Cinta Fey

Cinta Fey
Si Rubah


__ADS_3

Sandra mengambil vas bunga di atas meja, dengan sigap tangan Alex menangkap tangan Sandra.


“Kau dengar tidak! Jangan pernah menyentuh barang-barang di kamar ini. Kalau tidak, aku patahkan tanganmu ini!” gertak Alex.


Alex merebut vas dari tangan Sandra, ia menghempaskan tangan Sandra.


“Aaaaaaa ...!” teriak Sandra.


Sandra menghentakkan kaki, ia tak tahu harus berbuat apa.


“Kalau kau tak suka, silakan kita cerai!” ucap Alex.


“Apa! Aku takkan bercerai. Lebih baik kita hancur bersama. Kau milikku, jika aku tak bisa memilikimu, wanita itupun tidak bisa!” teriak Sandra.


Sandra meninggalkan kamar Alex dengan air mata bercucuran.


“Gila!” ucap Alex.


---


“Sudah, Ma! Lebih baik kita pura-pura tidak tahu.”


Candra mencegah Anna keluar kamar untuk merelai mereka.


“Mereka sudah dewasa, biarkan mereka menyelesaikan urusannya sendiri. Nanti kalau kita turut campur. Bisa-bisa kita di anggap mengeroyok Sandra,” ucap Candra.


Anna mengangguk.


Anna mengerti maksud Candra.


---


Saat makan malam tiba, Alex tidak turun makan. Berbanding terbalik dengan Sandra tanpa rasa malu, walau ia menyantap makan malam di iringi tatapan mata.


Sejak terjadi keributan besar. Alex tak pernah lagi ke kamar Sandra, bicara pun tidak. Hubungan keduanya kian memburuk, hal ini membuat Sandra kian frustasi.


Apa yang harus kulakukan. untuk menaklukkan hati Alex! batin Sandra.


Tampak Sandra berpikir keras mencari cara menaklukkan Alex.


“Oya ... aku ingat!” guman Sandra pada diri sendiri.


Sandra bergegas pergi ke suatu tempat dengan mobilnya.


Aku harus bisa menaklukkan Alex dengan cara apapun.


---


Hari ini Candra dan Anna pergi keluar kota untuk menghadiri pemakaman seorang teman.


Hm ... lebih baik aku menginap di rumah Yudha. Sebaiknya aku chat Alex, batin Tara.


Tara mengetik di ponselnya.


Tara : “Hari ini aku, nginap rumah Yudha. Hati-hati di rumah bersama si rubah.”


Tara pun berkemas menuju rumah sepupunya.


---


Ponsel Alex ada notifikasi chat.

__ADS_1


Hm ... rubah yang menyusahkan! batin Alex.


Setelah membaca chat dari Tara, tak lama ponsel Alex berdering.


“Halo ... Dra!”


“Lex, aku mau tunjukkan sesuatu. Kau di mana sekarang?”


“Aku ada di rumah. Kau kesini saja!”


“Ok!”


Alex menutup ponselnya, ia menunggu di teras rumah. Tak berapa lama Indra muncul.


“Sorry, Lex! Aku ganggu, malam-malam begini,” ucap Indra.


“It's ok! Aku tinggal mandi sebentar, gerah rasanya. Kau tunggu aku di ruang baca saja,” sahut Alex.


Indra mengangguk.


Alex menuju dapur, ia menyalakan coffee maker. Baru ia menuju kamar untuk membersihkan diri.


---


Sementara itu Sandra tiba di halaman rumah, ia melihat mobil Alex telah terparkir di garasi.


“Rupanya Alex sudah pulang,” guman Sandra.


Sandra langsung masuk rumah, ia mendengar ada aktifitas di ruangan baca. Saat akan masuk kamar, ia melihat coffee maker on di dapur.


Hm ... Alex di ruang baca, pasti Alex mau lembur, batin Sandra.


Sandra tersenyum, senyum licik menakutkan. Sandra pun segera masuk ke kamarnya.


“Sorry lama nunggu, Dra!” ucap Alex.


“O ... enggak. Lex ... ini sudah aku susun, kau tinggal cek,” kata Indra.


Indra meletakkan berkas-berkasnya di atas meja.


“Minum, Dra!” ucap Alex.


Alex menyerahkan secangkir kopi pada Indra dan ia langsung menikmati kopi pemberian Alex. Lembar demi lembar Alex membaca dengan seksama.


“Sudah bagus, sih! Target juga sudah terpenuhi. Untuk selanjutnya kita jalankan rencana berikutnya,” ucap Alex.


Indra tampak resah, dan berkeringat di ruangan ber-AC.


“Kau kenapa?” tanya Alex.


“Entah, Lex! Tiba-tiba tubuhku terasa panas dan berkeringat begini,” jawab Indra.


“Kau banyak berkeringat! Aku antar kau ke dokter,” kata Alex.


“Enggak usah, Lex! Aku numpang istirahat sebentar,” kata Indra.


“Kau bisa rebahan di sini. Mau nginap juga, silakan!” ucap Alex.


Alex membuka sofa bed untuk Indra.


“Ya, Lex! Thanks,” sahut Indra.

__ADS_1


“Tak usah sungkan. Aku keluar, lampunya mau aku mati'in atau nyala?” tanya Alex saat keluar kamar.


“Tolong mati'in saja,” jawab Indra.


Alex meninggalkan Indra beristirahat di sana. Alex kembali ke kamarnya, ia membuka memo di ponselnya.


Ini masuk bulan ke sembilan usia kandunganmu, Fey! batin Alex.


Alex meraih foto di meja rias, ia tatap senyum manis Fey saat berada dalam pelukannya.


“Fey, kau telah pergi lebih dari delapan bulan. Jaga kandunganmu, Sayang! Agar anak kita lahir sehat. Maafkan aku, Fey! Maafkan papa, baby! Aku sangat rindu kalian!” ucap Alex.


Walau tak mendampingi Fey melalui masa kehamilannya, tapi Alex selalu mencatat di memo pribadinya. Alex juga rajin mencari informasi tentang fase-fase kehamilan. Setidaknya ia tahu, yang di alami Fey di tempat jauh entah di mana.


---


Wah ... ruang baca sudah gelap! batin Sandra.


Sandra berjalan mengendap-endap menuju ruang baca. Dengan berlahan Sandra membuka pintu. Sandra melihat sesosok bayangan dalam gelapnya kamar, tampak berbaring gelisah di sofa bed.


Tampaknya sudah bereaksi ...


Sandra menghampiri sosok itu, ia duduk di tepi sofa bed.


“Sayang, aku di sini!” guman Sandra lirih.


Tanpa basa-basi, Indra menarik tubuh Sandra ke atas sofa bed dan menindihnya. Bibir Sandra pun tak luput, jadi sasaran empuk. Sandra membiarkan tangan kekar itu mengerayangi seluruh tubuhnya.


“Aahh ... pelan-pelan, Sayang,” bisik Sandra.


Seolah tak mendengar bisikan Sandra, Indra terus mencium bibir Sandra penuh hasrat hingga Sandra kewalahan. Ia harus mendorong tubuh Indra untuk menghirup oksigen.


Baru ia merasakan oksigen memenuhi paru-parunya, bibirnya kembali di sergap Indra. Sandra gelagapan, gairah Indra semakin memuncak.


Indra membenamkan wajahnya di dada Sandra, ia meremas dada Sandra hingga tubuh Sandra mengejang. Indra menciumi leher Sandra hingga menggelinjang.


Indra dengan kasar merobek gaun Sandra, ia pun melepas pakaiannya dan melempar entah kemana.


“O... ternyata kau tak sabar juga,” bisik Sandra.


Sandra meraba dadanya yang bidang.


Bersih ... lukanya tak berbekas! batin Sandra.


Sandra menarik kepala Indra mendekat dadanya, Indra pun membenamkan wajahnya di dada Sandra dan bermain di puncak dada Sandra. Tangan Indra pun menyentuh titik sensitif Sandra di bawah sana.


“Aaaahh ... Lex ... oooh,” desah Sandra.


“O ... milikmu sudah basah, Sayang!” ucap Indra.


“Siapa kau!” teriak Sandra.


Sandra terkejut saat mendengar suara Indra, secara refleks ia mendorong tubuh Indra.


Indra pun tersentak, ia tersadar.


Suara teriakan Sandra yang keras membuat Alex menghampiri sumber suara. Alex masuk ruang baca, ia menyalakan lampu.


Alex terkejut saat melihat pemandangan vulgar di hadapannya. Indra dan Sandra pun tak kalah terkejut, keduanya baru menyadari tubuhnya telah telanjang.


Sandra memunguti pakaiannya, ia berusaha menutupi tubuhnya dengan pakaian seadanya demikian pula dengan Indra.

__ADS_1


“Kau menjebakku!” Sandra menatap tajam Alex.


__ADS_2