
“San, sebaiknya kau tinggal di luar negeri. Menurut papa kalau kau di sini akan sulit melupakan Alex,” kata Danu.
“Pa! Sandra tak mau tinggal di luar negeri,” sahut Sandra.
“Papa mohon, San! Cobalah, demi papa!” pinta Danu.
“Baik, Pa! Akan Sandra pikirkan,” jawab Sandra.
Danu mengangguk.
Di dalam kamar Sandra membuka HP dan melihat teman-teman share foto lamaran Alex di medsos mereka yang bikin makin kesal, komentar-komentar mereka membuat Sandra menangis tersedu-sedu.
Betul kata papa, sebaiknya Sandra pergi.
“Menangislah, Sayang! Agar kau lega,” kata Danu lirih.
Hati Danu sakit mendengar tangis Sandra dari balik pintu.
Can! Sejak saat ini hubungan pertemanan kita putus, Danu mengepalkan tangan.
Selesai lamaran, kini Anna lebih sibuk mempersiapkan pernikahan Alex. Ini pertama kali Keluarga Candra mantu. Hanya waktu dua bulan, Anna harus ekstra mempersiapkan pernikahan. Walau sudah diserahkan Wedding organizer tetap saja harus ada sinkronisasi dengan keinginan Alex.
“Pa! Minggu depan Alex rencana ajukan cuti untuk foto prewedding,” ujar Alex.
“Rencana berapa hari?”
“Belum tahu karena tergantung lokasi. Mau pre-wed di mana. Alex belum bicara dengan Fey.”
“Yang penting, jangan mendadak, Lex!” ucap Candra.
“Ok, Pa! Alex berangkat!” kata Alex.
“Tak sama-sama?” tanya Candra.
“Enggak! Tak lucu juga, kalau yang datang CEO duluan,” jawab Alex.
Candra hanya geleng-geleng kepala mendengar candaan Alex.
---
“Fey, mama perhatian akhir-akhir ini kau jarang pergi dengan Alex?” tanya Amanda.
“O ... Alex sudah mulai bekerja di perusahaan papah,” jawab Fey.
“Baguslah.”
“Ma, Fey pergi kuliah dulu!”
Fey mencium pipi Amanda.
“Hati-hati, Sayang,” balas Amanda.
“Kasihan anakku ... kau harus berhenti kuliah. Untung calon suamimu kaya. Hidupmu pasti terjamin,” guman Amanda lirih.
__ADS_1
---
“Pa ... Sandra sudah pikirkan. Ok, kali ini Sandra akan pergi tapi saat Sandra siap pulang. Papa jangan larang Sandra,” kata Sandra.
“O ... good girl! Pasti ... pasti papa ijinkan. Secepatnya kita berangkat sayang, semua sudah papa persiapkan, tinggal tunggu kau bilang ‘IYA’. Berkemaslah siang ini kita langsung terbang,” balas Danu memeluk Sandra.
Sandra bersyukur masih punya tempat bersandar pada pria paruh baya di hadapannya. Siang itu Sandra dan Danu sudah berada di bandara. Walau berat Sandra harus melalui ini.
Saat pesawat take off, Sandra menerawang melalui jendela dengan mata berkaca-kaca.
Aku pasti kembali! batin Sandra.
Air mata Sandra pun menetes, Danu mengenggam dan menepuk punggung tangan Sandra. Sandra memandang Danu, Danu hanya membalas dengan anggukan. Sandra berusaha tersenyum walau pahit.
---
“Ra!” teriak Fey.
Fey berlari menghampiri Tara.
“Eh ... kakak ipar jangan lari-lari nanti kalau jatuh. Aku yang disalahin kakak,” Tara berseloroh.
“Dasar!” Fey menyikut Tara.
Merekapun tertawa.
“Fey ... gimana hubunganmu dengan Alex?” tanya Tara.
“Baik, walau komunikasi dan bertemu tak seintens dulu. Memang kenapa, Ra?” tanya Fey.
“Ya, baguslah! Lagipula ia baru meniti karir,” balas Fey.
Mudah-mudahan apa yang kau sangka itu benar. Aku takut kau adalah pelampiasan Sandra, setelah mendapat kau ... ia pelampiaskan ke kerja, batin Tara.
“Hei! ngelamun, masuk kelas yuk!” ajak Fey.
Tara mengangguk
---
Malam itu Tara sengaja nunggu Alex, padahal sudah pukul 9 malam tapi batang hidung Alex belum kelihatan.
Baru pukul 10 malam, Alex baru pulang.
“Kau pulang malam banget! Papa sudah pulang pukul 7 malam,” tanya Tara nyerocos begitu lihat Alex.
“O ... aku lagi kerjakan projek baru, banyak meeting. Udah, Ra! Aku cape. Kamu tanya-tanya, kaya kau istriku,” jawab Alex ketus.
Alex meninggalkan Tara sendiri, ia langsung membersihkan diri. Di depan cermin, Alex termangu melihat bagian atas tubuhnya yang bertelanjang dada. Ia meraba bekas luka yang melintang di dada sepanjang ± 15 cm.
Kenapa Tara bertanya aneh gitu, ya! Biasanya cuek kecuali menyangkut sobatnya. Oya ... Fey! Apa Fey tanya sesuatu tentang aku ke Tara. Tapi enggak ... enggak mungkin. Fey bukan tipe rese seperti Tara. Apa Tara merasakan sesuatu? batin Alex.
Karena rasa lelah yang mendera, Begitu tubuh Alex mendarat di ranjang langsung tertidur.
__ADS_1
---
Fey merasakan perubahan sikap Alex kembali setelah melamar dirinya.
Hard worker! Apa Alex seambisius itu meniti karir. Bukankah setelah lamaran ia bicara. Kemungkinan aku kehilangan waktu dengannya, setelah ia bekerja. Memang akhir-akhir ini, Alex jarang komunikasi denganku. Paling hanya mengingatkan jangan lupa makan, jangan lupa ini ... jangan lupa itu. Itu aja tak setiap hari. Lagipula kalau memang Alex kerja, ya baguslah.
Saat memikirkan perubahan sikap Alex membuat Fey baru terlelap menjelang pagi.
---
Pagi itu pintu kamar Fey di ketuk
Fey hanya membuka pintu, lalu ia kembali naik ke ranjang karena masih ngantuk. Ia baru tertidur menjelang pagi.
Dengan mata terpejam, Fey kembali ke peraduannya, ia menyibak selimut dan masuk kedalam selimut. Ditariknya selimut sebatas dada dan melanjutkan tidurnya.
Setelah kira-kira 30 menit, Fey mengeliat dan membuka mata. Bagai tersambar petir, Fey langsung menarik selimut sebatas leher lalu duduk merapat pada kepala ranjang.
“Ha ... ha ... ha ....”
Suara tawa Alex menggelegar hingga memenuhi kamar Fey. Alex tak bisa menahan tawa melihat reaksi calon isterinya itu.
“Ka–kapan ... kapan kau masuk! Siapa yang memberi izin kau masuk ke kamarku!” Fey panik.
Fey semakin kencang memegang selimutnya. Walau yang masuk kamar calon suami tapi namanya juga baru calon. Melihat reaksi Fey sangat wajar-wajar saja melihat seorang pria di dalam kamar bersamanya di atas ranjang yang sama pula.
Bukannya menjawab, keusilan Alex kian jadi. Wajah Alex mendekati wajah Fey, Fey kian kuat mengenggam selimut. Sorot mata Alex menatap tajam seperti predator hendak menerkam mangsa. Fey ketakutan seperti makhluk lemah dan tidak berdaya.
Wajah Fey kian pucat saat Alex makin mendekati wajahnya. Fey memejamkan mata lalu Alex mendekatkan bibir ke telinga Fey.
“Bukankah kau yang mengizinkan aku masuk, Sayang,” bisik Alex.
Bisikan Alex membuat bulu kuduk Fey berdiri. Rambut di tengkuknya berdiri. Fey reflex mendorong tubuh Alex.
“Kapan? Kau ... kau jangan mengada-ada!” Suara Fey bergetar.
Wajah Alex kembali mendekati wajah Fey, mata Alex tajam menatap bibir tipis Fey sangat menggoda Alex. Alex ingin mencium bibir merah Fey. Fey kembali memejamkan mata.
“Kau sendiri yang membuka pintu kamar untukku,” ucap Alex lirih.
“Kau sendiri membukakan pintu, kau kembali ke ranjang dan tertidur kembali.” Alex dengan jelas.
“Kau ... kau dari tadi menungguku tidur?” tanya Fey.
Bukan jawaban yang Fey dapat tapi,
Plak.
Alex menepuk dahi Fey.
“Aduh ...!” Fey menggosok kepalanya.
“Saat kau tidur, aku sangat ingin menidurimu. Untung aku yang masuk kalau cowok lain. Mungkin kau sudah habis! Sudah pakai baju tidurnya ngundang nafsu lagi!” kata Alex.
__ADS_1
Wajah Fey memerah.