Cinta Fey

Cinta Fey
Permintaan


__ADS_3

“Tak usah sungkan, Tante! Kebetulan darah Fey cocok dengan darah Alex,” balas Fey.


Makanan yang di pesan tiba, merekapun segera menikmati makan siang mereka diselingi obrolan santai. Anna mulai masuk ke inti dari maksud pertemuan ini.


“Fey ... tante mau bicara serius.” Anna mulai buka pembicaraan.


“Ya, Tante,” ujar Fey.


“Sebelumnya tante minta maaf, sudah lancang. Tante sangat berat mengutarakan ini namun tante enggak punya pilihan lain,” ucap Anna lirih.


“Tante bicara saja terus terang, Fey enggak apa-apa!” balas Fey.


“Begini, Fey! Gimana, ya!” Anna bimbang.


Fey melihat keresahan dari raut wajah wanita yang masih terlihat cantik di usianya. Fey mengenggam tangan Anna, menepuk punggung tangannya. Mata Fey yang besar mengedip.


“Fey akan mendengarkan, apapun yang Tante Anna katakan,” kata Fey


Kata-kata Fey membuat Anna memiliki keberanian untuk mengutarakan maksudnya tanpa ragu lagi.


“Fey! Tante kemari untuk menyampaikan permintaan Alex. Alex ingin menikahi Fey.” Anna menghembuskan nafas lega.


Apa yang mengganjal dalam tenggorokan keluar sudah. Kini Fey tercengang, mendengarnya.


Apa! Alex ingin menikahiku? Mengapa? batin Fey.


“Tante tak memaksa Fey harus menerima Alex karena tante tahu kini Alex memiliki kekurangan,” ucap Anna.


Sesaat Fey merasakan kaki tak berpijak pada bumi. Seolah jiwanya melayang, entah kemana. Ia sepersekian detik tak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa mendengarkan apa yang keluar dari mulut Anna. Ia hanya bisa menelan tanpa bisa mencerna apa yang Anna katakan.


“Maaf, Fey! Anggap saja kau tak mendengar apa yang tante katakan tadi, sekali lagi maafkan tante! Maaf, tante pergi dulu,” ucap Anna.


Anna segera beranjak dari kursi dengan ringan setelah kata-kata yang tercekat di tenggorokan kini telah keluar dari mulutnya. Fey menahan tangan Anna yang akan beranjak pergi.


“Fey akan pertimbangkan, Tante!” ucap Fey.


Anna kembali duduk, ia menatap mata wanita muda di hadapannya.


“Sungguh, Fey!” Mata Anna berkaca-kaca.


Fey hanya bisa mengangguk.


Fey tak sanggup menolak keinginan wanita di hadapannya.


“Beri Fey waktu, Tante,” kata Fey.


Anna memeluk Fey dan menangis. Rasanya beban di pundak setengah sudah terangkat.


“Pasti ... Sayang! Makasih, Fey! Makasih, Sayang,” ucap Anna menepuk punggung tangan Fey.


Anna menangis tiada henti dengan tangis air mata bahagia. Ada secercah harapan di hati Anna.


---


Menjelang malam Fey termenung.

__ADS_1


Mengapa ia ingin menikahiku. Bukankah ia amat membenciku. Aku masih ingat dengan jelas, apa yang ia katakan di rumah sakit. Apa ia ingin menghukumku? Apa yang kau rencanakan padaku, Lex? batin Fey.


---


“Fey! Apa kau salah minum obat?” kata Amanda terkejut.


“Enggak, Ma! Fey benar-benar sadar mengatakan ini,” ucap Fey.


“Tidak ... Fey! kau tidak bisa lakukan ini pada mama ... papa. Kau harapan kami satu-satunya. Kalau kau menikah dengan Alex, bagaimana dengan masa depanmu. Pokoknya mama tak akan merestui,” kata Amanda keras.


“Ma, Fey enggak pernah minta apa-apa. Tolong kabulkan, Ma!” mohon Fey.


Fey bersimpuh di hadapan wanita yang telah melahirkannya. Mereka berdua menangis menghadapi dilema ini.


“Kau boleh minta apa saja, tapi jangan yang satu ini. Sudah! Sebaiknya pembicaraan ini cukup sampai di sini,” ujar Amanda.


Amanda meninggalkan Fey sendiri, Amanda menangis di kamar.


Mengapa kau ingin menikahi pria seperti Alex dengan kondisi seperti sekarang. Tidak ini tak boleh terjadi! batin Amanda.


---


Amanda memanggil Tara ke rumahnya, saat Fey tak ada di rumah.


“Tara, tante mau menyampaikan sesuatu. Tante tak bisa menyerahkan Fey pada Alex, Kamu tahu Fey anak tante satu-satunya,” ucap Amanda dengan emosional.


“Maaf, Tante, Ini soal apa?” tanya Tara binggung.


“Alex akan menikahi Fey,” kata Amanda dengan derai air mata.


“Ya, Tuhan!” Tara terkejut.


“Tante, Ara minta waktu untuk bicara dengan mereka. Ara akan berusaha,” ucap Tara.


---


“Halo Fey ... kau di mana?”


“Di kampus.”


“Tunggu aku di situ! Aku otw! Bye.”


“Bye.”


Begitu sampai, Tara langsung menjitak kepala Fey.


“Aduh! Sakit, Ra!” Fey menggosok-gosok kepalanya.


“Biar kau sadar!” bentak Tara.


Fey tahu alasan Tara melakukan itu, ia pasti sudah tahu rencana Alex.


“Maaf, Ra! Aku enggak bisa,” ujar Fey.


“Apa yang enggak bisa! Kamu bisa!” teriak Tara.

__ADS_1


“Aku enggak mungkin menancapkan pisau dua kali di luka yang sama, Ra! Anggap aku menebus kesalahan,” ucap Fey.


“Menebus kesalahan! Apa maksudmu?” Tara tak mengerti.


“Segala akibat kejadian ini karena aku,” kata Fey.


“Fey! Jangan jadi beban. Aku yang punya ide pergi, itu karena aku. Bukan kau!” tegas Tara.


“Tidak, Ra! Ini bukan semata untuk Alex tapi untukku juga. Aku sudah bertemu Alex jauh sebelum kejadian Alex memergoki aku saat di depan kamarmu. Kau masih ingat saat kita batal makan di resto Japanese. Saat itu aku melihat Alex dan aku sudah jatuh cinta padanya. Tapi aku tak tahu dia kakakmu dan memiliki pacar. Aku baru tahu tentang Sandra setelah pulang dari puncak. Kalau aku tahu Alex punya pacar, aku akan menjauh darinya,” kata Fey.


Tara jadi teringat Alex memang bilang melihat dirinya.


“Sebenarnya Sandra penyebab semua ini. Kalau dia tidak berlebihan menanggapi ini, semua tak akan terjadi,” ucap Tara.


“Sudahlah, Ra! Ini sudah terjadi. Kita semua telah menelan pil pahit. Sekarang waktunya kita minum untuk menghilangkan rasa pahit,” balas Fey.


“Bagaimana dengan orangtuamu?” tanya Tara.


“Serahkan padaku, Ra! Mereka butuh waktu,” jelas Fey.


Tara mengangguk.


---


Tara mendatangi kamar Alex.


“Lex, aku sudah tahu soal Fey,” ucap Tara.


“Lantas ...!” Alex tak bergeming dari layar ponselnya.


“Bukankah kau membencinya. Mengapa kau ngotot ingin menikahi Fey?” tanya Tara.


“Dia wanita satu-satunya yang aku kenal saat ini!” jawab Alex dingin.


“Kalau kau anggap ini, hanya perlarian. Lebih baik jangan Fey!” Tara tegas.


“Kenapa?” Alex menatap Tara.


“Ia terlalu baik untuk kau sakiti,” kata Tara lirih.


“Aku tak menyakiti dia, aku hanya menikahinya. Aku tak memaksanya, dia bisa menolak jika tak suka,” kata Alex meradang.


“Jika menikah, kalian tak bahagia?” tanya Tara.


“Kami bisa bercerai!” jawab Alex.


“Lex! Kau tak punya perasaan, ya! Kau egois, sesimple itu arti pernikahan bagimu! Kalau aku, adikmu diperlakukan seperti Fey, apa kau akan terima!” ucap Tara.


Dengan perasaan kesal, Tara meninggalkan Alex. Tara sedih menghadapi situasi ini.


Maafkan aku, Ra! batin Alex.


---


Di dalam kamar Tara hanya bisa mengumpat diri sendiri.

__ADS_1


Fey ... tak tahukah kau apa yang akan kau masuki. Ini neraka Fey! batin Tara.


Tara kesal dengan Alex dan kebodohan Fey.


__ADS_2