku di area parkir. Ada apa kau mencariku?”


“Tunggu aku di sana!”


Begitu sampai di area parkir perkantoran. Toni mencari seseorang. Tampak di kejauhan seseorang melambaikan tangan. Toni segera menghampirinya Alex.


Bug.


Toni melayangkan pukulan ke wajah seseorang hingga dia tersungkur. Toni menghampiri dan menarik kemeja dan mencengkramnya kuat-kuat. Toni menyeretnya untuk berdiri, ia dorong hingga tembok dan menjepitnya di sana.


“Kau gila!” teriak Alex.


Alex mengusap sudut bibirnya yang berdarah akibat bogem mentah Toni.


“Kau yang gila! Aku sudah bilang, kalau kau menyakitinya aku tak akan segan-segan lagi,” teriak Toni tak kalah sengit.

__ADS_1


“Apa maksudmu? Selama ini kami baik-baik saja,” ucap Alex.


“Apa yang baik-baik saja! Lepaskan Fey!” sahut Toni.


“Apa!” kata Alex.


“Lepaskan Fey! Ceraikan dia?” Toni kian sengit.


“Kau gila! Kami yang menikah, kenapa kau yang minta kami bercerai!” Alex tak kalah sengit.


“Kau yang gila! Kalau kau menikahinya kenapa sampai sekarang ia masih perawan. Apa kamu impoten atau kau tak suka dengan wanita!” sindir Toni kian pedas.


“Apa yang baru kau katakan!” ucap Alex kini ganti mencengkeram baju Toni.


“Kalau kau sakit, jangan bawa Fey untuk menderita bersamamu. Kalau tujuanmu menikahi Fey untuk menutupi aibmu. Sebaiknya jangan kau lakukan!” kata Toni.


Alex melepaskan cengkramannya, ia terhuyung-huyung dan ambruk di tanah.


“Kau orang yang kejam, setelah apa yang telah Fey korbankan. Inikah balasanmu!” ucap Toni.


“Apa maksudmu!” sahut Alex.


“Fey gigih memperjuangkan kau di depan orangtuanya agar kau bisa menikahinya dan di dalam tubuh kotormu itu, mengalir darah Fey!” kata Toni.


“Apa!” sahut Alex.


“Saat kau kecelakaan, kau kehilangan banyak darah. Fey menawarkan diri jadi pendonormu. Kau tahu berapa banyak yang ia beri untuk menyelamatkanmu! Aku tahu semua karena aku yang jemput dia ... dia ... dia pucat pasi, lemas tak berdaya. Aku mohon lepaskan dia!” ucap Toni.


Toni meninggalkan Alex yang masih bersimpuh di sana. Alex meraba bekas luka di dadanya.


Lukaku sembuh tapi hatiku terluka mendengar orang yang kucintai terluka karena aku.


---


Di rumah sakit, Alex menuju ruang praktek Roy.


“Dok, ada yang ingin bertemu. Namanya Alexander Wijaya.”


“Alexander ... O ... ya ... Alex. Suruh dia masuk,” ucap Roy.


Perawat itu mengangguk.


“Sore Om, maaf menganggu,” kata Alex.


“O ... tidak apa-apa! Lagipula pasien om sudah habis. Mukamu kenapa?” ucap Roy.


“Kena pukul, Om! Gini Om, Om masih ingat kejadian Alex kecelakaan?” tanya Alex.


“Ya, ingat! Saat itu Anna panik, untung ada Tara bisa bersikap tenang. Memang kenapa, Lex?” Roy tanya balik.


“Bagaimana keadaan Alex waktu itu?” tanya Alex.


“Yang om tahu, kau luka parah di dada. Kau banyak kehilangan darah. Kalau kau mau tahu detail kau ke IGD karena awal kau masuk rumah sakit ya, dari sana,” jawab Roy.


“Makasih, Om,” kata Alex.

__ADS_1


---


Di IGD Alex bertemu seseorang.


“O ... Anda yang pernah rawat di sini karena kecelakaan, ya! Anda cari siapa?” tanya seorang perawat.


“Suster mengenalku?” Alex tanya balik.


“Ya, kenal! Saya Dita, kepala keperawatan bagian IGD. Ada yang bisa saya bantu?”


“Bisa menganggu waktu Suster Dita sebentar,” pinta Alex.


“Bisa. Mari silakan ke kantor,” ucap Dita.


Dita bejalan menuju suatu ruangan tak jauh dari IGD. Dita membuka pintu sebuah ruangan.


“Silakan duduk!” kata Dita.


“Begini, Sus! Mengenai kecelakaan yang menimpa saya. Apa Suster masih ingat?” tanya Alex.


“Ya masih! Karena paras Anda menjadi perhatian para suster-suster. Tapi bikin jengkel juga iya,” ucap Dita.


“Maksud Suster?” Alex tanya balik.


“Ya, karena wanita yang datang bersama Anda bikin ruang IGD jadi rusuh. Wanita itu teriak-teriak hanya karena pakaiannya terkena noda darah. Saya dengar akhirnya Anda menikah dengan gadis pendonor darah itu?” tanya Dita.


Alex mengangguk.


“Syukurlah! Anda tidak menikah dengan nona pembuat onar. Aku dengar juga di ruang dr. Roy, ia bikin onar,” ucap Dita.


“Oya?” sahut Alex.


“Iya ... saat Anda lumpuh, ia mengoceh di ruang dr Roy. Berbeda dengan gadis itu sangat lembut, sikapnya sangat menyenangkan walau keras kepala,” ucap Dita.


“Keras kepala?”


“Ya, tolong panggil suster Yanti.”


Dita memanggil Yanti lewat intercom.


“Ibu panggil saya?”


“Ya, Kau masih ingat nona yang mendonorkan darah yang memohon-mohon itu,” ucap Dita.


“Hm ...! Oya ... gadis keras kepala itu,” sahut Yanti.


“Betul dia! Tolong kau ceritakan gadis yang mendonorkan darah untuk pak Alex” ucap Dita.


“Ya, waktu itu Anda terluka parah dan banyak kehilangan darah. Anda telah di transfusi dua kantong darah ternyata masih kurang. Kami minta keluarga Anda mencari donor darah.”–ucap Yanti.–“nona itu menawarkan diri untuk di tes darahnya. Beruntung sekali cocok dengan golongan darah anda. Kami butuh 250cc namun nona itu memaksa dan memohon agar diambil hingga 300cc. Kami senang, Anda akhirnya menikahi nona pendonor itu.”


Alex mengangguk.


“Baguslah! Pilihan Anda sangat tepat,” ucap Yanti.


Di dalam mobil, mata Alex berkaca-kaca. Alex menyadari kebodohannya, ia menyesali diri.

__ADS_1


Aku ... aku, manusia jahat! Ya, Tuhan! Apa yang sudah kulakukan pada Fey.


Perkataan Tara dan Toni kian silih berganti di telinga Alex. Alex menutup telinga dengan kedua tangannya hingga suara itu tak terdengar lagi.


__ADS_2