Cinta Fey

Cinta Fey
Pulang


__ADS_3

Sore itu Alex baru saja kembali, setelah berpergian. Tampak di kejauhan seorang anak duduk di teras villa.


“Tian!” sapa Alex sambil menghampiri Tian.


“Ya, Om!” Tian balas menyapa dengan lesu.


“Ada apa, Ian?” tanya Alex sambil duduk di samping Tian.


“Tian sudah jadi anak nakal, Om!” jawab Tian.


“Tian berantem dengan teman?” tanya Alex.


“Enggak, Om! Tian sudah bikin mama menangis!” Tian bersedih.


“Kenapa Tian buat mama Tian menangis?” tanya Alex.


“Tian tanya papa Tian sama mama,” jawab Tian.


“Terus?” tanya Alex.


“Tian sedih, papa Tian harus kerja cari uang di tempat yang jauh untuk Tian,” jawab Tian.


“Tapi sering pulang buat nengok Tian, kan?” tanya Alex.


Tian menggeleng.


“Jadi sampai sekarang, Tian tak pernah bertemu papa Tian?” tanya Alex.


Tian mengangguk dan mulai menitikkan air mata. Alex merengkuh tubuh kecil itu dalam pelukannya.


“Tian menangislah, agar hati Tian lega,” kata Alex.


Tian menggeleng, ia mendorong tubuh Alex.


“Kata mama anak lelaki tak boleh cengeng,” sahut Tian dengan suara bergetar menahan tangis.


“Tian anak lelaki juga boleh menangis, tapi tak boleh sering. Kalau ada rasa enggak enak di sini, Tian boleh keluarkan.” Alex menunjuk dada Tian.


Tak lama Tian pun menangis. Melihat Tian menangis, Alex memeluk Tian, membelai dan mencium rambut Tian.


Ada rasa yang lain di hati Alex saat memeluk Tian, tanpa sadar Alex mulai menitikkan air matanya. Alex serasa menemukan sesuatu yang hilang dari dirinya.


“Kenapa Om Vila menangis juga?” tanya Tian.


“Saat om peluk Tian, om juga rindu dengan anak om, mungkin seumur Tian juga,” jawab Alex.


“Anak Om dimana?” tanya Tian.


“Tinggal bersama mama-nya,” jawab Alex.


“Om sering bertemu anak Om?” tanya Tian.


“Tidak,” jawab Alex.


“Karena Om cari uang?” tanya Tian lagi.


“Iya!” jawab Alex.


“Tapi, kan! Om punya banyak uang,” kata Tian.


“Tahu dari mana om banyak uang?” tanya Alex.


”Om punya mobil, villa besar, bisa beli coklat banyak,” jawab Tian.


“Bagi Tian, om bisa beli coklat itu sudah banyak uang, ya?” tanya Alex.


“Iya!” jawab Tian.

__ADS_1


Alex tersenyum, banyak uang untuk anak sekecil Tian sangat sederhana.


“Tapi Om bahagia punya banyak uang?” tanya Tian.


Alex menggeleng.


“Berarti kita sama-sama tidak bahagia Om, papa Tian kerja jauh cari uang, Tian enggak bahagia. Tidak bisa seperti teman-teman Tian bisa bermain dengan papa mereka,” kata Tian.


Alex seperti tertampar oleh kata-kata Tian, ia sendiri tak bisa menemani anaknya tumbuh dan bermain bersama.


Nasib kita sama Tian. Kau rindu papa, aku rindu anak dan istriku, batin Alex.


“Tian jangan marah dengan papa dan mama, mereka melakukan ini semua untuk Tian karena mereka mencintai Tian.” Alex mengelus rambut Tian.


“Ya, Om! Tian tak akan membuat mama sedih lagi!” sahut Tian.


“Bagaimana? Tian sudah lega?” tanya Alex.


“Ya, Tian sekarang sudah lega,” jawab Tian.


“Hm ... Om ingin foto bersama Tian, boleh?” tanya Alex.


Tian mengangguk.


Kemudian Alex mengeluarkan ponsel miliknya. Alex duduk dekat Tian dan memeluknya. Alex mengambil beberapa foto bersama Tian.


“Ini, Tian mau lihat?” tanya Alex sambil menyerahkan ponselnya.


“Mau!” jawab Tian menerima ponsel dari Alex.


“Kalau Tian mau lihat yang lain tinggal di geser begini,” kata Alex memberi contoh.


Tak lama kemudian.


“Tian ... ayo ke lapangan!” teriak Dion.


“Ya!” sahut Tian.


Tak lama kemudian Tian berlari kembali dan memeluk Alex dengan erat.


“Jaga rahasia Tian, Om! Jangan sampai ada yang tahu kalau Tian menangis, janji!” bisik Tian di telinga Alex.


“Ya ... Tian! Om, janji!” sahut Alex sambil menepuk-nepuk punggung Tian.


Tian pun meninggalkan Alex dan kembali menghampiri teman-temannya.


Alex melanjutkan melihat foto di ponselnya termasuk foto dirinya bersama Fey jadi wallpaper ponsel Alex.


Fey, seperti apa rupa anak kita, apa ia setampan dan sepintar Tian? batin Alex.


Alex pun larut dengan perasaan yang rindu pada Fey dan buah hati mereka.


Tiba-tiba ponsel Alex ada chat masuk.


Tara : “Mama sakit, Lex!”


Hanya itu yang Tara sampaikan pada Alex melalui chat.


---


Malam itu Tian mengenggam tangan Fey.


“Ma, Tian minta maaf. Tian enggak akan buat Mama sedih lagi. Tian akan jadi anak pintar agar papa enggak usah lagi pergi jauh untuk cari uang buat Tian,” kata Tian sambil memeluk Fey.


Mungkin ini saat yang tepat untukku menyampaikan tentang Alex pada Tian! batin Fey


“Tian mau lihat foto papa Tian?” kata Fey.

__ADS_1


“Mau, Ma!” sahut Tian dengan bersemangat.


Fey mengambil ponsel miliknya dan membuka sesuatu di sana.


“Ini papa Tian,” kata Fey sambil memberikan ponsel kepada Tian.


Tian menerimanya.


“O ... papa Tian cakep ya, Mama!” kata Tian.


“Ya, Tian juga cakep kaya papa!” sahut Fey.


Tak lama rumah Fey di ketuk seseorang.


“Sebentar Tian, Mama buka pintu dulu!” kata Fey beranjak dari hadapan Tian.


Tian mengangguk.


“Kok, mirip,” kata Tian sambil menggaruk-garuk kepalanya.


“Tapi enggak mungkin kalau om Vila, papa Tian. Om Vila kan, sudah banyak uang kalau papa Tian kan, masih kerja cari uang,” kata Tian pada diri sendiri sambil meletakkan ponsel Fey di atas meja.


---


Keesokan harinya, Tian mengetuk pintu villa.


“Om Vila ... Om Vila!” teriak Tian sambil sesekali mengintip dari balik jendela.


Tian juga berlari ke garasi.


“Mobil om Vila, juga enggak ada? Apa om Vila pergi?” guman Tian dengan lesu.


“Eh ... Tian, cari Aden yang punya villa, ya?” tanya Diding.


Tian mengangguk.


“O ... Aden sudah pulang, mama-nya sakit” kata Diding.


“O ... sudah pulang, ya! Ya sudah pak mang ... Tian pergi dulu. Makasih,” sahut Tian lirih.


---


“Ra ... Mama, kan sudah bilang. Tak usah bilang Alex!” teriak Anna ketika melihat anak lelaki satu-satunya pulang.


“Katanya Mama rindu Alex, tuh Alex sudah pulang!” sahut Tara.


“Jadi Mama tidak apa-apa, kan?” tanya Alex.


“Ya enggak apa-apa, cuma tiap hari tanya kau terus. Kau lagi, enggak telepon ke rumah sama sekali” jawab Tara sambil berlalu.


Alex hanya menggaruk kepalanya.


“Alex yang salah tak pernah kasih kabar Mama,” kata Alex.


“Bagaimana kabarmu, Sayang? Kau kelihatannya lebih segar?” tanya Anna.


“Iya, Ma! Alex suka tinggal di villa,” jawab Alex.


Keduanya pun terlibat perbincangan yang hangat.


---


Sementara itu, Sandra telah kembali ke tanah air. Sandra langsung menuju ke sebuah apartemen. Setibanya di apartemen ponsel Sandra berbunyi hingga berkali-kali.


“Huh! papa lagi ... papa lagi!” kata Sandra kesal.


Sandra menghempaskan ponselnya ke sofa. Namun ponsel Sandra tak berhenti berdering, akhirnya Sandra melepas baterai ponselnya, ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan tertidur di sana.

__ADS_1


Malam pun menjelang, Sandra terbangun dari tidurnya, kemudian ia segera membersihkan diri.


Tak lama, Sandra berdandan sangat mencolok mata dan bersiap untuk pergi.


__ADS_2