Cinta Fey

Cinta Fey
Penuh Kejutan


__ADS_3

Seperti kena petir di siang bolong, lamunan Fey buyar seketika.


“Eh ... enggak apa-apa, Bi! Maaf, Ini pesanannya,”–kata Fey.– “saya permisi, Bi.”


Fey ingin segera berlalu dari rumah itu. Tiba-tiba mata Fey berkunang-kunang, ia limbung. Nah dengan sigap menangkap tubuh Fey yang terhuyung-huyung.


“Sebaiknya Non, duduk! Sebentar bibi ambilkan air minum, ya!” Nah mendudukkan Fey.


Nah beranjak dari sisi Fey, namun Fey menahan lengan wanita paruh baya itu.


“Eggak usah repot-repot, Bi! Sebaiknya saya pulang, saya panggil teman dulu, Bi.” Fey mengambil ponselnya.


“Iya, Non! Sebaiknya jangan pulang sendiri. Bahaya!” Nah khawatir.


Fey mengangguk pelan lalu ia chat seseorang.


Fey:“Kak Toni, tolong jemput Fey di rumah pak Candra. Jangan beritahu papa, Fey hanya pusing. Makasih, Kak!”


Setelah menunggu 15 menit.


“Kau tak apa-apa, Fey?” tanya Toni.


Toni cemas melihat wajah Fey yang pucat.


Fey menggeleng lemah.


“Ya! Sebaiknya Non di antar pulang Den Toni,” ucap Nah.


Candra salah satu pelanggan setia resto Sony sehingga Nah mengenal baik Toni.


“Ya, Bi Nah! Makasih sudah jaga teman Toni, kami permisi, Bi.” Toni memapah Fey yang berjalan lemah.


“Fey ... kau berkeringat dingin. Sebaiknya aku panggil taxi, ya! Kalau kamu bonceng motor, aku takut kau jatuh,” kata Toni.


“Enggak usah, Kak! Nanti papa tambah khawatir. Tolong antarkan Fey ke rumah, Kak!” pinta Fey.


Tanpa banyak bicara, Toni mengikuti kemauan Fey. Selama perjalanan kepala Fey bersandar pada punggung dan memeluk Toni dengan erat. Toni memegang simpul tangan Fey yang terkadang mengendur.


Apa yang terjadi padamu, Fey! Hingga kau tak berdaya begini.


Tapi semua itu, Toni pendam dalam-dalam dalam situasi ini, tak mungkin ia bertanya. Namun Toni senang setidaknya ia masih bisa menjaga wanita yang pernah menolak cintanya. Tak terasa, mereka telah tiba di depan rumah Fey.


“Makasih, Kak! Tolong jangan bilang papa,” ujar Fey.


“Tenang Fey, kau tak usah khawatir. Tapi wajahmu masih pucat, sebaiknya aku antar kau ke dokter!” pinta Toni.


“Enggak usah, Kak! Aku baik-baik saja. Setelah Fey istirahat, pasti akan membaik. Makasih, Kak!” Fey berusaha tersenyum.


“Tak usah sungkan. Aku pulang, ya!” ucap Toni.

__ADS_1


Akhirnya Toni menyerah, walau ia pergi meninggalkan Fey dengan perasaan tak tenang.


Tampaknya mama pergi, batin Fey.


Fey merebahkan diri di atas ranjang, di tatapnya langit-langit kamar tidurnya dan ia memejamkan matanya.


Apa yang terjadi padaku? Baru kali ini, rasa ini aku alami. Apa ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada orang yang tak kukenal? Bagaimana jika dia, pria brengsek? batin Fey.


Tanpa disadari, Fey tertidur hingga pagi menjelang.


---


“Pagi, Sayang! Sore-sore kau sudah tidur. Apa kau sakit?” tanya Amanda.


“Hah! apa! O ... hanya pusing, Ma! Mungkin tekanan darah Fey lagi rendah,” kata Fey gugup.


“Ya ... saat mama pulang, kau sudah tidur. Sebaiknya kau periksa ke dokter. Bahaya kalau dibiarkan apalagi kalau lagi naik motor,” ujar Amanda.


“Enggak usah, Ma! Nanti Fey makan obat penambah darah saja. Kalau tak membaik baru Fey ke dokter,” kilah Fey.


Bagaimana mau ke dokter ... kalau sakitnya bukan karena penyakit.


“Fey ... nanti makan malam di resto saja. Mama pergi mungkin sampai malam ada di resto, papa ada order pesta. Ini mama sudah siapkan sarapan. Mama pergi sekarang, Sayang,” kata Amanda.


“Ya ... Ma! Hati-hati di jalan,” sahut Fey.


Ting ... ting ... ting.


Entah berapa kali bunyi notifikasi chat yang masuk.


Wah ... gila banyak sekali chat masuk. Ada dari Andra, Vita, Arie. Hm ... paling banyak dari Tara. Kenapa, ya? Sebaiknya aku telepon balik.


Fey menelepon Tara melalui ponselnya.


“Hai ... kemana aja, sih! Dari semalam aku chat ... telepon ... ngga di angkat!”


Fey menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar suara Tara.


“Ada apa, sih Ra! Suaramu bikin telingaku sakit. Baru juga aku telepon ... kau, sudah nyap-nyap gitu!”


“Aku mau minta kau nginap di rumahku! Kemarin mama ... papa mendadak pergi ke luar negeri. Sebenarnya aku berani, sendirian di rumah tapi kalau sudah hujan terus pakai petir. Ya, ampun! Aku takut, Fey!”


“Ha ... ha ... ha ... memang selama ini kalau hujan petir, kamu minta ditemani siapa?”


“Ya, sama teman kecilku. Tapi sekarang dia melanjutkan kuliah di luar kota. Teman dekat ku sekarang, ya kau!”


“Terus ... akhirnya, gimana?"


“Ya ... aku nginap di rumah sepupu!”

__ADS_1


“O ....”


“Kok, cuma o ....”


“Terus aku harus gimana? Sudah kejadian juga, Neng! Lagian kenapa, kau enggak kemari aja?”


“Hm ... tadi aku sudah bilang, call you tapi kamu enggak angkat. Kenapa?”


“Sorry semalam aku pusing ... lalu tidur enggak terasa hingga pagi. Ada hujan petir juga aku enggak tahu.”


Maaf ... Ra! Aku enggak bisa bilang jujur tentang kejadian kemarin, batin Fey.


“Ya ... sudah! Kita hang out, yuk!”


“Kemana?”


“Kemana aja! Aku jemput kau, baru ke rumahku. Aku mau mandi dulu di rumah, maklum semalam pergi cuma pakai piyama doang.”


“Ok ... bye.”


“Bye.”


Setelah 30 menit, Fey telah bersiap di depan rumah saat Tara tiba.


“Kok sepi? Tante Anna mana? Sudah lama aku enggak ketemu,” tanya Tara.


“Mama di resto sampai malam,” jawab Fey.


“Wah kebetulan!” teriak Tara kegirangan kaya dapat lotere.


“Apa!” Fey terkejut hingga menutup telinga mendengar teriakan Tara yang mengguncang dunia.


“Kau nginap di rumahku.” Tara mengedip-ngedipkan mata genit kaya lampu sein.


“Nih ... anak kalau ada maunya, bentar aku packing baju dulu,” ujar Fey.


“Eh ... enggak usah repot-repot. Kau pakai baju aku saja, ukuran kita 11... 12 ... lah. Paling kamu bawa underwear saja, sana cepet, ya! enggak pakai lama!" celoteh Tara.


Setelah Fey siap, mereka pun segera meluncur ke rumah Tara. Mereka bercakap-cakap sepanjang perjalanan, hingga akhirnya mobil Tara masuk area kompleks perumahan elite. Fey tak asing dengan kompleks yang Tara masuki. Mata Fey tak berhenti bergerak.


“Ada apa, sih Fey! Kamu blingsatan begitu duduknya, bikin aku enggak konsen nyetir,” ucap Tara.


“Maaf ... aku kagum dengan rumah-rumah di lingkungan ini.” Fey berbohong.


Tara tersenyum.


Mobil Tara berhenti di sebuah rumah mewah dengan halaman yang luas dan taman yang asri.


Ini rumah penuh kejutan yang sama aku datangi kemarin. Apa dia kakak Tara? sepupu Tara? Kalau adik tidak mungkin, sepertinya ia lebih tua dari Tara. Mobil sport merah pun tak ada di halaman ini. Apa mungkin ...

__ADS_1


__ADS_2