
“Di mana rumahmu?” tanya Tara.
“Di daerah puncak,” jawab Tio.
“Kebetulan dong, kami punya villa di daerah sana” kata Tara.
“Oya!” kata Tio.
“Di kawasan dekat resto steak!” sahut Tara.
“Itu tak jauh dari rumahku!” kata Tio.
“Ha ... ha ... jangan-jangan kau teman mainku saat kecil. Waktu kami kecil sering menginap di villa,” ucap Tara.
“Masa iya. Sepertinya aku tak punya teman masa kecil seperti ....” ujar Tio.
“Seperti apa!” teriak Tara.
“Ya seperti ini, lelaki bukan perempuan juga bukan,” sahut Tio.
“Dasar dodol!” kata Tara sambil tertawa-tawa.
---
Tanpa mereka sadari, seseorang mengikuti sejak tadi dan memiliki rencana jahat pada mereka.
“Nikmati kebersamaan kalian selagi bisa! Sebelum kau menangis merasakan kehilangan orang yang kau cintai!” Tatapan mata Sandra tak pernah lepas dari mobil Tio sejak tadi.
---
“Kita sudah sampai, Ra!” kata Tio sambil menghentikan mobil di tepi jalan.
“Yang mana rumahmu?” tanya Tara.
“Jalan depan rumahku sempit, mobil tak bisa masuk. Jadi selalu aku parkir di sini!” jawab Tio.
Tak lama kemudian, seorang anak lelaki berlari menyambut kedatangan Tio.
“Om Yo!” panggil Tian sambil menghampiri Tio.
“Itu Tian!” kata Tio sambil melambaikan tangan.
Dari arah berlawanan melaju mobil dengan kecepatan tinggi menuju arah mereka. Tio terkejut, secara refleks mendorong Tara ke kanan untuk menghindari mobil dan Tio bergerak ke arah kiri sambil memeluk Tian menjauh dari mobil dari sisi yang lain.
Namun Tio terlambat, sepersekian detik walau sempat memeluk Tian namun mobil masih sempat menyerempet dirinya hingga Tian terpental dari pelukannya.
Mobil itu segera melaju kencang kembali dan melarikan diri. Tio bangkit, ia melihat Tara yang tersungkur tak sadarkan diri dan kepala Tian bersimbah darah.
Dengan sempoyongan Tio menghampiri Tian, banyak orang berdatangan menghampiri tempat kejadian.
“O ... tidak! Tian... Tian!” Tio segera kembali ke kendaraan mengambil sesuatu di sana.
Tio kembali dan memasang neck collar pada leher Tian untuk menghindari cedera lebih parah.
“Tolong antar kami ke rumah sakit, cepat Pak!” teriak Tio sambil menyerahkan kunci mobilnya.
__ADS_1
Salah satu orang mengangkat Tara ke dalam mobil Tio. Kemudian Tio mengendong Tian yang masih dalam pelukannya dengan darah terus menetes.
Selama perjalanan ke rumah sakit, Tio menekan luka Tian untuk mengurangi pendarahannya dan memanggil nama Tian berkali-kali.
---
Di rumah Fey.
“Bu Tian ... Bu Tian, Tian kecelakaan!” panggil salah seorang ibu.
“Apa! Tian ... Tian! sekarang di mana, Bu?” tanya Fey panik.
“Sudah di bawa ke rumah sakit bersama Tio!” jawab ibu itu.
“O ... Iyo.” Tubuh Fey lunglai lemas tak berdaya. Fey menangis hirteris dalam pelukan seorang ibu.
“Aku harus pergi ke rumah sakit!” Fey dengan gemetar beranjak dari pelukan seorang ibu.
“Ibu Tian tenang jangan panik, nanti Bu Tian di antar mang Usman aja!” jawab Usman.
---
“Eh, Aden! Kapan datang?” tanya Diding.
“Baru saja. Hm ... Mang, anak yang berkulit putih sudah ke lapangan?” tanya Alex.
“Maksud Aden, Tian?” Diding tanya balik.
“Iya, Mang!” jawab Alex.
“Kenapa, Mang?” tanya Alex.
“Tian kecelakaan, Den!” jawab Diding.
“Apa! Kapan dan sekarang di mana, Mang?” tanya Alex membrondong pertanyaan kepada Diding.
“Baru saja terjadi, sekarang sudah ada di rumah sakit,” jawab Diding.
Alex langsung meninggalkan Diding, ia memacu mobilnya menuju rumah sakit.
Begitu tiba di rumah sakit Alex langsung menuju ke IGD.
Iyo! batin Alex.
Alex terkejut melihat Tio di sana, pakaian Tio penuh bercak darah. Tio sedang memperhatikan para dokter melakukan pertolongan pertama pada Tian dan Tara.
“Iyo!” kata Alex lirih sambil memegang bahu Tio seolah tak percaya ia melihat Tio di sana.
“Alex! Siapa yang menghubungimu kalau Tara kecelakaan?” Tio terkejut melihat Alex di sana.
“Apa! Tara kecelakaan. Aku ... aku kemari karena mendengar Tian kecelakaan!” kata Alex terkejut sekaligus bingung.
“Kami bertiga mengalami kecelakaan yang sama. Ada pengemudi gila menabrak kami,” ucap Tio.
“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Alex.
__ADS_1
“Entahlah, semuanya terjadi begitu cepat!” jawab Tio.
Perasaan Alex tidak karuan satu sisi adiknya kecelakaan dan satu lagi Tian. Ya Tian, yang membuat Alex kembali ke tempat Tian tinggal. Tian bagai magnet bagi Alex.
Di saat Alex terlihat bingung menghadapi situasi ini. Belum sempat ia menata perasaannya, tiba-tiba seorang wanita melintas di hadapannya sambil menangis.
Alex mengenali wanita itu, wanita yang selama ini ia cari. Sekarang muncul di hadapannya.
“Fey!” guman Alex antara percaya dan tidak percaya.
Fey menangis dan berusaha merangsek di mana Tian berada, namun Tio mencegah. Tio menahan Fey yang berusaha menerobos dokter yang menangani Tian.
“Fey, tenang ... Fey! Tian sedang di tangani dokter!” kata Tio menyeret fey menjauh.
Seakan tidak perduli dengan apa yang Tio katakan, Fey tetap meronta dan berteriak histeris. Tio memeluk erat Fey yang masih berontak hingga Tio kewalahan menghadapi Fey.
“Fey, tolong! Kau jangan seperti ini,” pinta Tio.
Tio bisa memahami perasaan Fey. Hati ibu mana yang tak hancur melihat anaknya yang tergeletak tak berdaya.
“Tian anakku ... tolong! Selamatkan anakku Tian!” teriak Fey masih berontak.
“ Apa! Tian ... Tian anakku?” ucap Alex lirih.
Hati Alex sakit bagai tersayat sembilu ternyata selama ini belahan jiwanya tak jauh darinya.
Walau seribu pertanyaan berputar di dalam otak Alex. Namun Alex segera berpikir normal, ia harus mengatasi gonjangan yang menimpa Fey. Alex melihat Fey yang masih berusaha berontak seperti orang kalap. Saat pertahanan Tio tak lagi bisa membendung Fey yang berlaku seperti orang kerasukan. Alex menarik dan memeluk Fey lalu berbisik di telinga Fey.
“Fey ... Fey! Ini aku,” bisik Alex di telinga Fey.
Fey terdiam, Fey mengenali suara yang berbisik di telinganya. Fey menengadahkan wajahnya, Ia menatap wajah Alex.
“Alex!” ucap Fey lirih dengan air mata yang bercucuran.
“Ya, ini aku!” sahut Alex kian mempererat pelukannya.
“Anak kita Lex ... Tian ... Tian,” Fey menangis pilu di dada Alex.
“Aku tahu! Kau tenanglah, kita tunggu. Mereka berusaha menolong anak kita,” kata Alex sambil memeluk erat tubuh Fey.
“Maafkan aku, Lex! Aku tak bisa menjaga anak kita!” Fey menangis terisak.
“Sstt ... jangan pernah kau ucapkan itu!” sahut Alex sambil menepuk-nepuk punggung Fey.
Ya, Tuhan! Tolong anak kami. Kenapa kau pertemukan kami pada situasi seperti ini. Mengapa harus Tian yang terluka? Kalau Kau marah, seharusnya padaku saja. Karena aku, hidup mereka menderita, batin Alex.
Setelah tangis Fey mereda dan tenang.
“Fey, bisa kita bicara?” kata Alex yang berlahan-lahan melepaskan pelukannya.
Fey mengangguk.
“Fey, kau tunggu di sini. Aku akan melihat keadaan Tian!” kata Alex sambil memegang wajah Fey.
Fey lagi-lagi hanya bisa mengangguk. Alex beranjak dari tempat duduknya, ia menuju di mana Tio berdiri.
__ADS_1