Cinta Fey

Cinta Fey
Charger


__ADS_3

Menjelang petang, tak seperti biasanya Tian menangis tiada henti.


“Tian tak enak badan, ya!” kata Fey.


Fey berusaha menenangkan Tian dengan berbagai cara namun Tian tetap menangis, ia mengendong Tian dengan jalan mondar-mandir.


Mengapa tangis Tian tak berhenti? batin Tio.


Tio mendengar tangis Tian dari kamarnya, ia menghampiri kamar di mana Fey dan Tian berada. Tio mengetuk pintu kamar perlahan, Fey membukakan pintu.


“Kenapa Tian?” Tio masuk kamar itu.


“Tian deman, tadi pagi baru imunisasi!” kata Fey.


“Berapa suhunya?” tanya Tio sambil memegang dahi Tian.


“Baru aku ukur 38,” jawab Fey.


Tio mengukur suhu Tian kembali dengan termometer digital.


“Hm ... sudah 39, sudah di beri obat turun panas?” tanya Tio lagi.


“Baru satu jam yang lalu,” jawab Fey.


“Berikan Tian padaku,” pinta Tio.


Fey tanpa banyak tanya, ia memberikan Tian pada Tio. Tio merebahkan Tian di atas ranjang, ia melepas semua pakaian Tian kecuali pakaian dalamnya. Tangis Tian pun mulai mereda.


“Lain kali jika Tian panas, jangan kau kenakan baju yang tebal. Suhu tubuhnya tak akan turun-turun. Biarkan ia seperti itu, suhu panasnya akan menguap maka suhu tubuhnya akan turun.” Tio menjelaskan.


“Makasih, Iyo!” kata Fey sambil memijat pangkal lengannya.


“Sebaiknya kau istirahat,” kata Tio.


“Apa?” sahut Fey.


Tio mengangkat tubuh Fey ala bridal style, ia meronta dari gendongan Tio.


“Diamlah!” hardik Tio dengan mata melotot.


Fey terdiam tak meronta lagi, ia pasrah walau wajahnya merah merona menahan malu. Fey menunduk, ia tak memiliki keberanian menatap wajah Tio. Tio hanya tersenyum geli, melihat ekspresi Fey yang cute.


Tio mengendong Fey menuju ranjang, ia merebahkan Fey di sana dan menyelimuti tubuh Fey dengan selimut. Seperti seorang ayah mengantar anak gadisnya tidur.


“Kau istirahatlah, biar aku yang jaga Tian,” kata Tio.


Fey tanpa banyak kata lagi, ia menuruti apa kata Tio. Fey mencoba memejamkan matanya.


Tio kembali ke boks bayi di mana Tian berada, ia setiap jam mencek suhu tubuh Tian yang tertidur pulas.


Suhu tubuhmu telah normal kembali rupanya! batin Tio.


Tio menghampiri Fey di ranjang, ia merapikan selimut yang Fey kenakan. Tio menatap wajah Fey yang tertidur pulas. Tio menyentuh pipi Fey, Fey mengeliat geli lalu merangsek kembali.

__ADS_1


Kau sangat manis, Fey! Laki-laki bodoh mana yang tega menelantarkan wanita sepertimu? batin Tio.


Tio beranjak dari ranjang tempat Fey tidur. Tio baru tertidur saat pagi menjelang.


Fey membuka matanya, ia mengeliat meregangkan tubuhnya. Fey melihat jam di atas nakas.


Sudah pukul 7 pagi, hm ... Tio masih tertidur.


Fey mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh Tio. Dengan bersimpuh Fey menyelimuti Tio yang tertidur di sofa kecil dengan posisi duduk.


Kau tampan, juga! batin Fey.


Tio membuka matanya, Fey terkejut hingga terjungkal. Fey segera bangkit dari lantai, seolah-olah tak terjadi apa ia berjalan menuju boks Tian.


“Bagaimana Tian?” tanya Tio sambil mengucek kedua matanya.


Fey memegang dahi Tian. “Sudah tidak deman lagi.”


“Syukurlah, aku akan kembali ke kamar!” Tio beranjak dari sofanya.


Fey mengangguk.


“Aduh!” Tio merintih.


Kakinya terasa kebas karena posisi tidur yang tak sempurna membuat ia berjalan tertatih-tatih.


“Aku bantu, Iyo!” kata Fey.


Saat Tio akan merebahkan diri di ranjang, mereka berdua kehilangan keseimbangan hingga mereka berdua oleng dan,


Brug.


Keduanya jatuh di atas ranjang. Tio menindih Fey di atas ranjang. Sepersekian detik keduanya terdiam hanya kedipan mata keduanya yang bergerak. Wajah Fey merah merona, mata Fey berkedip kemudian ia memejamkan matanya saat melihat wajah Tio tepat di atas wajahnya.


“Mengapa kau pejamkan matamu, kau ingin aku menciummu?” tanya Tio.


Fey seperti tersadar mendengar perkataan Tio, ia segera mendorong tubuh Tio. Setelah terbebas Fey segera lari menuju kamarnya. Dengan segera ia menutup pintu kamarnya.


Dibalik pintu kamar, tubuh Fey lunglai. Fey menangis lirih.


Aku rindu kau, Lex! batin Fey merintih.


Tio menghampiri pintu kamar di mana Fey berada. Ia mendengar isak tangis Fey dari balik pintu.


Apa aku ngomong menyinggung perasaannya! batin Tio.


Seharian itu Fey tak keluar kamar, ia canggung menghadapi Tio. Apalagi keduanya hanya tinggal berdua di rumah itu tanpa kehadiran Heni.


---


Saat malam menjelang, suasana rumah sangat sepi. Fey memberanikan diri keluar kamar.


Tampaknya Tio telah tertidur, batin Fey.

__ADS_1


Fey menuju dapur untuk mengambil segelas air, ia meneguk air yang terasa sejuk membasahi tenggorokannya.


“Sudah kukatakan, jangan pernah menghindariku!” ucap Tio.


Tio tampaknya menunggu Fey di sudut ruang tengah. Fey terkejut, ia bergegas menuju kamar. Tio dengan sigap menangkap tangan Fey, membuat Fey tertahan langkahnya.


“Fey!” panggil Tio.


“Kau merasa sesak melihatku? Bilang Fey, hingga kita tak saling menyakiti!” Tio melepas tangan Fey.


Fey menahan tangan Tio.


“Ini rumahmu, biar aku yang pergi!” kata Fey.


“Kau akan pergi kemana bersama Tian?” Tio menatap tajam.


Fey terdiam, lidahnya kelu.


“Jangan setiap ada masalah kau pergi. Pergi tak akan menyelesaikan masalah. Tanpa tujuan pasti, kau akan buat Tian menderita.” Tio menatap Fey tajam.


Kenapa aku tak punya pikiran ke situ, batin Fey.


“Jadikan aku pengisi dayamu,” kata Tio.


“Apa maksudmu!” Fey dengan raut wajah bingung.


Tio menarik tubuh Fey dalam pelukannya. Fey tak menolak, Tio makin mempererat pelukannya.


“Jadikan aku charger saat kau lemah.” Tio membelai rambut Fey.


Fey tanpa sadar melingkarkan tangan di pinggang Tio. Fey mendengar degup jantung Tio seperti ia mendengar degup jantung Alex. Tio mencium aroma rambut Fey yang wangi.


“Fey, tak bisakah kau jujur padaku? Aku ingin tahu apa yang terjadi padamu?” kata Tio.


Fey hanya menggeleng di dada Tio.


“Aku tahu sesuatu telah terjadi! Karena kau terlalu baik untuk di sia-siakan. Atau kau menikahi laki-laki bodoh yang meninggalkan wanita sebaiknya kau!” ucap Tio.


Banyak kata yang Tio lontarkan namun tak sedikitpun kata yang keluar dari bibir Fey. Lidah Fey kaku tak mampu mengucapkan sepatah katapun.


“Aku akan menunggu sampai kau siap bicara. Fey, rasa yang kau hadapi harus kau hadapi bukan di hindari!” kata Tio.


Fey meregangkan tangannya, ia menatap Tio.


“Makasih, Iyo! Kau membuatku tak merasa sendiri lagi!” kata Fey.


“Tak usah sungkan, aku masuk kamar dulu.” Tio meninggalkan Fey sendiri di sana.


Tio bergegas masuk kamar, ia mengelus dadanya yang berdebar kencang.


“Hanya kau yang mampu menggetarkan hatiku, Fey!”


Tio membawa malam itu segala rasa bercampur aduk.

__ADS_1


__ADS_2