
Fey pernah merasakan kehilangan orang tercinta secara paksa, sehingga ia dapat merasakan apa yang Tio rasakan. Tio baru kehilangan seorang Ibu. Ia pasti rindu pelukan Heni yang hangat. Fey kian mengeratkan pelukannya hingga Tio tertidur. Tio tertidur pulas dalam pelukan Fey. Dengan hati-hati Fey merebahkan kepala Tio di atas sofa, ia mengambil bantal dan selimut untuk Tio. Di pandangnya wajah Tio lekat-lekat.
“Manis,” guman Fey lirih lalu Fey kembali ke kamarnya.
Tio tertidur hingga pagi menjelang, saat Tio membuka mata.
“Pagi!” sapa Fey sambil menyiapkan sarapan di meja makan.
“Pagi! Dari semalam aku tidur di sini?” tanya Tio sambil mengucek kedua matanya.
“Ya, kau langsung tertidur setelah aku isi daya, lagipula mana kuat aku mengangkatmu ke kamar!” canda Fey.
“Maaf!” sahut Tio sambil menggaruk kepalanya.
“Mandi sana, aku siapkan sarapan!” kata Fey.
Selesai mandi, tak lama Tio telah bersiap di meja makan untuk sarapan.
“Fey! Lusa aku pergi, aku akan sering pulang menjenguk kalian,” ucap Tio.
“Terserah kau, Iyo! Ini juga rumahmu. Jangan terlalu memaksakan diri, jika kau lelah. Aku di sini akan baik-baik saja!” balas Fey.
“Aku tak pernah merasa lelah jika bersamamu!” ucap Tio.
“O ... semacam minuman penambah energi, ya!” kata Fey.
“Ya, beda dong! Kau tak bisa buat aku overdosis!” sahut Tio.
“Hah! pagi-pagi sudah gombal!” ujar Fey sambil membersihkan meja makan.
“Namanya juga usaha, Fey!” kata Tio.
Aku takkan lelah meraih hatimu, Fey! batin Tio.
---
Tak terasa malam pun menjelang, Fey baru saja meninabobokan Tian. Fey keluar kamar untuk membersihkan meja setelah makan malam.
“Fey!” panggil Tio.
“Hm ...!” jawab Fey tanpa mengalihkan perhatian.
“Fey!” panggil Tio lagi.
“Ya ...!” jawab Fey kali ini memandang Tio.
__ADS_1
“Gitu, dong! Aku tak merasa di cuek'in!” kata Tio.
Fey hanya tersenyum tipis.
“Fey, ikutlah denganku ke kota?” Tio mencoba bujuk Fey untuk ke sekian kalinya.
Fey menggeleng.
“Aku tanya ... kau jawab jujur! Bagaimana perasaanmu padaku!” tanya Tio.
Fery terdiam.
“Fey lihat aku, apa artinya aku bagimu?” tanya Tio lagi.
Tolong Iyo, jangan kau tanya itu. Aku tak tahu harus menjawab apa? Jujur kau telah mengisi sudut ruang di hatiku namun aku masih menyimpan nama Alex di sebagian sudut ruang hatiku. Aku tak mau menjadi wanita jahat yang melukai hatimu, batin Fey.
Fey menatap wajah Tio, ia segera memalingkan wajahnya. Fey takut Tio membaca isi hatinya melalui tatapan matanya. Fey tak bisa menyakiti Tio karena Tio telah berbuat baik padanya.
“Fey ... mengapa kau memalingkan wajahmu?” tanya Tio.
Fey hanya bisa diam seribu bahasa.
“Kau memiliki perasaan yang sama bukan padaku?” tanya Tio lagi.
Fey beranjak menuju kamar, Tio mengejar Fey dan menahannya.
“Fey!” Tio merentangkan tangan di pintu kamar.
Fey kembali hanya diam tertunduk, rambut Fey yang terikat cepol hingga memperlihatkan tengkuk lehernya. Tio menelan salivanya, ia ingin mengecup tengkuk Fey yang putih mulus.
Tio memegang pangkal leher Fey, tiba-tiba Tio mendaratkan ciuman di bibir Fey. Fey membelalakkan matanya sepersekian detik Fey merasa blank, ia hanya bisa terdiam. Tio mencium bibir Fey dan mengulumnya. Tangan Tio turun, ia mulai meraba dan meremas dada Fey. Tangan Tio menaikkan kaos Fey. Fey menahan tangan Tio, Fey menggeleng namun hasrat telah menguasai Tio. Tio menyeret Fey ke atas sofa dan Tio langsung menindih tubuh Fey. Saat Tio menindih tubuh Fey, Tio melihat air mata Fey mengalir dari sudut matanya yang terpejam.
Tio tersadar, ia mengurungkan niatnya mencumbu Fey lebih lanjut, ia menurunkan kembali kaos Fey. Lalu Tio duduk di samping Fey yang masih terbaring di sofa. Fey terisak di sana.
“Maafkan aku, Fey!” ucap Tio sambil masuk ke kamarnya.
Di dalam kamar, Tio tak henti-hentinya menyesali diri.
Apa yang sudah aku lakukan! batin Tio.
Tio mengacak rambutnya seperti orang frustasi. Tak berbeda dengan Tio, Fey pun merasakan yang sama. Fey terduduk dengan membenamkan wajahnya di antara lututnya. Fey menangis lirih perasaannya campur aduk tak karuan.
Maafkan aku, Lex! Aku tak menjaga hatiku dengan baik, batin Fey.
Malam itupun berganti pagi.
__ADS_1
Seperti biasa pagi itu, Fey sudah berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk Tio.
Tio keluar dari kamar dengan perasaan canggung saat bertemu Fey di sana. Fey telah selesai masak dan kini menyiapkan meja makan.
“Fey!” panggil Tio.
Fey tak menghentikan aktivitasnya hingga Tio menahan tangan Fey.
“Fey!” panggil Tio sekali lagi.
Fey terduduk di sana tanpa menatap Tio, seolah siap mendengar apa yang akan Tio katakan.
“Fey, maaf soal semalam. Aku menyesal, itu karena kau sangat mengodaku. Aku tak bisa menahan diriku saat bersamamu!” kata Tio.
Aku yang seharusnya minta maaf, kalau aku tak plinplan. Kau tak mungkin menaruh harapan padaku. Aku tak tahu harus bicara apa, batin Fey.
“Aku akan menunggu sampai kau siap menerimaku, Fey!” kata Tio keluar rumah untuk menenangkan diri.
Maaf, Iyo! Aku merasa seperti wanita murahan yang menginginkanmu saat aku masih milik Alex! batin Fey.
Perasaan yang Fey rasakan timbul karena keduanya sering bertemu, ada ketergantungan antara mereka sehingga ada rasa simpati yang tumbuh tanpa Fey sadari. Kini di relung hati Fey terbagi dua. Fey tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menangis, ia tak ingin melukai perasaan kedua pria yang mencintainya.
---
Tak lama Tio kembali, tampak ia berlari menuju kamar mandi dengan kaos penuh bercak darah.
“Aaaaaa ...!” Fey teriak histeris.
Tio terkejut, ia menghampiri Fey dan memeluknya.
“Tenang ... Fey ... tenang!” ucap Tio sambil memegang wajah Fey. Namun Fey seperti orang kerasukan, ia menangis meraung-raung. Tio mendekap Fey dengan erat dan berbisik di telinganya.
“Tenang! Fey ... Fey ... ini bukan darahku. Aku baik-baik saja. Hus ... hus ... tenang Fey ... tenang. Aku baik-baik saja,” bisik Tio sambil mendekap Fey di dadanya.
Mendengar apa yang Tio katakan, sedikit demi sedikit Fey mulai tenang.
“Kau dengar degup jantungku. Aku baik-baik saja,” bisik Tio lagi.
Kali ini Fey membalas dengan pelukan erat seperti takut kehilangan Tio. Tio membalas pelukan Fey dan mencium rambut Fey. Tio melepaskan pelukannya. Namun Fey masih gemetaran.
“It's ok, Fey!” kata Tio sambil mendudukkan Fey di sofa.
“Ini bukan darahku, tadi ada kecelakaan. Aku bantu melakukan pertolongan pertama,” ucap Tio sambil menatap wajah Fey.
Ada trauma yang Fey rasakan setelah meninggalkan Alex. Fey pun kehilangan Heni untuk selamanya. Kini Tio datang dengan kaos penuh darah. Ada ketakutan menghantui Fey yang merasa satu persatu orang di sekitarnya akan meninggalkan dirinya.
__ADS_1