Cinta Fey

Cinta Fey
Salah Sasaran


__ADS_3

Di IGD.


“Dok, ada pasien percobaan bunuh diri di bed 3,” kata seorang perawat.


“Ya!” sahut Tio.


Tio bergegas menuju bed 3. Tampak seorang wanita muda terluka di bagian pergelangan tangannya.


“Mengapa Nona ingin mengakhiri hidup seperti ini?” tanya Tio sambil memeriksa lukanya.


“Karena untuk apa aku hidup!” jawab wanita itu menangis.


“Siapa nama Nona?” tanya Tio.


“Sandra ... Sandra Hartawan!” jawab Sandra.


“Nona masih muda dan cantik, jalan masih panjang. Jangan sia-siakan hidup Nona, apalagi ingin mengakhirinya,” kata Tio.


Sandra terisak.


“Nona Sandra, siapa walinya?” tanya Tio.


Sandra mengeleng.


“Sus ... setelah ini beri rujukan ke psikiater!” kata Tio sambil mengedipkan mata kepada perawat.


Perawat yang biasa bekerja sama dengan Tio tahu kalau Tio memberi kode dengan kedipan mata.


“Tidak, Dok! Aku tak mau ke psikiater!” teriak Sandra.


“Maaf, Nona! Nona harus melakukan psikoterapi untuk mengatasi masalah!” sahut Tio.


“Tidak, sebaiknya Anda obati saja luka ini. Tak usah membahas hal-hal sepele!” kata Sandra.


“Nona ... hidup itu bukan hal yang sepele. Hidup Nona berarti, jadi harus menghargai diri sendiri,” balas Tio.


Ra ... lagi-lagi keberuntungan menghampiri dirimu, bisa memiliki kekasih baik seperti ini, batin Sandra.


“Nona ... Nona Sandra!” panggilan Tio membuyarkan lamunan Sandra.


“Sebaiknya Nona lakukan konsultasi ke psikiater!” ucap Tio lagi.


“Tidak ...!” Sandra meninggalkan ruang IGD.


Tio mengejar dan meraih tangan Sandra. Sandra menangis, Tio menepuk punggung tangan Sandra. Sandra menggunakan kesempatan ini untuk merangsek dalam pelukan Tio. Tio terkejut, ia hanya bisa membiarkan karena kejiwaan Sandra yang labil. Tapi tidak dengan Sandra yang memiliki maksud lain.


“Nona sebaiknya kau duduk, aku ambilkan minum!” kata Tio sambil berlalu.


Kena kau, masuk perangkapku! batin Sandra.


“Minum, Nona!” kata Tio memberi gelas pada Sandra.


“San ...!” panggil Danu sambil menghampiri Sandra.


“Papa!” teriak Sandra terperanjat.


“Kau ...!” Sandra menatap tajam Tio.


“Maaf, Nona! Kami pihak rumah sakit tidak bisa membiarkan keadaan Nona seperti ini tanpa ada keluarga yang mendampingi!” sahut Tio.

__ADS_1


“Kau ... kau ... awas kau!” ucap Sandra dengan geram.


Mau tak mau Sandra mengikuti kemauan Danu, kembali ke rumah.


Ternyata aku salah sasaran, justru aku yang ketangkap Papa! batin Sandra.


Kedipan mata Tio bermakna lain dan itu hanya bisa dimaknai para perawat yang biasa bekerja sama dengan Tio.


“Terimakasih Dok, sudah menghubungiku!” kata Danu.


“Sama-sama, Pak! Sudah kewajiban kami untuk melakukan yang terbaik untuk pasien kami!” sahut Tio.


---


Danu berusaha keras membujuk Sandra saat tiba di rumah.


“San ... tolong, papa! Jangan buat papa


resah, Sayang!” kata Danu.


“Maaf, Pa! Sandra tidak gila, Pa!” sahut Sandra.


“San ... please jangan begini! Dari awal papa tak pernah menganggap anak papa, gila!” Danu menangis.


Sandra terdiam.


“San dari kecil, kau tak pernah kekurangan apapun. Semua bisa kau raih, kau tak pernah belajar apa arti gagal dan arti kecewa. Itu karena papa yang memberi apa saja yang kau mau!” kata Danu.


“Kini kau ingin meraih cinta Alex, papa tak bisa membantumu meraih cinta Alex. Karena perasaan tak bisa di nilai dengan harta, San! Papa yang harus kau salahkan, jangan menyakiti diri sendiri, San!” kata Danu lagi.


“Jadi, tolong! Lanjutkan terapimu, Sayang!” pinta Danu.


Sandra terdiam.


Danu hanya bisa menghela nafas panjang.


Danu menyadari Sandra kurang kasih sayang seorang ibu, yang meninggal saat melahirkan dirinya. Danu memberi kasih sayang yang salah. Ia selalu melimpahkan segala keinginan Sandra tanpa memikirkan ada hal-hal tertentu tak bisa ia penuhi.


---


Tio terlibat pembicaraan serius di ruang tengah rumah Candra.


“Ra, aku ingin mengajakmu menemui keluarga angkatku!” kata Tio.


“Kau memiliki keluarga angkat?” tanya Tara.


“Sebenarnya bukan keluarga angkat dalam arti yang sebenarnya,” jawab Tio.


“Semasa hidup, mama menampung mereka di rumah kami,” kata Tio lagi.


“Mereka?” tanya Tara.


“Ya, mereka sudah aku anggap adik dan keponakanku. Kau akan suka bertemu dengan mereka terutama keponakanku. Kau mau?” kata Tio.


“Aku mau, Iyo! Siapapun itu, keluargamu kandung atau angkat, mereka keluargaku juga,” sahut Tara sambil menggenggam tangan Tio.


“Terimakasih, Ra!” kata Tio sambil memeluk Tara.


“Eh ... sorry!” kata Alex tak sengaja masuk ke ruang tengah.

__ADS_1


Tio langsung melepas pelukannya dengan malu-malu, membuat Tara menggerutu.


“Huh! Ganggu suasana aja!” jawab Tara sambil memoyongkan bibir.


“Ya, salah kalian! Kenapa bikin roman di ruang terbuka gini!” sahut Alex tak mau disalahkan.


“Dah, pergi sana!” usir Tara.


Alex pun berlalu dari hadapan mereka berdua.


“Alex sudah menikah?” tanya Tio.


“Sudah, tapi isterinya sedang pergi!” kata Tara.


“Pantas aku tak pernah melihatnya!” sahut Tio


Maaf, Iyo! Hanya itu yang bisa aku sampaikan kepadamu.


“Kapan kau akan mengajakku?” tanya Tara


“Dua hari lagi aku pulang?” jawab Tio.


”O ... aku harus siapkan sesuatu. Mereka suka apa, Iyo?” tanya Tara.


“Terserah kau, Ra! Hm ... keponakanku lelaki berumur enam tahun. Agar kau bisa tahu akan memberi apa untuk Tian!” jawab Tio.


“Tian?” tanya Tara.


“Ya, keponakanku namanya Tian dan ibunya bernama ....” kata Tio terpotong.


Tiba-tiba ponsel Tio berdering.


“Maaf, Ra! Aku harus kembali ke rumah sakit, ada yang urgent!” kata Tio.


“Ya! Hati-hati, Iyo!” sahut Tara.


---


Di dalam kamar Alex termenung memandang foto Fey.


“Fey! Kau ada di mana? Saat ini aku butuh kau! Tara mungkin sebentar lagi akan menikah, pulanglah Fey! Agar aku tak merasa sendiri,” guman Alex lirih.


“Kenapa aku tiba-tiba rindu Tian!” guman Alex dalam hati.


“Kalau aku ke villa sehari dua hari, tentu mama tak akan mempermasalahkan,” ujar Alex sambil berkemas untuk berangkat ke villa.


---


Akhirnya Sandra menghadap Danu di kamarnya.


“Pa, Sandra akan turut keinginan Papa. Sandra akan pergi minggu depan, jadi Papa jangan ganggu Sandra. Sandra ingin tinggal di rumah ini satu minggu lagi. Sandra janji!” kata Sandra.


“Ok ...!” jawab Danu sambil meninggalkan Sandra.


Tanpa Danu sadari, Sandra memiliki sejuta cara untuk meraih keinginannya. Hari itu, tampak Sandra telah berada di luar rumah dengan turun melalui jendela dan melompati pagar rumah. Seperti yang dulu ia lakukan tiap di larang pergi oleh Danu.


---


Siang itu Tio berencana pulang dengan membawa serta Tara.

__ADS_1


Diam-diam Tio telah menyampaikan kepada Fey kalau kali ini kedatangannya bersama calon istri. Fey menyambut bahagia dan ia bermaksud membuat pesta kecil untuk menyambutnya. Tian pun tak kalah senang, saat di beritahu ia akan punya tante.


Seperti biasa, Tian selalu tak sabar jika harus menanti Tio di rumah. Tian pasti akan selalu menunggu di depan rumah.


__ADS_2