Cinta Fey

Cinta Fey
Married


__ADS_3

Apa yang aku lakukan ini benar? Apakah kebahagian atau kesusahan yang akan aku berikan padanya? Aku ingin ia bahagia. Apa aku bisa berikan ia kebahagian? batin Alex.


Alex menggenggam tangan Fey dan memandang wajah Fey yang tertidur pulas. Alex yang merasa lelah akhirnya tertidur. Tak lama Fey membuka matanya.


“O ... aku tertidur.”


Fey melihat Alex tertidur sambil menggenggam tangannya. Dengan berlahan Fey melepas genggaman tangan Alex dan memberi jaket Alex penutup tubuhnya untuk menutupi tubuh Alex.


Fey mengamati wajah Alex yang terlelap tidur.


“Like baby,” guman Fey sangat lirih takut Alex bangun.


Fey menatap wajah Alex.


Bersama pria inikah, aku akan menghabiskan sisa hidupku ...


Apa yang Fey khawatirkan terjadi, mata Alex terbuka membuat Fey terkejut mendadak mundur.


Dug.


Kepala Fey membentur kaca mobil.


“Aduh!”


Fey meringis sambil menggosok-gosok kepalanya.


“Hm ... Itulah akibat memandang wajah tampan ini diam-diam. Jangan beraninya menatap kalau lagi tidur. Jadi kena karma instan,” ledek Alex


Fey hanya bisa nyengir.


---


Ini malam terakhir Fey berstatus gadis. Besok Fey resmi menyandang status ny. Alexander Wijaya.


Amanda menemani Fey tidur untuk yang terakhir kali sebagai anak gadisnya dan memberi nasehat.


“Sayang ... tak terasa kau akan menikah!”


“Ya ... Ma! Kalau Fey punya salah, Fey minta maaf. Dan doakan Fey, agar semua lancar dan rumah tangga Fey langgeng, ya Ma!” pinta Fey.


“Pasti Sayang! Menjalani kehidupan rumah tangga harus sabar, Sayang. Kalau Alex marah ... kau jangan terbawa emosi. Kalian saling mencintai pasti jodoh kalian panjang.”


“Ya, makasih Ma!”


Fey merangsek dalam pelukan hangat Amanda. Air mata Fey mengalir tanpa Fey sadari.


Aku punya cinta untuk Alex tapi apa Alex mencintaiku? Aku tak berharap banyak karena perkawinan ini berawal dari rasa benci Alex padaku. Aku tak akan mengeluh apapun yang terjadi.


---


Tara sedang berbincang serius dengan Alex.


“Lex ... haruskah kau melakukan ini?” tanya Tara.


“Melakukan apa?” Alex tanya balik.


“Menikahi Fey!” jawab Tara.

__ADS_1


“Ya.” Alex dengan wajah dingin.


“Kalau kau tetap menikahi Fey, pastikan kau buat dia bahagia jika kau menyakitinya. Sekalipun kau kakakku! Aku tak akan memaafkanmu!” ancam Tara.


Ancaman Tara membuat bulu kuduk Alex berdiri.


Maafkan aku ... Ra! batin Alex.


---


Hari bahagia yang di tunggu berlangsung mewah dan meriah. Keduanya telah resmi menyandang status suami istri. Ucapan selamat tak henti-hentinya menghampiri kedua mempelai dan keluarga besarnya.


Toni pun tak luput menghampiri Alex.


“Lex! Selamat, ya! Ternyata kau, orangnya yang beruntung mendapatkan Fey,” ucap Toni menjabat erat tangan Alex.


“Ya,” balas Alex.


“Kau telah buat hatiku hancur berkeping-keping ... tapi aku yakin kau akan buat Fey bahagia. Aku titip Fey, dia sangat istimewa buatku. Kalau kau menyakitinya, aku tak segan-segan menghajarmu bahkan merebutnya darimu,” ucap Toni setengah bercanda namun menohok hati Alex.


Alex hanya mengangguk.


Alex melihat Fey dari kejauhan sedang bersenda gurau dengan teman-temannya. Tampak Toni menghampiri Fey. Keduanya terlibat pembicaraan serius namun sesekali keduanya tertawa. Toni memeluk Fey dengan erat dan menepuk punggung Fey dengan lembut.


Mengapa hatiku sakit melihat kedekatan mereka ...


“Hari ini kau telah resmi menjadi ny. Alexander Wijaya.”


Alex pun sama menghabiskan malam itu bersama teman-temannya. Pesta malam itu pun telah usai dan hari itu juga, Fey resmi tinggal di rumah Alex.


Sementara Alex masih berbincang dengan Candra di ruang keluarga.


Alex segera menuju kamarnya dengan perasaan berat.


“Papa lagi! Kaya tak pernah muda aja!”


Anna melebarkan matanya hingga membuat hati Candra menciut.


“Kena marah nyonya, dah.”


Candra menggaruk-garuk kepala walau tak gatal.


---


Alex masuk kamar, ia melihat Fey sedang menghapus make up di wajahnya. Ada perasaan canggung di dalam kamar itu.


“Aku mandi dulu.” Alex dingin.


“Ya.”


Fey segera menyiapkan handuk dan piyama untuk Alex. Fey melanjutkan bersihkan make up kembali. Setelah selesai membersihkan diri Alex keluar kamar mandi seperti biasanya. Alex dengan santai mengacak rambutnya yang setengah basah.


Wajah Fey berubah memerah, ia segera memalingkan wajahnya.


Alex tak menyadari kini ia buka satu-satunya pemilik kamar itu sekarang. Alex melihat pantulan di cermin ada sosok lain di sana, membuatnya ia sadar. Raut wajah Alex berubah.


“Eits ... maaf!” Alex berjingkrak menuju kamar mandi kembali.

__ADS_1


Kenapa aku lupa! Kalau aku sudah satu kamar dengan Fey.


Wajah Alex terasa panas dan memerah saat menyadari kecerobohan. Begitu Alex keluar kamar mandi, wajah Fey masih merona merah. Suasana kian canggung, tanpa banyak bicara Fey segera masuk ke kamar mandi.


Mengapa ia harus bertelanjang dada di depanku ... bikin jantungku mau copot.


Fey menghela nafas dan mengibaskan tangan ke wajahnya yang terasa panas. Baru kali ini Fey melihat pria dewasa bertelanjang dada di depannya. Apalagi ia pria yang Fey cintai.


Aduh ... bagaimana ini! batin Fey.


5 menit.


10 menit.


Kok, enggak bisa ...


15 menit.


20 menit.


Suasana hening, tak ada suara gemericik air di kamar mandi. Alex baru menyadari, Fey sudah terlalu lama di kamar mandi.


Mengapa Fey tak keluar-keluar dari kamar mandi, apa ia ...


Banyak pertanyaan melintas di otaknya namun ia segera abaikan. Alex segera mencari tahu apa yang terjadi dengan Fey di dalam sana.


“Fey ... Fey ....” Alex mengetuk pintu kamar mandi.


“Ya!” sahut Fey dari dalam sana.


“Kenapa kau lama di kamar mandi?” tanya Alex.


Fey membuka pintu kamar mandi, membuat Alex terkejut bukan main.


“Astaga, Fey! Kau dari tadi belum mandi?” tanya Alex.


Fey menggeleng.


“A–a–aku enggak bisa buka resleting gaun ini,” kata Fey.


Alex menepuk jidat Fey.


Plak.


“Kenapa enggak minta tolong dari tadi, sudah tahu enggak bisa buka sendiri. Masih saja coba berusaha sendiri, hampir setengah jam ada, kau di kamar mandi. Sini aku bantu!” sahut Alex gemas.


“Tapi kau jangan lihat!” pinta Fey.


“Iya, udah! Cepet hadap sana!” kata Alex.


Tanpa di suruh 2x Fey langsung putar badan walau berat tapi mau gimana lagi.


“Jangan lihat ... jangan ngintip,” kata Fey


“Iya,” sahut Alex.


Tangan Alex meraba-raba punggung Fey mencari kepala resleting karena mata Alex terpejam. Begitu dapat, Alex mengintip karena takut saat membuka akan mengenai kulit punggung Fey. Alex menurunkan kepala resleting dengan perlahan. Begitu sudah di buka, Alex segera keluar kamar mandi. Ia mengipas-ipaskan tangan merasakan panas dingin di wajah. Ruang kamar yang ber-AC tak memberi efek pada Alex.

__ADS_1


Ini semua karena Alex melihat punggung Fey putih bersih. Walau melihat sedikit tetap saja, laki-laki normal seperti Alex terpancing gairahnya. Alex naik ke atas ranjang dan menutupi dirinya dengan selimut untuk menenangkan hasrat yang sampai di ubun-ubunnya.


__ADS_2