Cinta Fey

Cinta Fey
Putus


__ADS_3

“Tanpa kau suruh, aku dengan senang hati pergi dari rumah yang lebih pantas di sebut kandang,” hina Sandra.


Sandra melenggang keluar rumah Fey. Tubuh Fey limbung.


Mengapa pandangan mataku kabur? ... Mengapa gelap? batin Fey.


Tara menangkap tubuh Fey yang lunglai tak sadarkan diri.


“Fey ... Fey ...!” Tara menepuk lembut pipi Fey.


Tara menangis, ia melihat pipi kiri Fey yang masih memerah tanda tapak tangan, bekas tamparan. Setelah Fey tersadar, Fey menangis.


“Maaf ... Fey! Ini salahku, kalau saja aku tak ajak Alex pasti ....”


“Kenapa kamu tak bilang, Ra?” Potong Fey.


“Apa maksudmu?”


“Kalau kau bilang, Alex punya kekasih. Aku ... aku ....”


Fey tak sanggup melanjutkan kata-katanya, ia menangis. Saat hatinya mulai berbunga seketika harus menjadi kering dan terburai tertiup angin.


Kalau kau bilang Alex ada yang memiliki, akan kupendam cinta ini.


“Maaf, Fey! Aku pikir wajar. Kita pergi ramai-ramai. Bukan hanya kau dan Alex saja,” kata Tara.


“Tapi kau lihat foto-foto ini, Ra! Hanya foto kami berdua.”–Fey mengacak-acak semua foto yang tersebar di lantai.–“Ini semua hanya foto kami berdua.”


Tubuh Fey lunglai, ia kini merasa seperti seorang ****** perebut pacar orang. Fey tak kuasa menahan air matanya.


“Aku enggak kira, perbuatan Sandra sangat hina. Aku harus bilang Alex.” Tara mengepal tangan menahan marah.


Fey menahan Tara. Tara menatap Fey, Fey menggelengkan kepalanya.


“Jangan, Ra!” pinta Fey.


“Tidak Fey! Keluarga kami sebenarnya tak setuju dengan hubungan mereka. Maaf Fey, menyeretmu dalam masalah ini,” ucap Tara.


Tara memunggut semua foto-foto tersebut dan langsung meninggalkan rumah Fey. Fey berderai air mata, ia menangis menyesali diri.


---


Tara langsung masuk kamar Alex.


“Gila kau! Main masuk aja! Gimana kalau aku lagi telanjang,” teriak Alex.


Alex yang berbaring di atas ranjang langsung beranjak.


“Pacar kau yang gila!” teriak Tara lebih galak.


“Hai! Kalau ngomong di saring!” Alex hilang kesabaran.


“Nih, saring!” ujar Tara.


Tara melempar foto-foto itu ke ranjang Alex.


“Apa ini!” Mata Alex membelalak.


“Lah! Yang kau lihat apa!” Tara berucap sengit.


“Kau dapat dari mana?” Tangan Alex mengambil satu persatu foto dan melihatnya.


“Dari Sandra!” ujar Tara.


“Bohong! Sandra belum pulang!” Alex menatap Tara.


“Hah! Jangan-jangan kau yang di bohongi. Dia bilang pergi ke luar negeri hanya alasan saja.” Tara kian memprovokasi.

__ADS_1


“Tidak, kau jangan mengada-ada,” teriak Alex.


“Mengada-ada apanya. Aku bertemu dia di rumah Fey!” ujar Tara.


“A–a–apa! Sandra ke rumah Fey!” Alex tergagap.


“Ya, ke rumah Fey. Dia bertingkah gila di sana!” kata Tara.


Tanpa menghiraukan Tara yang masih ngoceh. Alex langsung ambil kunci mobil. Secepat kilat pergi untuk menemui kekasihnya.


---


Mobil Alex langsung masuk halaman rumah Sandra yang memiliki luas hampir sama besar dengan rumahnya. Alex langsung naik ke lantai atas, menuju kamar Sandra. Rupanya Alex sudah terbiasa keluar masuk rumah Sandra. Ia menemukan sosok Sandra di sana.


“San! Kau sudah pulang, Sayang!” sapa Alex.


Alex langsung memeluk Sandra untuk melepas rindu. Sandra menghempaskan tangan Alex.


Plak.


“Kau!” pekik Alex.


Pipi Alex terasa panas akibat tamparan Sandra.


“Apa! Enggak terima!” Sandra menantang.


“Apa salahku?” Alex minta penjelasan.


“Bukankah, kau selingkuh dengan wanita murahan itu!” tuding Sandra.


“Itu tak seperti yang kau lihat. Kami pergi ramai-ramai,” kata Alex.


“Ya, ramai-ramai! Lama-lama saat sepi kau bawa dia ke ranjang!” kata Sandra.


“Kau sungguh keterlaluan, San! Kau menuduhku yang tidak-tidak!” bentak Alex.


“Tak kusangka, kau memata-matai kami!” kata Alex.


“Kalau aku tak mata-mata kau. Kau main gila di belakangku, aku tak mungkin tahu. Kita putus!” kata Sandra dingin.


“Apa, putus! Kau gila!” suara Alex meninggi.


“Ya, gila! Akan lebih gila lagi kalau aku enggak putus. Apalagi aku di bandingkan dengan wanita murahan itu!” teriak Sandra.


Sandra lari keluar rumah dan pergi memacu mobilnya. Alex menyusul Sandra dengan mobilnya. Keduanya saling salip dan.


Duuaar!


---


Telepon di rumah Candra berbunyi.


“Halo.”


“Apa betul ini rumah Alexander Wijaya.”


“Ya ... betul. Saya adiknya.”


“Kami dari kepolisian ...,”


“Ba–baik Pak, saya akan segera ke sana. Terimakasih.”


Tara lemas


“Ada apa, Non?” tanya Nah.


“Bi, tolong ambilkan air minum!” pinta Tara.

__ADS_1


Tara mengatur nafasnya. Tak lama Nah kembali dengan segelas air di tangannya.


“Minum, Non!” Nah memberi segelas air.


“Alex kecelakaan, Bi.” Tara beranjak.


Nah menutup mulutnya.


“Ya ... Tuhan,” ucap Nah lirih.


Tara pergi ke kamar Anna, tak lama Anna keluar dengan air mata berderai.


“Bi, Ara sama mama, pergi dulu!” kata Tara.


“Iya ... ya ... Non!” jawab Nah cemas.


Tara memapah Anna yang berjalan lemas. Mereka pergi dengan pak Mul supir pribadi mereka.


---


Di ruang IGD, tangis Anna pecah setelah melihat Alex terbaring tak sadarkan diri dengan luka menggangga di dada.


Tara masuk ke ruangan dr. Roy yang sudah lama menjadi dokter keluarga dan juga teman Candra, papa Tara.


“Bagaimana Om, keadaan Alex?” tanya Tara dengan harap-harap cemas.


“Alex secara keseluruhan baik hanya perlu secepatnya di operasi karena dadanya terluka terkena kaca mobil dan Alex banyak kehilangan darah jadi butuh transfusi,” jelas dr. Roy.


“Tolong Alex, Om!” mohon Tara.


“Om akan melakukan yang terbaik, Ra!” ujar dr. Roy.


Tara kembali ke ruang IGD, Anna bertengkar hebat dengan Sandra.


Tara segera menarik tangan Sandra keluar dari ruang IGD dan menghempaskan di luar sana.


“Sebaiknya kau pergi! Keberadaanmu hanya membuat mama emosi dan pasti menganggu pasien lain di sini,” usir Tara.


Tanpa banyak bicara, Sandra memang sedari tadi ingin pulang, tanpa pikir panjang langsung pergi.


Setelah mengurus prosedur operasi, Alex segera masuk kamar operasi. Tara dan Anna yang masih terisak menunggu di depan kamar operasi.


“Kalau saja papamu, mau mendengar ucapan mama. Hal ini tak akan terjadi,” kata Anna di sela-sela isak tangisnya.


Tak lama suster keluar dari ruang operasi.


“Maaf, keluarga pasien Alex!”


“Saya, Sus!”


“Saudara Alex masih kekurangan darah. Apa ada keluarga yang golongan darahnya O?” tanya suster.


“Ambil darah saya, Suster!” ujar seseorang di belakang Tara.


“Fey!” teriak Tara.


Fey tak menghiraukan sapaan Tara, Fey langsung menghampiri suster.


“Mari ikut saya, untuk di tes dulu!”


“Fey ...!” Tara memegang lengan Fey.


“Ra ... kita bicara nanti saja, yang penting sekarang kita tolong Alex dulu!” kata Fey.


Tara mengangguk dan melepaskan lengan Fey. Setelah lama menunggu, Tara melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Hampir dua jam Fey pergi, berarti darah Fey cocok.

__ADS_1


“Ma, sudah hubungi papa?” tanya Tara baru menyadari.


__ADS_2