
“Sudah! Tian sudah makan bubur pak mang Dion, terus bubur mama Eneng. Masih kalah enak sama buatan mama Tian,” balas Tian.
Fey hanya tersenyum, arti dunia buat Tian masih di sekitarnya dirinya.
“Ya, besok mama siapkan buat Tian bawa ke om Vila, ya!” kata Fey.
“Hore makasih, Ma! Mama baik, deh!Muuaah ... muaah!” kata Tian sambil menciumi wajah Fey berkali-kali.
Mereka berdua pun tertawa.
Pagi itu Tian bangun lebih pagi dari biasanya, ia akan mampir ke villa untuk mengantar bubur ayam.
“Tian! Ini mama sudah siapkan bubur untuk om Vila,” kata Fey sambil memasukkan bubur ke box besar.
“Ya, Ma! Sebentar lagi Tian berangkat,” sahut Tian sambil merapikan ikat pinggangnya.
“Ma! Tian berangkat, ya!” kata Tian.
“Dah, Tian! Hati-hati. Muaah!” balas Fey.
Di villa, pagi itu Alex di paksa bangun karena pintu villa di ketuk di iringi teriakan seorang anak.
“Om Vila ... Om Vila!” teriak Tian.
Seperti suara Tian, batin Alex.
Alex bergegas turun dari peraduannya, ia mengenakan kimono sambil menuju pintu villa.
“Ya!” sahut Alex sambil membuka pintu.
“Ada apa, Tian? Pagi-pagi kesini!” tanya Alex dengan rambut yang masih acak-acakan karena baru saja bangun tidur.
“Tian mau kasih Om Vila ini,” jawab Tian sambil memberikan box makanan.
“Apa ini?” tanya Alex sambil menerima box dari tangan Tian.
“Bubur ayam kesukaan Tian. Bubur ayam ini buatan mama Tian yang paling eeenaaaak sedunia,” kata Tian kaya model mengiklankan produk.
“Ok, om akan menikmati bubur ayam paling eeenaaaak sedunia ini!” sahut Alex meniru ucapan Tian.
“Ya, di makan sekarang, Om! Lebih eeeenaaaak kalau hangat. Tian berangkat ke sekolah dulu, ya!” kata Tian.
“Ya ... hati-hati. Makasih Tian!” sahut Alex sambil melambaikan tangan.
Alex segera menuju dapur, untuk menikmati bubur pemberian Tian. Alex membuka box makanan yang Tian bawa untuk dirinya.
“Hm ... baunya harum ... jadi lapar,” guman Alex sambil mengambil sendok.
Kemudian Alex melahap bubur dari sendok dan ia merasakan. Alex mengecap bubur dengan perlahan, ia ambil sesuap lagi. Dan lagi, lagi.
“Rasanya seperti tak asing, rasanya enak seperti buatan Fey,” guman Alex.
Alex melahap bubur ayam hingga habis tak bersisa.
Sore itu, Alex sudah standby di teras villa seperti biasa. Tak lama Tian muncul di hadapan Alex.
“Sore Om Vila!” sapa Tian.
“Sore, Tian!” Alex sapa balik.
“Eh ... Tian, betul kata Tian. Bubur ayam kesukaan Tian memang paling eeenaaaak sedunia,” kata Alex lagi.
“Benar, kan! Tian enggak bohong!” balas Tian.
“Kalau om bisa angkat jempol empat, akan om angkat,” kata Alex.
__ADS_1
“Nanti Om jatuh, gimana!” sahut Tian sambil garuk-garuk kepala.
“Ha ... ha ... Tian pintar!” kata Alex.
“Tian ...!” seorang teman sudah memanggil Tian.
“Om ... Tian pergi ke lapangan dulu, ya!” ucap Tian.
“Ya, selamat bersenang-senang!” sahut Alex.
Tian pun segera menghampiri teman-temannya.
Malam pun tiba.
“Ma, betul kata Tian. Kalau bubur ayam buatan Mama paling eeenaaaak sedunia. Om Vila juga bilang begitu,” kata Tian.
“Oya!” balas Fey.
Tian mengangguk.
“Pokoknya masakan Mama Tian, good!” kata Tian dengan mengacungkan kedua ibu jarinya.
“Ahh ... Tian, mulai ikut-ikutan ngomong bahasa Inggris,” sahut Fey sambil memeluk anak semata wayangnya.
“Sudah sana tidur, supaya besok Tian tidak bangun kesiangan.”
“Ma, Tian malam ini ingin tidur sendiri,” kata Tian.
Fey mengenyitkan alis matanya dan bertanya, “Tian berani?”
Tian mengangguk dan mencium Fey.
“Selamat tidur dan mimpi indah, Sayang!” ucap Fey.
Tian menuju kamar Tio yang telah kosong.
Siang itu, Tian pulang sekolah tampak tak bersemangat.
“Hai, Tian!” sapa Alex.
“Hai!” Tian sapa balik.
Tian terduduk lesu di lantai teras villa, ia menundukkan wajahnya. Membuat Alex iba melihatnya, ia duduk di samping Tian.
“Hari ini kok, Tian lesu?” tanya Alex.
“Tian lagi sedih, Om!” jawab Tian.
“Sedih karena apa?” tanya Alex.
“Om Vila punya papa?” Tian tanya balik.
“Punya! Kenapa?” Alex tanya balik.
“Sepertinya Tian sendirian yang tak punya papa” jawab Tian.
“Itu enggak benar, Ian! Ada anak yang punya orang tua lengkap, ada yang punya mama saja atau papa saja. Yang tak punya orang tua sama sekali, juga ada!” kata Alex.
“Sungguh, Om?” Tian menatap wajah Alex.
Alex mengangguk sambil memeluk tubuh kecil Tian.
“Tian jangan sedih lagi.” Alex menepuk punggung Tian.
“Ya, Om! Tian pulang, Om!” jawab Tian.
__ADS_1
Tian pun berlalu dari hadapan Alex, ia memandang punggung mungil Tian tampak tak bersemangat.
Malam itu, Tian memeluk Fey manja.
“Ma, Tian boleh tanya?” tanya Tian dengan wajah serius.
Fey memandang wajah Tian lekat-lekat, ia menangkap raut wajah serius tergambar jelas di wajah Tian.
“Mau tanya apa, Sayang?”
“Tian punya papa, Ma?” tanya Tian.
Deg.
Jantung Fey berhenti berdegup, ia tak menyangka Tian akan bertanya sekarang, di saat ia belum siap menjawab. Fey terdiam.
“Ma ... Mama!” suara Tian menyadarkan Fey.
“Ya, Sayang!” sahut Fey.
“Mama jawab pertanyaan Tian!” kata Tian.
“Te–te–tentu Tian punya papa,” sahut Fey tergagap.
“Kok, Tian tak pernah lihat papa Tian?” tanya Tian.
“Karena papa Tian sedang pergi kerja jauh, cari uang buat Tian,” sahut Fey.
“Cari uang untuk Tian?” tanya Tian.
“Iya, untuk Tian!” jawab Fey.
“Tapi Tian tidak minta uang, Tian tak ingin papa pergi jauh untuk cari uang untuk Tian. Tian ingin papa kerja di sini saja,” kata Tian.
Fey tak bisa berkata-kata lagi, ia memeluk Tian. Fey berusaha sekuat tenaga menahan air matanya tak jatuh.
“Tian sudah malam, besok Tian harus sekolah sebaiknya Tian sekarang tidur,” kata Fey dengan suara gemetar.
“Ma, kenapa suara Mama jadi aneh?” tanya Tian.
“Mama enggak apa-apa, hanya tenggorokan mama sakit,” jawab Fey sambil melepaskan pelukan dan memalingkan wajahnya agar Tian tak melihat wajahnya.
Namun Tian anak pintar, ia tahu sesuatu terjadi pada Fey. Tian menatap wajah Fey.
“Mama sedih karena Tian tanya papa?” tanya Tian.
Fey menggeleng.
“Mama rindu papa?” tanya Tian.
Fey mengangguk.
“Tian minta maaf karena sudah buat Mama sedih,” ucap Tian dengan wajah sedih.
“Tian enggak salah, mama yang salah seharusnya mama yang minta maaf" sahut Fey.
Fey merasa bersalah telah membuat Tian dan Alex berpisah.
“Tian sebaiknya tidur, besok Tian harus sekolah,” kata Fey sambil mencium Tian.
Tian mengangguk sambil menuju kamarnya. Setelah Tian berlalu, Fey menangis lirih, Fey tidak mau Tian melihat dirinya menangis.
Malam itu pun berlalu.
Suasana pagi itu tak seperti biasanya, setelah Tian berangkat, Fey memandang punggung Tian.
__ADS_1
“Kasihan Tian! Karena aku, Tian tumbuh tanpa figur seorang ayah,” tak terasa air mata Fey mulai menetes.