
Tio merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia tak bisa memejamkan matanya, pikirannya melayang-layang.
Ada yang menggelitik hati Tio, melihat sosok Fey.
“Cantik,” guman Tio.
Tio terkenal cuek untuk urusan wanita. Setiap Heni menyinggung pernikahan, Tio selalu menghindar. Baru kali ini sosok Fey mampu mengusik Tio.
Malam telah larut namun Tio masih gelisah, ia hanya bolak balikkan tubuh di atas ranjang, Tio baru bisa tertidur saat pagi menjelang.
---
Saat pagi hari, Tio keluar dari kamarnya.
“Pagi, Iyo!” sapa Fey.
“Eh ... ya, pagi!” Tio terkejut.
“Mama sudah berangkat?” tanya Tio.
“Iya, baru saja! Kalau kau mau sarapan. Sudah ada di meja makan. Aku tinggal masuk dulu,” sahut Fey.
Fey meninggalkan Tio di ruang tengah.
“Hai ... Sayang! Sudah bangun, jagoan mama!” sapa Fey.
“Sayang, semalam mama pikir nama buat Sayang. Sayang suka enggak kalau namamu, Tian Alfey Wijaya,” ucap Fey.
“Eh ... kau berkedip, artinya kau suka, ya!” kata Fey lagi.
“Mandi, yuk! Mama sudah siapkan air hangat untukmu,” ucap Fey.
Fey mengendong Tian keluar kamar menuju kamar mandi. Banyak yang Fey ucapkan untuk Tian, walau Tian hanya merespon dengan gerakan dan kedipan mata. Fey memandikan buah hatinya dengan hati-hati dan Tio memperhatikan Fey.
Kadang-kadang Tio ikut tersenyum dengan tingkah laku Fey mengajak bicara anaknya.
Setelah selesai.
“Nah, sekarang Tian sudah cakap,” puji Fey.
“Boleh, aku menggendongnya?” kata Tio.
Fey mengangguk.
“Sayang ... om Iyo ingin gendong Tian, ya!” Fey menyerahkan Tian pada Tio.
“Halo, siapa namanya?” Tio mencium aroma tubuh Tian.
“Tian,” sahut Fey.
“Tian, baumu sangat harum.” Tio menyerahkan kembali kepada Fey.
“Iyo ... aku masuk dulu.”
Fey masuk kamar membawa Tian dan menyusuinya hingga tertidur. Fey dengan berlahan meletakkan Tian dalam boks bayi.
Tak lama, Fey keluar mencuci perangkat makan Tio. Baru selesai mencuci, Tio mendekati Fey.
“Fey! Boleh aku bertanya sesuatu?” kata Tio.
Fey mengangguk.
“Bagaimana kau bisa berpisah dengan suamimu?” tanya Tio.
“Boleh aku tak menjawabnya,” jawab Fey.
“Sorry. Bukan maksudku ingin tahu kehidupan rumah tanggamu. Tapi terus terang aku tertarik padamu!” ucap Tio.
“Kau ...!” sahut Fey.
__ADS_1
“Ya, aku ingin tahu lebih jauh tentang kau,” kata Tio lagi.
“Maaf!” Hanya itu yang keluar dari mulut Fey.
“Kenapa, kau keberatan?” tanya Tio.
“Untuk apa kau ingin tahu?” Fey tanya balik.
“Seperti tadi aku bilang. Kau menarik perhatianku,” sahut Tio.
“Maaf! Sebaiknya kita akhiri pembicaraan ini, cukup sampai di sini,” kata Fey.
Fey bangkit meninggalkan Tio, dengan sigap Tio menahan lengan Fey.
“Fey! Kau jangan tersinggung. Aku sungguh-sungguh!” kata Tio.
“Maaf, Iyo!”
Fey melepaskan pegangan tangan Tio, tangan Tio pun terlepas.
Apa ia menyimpan luka di hati! batin Tio.
Fey segera masuk ke kamar Heni, ia duduk di sebelah Tian yang terlelap tidur.
Perasaannya campur aduk tak karuan. Fey tak tahu harus bagaimana menghadapi Tio yang secara terang-terangan menawarkan cinta yang baru untuknya.
Sejak itu Fey menjadi canggung terhadap Tio membuat Fey lebih baik menghindari Tio, sebaliknya Tio bersikap biasa saja.
---
Keesokan harinya saat Heni pergi ke pondok.
Tio mencari Fey ke kamar Heni, Tio mengetuk pintu kamar Heni.
Fey membuka pintu kamarnya.
“Boleh, aku masuk?” tanya Tio.
Fey mengekor Tio menuju ruang tengah, mereka duduk di sana.
“Sorry kalau kemarin sikapku membuatmu tak nyaman,” ucap Tio.
Fey hanya diam.
“Aku orangnya suka langsung terus terang. Mungkin keterusteranganku membuatmu merasa aku memojokkanmu,” Tio menjelaskan.
“Enggak apa-apa, Iyo! Lagipula itu hak kau karena kau pemilik rumah ini. Kau berhak tahu siapa aku yang numpang di rumahmu,” kata Fey.
“Bukan, seperti itu Fey! Aku benar- benar ingin mengenalmu lebih pribadi lagi. Aku serius tertarik padamu,” ucap Tio.
“Kalau kau tertarik padaku, kau salah orang. Aku tak pantas untukmu!” sahut Fey.
“Pantas tak pantas bukan kau yang menentukan. Jika kau masih terikat perkawinan mengapa kau di sini sendiri. Melahirkan anakmu tanpa ada keluarga?” tanya Tio.
Fey hanya menunduk kemudian menangis. Tio mendekati Fey dan memeluknya. Fey tak menolak.
“Menangislah ... agar kau lega,” bisik Tio.
Setelah beberapa saat.
Fey berhenti menangis, Tio melepaskan pelukannya. Tio memegang wajah Fey lalu menghapus air matanya dengan kedua tangannya.
“Kau sudah merasa baikan?” tanya Tio.
Fey hanya mengangguk.
Tio kembali duduk ke tempat semula.
“Kalau kau enggak mau cerita, ya enggak apa-apa! Aku tak memaksa, tolong jangan menghindari aku lagi,” ucap Tio.
__ADS_1
Tio masuk kamar meninggalkan Fey yang terdiam, seorang diri di sana.
Maaf, tak ada yang bisa aku katakan, batin Fey.
Fey kembali ke kamar dan memeluk Tian dengan menitikkan air mata.
Kata-kata Tio tadi sangat menohok hatinya.
Iyo benar! Aku mengantar Tian ke dunia ini hanya seorang diri.
Fey mencium dan mendekap buah hatinya.
“Maafkan mama, Sayang!” ucap Fey lirih.
Malam itu pun berganti pagi.
“Pagi, Fey!” sapa Tio.
“Pagi, kau sudah bangun?” tanya Fey.
“Dari subuh aku sudah bangun, antar mama ke bandara. Ada urusan mendadak di Medan,” kata Tio.
“O ....” kata Fey singkat.
“Kau tak usah repot-repot siapkan sarapan, ini sudah aku belikan,” kata Tio.
“Ya, kau makan duluan. Aku mau pergi sebentar,” sahut Fey.
Fey mengendong Tian pergi.
“Ya,” kata Tio.
---
Bagaimana ini! Tak ada ibu membuatku canggung hanya berdua dengan Tio, batin Fey.
Fey mengetuk pintu kamar Tio.
“Iyo ... makan siangnya sudah siap!” kata Fey.
Pintu kamar itu terbuka sedikit karena tidak tertutup sempurna. Tak ada jawaban dari dalam kamar itu, Fey melihat ke dalam kamar Tio.
Kosong? Kemana dia? batin Fey.
Fey melihat ranjang Tio yang masih berantakan, Fey langsung merapikan ranjang dan beberapa barang yang berantakan di meja.
“Rapi, sudah!” ucap Fey.
Fey berjalan mundur untuk melihat hasil kerjanya.
“Makasih!” sahut Tio.
Tio telah berdiri di ambang pintu kamar memperhatikan apa yang telah Fey lakukan di kamarnya.
Fey terkejut, ia tak bisa langsung keluar kamar itu karena Tio berdiri di ambang pintu keluar.
“Tolong minggir, aku mau lewat!” kata Fey.
Tio memberi jalan hanya memiringkan tubuhnya. Dada Fey yang kian menonjol karena menyusui, membuat dada mereka saling bersinggungan.
Wajah Fey merah merona, demikian pula dengan Tio namun ia segera menguasai diri.
“Hm ... kau mau makan siang? sudah aku siapkan,” kata Fey tanpa menatap Tio.
“Ya,” sahut Tio.
Tio mengekor Fey menuju meja makan. Fey mengambilkan nasi untuk Tio.
Mungkin ini rasanya, makan di layani oleh istri, batin Tio.
__ADS_1
Mereka makan bersama tanpa bicara, hanya suara sendok dan piring yang beradu.