
“Maaf, Den! Ini non, temannya non Ara. Semalam nginap di sini karena ada barang yang ketinggalan, jadi non kemari, mau ambil barang yang tertinggal.” Nah menjelaskan.
“Huh! Gitu aja kok, ribet ngomongnya. Bikin aku emosi! Kukira rumah ini kemasukkan maling. Untung kau perempuan coba kalau kau laki-laki, sudah aku pukul!” kata Alex ketus.
Alex tanpa rasa bersalah, melenggang pergi meninggalkan Fey yang terguncang. Fey mengenggam tangannya dengan erat hingga terlihat jelas garis jari menapak kemerahan di kulit putih bersih Fey. Air mata Fey tak terbendung lagi, Fey menangis.
Hati Nah tak tega melihat Fey. “Maafkan den Alex, Non. Den Alex galak tapi orangnya baik.”
“O ... hiks ... enggak ... enggak ... hiks ... enggak ... apa-apa, Bi! Saya yang salah,” jawab Fey terisak.
Fey shock! Selama 18 tahun baru kali ini, ia di bentak orang, kedua orang tua Fey pun tak pernah melakukan. Air mata Fey terus mengalir, bagai air terjun yang meluncur bebas di kedua pipi Fey.
“Saya permisi, Bi!” kata Fey.
Nah hanya bisa memandang punggung Fey yang kian menjauh.
Kasihan non.
---
Fey langsung masuk kamar dan menangis lirih di sana. Fey tak ingin Amanda tahu apa yang baru ia alami. Tubuh Fey masih gemetar, mengingat apa yang dia katakan. Fey mengutuk diri sendiri, hati Fey hancur oleh laki-laki yang membuat jantungnya berdetak kencang.
Apa? adik! Ternyata dia kakak Tara, ya, Tuhan.
Fey mengigit bibirnya kuat-kuat saat ia ingin menangis keras, ia hanya bisa menumpahkan bendungan air matanya di balik bantal dengan suara kian terisak menyesakkan dada.
---
Nah membawa kopi dan camilan untuk Alex yang duduk di teras belakang.
“Gadis tadi, kemana?” tanya Alex.
“Sudah pulang, Den,” jawab Nah.
“Sering kemari?”
“Tidak Den, baru kemarin.”
Saat Alex tak bertanya lagi, Nah pun segera kembali ke dapur.
Alex senyum-senyum sendiri saat membayangkan kejadian tadi. Masih jelas di mata Alex, bagaimana ekspresi Fey. Alex merasa senang melihat kejadian tadi seperti hiburan baginya.
Dia menangis! Kalau Tara tahu, bagaimana ini? guman Alex.
Tiba-tiba suasana hati Alex berubah seperti cuaca. Alex garuk-garuk kepala walau tak merasa gatal, rasa khawatir menyergap Alex. Alex galak tapi Tara lebih galak. Itu membuat Alex takut pada Tara, apalagi kali ini membuat temannya menangis.
Bodoh amat, dah! Dia sendiri juga salah, kok! batin Alex.
Alex siap membela diri, seandainya Tara mendampratnya.
__ADS_1
---
“Sayang ... ada Tara, nih!” kata Amanda dari luar kamar.
Fey membuka pintu dan ia kembali merebahkan diri di atas ranjang.
“Makasih, Tante,” ujar Tara.
“Enggak usah sungkan, sering-seringlah main kemari, Ra!” kata Amanda.
Tara mengangguk.
Tara masuk kamar langsung mulai nyerocos.
“Kenapa sih, Fey! Seharian ponselmu enggak aktif,” kata Tara.
“Enggak apa-apa, kok! ponselku low batt belum aku charge,” jawab Fey dari balik bantal.
Aku tak bisa bilang ini karena kakakmu yang sudah menyakiti hatiku.
Fey bukan tipe suka mengadu, apalagi ini menyangkut perasaannya dan kakak dari sahabat yang berdiri dihadapannya.
“Fey ... lihat aku!”–kata Tara.–“kau habis menangis?”
Tara terkejut melihat mata Fey yang sembab sehabis menangis semalam.
“Aku menangis karena kepalaku sakit,” Fey berusaha memberi alasan.
“Sungguh, Ra! Enggak ada apa-apa,” jawab Fey.
“Melihat perubahan sikapmu, aku jadi negatif thinking. Apa kau merasa aku bohongi atau kau diam-diam pacaran terus sekarang patah hati atau ada hal yang menyinggungmu saat di rumahku. Ya, aku minta maaf!” ujar Tara sambil menunduk.
Gila ini bocah, nyerocos bikin wajahku panas, terutama perkataan terakhir sangat mengena, untung dia bicaranya sambil nunduk.
“Ha ... ha ... ha ... enggak tahan aku melihat ekspresi wajahmu yang memelas gitu,” canda Fey untuk menutupi wajahnya yang memerah.
“Hah! Dasar sialan! Aku bicara serius, kau tanggapi kocak. Mendingan aku pulang, ahh!” kata Tara.
“Serius, mau pulang?” goda Fey.
“Hih, kau!” balas Tara.
Keduanya bergumul di atas ranjang sambil tertawa. Sejenak Fey melupakan apa yang terjadi.
“Sudah ... Ra! Aku ... ampun ... ampun ... jangan gelitiki aku lagi,” pinta Fey.
Amanda di ruang tengah, hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar senda gurau mereka di kamar.
---
__ADS_1
Di sebuah resto Japanese ruang VIP, tampak Sandra serius menatap layar laptop-nya.
“Berapa lama kau akan pergi?” tanya Alex.
“Enggak lama, Sayang! Hanya satu minggu,” jawab Sandra.
“Satu minggu buatku lama, kau tak rindu padaku?” tanya Alex sambil memeluk Sandra.
“Kan, bisa video call, Sayang! Event ini sangat penting untukku. Butuh waktu 1 tahun untuk mempersiapkan. Kau tahu ini, mimpiku!” Mata Sandra tak pernah beralih dari layar laptop untuk memeriksa sesuatu di sana.
Sandra seorang perancang busana, ia akan mengadakan peragaan busana di luar negeri.
“Ok ... ok! Kapan kau berangkat?” tanya Alex.
“Besok pagi-pagi. Awas ... ya! Jangan main mata dengan gadis lain.” Sandra mengepalkan telapak tangannya.
“Hm ... justru, aku khawatir kau kecantol bule,” balas Alex.
Alex memeluk Sandra erat, namun Sandra tak bergeming. Alex makin berani, Ia menyentuh titik sensitif di telinga Sandra. Alex mengecup telinga Sandra kini Sandra mulai kehilangan konsentrasi.
“Nakal!” Sandra menatap Alex.
”Tapi kau suka, kan!” Alex makin erat memeluk Sandra.
Alex mengangkat wajah Sandra, Alex mengecup bibir Sandra dan Alex mengendurkan pelukannya.
“Lex,” bisik Sandra manja.
Alex tersenyum, Alex tahu Sandra minta lebih dari sekedar kecupan.
Alex menarik pinggang Sandra hingga wajah Sandra sangat dekat dengan wajah Alex. Mata Alex menatap lembut mata Sandra. Sandra membuka bibirnya, mata Alex melihat bibir Sandra terbuka, ia tak sia-siakan untuk mencium lebih dalam bibir Sandra dengan penuh gairah. Sandra semakin lupa diri, ia serahkan bibir untuk Alex nikmati. Alex makin dalam mencium hingga lidah Alex dengan leluasa menjelajahi rongga mulut Sandra. Alex kembali mencium bibir Sandra. Tautan bibir mereka lepas setelah mereka kehabisan napas.
“I love you,” bisik Alex mencium rambut Sandra.
“I love you to,” bisik Sandra.
Sandra merangsek dalam pelukan dan bersandar di dada bidang Alex. Sandra merasa aman dalam pelukan Alex sambil menikmati irama degup kencang jantung sang kekasih. Sandra sejenak masih ingin bermanja-manja di pelukan Alex.
---
“Pa! Mama mau bicara sebentar,” kata Anna.
“Serius sekali ... memang ada apa, Ma!” Candra melepas kacamata dan meletakkan di atas buku.
“Ini soal Alex!” kata Anna.
“Alex! Kenapa Alex?” tanya Candra.
“Pa! Mama enggak setuju Alex menjalin hubungan dengan Sandra,” kata Anna.
__ADS_1
“Kenapa, Ma! Bukankah hubungan mereka baik-baik saja?" kata Candra.